Perempuan Egois Miliku

Perempuan Egois Miliku
Perempuan Egois Miliku (16)


__ADS_3

Perempuan Egois Miliku


Bagian 16


Bumi sadar betul, apa yang terjadi barusan, Ay meremas jaketnya dan bulir netra yang jatuh adalah bukti setiap manusia memiliki naluri untuk berubah bahkan mengintropeksi diri. Bumi tidak terlalu ambil pusing dengan sesegukan Ay dalam tangisnya, ia hanya terpaku bagaimana hati egoisnya luluh.


Dalam hidup, kita tak pernah tahu kapan kesabaran itu bertahan. Kapan pula kesabaran itu runtuh. Yang kita tahu adalah terus berusaha dan menyakini semakin lama batu mengenai tetesan air suatu saat akan membekas juga. Begitulah dengan Bumi, tumpuan yang ia pegang teguh selama menghadapi Ay, kesabaran.


Baginya kesalahan selain pengkhianatan bisa di perbaiki. Dari pantauan dua tahun lebih, meski Ay dinobatkan sebagai perempuan egois seantero organdanya, Ay belum pernah berlebihan sikap dengan lelaki lain. Itulah mengapa Bumi menemukan kejutan baru di setiap detiknya selama bersama Ay. Saat pertama betemu Ay, hati Bumi langsung klik. Dan naruli mengatakan akan ada perbedaan dengan hubungan yang ia jalani sebelumnya.


Suatu kebangaan bagi Bumi, sikap Ay menunjukan perubahan. Jika dirangkum perubahan Ay adalah berani mengatakan kangen, menangis jika berdebbat dengan Bumi, respon mulai cepat, peduli dengan keadaan Bumi, dan hari ini bisa dibilang ada dua kejutan 'meremas jaket Bumi, juga membeli gelang untuk Bumi' walaupun gelang itu belum dia berikan pada lelaki sabar miliknya.


Tidak banyak kata-kata yang keluar dari kedua insan itu, fokus dengan ponsel masing-masing. Bumi pun tidak berniat untuk menanyakan perihal Ay yang tiba-tiba merangkul jaketnya. Duduk berhadapan, tidak ada obrolan, tidak ada kopi buatan Ay, tidak ada senda gurau. Sunyi. Persis dentingan mahluk kecil di tengah malam. Bumi pamit pulang, karena suasana tidak begitu ramah.


* * *


Hari semakin dekat. Terhitung 24 jam lagi Bumi untuk sementara LDR an Part 2 dengan Ay. Persiapan untuk pulang pun sudah lengkap. Ia mulai membuat perencanaan dalam otaknya. Bagaimana menjaga Ay dari kejauhan, bagaimana mengontrol emosi Ay? Bagaimana cara agar Ay selalu siap melayaninya jika dihubungi? Berlian yang akan ia rindukan nantinya supaya tidak kesepian.


Tidurnya tidak nyenyak, ingin rasa selalu dekat dengan belahan jiwa. Bila satu bulan ke depan bayang raga tidak terbayang lagi, apakah senja senikmat sore kemarin. Bila satu bulan ke depan jemariku tidak lagi mengelus kepalanya, apakah rona cantik itu menghambar. Bila satu bulan ke depan aku percayakan ia akan menjaga hatinya, apakah yakinku sekuat mencintainya. Ah, sudahlah mengapa aku begitu ragu dasar raganya. Bukankah, Ay termasuk perempuan egois, yang kalau urusanku saja dia tidak perduli apalagi urusan orang lain, laki-laki yang mencoba mendekatinya misalnya.


Bumi mengocok kedua matanya, agar sadar dari keresahan. Bergegas ke kamar mandi, sekadar medinginkan wajah tanpa pencuci muka. Terlepas, bagaimana Ay kalau ia tinggalkan untuk sementara waktu, Bumi juga berpikir apakah Ay memikirkan apa yang saya pikirkan. Mudah-mudahan perempuan itu meninggalkan pesan-pesan romantis nanti bila tiba di pelabuhan, biar kayak di film-film.


Ting...ting...

__ADS_1


Dua pesan masuk. Bumi yang lagi gabut secepat kilat menempel jari telunjuknya untuk sidik jari buka ponsel.


"Ka." Singkat namun mampu membuat otak Bumi melayang jauh.


"Mau gak." Ay mengirim sebuah gambar gelang yang tidak sempat ia berikan pada laki-laki bucin itu. Bumi tidak langsung balas. Ke kanan-ke kiri, senyum sendiri, mengerutkan kening entah apa yang Bumi pikirkan saat melihat gambar sederhana itu.


Tiga menit berlalu, nama kontak 'Ka Bumi' yang Ay berikan pada kekasihnya itu terus menampilkan dua kata 'sedang mengetik' tapi tidak kunjung tiba balasannya. Alih-alih menunggu jawaban dari Bumi, Ay ambil jalan pintas. Ia membuat kotak kecil ukuran gelang agar kelihatan seperti sebuah kado. Ay mulai menghias permukaan kotak yang ia beri lapisan hitam. Tidak ada pita warna-warni sebagaimana perempuan di luar sana jika memberika kado pada pasangan atau sahabatnya. Sangat tidak berlaku di dunia peregoisan Ay.


