Perempuan Egois Miliku

Perempuan Egois Miliku
Perempuan Egois Miliku (6)


__ADS_3

Perempuan Egois Miliku


Bagian 6


POV Bumi


Waktu berlalu begitu cepat. Senja yang kita telusuri bersama pun masih setia menemani. Sungguh perempuan yang bisa di ajak menua bersama. Bagaimana tidak tubuhnya yang sempurna bisa menghipnotis kaum adam. Apalagi laki-laki hidung belang pasti meliriknya. Walau hidungnya pesek, muka jutek, dan terkesan egois. Muka jutek. Tak menyurutkan niatku untuk menjaganya sebagai seorang kekasih.


Satu tahun sudah perjalanan ini, 25 Februari 2017. Beribu kalimat yang Bumi telah utarakan pada Ay. Tak ada satupun tanda tanda pengkhianatan, tak ada rumor perselingkuhan, tak ada yang berpindah hati dalam periode hidup berdampingan sebagai kekasih. Cukup damai.


Orang-orang bilang, Ay perempuan egois. Banyak yang menyimpulkan bahwa Ay tunggu butuhnya saja baru merespon dengan cepat. Dan akupun tahu betul itu sejak kali pertama menaruh hati padanya. Bumi pun akan seperti apa jika dihadapkan dengan sifat dingin sang pujaan hati.


"Ah, perasaan apa ini yang berkecamuk di tengah malam." Pikiran ku menyimak segala yang telah terjadi.


"Mengapa ia muncul dihadapan ku dengan segala kelembutan parasanya. Apakah dia berpikir, dia sudah berhasil merenggut isi hatiku? Ataukah berhasil mengambil seluruh hidupku."


"Orang-orang juga bilang dia perempuan tomboi, perempuan agak lain hobinya."


"Perempuan cuek, gengsi, dan tidak berperasaan."


Secara satu tahun ini, memang begitu adanya. Tak ada yang salah dari pendengaranku yang orang orang sematkan padanya. Sangat egois. Tak pernah ia sedikit saja memikirkan perasaan orang lain ketika mengeluarkan kata-kata. Ay bahkan beberapa kali melabrak temannya karena menfitnanya. Ia seakan-akan bertindak tak berpikir panjang.


Siapapun yang berani mengobral fitnah terhadapnya, dan dia mendaptkan orang itu, ia langsung memberi pelajaran kepada mereka.


Tapi, tapi kenapa aku begitu nyaman dengannya. Aku begitu peduli padanya. Aku selalu melindunginya. Tak terhitung sudah berapa kali dia minta mengakhiri hubungan. Bulan ke tujuh pacaran waktu itu Ay minta putus. Alasannya dia tidak menyukai laki laki yang terus terusan menanyakan kabar, kegiatannya setiap hari, bahkan menanyakan hal hal kecil seperti sudah makan, minum, tidur, dan lain lain. Baginya itu urusan pribadi dan seperti anak kecil.


Namun tidak bagiku, tidak mengabarinya satu hari saja, pikiranku menerawang jauh. Aku berprasangka buruk. Barang kali dia ada cowo lain di hatinya sehingga kadang chat ku hanya di baca saja tanpa di balas.


Dan itu makananku selama satu tahun bersamanya. Aku sering mendatangi kos nya untuk memastikan dengan siapa dia di sana, dan nyatanya dia tidak bersama siapa-siapa. Menyendiri, fokus, dan menajamkan mata di depan layar ponselnya.


Aku sudah sering memberikan pemahaman bahwa, kurangi egois dan cuekmu Ay.

__ADS_1


"Ay, bisa gak chat tuh langsung dibalas"


"Ay, aku ini pacarmu, kekasihmu." Kata Bumi.


"Ay rubahlah sikapmu meski itu hanya padaku saja, kau tak perlu merubahnya untuk orang lain. Ay cukup balas chat ku dengan cepat, sudah membuatku senang.”


"Apalagi kalau Ay yang duluan menanyakan keseharianku, aku sangat butuh itu Ay".


Ini yang kuucapkan di keheningan malam. Menyusun kalimat yang ingin ku sampaikan besok pagi pada Ay. Akan tetapi otak kiriku, cepat menyangkal semua itu.


"Bumi kamu gak akan bisa menyampaikan itu"


"Kamu gak sanggup untuk mengatakannya. Kamu gak bisa."


