Perempuan Egois Miliku

Perempuan Egois Miliku
Perempuan Egois Miliku (15)


__ADS_3

Perempuan Egois Miliku


Bagian 15


Dielusnya pelan, lalu menyimpannya kembali. Sebuah topi berwarna putih yang di pajang secara terpisah dengan warna yang lain. Ingin mencobanya, tapi dirak tempat simpan bertuliskan 'mencoba berarti membeli' ia mengurungkan niatnya itu.


Pandangannya beralih ke rak bagian sepatu beraneka merek. Susunan sepatu mengikuti harga, mulai dari rak paling atas dengan harga yang fantastis hingga paling ujung bawah harga kantong anak kosan namun modelnya tidak begitu menarik. Untuk kedua kalinya ia berpindah pandangan. Netranya menangkap pernak pernik di rak paling ujung. Perlahan langkahnya menuju tempat paling sudut. Lumayan, harganya tidak terlalu melangit, namun warna dan modelnya tidak begitu ia minat.


Terhitung satu jam Ay mengitari toko favoritnya itu. Belum satupun barang di keranjang belanja yang ia ambil, kosong. Hanya tas kecilnya yang ada di sana yang ia simpan sebelum berbelanja. Tanpa rasa malu, Ay berjongkok di rak bagian ujung untuk sekadar mengatur nafas dan memijit jari kakinya karena kecapean memutar pusat perbelanjaan. Tak di hiraukannya orang-orang yang melihatnya dengan tatapan sinis kadang ada juga yang tertawa melihat caranya berjongkok.


Masih kuat keinginan untuk mendapatkan topi yang tadi, ia kembali lagi menuju rak khusus topi. Pertama lihat harga yang dipajang, kemudian menghitung uang dalam dompet. Setelah dihitung dengan teliti ternyata uangnya cukup untuk membeli topi yang dia incar dari awal masuk.


"Hm, lumayan cantik ya kalau aku pakai ini." Gumam Ay yang sudah bergaya di depan cermin di samping rak khusus topi.


"Beli ah, bagus nih warnanya apalagi modelnya yang tidak pasaran." Katanya dengan volume kecil.


Keranjang belanjanya hanya berisi topi yang ia ambil dari rak, bukan tidak terisi sebenarnya hanya saja harga barang yang cukup mahal, uang bulanan yang pas-pasan mewajibkan nya untuk mendahulukan kebutuhan bukan keinginan. Topinya ia pegang lalu keranjang belanja ukuran sedang itu Ay simpan kembali pada tempat semula.


Menuju meja kasir dengan antrean nomor empat, lumayan sepi hari ini. Menunggu giliran, Ay melihat kesana-kemari, matanya berhenti di rak pernak-pernik model estetik. Ia meminta bantuan orang dibelakangnya antrean lima untuk menitip topi dan menjaga tempat ia berdiri di antrean nomor empat. Langkah yang penuh semangat dan terburu-buru, tanpa berpikir panjang ia langsung mengeluarkan gelang warna hitam dari gantungan. Setelah itu, Ay kembali lagi ke antrean kasir.


"Terima kasih ya mbak." Ay ambil kembali titipan yang tadi dan melempar senyum ke orang tempat ia titip.


"Berapa totalnya mbak?" Tanyanya pada kasir.

__ADS_1


"45.000". Jawab kasir muka judes itu tegas.


Ay menyodorkan selembar uang berwarna biru dengan kembalian 5.000 "terima kasih." Rupanya Ay mengikuti nada yang dilontarkan oleh kasir di depannya.


Melenggang ia menuju halte diseberang jalan, di sana ia bermaksud menunggu ojek online yang ia pesan. 10 menit kemudian, notifikasi masuk. Notifikasi pertama yang muncul pemberitahuan pembatalan order ojek online. Kedua, ada chat dari penjaga hati.


"Yah, dibatalin. Lama lagi dong gue nunggu." Ay mendesah dengan kecewa. Namun, segera ia buka isi pesan dari belahan jiwa, Bumi "Lagi di mana?" Berulangkali Ay baca isi pesan dari orang spesial di hatinya, mengalahkan kekecewaannya tadi pada ojek online.


"Lagi di pinggir jalan, nunggu ojek online. Tapi, tadi dia cansel. Gimana dong, udah sore ini." Jawaban yang sangat lengkap. Biasa ia hanya balas dengan singkat. Dari kalimatnya, ia minta di jemput Bumi, kayaknya. Hehe.


"Pinggir mana, di kampus?" Bumi balik tanya.


