Perempuan Egois Miliku

Perempuan Egois Miliku
Perempuan Egois Miliku (13)


__ADS_3

Perempuan Egois Miliku


Bagian 13


Untuk jemari yang selalu menggenggam kebersamaan, untuk langkah yang selalu menuju arah yang sama, pun untuk sahabat yang selalu meringankan canda agar kami tetap solid, semoga bermuara pada langit yang esa.


Berharap, tak pernah dipatahkan, tak pernah digoyahkan, kuat yakin, tegak pundak bahwa saling bergandengan akan memperteguh usaha.


Duhai, senja yang datang tanpa diminta, embun yang menghasilkan bulir kesejukan, jalan yang kami tapak, juga ruang kami menepi, bertahanlah hingga kami abadi.


Saban waktu, rasa tak dapat diuraikan. Nikmat tak dapat diduakan. Diumpamakan raksi sehabis rintik senyap, namun lara dibungkam riuh jiwa menyimak runtutan kebahagiaan. Begitu indah.


Halaman, tak dibiarkan usang, tak dibiarkan hampa, agar kelak mengulas awal jumpa dapat ditelusuri kembali, mengenang menjaga rasa yang tumbuh.


Halaman, kronogi kasih ditulis teratur, sampai tutur pun tak terbentur, dengan tinta pekat melukis alur yang sudah terulur.


* * *


Oktober 2018


Jikalau ingat, dulu menjelang usia satu tahun menjalin asmara, Ay dan Bumi kali pertama berjauhan selama tiga hari. Jangan kau tanyakan, mengapa di paksa mengingat kembali tentang itu, ada suatu hal yang akan terjadi persis sama.


Oktober 2018, dua hal yang muncul bersamaan, yaitu kakak perempuan Bumi akan menikah dan Ay bergelut dengan magang 3. Artinya, ada yang pulang kampung ada juga yang menetap di rantauan. Perkiraan waktunya sebulan.


Suatu sore di awal bulan oktober 2018, Bumi mengajak Ay menyusuri jalan di kota ini, mengukir kalimat penuh canda, semilir angin sukses memangkas jarak antara Ay dan Bumi selama berkendara. Diberikannya senyuman terindah dikala menatap pujaan hati lagi serius mengurai ujung jilbab di kaca spion.


"Ay." Panggil Bumi.


"Hmm." Dari pantauan kaca spion Ay masih sibuk dengan jilbabnya.


"Senyum dong."


"Senyum untuk apa?"


"Bukan untuk apa-apa. Aku mau liat Ay senyum aja."


"Nih." Ay hanya menunjukan giginya seperti anak kecil yang dipaksa senyum.


"Aku bilang senyum Ay, bukan tunjuk gigi."


"Emang kenapa kalau senyum nunjuk gigi?"


"Gak, maksud aku kalau senyum tuh ikhlas. Tadi tuh Ay senyum nya paksa, jadi giginya keliatan tapi muka Ay murung."


"Lagi gak berminat. Udah ah, aku mau nikmat angin sore ini." Tanpa disadari Ay senyum-senyum sembari merentangkan tangan menikmati udara.


Bumi yang tidak mau ketahuan, ikut senyum saat melirik wajah Ay di kaca spion.


Selepas Ay merentangkan tangan, seperti biasa kalau melihat pemandangan yang indah, melihat gedung-gedung tinggi menjulang, awan yang terang, ia akan mengabadikannya dengan merekam video atau pun foto, tentunya dengan gaya ciri khas estetik.


"Bagus ya cuaca sore ini, terang." Kata Bumi.


"Hem." Ay hanya mengangkat jempol.


"Hati-hati, nanti hp nya jatuh." Pungkas Bumi lembut.


"Mau istirahat atau mutar terus?" Lanjutnya.


"Muter terus ka, anginnya sejuk."


"Oke bu Ay."


* * *


Terhitung 1 jam lamanya, kedua insan ini hanya mutar-mutar tanpa tujuan. Barangkali persiapan LDR part 2, memupuk kenangan sebelum terjun kesibukan masing-masing. Tadi percakapannya belum masuk ke agenda inti. Bumi mengurangi kecepatan laju roda, pelan.


"Lokasi magang 3 di mana?" Bumi memulai.


"Belum tahu, pihak prodi belum ada informasi baru." Jawab Ay dengan netra fokus ke depan.


"Kalau angkatan 14 kemarin sih, paling lokasinya sekitar Ma*****r (nama kota disensor)."


"Iya, info yang beredar juga begitu ka."


"Mungkin dalam minggu ini ada informasi barunya." Sambung Ay.

__ADS_1


"Semoga ya. Kalau minggu ini ada infonya berarti aku punya kesempatan untuk antar Ay magang sebelum pulang kampung, hehe." Harap Bumi.


"Heeh, soalnya kalau naik grab tiap hari, uang bulanan aku gak cukup." Ay memoyongkan bibirnya.


"Coba nanti tanya Bintang, ada gak satu kelas ditempatkan di satu lokasi juga. Lumayan, Ay gak pusing lagi nunggu grab yang kadang main cansel aja." Saran Bumi pada Ay. Bintang dan Ay memang satu fakultas, tapi beda jurusan.