"Binar mata Ay sudah mengambil akal sehatmu. Netranya begitu lembut"


"Dia benar-benar berarti bagimu, hingga membuatnya cemberut saja kau tak mampu"


"Apalagi nanti kau menyampaikan kekesalanmu membuatnya pergi, akan ku pastikan kau kehilangannya untuk selamanya"


"Hufff...."


Bumi menarik nafas yang panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan.


Krekkkk...


Suara pintu terbuka. Ku merubah posisi duduk melihat siapa yang bangun tengah malam begini.


"Rupanya kau Bintang." Ujar Bumi.


"Kenapa? Kok bangun?" Sambungnya lagi.

__ADS_1


"Kipas angin mati, jadi rasanya pengen nyebur panas bangat". Bintang membuka baju karena kepanasan dan mengelap keringat yang menjalar di sekujur tubuh.


"Dan lo kenapa gak tidur?" Tanyanya lagi.


"Tadi minum kopi, jadi mata melebar gak bisa tidur". Ku jawab asal sambil membesarkan volume handset yang gue pake dari tadi.


"Ada roko gak?" Kata Bintang.


"Ada brow, sisa ini." Ku memperlihatkan batang rokok yang sudah setengah dimakan api.


"Gimana? Masih berlanjut atau...


Belum berakhir pertanyaan dari Bintang, ku sigap mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain. Aku sudah tau dari tatapannya, bahwa pertanyaannya menjurus kemana. Dan aku tidak mau berbagi dengan siapapun rasa yang berkecamuk sedari tadi yang menguasai malam panjang ini.


Aku hanya menceritakan semua hal terkecil bahkan terbesarku hanya pada Ay. Kami berdua sudah berjanji akan hal itu. Bahwa apapun yang terjadi, jangan mengeskpos kesiapapun apalagi ke media sosial. Cukup bertengkar, ngambek, dan saling blok berdua saja.


Sebenarnya aku yang menaruh haparan terlalu tinggi pada Ay. Sehingga apapun yang Ay lakukan bahkan tidak merseponku saja, sudah ku anggap hal biasa.


"Bucin alias Budak Cinta". Itulah gelarku yang ku sematkan oleh diriku sendiri. Laki-laki Bucin.


Ay, sebuah nama yang mampu mengisi kekosonganku selama ini. Seseorang yang telah menggoyahkan benteng perjombloanku, seseorang yang akan kutopang sandarannya, sekaligus seseorang yang akan selalu bertahta dihatiku kemarin, hari ini, dan yang akan datang bahkan sampai rambutku memutih. Hehe seperti lirik lagu ya.


Ketika duduk sama Ay, ponsel nya memang selalu di pegang. Namun bukan untuk balas chat. Dia hanya mencari cari judul film Action. Hanya bergelut dengan dunianya sendiri. Aneh bukan? Sangat aneh. Ku tak pernah melihatnya menggunakan bahasa anyeong, seperti teman temannya yang lain. Aneh benar kekasihku ini. Inginku tukar posisi supaya dia tahu rasanya di abaikan.


Pernah Ay bilang. Jangan menghubunginya untuk waktu satu minggu, dan kalau bisa satu bulan sekalian. Aku menggeleng memarahinya saking rasa kesalku memuncak. Dan dia hanya memblok nomorku memutuskan seluruh kontak.


Sudah menjadi kebiasaan Ay, jika ada masalah ia tidak mau menyelesaikannya dengan cara berkata panjang lebar, apalagi memaki. Jalan ninja yang sering ia gunakan adalah memblokir semua jalur komunikasi dengan Bumi. Waktunya pun tidak bisa ditebbak, bergantung pada moodnya, kalau moodnya belum stabil berarti belum ada harapan. Dan cara Bumi meluluhkannya dengan menyambangi kosannya.


Kalau dipikir-pikir ada benarnya juga Ay mengatakan itu. Karena kami tinggal di satu kota satu kampus bahkan kosanku dan kosannya hanya beda berapa lorong saja. Hampir setiap hari juga bertemu.Cinta. Cinta yang membuatku hilang akal.


Semisal perangko dengan lem selalu jalan berdampingan, akan memiliki kekuatan jika disandingkan, dan akan memiliki celah jika tidak direkatkan. Itulah yang Bumi terapkan pada hubungannya.

__ADS_1


Hufffffffffff.... Bumi, Bumi.... sipaling bucin.


Bersambung ....


__ADS_2