Perempuan Egois Miliku

Perempuan Egois Miliku
Perempuan Egois Miliku (3)


__ADS_3

Perempuan Egois Miliku


Bagian 3


"Aduhhhhh, iya kk tunggu."


"Ay baca gak chat aku waktu itu?"


"Chat yang mana kk?


"Yang ini nih.” Ku tunjukan isi chat pada Ay supaya dia tidak beribu ribu alasan.


"Ohh... yang itu." Ay memang sengaja mematikan centang biru, terakhir kali di lihat, pada aplikasi WhatsApp, Ay sadar diri, Ay jarang balas chat siapa pun itu, kesimpulannya Ay sengaja menghilangkan sebagian fungsi dari aplikasi.


"Ay balas nih kk, sudah masuk belum?


"Gak ada tuh. Kutunjukan lagi beranda WhatsApp kepada Ay.


"Aihhhh, pantas gak masuk kk. Ay hanya mengetiknya saja tanpa mengklik ikon mengirim."


"Penting bet ya kk, sehingga mengharuskan Ay untuk menjawab pertanyaan itu?”


"Hehe.” Ketawa kesal ku keluar.


“Begini ya Ay, ini tentang amanah. Bumi tadi menitipkan amanah baru padaku, katanya Ay harus jawab pertanyaan itu.”


Gimana, jawab sekarang atau nomor Ay gue blok nih, huhu...”


"Egois tuh dia kk. (Jenaka memberi pembelaan pada kak Bintang)


"Oke, Ay akan menjawab dan Ay tidak mengulangi kalimat berupa pendapt ini, jadi simak baik-baik ya kk Bintang dan Jenaka. Beri Ay waktu tiga hari untuk menjawab semuanya. Ay hubungi kk Bintang kalau Ay sudah matang mengambil keputusan.”


Sebagai perempuan, jiwa jiwa gengsi Ay tertanam dengan subur.


"Oke... oke gak?” Ay memastikan kk Bintang menerima pendampatnya.


Secara bersamaan Kk Bintang dan Jenaka mengangkat jempol pertanda setuju dengan pendapatku.


"Huhu, lega juga akhirnya.” Suara gaib Ay berulah lagi.


* * *


Kamis, 25 Februari 2016

__ADS_1


Ay dan Jenaka lagi bertukar pendapat sembari menyiapkan perlengkapan yang harus di bawah ke salah satu kos teman Ay dan Jenaka. Jam di layar ponsel sudah menunjukan pukul 12.15 dini hari.


Yah, tepat hari ini 25 Februari 2016 hari ulang tahun yang ke sekian dari teman kami berdua. Kue Ulang Tahun dan dua bungkus kado sudah kami beri pita versi terbaik dan terkonyol siap di angkut ke yang ulang tahun.


Setelah semuanya beres, Ay berpikir keras bagaimana caranya supaya kk Bintang tidak menagih janji yang Ay minta untuk ditepati dalam kurun waktu tiga hari, malam ini tepat tiga hari sejak dibuatkan janji.


Tapi, ya sudahlah inikan masih dini hari, belum masuk pagi hari. Ay pikir Kk Bintang tidak mungkin menagihnya di acara ulang tahun. Karena sifatnya sangat pribadi. Dan Ay akan sangat membenci Kk Bintang juga Jenaka kalau mereka memberitahu orang lain tentang hal ini.


Sungguh, Ay sangat tergesa-gesa dan terus berpikir.


Sementara Ay bergelut dengan isi kepalanya, Jenaka sibuk menelpon di sudut kamar. Ada suara laki-laki di ujung telepon, rupanya suara kk Bintang.


"Kak Bintang, bisa gak kita beri kejutan untuk yang ulang tahun di jam 01.00 dini hari?"


"Itu terlalu cepat atau terlambat ya? Kan biasanya di pukul 12.00. Biar kek orang orang Na."


"Tapi kalau terlalu cepat, aku takut dia baru tidur dan gak seru, gimana dong?"


"Oke, 10 menit gue dan Bumi nyampai kos lo ya, bilang sama Ay dia nanti boncengan ama Bumi, Jenaka ama aku aja, ya!"


"Oke kak."


"Na, kita ke sana GTO ya?". Tanya Ay dengan mata sayup sudah mulai mengantuk.


