Perempuan Egois Miliku

Perempuan Egois Miliku
Perempuan Egois Miliku (7)


__ADS_3

Perempuan Egois Miliku


Bagian 7


Agustus 2017


Untuk pertamakali dalam satu tahun menjalin hubungan, Ay dan Bumi di pisahkan 3 hari 2 malam. Bukan tanpa alasan, berberapa senior XX mengadakan liburan singkat ke gunung Ba****aeng. Gunung yang cukup terkenal di penjuru Sulawesi XX bahkan di luar Sulawesi.


Tok... tok...


"Assalamualaikum, Ay?" Bola matanya menyisir seluruh isi teras kos namun tak menemukan keberadaan Ay.


"Waalaikumsalam, eh sini kak masuk." Hanya Jenaka dan yang lain yang ada di sana.


"Jenaka, Ay mana?" Tanyanya penuh khawatir karena dari tadi ditelepon tidak diangkat balas chat apalagi.


"Ay bilang, sudah kabari kak Bumi. Ay kuliahnya ampe sore kak, borong dia tiga mata kuliah."


Jenaka detail menjelaskan pada Bumi dengan raut wajah penuh percaya diri.


"Telepon lagi coba. Barang kali sudah selesai kuliahnya."


"Iya Na, makasi ya sudah info."


Tuuuttt.. tuuttt... tutttt...


Lama Ay merespon. Tapi berhasil dihubungi. Ada suara lesuh diujung telepon.


"Hallo ka, Ay capek! Bisa minta tolong gak? Jemput Ay?"


"Hallooooooo... heilo. Bisa bicara dengab Bapak Bumi." Kekehnya diujung telepon.


Namun, Bumi tak menjawab. Biar dia merasakan sedikit saja jika diabaikan ketika lagi butuh butuhnya.


Di samping Bumi ada Jenaka yang sedang tertawa tapi tangannya cepat menutupi mulutnya. Supaya tidak terlalu kentara kalau keduanya mengerjai Ay.


Tut... tut... tutttttttttttt...


Sambungan telepon putus. Yahh begitulah Ay. Tak mendengarkan sedikit saja apa yang dia butuh, dia akan berusaha sendiri. Mandiri juga rupanya ini anak.

__ADS_1


"Niat hati minta ijin sama doi, untuk mendaki Gunung Ba****raeng, malah bikin dia apes, mampus, tanda tanda tidak jadi pergi nih."


"Permisi Na, jemput Ay dulu." Bumi memakai helm nya lagi.


"Oke kak, gasssss haha."


* * *


Bumi langsung menghentikan motornya tepat di depan gerbang masuk untuk mahasiswa pejalan kaki. Pelan-pelan Bumi melihat satu persatu mahasiswa yang sedang duduk di sana tapi tak menemukan Ay.


Dia merogoh ponsel miliknya dan mencari nama Ay untuk menelepon, sementara Bumi sibuk dengan benda pipih yang ada di tangan, seseorang mengetuk helmnya dari belakang.


"Ay kira, ka Bumi gak mau jemput." lirih Ay dengan muka sedikit kesel karena lama menunggu.


"Dari mana Ay? Aku tadi lihat di tempat biasa Ay nunggu, tapi gak ada." Bumi menoleh ke arah Ay yang sudah siap naik di belakangnya.


"Ay di situ tuh.” Ay sambil menunjukan sebuah pohon yang sangat besar dibawahnya ada beberapa penjual seperti somai, es krim, dll.


"Emm, laper?" Tanya Bumi.


"Iya, tapi dah kenyang. Tadi beli banyak." Jawab Ay masih belum memancarkan senyuman terbaiknya. Murung mukanya.


Akhirnya mereka berdua melajukan roda dua itu dengan pelan, menikmati sebentar semilir angin sore yang masuk di setiap inci tubuh. Tidak membutuhkan waktu lama sebenarnya jika Bumi membelokan motor langsung memasuki lorong tujuan kos Ay.


Tapi, dengan sengaja menancap gas balik arah menyusuri jalan sambil bercerita santai. Bumi yang berusaha mencairkan suasana lebih dulu bertanya pada Ay yang sibuk merekam bulir senja sore ini. Perempuan estetik nan egois.


"Ay, suka mendaki gak?" Bumi memulai percakapan.


"Suka." Ketusnya singkat.


"Galak amat pacar gue, kenapa?" Bumi mengintip wajah si doi di kaca spion. "Marah hemm?"


"Ay malas ngobrol." Begitulah perempuan jikalau salah dikit langsung ngasal jawab.


"Kami dan yang lain berencana mendaki Ay, boleh ya, ya?"


Bumi tahu betul perempuannya ini, harus melembutkan suara jika belum mencair batu keras direlungnya.


"Boleh ya, Ay?" Bentar doang ko, tiga hari." Bumi menaikan 3 jarinya dekat muka Ay.

__ADS_1


"Terserah ka! Kenapa minta ijin sama Ay?" Kalau pergi, pergi aja".


"Ya kan Ay pacar aku, wajar dong kalau minta ijin dulu.”


“Apa boleh aku minta ijin ke pacar tetangga?” Sambungku.


"Tiga hari ya?" Akhirnya batu keras Ay cair juga.


"Iya Ay, tiga hari. Boleh? Boleh ya!" Bumi membujuk.


"Iya boleh. Tapi aku nanti sendiri di kos, Jenaka pergi di temannya, nginap." Ay memonyongkan bibir.


"Kalau gitu, aku antar Ay ke kos kak Inggar aja ya!"


"Gak mau, maunya di kos Ay aja, kak Inggar aja yang nginap di kos Ay."


Inggar adalah kakak perempuan Bumi yang juga kuliah di kota ini. Dan selama Bumi mendaki untuk 3 hari, awalnya Bumi mau menitipkan Ay di kos kakaknya. Tapi, lebih dulu Ay mengelak untuk tidak menginap. Jadi, mau tidak mau Bumi nurut saja, sebagai sogokan untuk menginjinkannya tadi mendaki.


Terhitung 1 jam keduanya mengitari jalanan. Pundak Bumi terasa pegal karena menahan kepala Ay yang tertidur pulas. Yahhh, Ay rupanya lelah mengikuti proses perkuliahan, satu kali borong 3 mata kuliah.


Bumi menghentikan laju roda tepat di depan penjual buah buahan. Takut Ay bangun, Bumi hanya memberi kode pada penjual beli 1 kilo buah apel. Setelah mengambil uang kembalian, rodanya berputar tujuan pulang masuk lorong kos Ay.


"Ay, ay." Pelan Bumi membangunkan Ay.


"Hmm, hmm, huffff. Di mana ini?" Ay mengucek matanya.


"Di kos Ay! Yuk, turun!" Bumi menyodorkan kantong apel tadi.


Ay sudah turun dari motor, Bumi membalikan stir.


"Aku jemput Kak Inggar dulu ya, Ay istirahat dulu."


Ay yang berjalan memunggungi Bumi mengacungkan jempol pertanda setuju.


"Dasar betina, tak bisakah dia sedikit saja bersikap manis padaku yang ganteng ini." Bumi bergumam.


Setahun menjalin kasih, keduanya belum pernah dipisahkan. Jadi, 3 hari saja LDR rasanya hampa, kosong, dan hilang arah. Memberikan ijin untuk mendaki berarti siap menerima konsekuensi tidak ada signal, batrai hp mati, tidak bisa memberi kabar.


Namun, keduanya sudah bicara baik baik. Bumi memberikan pesan pada Ay, seperti menitipkan bayi. Banyak pesan yang dilontarkan salah satunya jangan nakal dan genit ke cowo lain.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2