"Bukan ka, aku di halte depan xx (salah satu pusat perbelanjaan) yang di samping kampus." Pesan terkirim. Disusul pesan kedua, Ay mengirim emoji love.


"Kalau gitu, ojek online aja pulangnya. Hati-hati tapi ya, udah sore ini." Saran Bumi memberi umpan pada pancingannya si perempuan sonto loyo.


"Udah tadi, dua kali malah. Dibatal terus ini." Sedikit kebohongan yang Ay lontarkan, ia hanya memesan ojek online satu kali dan tidak mencobanya kembali. Ia menungu Bumi untuk siap jemput.


Satu menit, dua menit, sejak 3 menit yang lalu Ay mengirim balasan, belum juga direspon oleh Bumi. Merapikan bungkusan belanjaan, lalu memasukannya ke dalam tas. Ponsel diberi mode peawat. Ia menuruni anak tangga halte, bibirnya berkedut siap menangis, dan tik bulirnya jatuh tepat di layar ponsel yang ia pegang. Menyebrangi jalan lagi, bagian kanan dari posisinya menuju kosan. Kepala tunduk, seperti anak kecil habis diomelin mamanya.


Ditempat lain, Bumi lagi asyik bercanda dengan teman-teman organda di sekret. Tempatnya pun tidak jauh dari kos, pas disamping kosnya Bumi. Disanalah tempat seluruh keluh maupun canda di satukan. Bumi yang memiliki kepekaan tinggi, merasakan ada yang kurang saat ia masih dalam suasana damai itu.


Tatapannya kosong, mengingat apa yang terjadi beberapa menit lalu. Diraihnya benda pipihnya itu dari kursi, lalu menghubungi kontak 'Ay Sayang'. Hanya suara operator yang terdengar. "Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, silakan hubungi beberapa saat lagi. Tuttttttt."

__ADS_1


Bumi bergegas mengambil kunci motor di kosnya di samping sekret tancap gas menuju tempat yang disebut Ay halte pinggiran. Pelan, pandangannya menerka satu per satu perempuan yang berjalan di pinggir jalan, tak ia temukan perempuan cantik miliknya. Bumi mengambil jalur kiri, agar lebih dekat dengan pejalan kaki.


Sampailah, di lorong masuk kosan Ay, Bumi berjalan pelan dari belakang. Bumi terkikik melihat cara Ay melangkah dengan rasa malas. Kepalanya hampir tidak kelihatan saking tunduknya. Entah mengapa perempuan itu begitu tunduk jalannya. Apakah menjaga pandangan atau sedang mengelap air mata?


Bumi mendekat lalu memencet klakson, suaranya keras. Karena Ay jalannya serius, ponsel yang ia pegang terjatuh hampir terendam di dalam got. Kaget.


"Naik, udah sore. Tadi katanya ada jambret di lorong sebelah." Bumi dengan serius dan tegas pada Ay. Juga menakut-nakuti wanita itu dengan kejadian yang ia buat-buat.


Luruh genangan Ay yang ia tahan dan bergejolak rasa di dada. Berharap belas kasih dari Bumi tapi tak kunjung peka. Demi gengsi, Ay tidak secara langsung meminta bantuan Bumi untuk menghampirinya di halte. Alhasil, dia sendiri yang terbakar oleh percikan itu. Ay tidak menyahut saat Bumi menakut-nakutinya, tangannya sibuk mengeringi tumpahan genangan di sisi muka, jari kanan ia perlahan masukan ke saku jaket milik Bumi. Tak ada keraguan, tak ada cangungan, tanpa disuruh tangannya meremas kuat dalaman saku jaket Bumi.


Kaget Bumi di buatnya. Mulutnya terkunci tak mampu melontarkan kata-kata. Hanya desiran darah yang maraton menuju hilir. Tubuh kekarnya tidak bisa berbohong, lembut tangan Ay meremas jaket hitam itu sepersekian detik berubah damai.


"Ya Allah, bagian pintaku yang mana yang Engkau kabulkan? Apakah buah kesabaranku ataukah sujudnya yang khusuk?" Gumam Bumi sedikit lega.


"Ay, turun yuk. Udah sampai!" Ujar Bumi lembut.


"Iya, terima kasih." Dengan malu-malu Ay menunduk kepalanya lagi bergegas menghindar dari pandangan Bumi.


"Kenapa?" Bumi melontarkan pertanyaan, lembut jarinya mengelus-elus kepala Ay.


"Mari ka, ke atas." Pertanyaan Bumi diabaikannya lalu mengajak lelaki berotot nan ganteng itu menuju lantai dua.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2