"Siapa juga yang mau nolak, cuek-cuek gini gue gak milih orang untuk boncengan." Ketus Ay membalas ocehan Jenaka."


"Eh Na, bangunin gue ya, kalau meraka sudah sampai, tidur bentar."


"Iya, iya. Tapi jangan pulas tidurnya."


Kring kring kring...


Benda pipih milik Jenaka berbunyi ada panggilan masuk, cukup jelas nama di sana, kak Bintang.


“Iya, hallo... Na, udah nyampe nih gue, minta izin dulu ama ibu kos, kayaknya gerbang udah di kunci.”


“Beres kak, tadi udah persiapan matang, udah izin juga, kunci pagarnya ini, tinggal berangkat.” Jawab Jenaka girang.


“Ayuk berangkat, bismillah semoga kejutannya sukses, aamiin.” Ay tanpa dibangunin langsung berdiri dan siap siap.


Lorong kecil nan gelap saksi bisu untuk kali pertama Ay dan Bumi boncengan. Tak ada rasa malu, apalagi gerogi. Ay dan Bumi sungguh santai menyikapi hal yang ditunggu-tunggu.


Rupanya dua raga ini pernah mengalami jatuh cinta. Lihat saja, tak ada sungkan di wajah keduanya, tidak seperti anak SMA pada umumnya kalau kesmaran rasa malu dan cari muka sangat mendominasi.

__ADS_1


* * *


Berlalu sudah acara ulang tahun tadi malam. Getaran ponsel yang cukup keras mengenai dinding kamar tak membuat Ay dan Jenaka merubah posisi tidur sedikitpun apalagi sekadar mematikan getaran alarm. Sungguh pulas tidur kali ini. Padahal alarm tersebut pertanda waktu subuh menyapa.


Tapi, siapa sangka suara adzan di masjid masjid terdekat yang sungguh indah didengar tak membuyarkan setengah menit saja keduanya bangun.


Ah, sudahlah. Mungkin lagi menikmati mimpi makan sisa kue ulang tahun tadi malam. Haha.


Tok tok tok...


"Kamar 12, udah bangun belum? Ada tagihan masuk nih, tagihan air pam setiap kamar 25.000 untuk satu bulan." Ibu kos mengetuk pintu kamar 12 yang ditempati Ay dan Jenaka.


Tok tok tok...


"Ay, Jenaka... Bangunnnn." Entah berapa kali ibu kos mengetuk pintu, namun tak ada jawaban dari dalam kamar.


"Begadang nih kayaknya tadi malam abis dari acara ulang tahun teman nya." Ibu kos komat kamit mulutnya bak mbak dukun, mungkin terlalu lama menunggu uang 25.000. Kikik.


Ay, Ayyy, Jenaka..." Secara bergantian Bintang memanggil sambil mengetuk pintu yang di tempati dua mahluk masa bodoh.


Lagi, Bintang memanggil nama "Ay, Ay..."


"Hmmm, siapa?" Akhirnya suara khas bangun tidur terdenger juga dari dalam.


"Saya, Bintang. Bangun woii, udah siang."


"Huaaaahhhh, iya tunggu." Ay membuka pintu, untuk menyegarkan suasana kamar yang sedari malam hanya diasupi kipas angin.


"Gimana?" Tanya Bintang pada Ay yang masih sibuk merapikan jilbab.


Sejujurnya, tidak membutuhkan waktu tiga hari untuk mengambil keputusan. Namun, Ada hal lain yang Ay pikirkan. Soal bagaimana menempatkan hati berlabuh dan tidak jatuh lagi.


Jauh perjalanan menapaki jalan sempit beriring jurang, hingga ada yang tiba-tiba datang kemudian pergi, ada yang sekadar singgah menyebuhkan luka lalu menghilang, banyak juga yang pura-pura peduli saat hati membutuhkan sandaran utuh, lenyap tak bersisa.


Sirna harapan Ay, Lapuk hatinya, luruh bulir netranya. Karena terus membuka jalan untuk orang yang salah.


Kini, Ay hanya mencari penyokong terakhir yang rindang hatinya, numpuk sabarnya, meluas kasih untuk nanti menua bersama.


Huffff...


Hati Ay berkecamuk tak menentu.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2