Kotak kado sudah siap, gelangnya pun sudah di masukan ke dalam kotak. Ia simpan kado itu di dalam kantong warna hitam. Terlihat tidak romantis bukan? Namanya juga perempuan mata tajam sikap egois, mana peduli dia yang model begituan. Buang-buang waktu katanya.


Usai sudah prahara kado malam itu, Ay tidak sedikitpun memikirkan bagaimana nanti jika waktu keberangkatan Bumi benar-benar tiba. Apakah nanti rindu? Apakah nanti Bumi selingkuh di sana? Apakah ia mencari penghibur pada wanita lain? Ataukah mungkin ia tetap seperti saat berdekatan selalu memberikan perhatian kecil. Lintas otak Ay tidak begitu menerawang jauh. Yang ia tahu Bumi pulang kampung selama kurang lebih satu bulan. Itu saja. Tidak ada embel-embel lain. Emang dasar perempuan dingin.


Di tempat tidur, Bumi terus menatap gelang di dalam gambar yang Ay kirim. Masih belum memberikan jawaban. Sehingga aplikasi chat fenomenal itu tetap terlihat online bagi siapapun. Dasarnya tidak begitu tampak, apa yang membuat jemarinya kaku untuk mengukir satu dua kata mengekspresikan rasa yang muncul. Terus, tibalah alarm ponsel milik sahabatnya Bintang, yang sedang tidur pulas di samping kirinya. Cepat, Bumi menarik selimut menutupi seluruh tubuh kekarnya setelah mengetahui sekarang sudah menunjukan pukul 03.00 dini hari. Artinya kesempatan untuk menikmati bunga tidur sangat sedikit. Dan 5 jam lagi ia harus menuju pelabuhan.


* * *


Memggoyang-goyangkan tubuh, Jenaka sedikit usil membangunkan Ay dengan cara beranak akar.


"Ay, bangun. Sudah pagi ini, jam 6." Ujar Jenaka berusaha menginformasikan situasi pagi. "Ayo, bangun. Mau ikut antar Kak Bumi dan kak Bintang gak?" Imbuhnya lagi.


Masih belum ada respon. Tubuhnha kaku, namun jantung tetap berdenyut. Lagi, Jenaka menarik kasar selimut yang menutupi seluruh lekuk tubuh Ay. "Ayyyyy, bangunnnn." Suara keras Jenaka menggelegar untuk waktu sepagi itu.


"Ay sayang, bangun yuk." Berubah cara Jenaka membuyarkan kekakuan Ay. Suara gelinya begitu jijik di telinga Ay. Seperti ******* di film-film dewasa. Cara ampuh ini, Jenaka gunakan karena bagaimanapun selama ia bersama Ay, inilah yang berhasil membuat ia bangun. Jadi, ada waktu-waktu tertentu alias tidak sembarang kesempatan. Kalau genting, baru dipakai.

__ADS_1


Upamnya berhasil menangkap mangsa, bola matanya tajam. Tatapannya siap menerkam siapa yang berani mengusik tidur nyenyaknya. Alis tebal dan hitam pekat milik perempuan kumis tipis itu tidak bergoyang sehelaipun.


Jenaka takut dibuatnya. Memasang raut minta dikasihani, Jenaka bertekuk meminta maaf. Tidak tahu apa yang terjadi dalam tidurnya, pas bangun sikap Ay tidak biasa. Aneh. Untung, Jenaka cepat menanggapi itu.


Pelan, bulir suci netranya tumpah mengenai selimut kesayangannya. Penasaran Jenaka dibuatnya. "Ay kenapa?" Pertanyaan itu muncul tanpa aba-aba. Mungkin akibat dari rasa penasarannya. Jenaka memdekat, meraih tangan Ay.


"Na." Tatapan bola matanya senduh. Apa yang terjadi. Mimpi kah dia? Sahutan Ay berhenti menyebut nama sahabat seiya nya.


"Mimpi buruk ya?" Tanya Jenaka penuh kelembutan. Padahal tadi dialah yang mendesah di telinga Ay untuk bangun. Juga kaget saat sikap Ay tidak biasa.


"Aku ambilin air putih ya!" Lanjut Jenaka. Tidak ada respon sepenggal kata dari Ay. Hanya tatapan kosong dan senduh.


Jemarinya saling meremas. Rambut lurus stengah pundak tidak menampilkan kecantikannya, hambur. Jenaka langsung menuntun kedua tangannya untuk memegang gagang gelas meneguk air putih guna merilekskan perasaan.


"Minum sampai habis ya." Ujar Jenaka. Ay mengangguk.


"Tadi, kenapa?" Berulangkali Jenaka bertanya.


Ay menghembuskan nafas panjang dan "Kak Bumi Na." Setetes embun pun jatuh untuk kedua kalinya kurun waktu 15 menit.


"Na, kak Bumi...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2