
Perempuan Egois Miliku
Bagian 19
Hari menuju petang, semilir angin tidak lagi dirasakan seperti sedia kala. Memang, tidak ada perubahan signifikan dari sisi kesejukan senja kota. Riuh kendaraan dan orang-orang pun tak ada yang berpaling. Juga, daun yang gugur di lorong tempat kami berdua lewati, tidak pernah absen mengotori jalan. Melihat ke kanan ke kiri rapuh seperti kalimat awal pada paragraf ini.
Sekali lagi, baca kalimat awal pada bagian ini. Gembira tidak benar-benar singgah. Gundah tidak juga benar-benar menetap. Hanya waktu yang dapat memastikan kapan datang kemudian pergi. Hampa, kususuri sudut kota. Seperti keramaian, tapi tidak dengan keadaanku. Ibarat hilangnya jarum di tengah pasir, dangkal namun sulit ditemukan.
Ay sudah mengobral sifat dasar kepada sahabat terdekat tak terkecuali Bumi. Dia mengatakan 'apa yang kalian lihat, apa yang kalian alami pada saat bersama saya, itulah saya. Jika baik Ay di matamu maka baiklah menurut engkau, namun jika buruk rupaku maka egois adalah jawabannya'. Singkat, ujarannya sedang tidak bercanda.
Tidak banyak pesan yang Ay sampaikan pada Bumi menjelang keberangkatan waktu di Pelabuhan. Cukup 'jangan lama, ingat Ay' dan sebuah kotak berisikan gelang. Kalau disimak betul untaian yang Ay ungkapkan, mengandung makna yang sangat dalam dan bermakna ganda. Namun, Bumi adalah orang yang paling mengerti apa yang Ay ucapkan walau hanya satu huruf saja. Jadi, secara tersirat Bumi telah menelaah lebih jauh.
Dua Minggu bukan waktu yang sebentar bagi orang-orang yang sedang berhubungan jarak jauh, termasuk Ay. Jika melihat kesungguhan Bumi meluluhkan batu keras Ay, ada perubahan sedikit demi sedikit. Itu karena berada dalam lokasi yang sama dan bertemu setiap hari. Kalau berada dalam satu lokasi saja Ay tidak begitu peduli dengan Bumi apalagi berada di kejauhan. Baca lagi dua kata di awal paragraf ini. Selama itu pula Perempuan pemilik kumis tipis itu tidak merespon Bumi. Telepon, chat, panggilan video tidak pernah di angkat. Tidak bisa ditebak kemauannya.
Terkadang ada hal sepele yang menjadi sebuah alasan mengapa ia tidak merespon kekasih tampannya itu. Tidak hanya Bumi sebenarnya yang ia perlakukan seperti itu. Untuk semua orang yang berkepentingan dengannya.
* * *
Bumi dengan susah payah menghubunginya sejak kapal yang ia tumpangi untuk berlayar sampai di Pelabuhan tujuan, untuk memberitahu bahwa dirinya sudah tiba dengan selamat, tidak pernah di balas satu kalipun. Satu, dua, tiga hari di awal, Bumi masih memahami tindak tanduk Ay. Ia pantau Ay lewat temannya Jenaka. Walau kadang Bumi memaki dirinya untuk melampiaskan emosi. Masih bertahan untuk tidak mengujarkan kata-kata tidak baik.
"Ay." Pesan pertama yang Bumi kirim pada saat kapal yang ia tumpangi sudah bersandar di pelabuhan kampung tercinta.
__ADS_1
"Aku sudah sampai Ay. Alhamdulillah aku baik-baik saja. Hanya perasaanku yang tidak baik, karena merindukanmu." Lanjut Bumi sedikit menambahkan kata-kata modus sebagai pemanis untuk seorang gadis yang sangat ia cintai. Sudah centang dua, tapi tidak berwarna biru. Seperti biasa Ay menghilangkan sebagian fungsi aplikasi. Contohnya ia menonaktifkan cetang biru. Emang dasar kepala batu akik Ay ini, haha.
"Tolong di balas ya Ay, plissssss." Sambung laki-laki pemilik kesabaran itu. Pesan terakhir terkirim sudah centang dua juga.
Ini masih satu hari LDR an, Ay sudah memperlihatkan ketidakpeduliannya pada Bumi. Bagaimana nanti untuk satu bulan ke depan.
Bumi menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya pelan seraya meletakan gawai di atas meja sebelah salon. Lalu, dirinya bergeser ke tepi tempat tidur, merebahkan tubuh dan pikiran sejenak untuk menghilangkan kecapean juga keriuhan pikiran. Langit kamar berwarna putih itu menemani tidur siang, suasana rumah sunyi hanya ada Bapak, Ibu, dan adiknya. Dua saudaranya lagi sudah menghilang sejak dua jam yang lalu, entah kemana perginya atau kesibukan apa yang sedang mereka tuntaskan.
Pelan ku dengar lembut suara menyebut nama ku. Menggoyang-goyangkan tubuh juga sekali-kali mengurai helaian rambut. Begitu nyaman, sehingga dalam ramang-ramang penglihatan mulai menebak siapa yang ada di sampingku. Aku sempat berandai, semoga yang membangunkan ku dari lelapnya tidur adalah Ay. Karena apa yang terjadi beberapa hari terakhir, berujung kerinduan mendalam untuknya.
Semakin lama terhitung 15 menit lamanya, dalam posisi telentang Bumi tersadar nuansa kamar berbeda. Suasana pedesaan dilihat dari bayang pepohonan di dekat Jendela. Mengocok mata dan memanggil Ibu yang sedang menyuci piring di dapur. Rupanya suara lembut tadi adalah belahan jiwa pertama ku, ibu.
* * *
Dibandingkan Ay yang memilih cuek untuk tidak berkomunikasi, Bumi lebih tersiksa karena diabaikan oleh kekasihnya Ay. Kalau Ay tidak berperasaan bagaimana Bumi berusaha menghubunginya, menghilang bak di telan alam; berbanding 100 % dengan Bumi setiap saat menanyakan kabar meski itu hal sekecil apapun. Ay kembali pada sarangnya, cuek dan
egois lebih menguasai pikiran.
Kerap, Jenaka mengalami kewalahan lagi bosan. Kalau di tanya mengapa bosan? Yah, jawabannya tidak lain dan tidak bukan karena setiap menit merayu Ay untuk merespon Bumi. Hampir waktu senggang, kerjaan Jenaka dihadapkan denga masalah Ay dan Bumi. Tidak habis pikir mengapa dua manusia ini bertahan selama hampir 3 tahun memadu kasih. Kalau di lihat-lihat tidak ada bedannya dengan tikus dan kucing merebut kepala ikan di tengah malam,
sama persis.
__ADS_1
"Ay, coba sekali-kali dijawab dong telepon dari kak Bumi." Ucap Jenaka di keheningan malam. Ay hanya menatap sinis Jenaka dari posisi baring.
"Coba Ay jelaskan, kenapa kak Bumi diabaikan terus? Apa ada salah atau ada hal lain yang Ay tidak suka? Ayo, jelaskan! Aku sebagai sahabat tercantikmu mengalahkan beningnya muka ibu-ibu arisan, siap mendengar keluhanmu." Jenaka mendekat ke Ay, menarik selimut kesayangann Ay. Ia menutup seluruh tubuhnya sejak waktu isya terlah berlalu. Jenaka bingung dengan sikap dinginnya.
"Na, bisa diam gak! Ambil selimutnya, sini. Aku gak mau berdebat, aku mau tidur." Ay bangun sebentar menjawab dengan tegas penuh keseriusan. Tidak kalah serius dengan bola mata nya.
"Makanya, kalau tidak mau debat respon dong dengan kak Bumi." Jawab Jenaka.
"Kan aku sudah bilang Ay, sekali kau sia-siakan laki-laki seperti kak Bumi tidak ada kesempatan kedua untuk kau perbaiki. Yang kau lakukan sudah lewat batas Ay, mana ada laki-laki bertahan kalau bukan kak Bumi. Jangan pernah berpikir, cinta akan tumbuh kalau di rawat dengan satu orang. Lihatlah, kalian sudah mau tiga tahun loh. Dan apa yang terjadi selama ini, hanya kak Bumi berusaha, sedangkan Ay, sedetikpun tidak pernah." Jenaka seperti kultum di tengah malam dengan jamaah yang jumlahnya satu orang. Namun, apa peduli perempuan pemilik alis tebal itu, bahkan ia menutup rapat pendengarannya dengan selimut yang ia ambil kembali dari Jenaka.
Belum puas Jenaka memberi pemahaman dia membuka pertanyaan baru "Kenapa, kak Bumi selingkuh ya atau kak Bumi terlalu posesif?"
"Jawab Ay, kalau tidak kita tidak boleh berteman lagi." Ngeri juga si Jenaka ya.
Rambut acak-acakan, bekas di sudut mata menumpuk, Ay lantang bangun duduk tegak tepat di depan Jenaka "Na, kau pernah berpikir bagaimana perasaan aku gak? Dari dulu kau bersama dengan aku, masa kau tidak kenal dengan sifatku. Aku lelah Na, aku lelah. Kalau kak Bumi menuntut aku untuk menjawab chat, telepon, video call nya setiap menit, apa aku pernah nuntut untuk tidak menelepon aku? Gak pernah kan. Beritahu kak Bumi, aku tidak kemana-mana, tapi jangan menghubungi ku seperti bosnya memperlakukan sekretarisnya sesuka hati. Dan aku bukan sekretaris itu." Ia langsung melangkah pergi, buka pintu menenteng keranjang sabun menuju kamar mandi untuk cuci muka.
"Hah, a...pa ini? Kok aku yang disalahkan. Apa salah aku. Bukan kah amanah itu penting? Kan aku hanya menyampaikan amanah dari kak Bumi." Terbata Jenaka berujar dalam kekagetannya dengan sikap Ay barusan.
"Kalau saja aku tidak mengenal dua manusia dingin ini, aku mungkin tidak sesibuk ini mengisi kuota internet. Tapi, ada untungnya juga. Karena kalau bukan kak Bumi yang chat aku, notifikasi ponselku sepi seperti kuburan umum, hihi. Aneh, aneh...kok ada ya laki-laki posesif ketemu perempuan dingin kayak es batu ikan ya, haha. Dasar gentongan kosong." Tingkah Jenaka si paling kocak sendiri merebahkan tubuh seksi di atas tempat tidur sederhana itu.
Bersambung...
__ADS_1