"Kemarin, aku tanya teman aku yang mengulang di kelas kami, katanya nanti ada yang beruntung dapat teman satu kelas di satu lokasi. Imbuh Ay.


Bumi berpikir, sekarang waktu yang tepat untuk memulai percakapan mengenai pulang kampung dalam waktu dekat. Kilas balik sebentar, sekarang 2018 Bumi sudah memasuki 6 tahun perkuliahan, itu artinya ia molor 2 tahun. Bumi telah menyelesaikan semua PPL 1, PPL 2, dan PPL 3. Namun, seperti mahasiswa laki-laki pada umumnya, Bumi belum sama sekali menyusun proposal apalagi memikirkan skripsi.


"Kak Inggar ada kabar gak sama Ay?" Tutur Bumi.


"Jarang ka, paling sekali seminggu. Kabar apa emang ya?" Tanya nya, Ay menggeleng.


"Oh gitu ya, kak Inggar bulan ini nikah Ay." Dengan suara pelan Bumi memberitahu.


"Hah, nikah...." Ay tersentak sembari memukul pundak Bumi pelan. "Pasti bohong. Orang kak Inggar gak pernah kasi tahu ke aku." Dengan suara sedikit kencang Ay masih tidak percaya.


"Benar, kak Inggar nikah tanggal 21 Oktober ini Ay." Bumi sudah membuka lebar pintu obrolan inti.


"Makanya, kalau hari Senin tanggal 15 info penempatan lokasi magang Ay, berarti tanggal 16 besoknya magang dimulai, itu artinya aku bisa antar Ay satu hari aja. Aku sudah beli tiket pulang Ay." Kata-kata Bumi penuh kelembutan dan pelan supaya Ay bisa memahaminya dengan kepala dingin.


Belum ada tanggapan dari Ay, alarm pertanda waktu magrib sudah mulai terdengar dari masjid-masjid terdekat. Ay menggeleng, dan dirogohnya ponsel dari tas, melihat pukul berapa sekarang.


"Pulang yuk ka, udah mau magrib. Tentang ka Bumi pulang kampung dan magang 3 nanti lanjut di kos." Bumi yang sedikit gelisah menunggu tanggapan dari Ay, malah di suruh putar balik untuk pulang oleh Ay.


Bumi mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya pelan-pelan, menggamit tangan Ay dengan jari. "Ya, ya." Imbuhnya cepat.


"Lewat sini aja ka, cepat." Ay menujuk ke arah belokan bagian kanan jalur masuk lorong kosannya.


Bumi hanya mengangguk setuju dan langsung tancap gas mengikuti arahan perempuan pemilik dagu belah itu. Kurang lebih 10 menit, laju rodannya berhenti di parkiran kos bagian sudut samping kiri tangga naik lantai 2. Buru-buru Ay menaiki anak tangga, saking tergesanya ia dengan kekuatan super melewati tiga anak tangga supaya cepat sampai.


Setiba di lantai 2, Ay tidak langsung masuk kamar, tapi berlari kecil ke arah keran dekat kamar mandi untuk berwudu.


Sementara, Bumi si paling santai dengan langkah pelan, ia menaiki anak tangga sambil mengangkat telepon yanh berdering sedari tadi. Dilihatnya nama panggilan masuk, ternyata Jenaka. Mungkin, sahabatnya itu mengira terjadi sesuatu antara Ay dengan Bumi.


"Heilo Na, kenapa? Aku di tangga naik nih, baru pulang sama Ay." Ucap Bumi tanpa beban.


"Hufff, aku kira ada badai, ****** mbliung, petir, halilintar pun menyambar. Syukurlah." Jenaka yang sedikit terpengaruh oleh tingkah Sahabat nya Ay, belakangan ini seringkali berprasangka buruk. Jenaka tadi menghubungi Bumi karena mendengar hentakan kaki Ay yang terkesan kasar. Padahal Ay buru-buru ambil air wudu karena sudah terlambat beberapa menit untuk salat Magrib.


"Haha, ada-ada saja. Emang nya kenapa tadi? Tanggap Bumi.


"Maaf ya, kayak lo gak tau aja. Ay pacar Bumi, gak pernah lembut walau sedetik." Gurau lelaki pemilik kasih sayang.


"Buru-buru dia, udah telat berapa menit untuk salat magrib." Lanjutnya lagi.


"Oh, masyaallah Ay ku." Puji Jenaka pada Ay.


* * *


Seusai melaksanakan kewajiban sebagai tanda ketaatan kepada pencipta seluruh yang ada di muka Bumi, Ay menggantung mukenah nya di dalam lemari bagian hanger. Sebagai ganti letih sore tadi, Ay merebahkan sebentar tubuh ke spoon di samping Jenaka.


"Dari mana aja, jam segini baru pulang?" Jenaka bertanya tampaknya penasaran.


Rasa penasarannya tidak digubris oleh perempuan cuek itu, Jenaka menepuk pundak dan bisik di telinga Ay " abis kencan ya!" Intonasi yang sangat menggoda dari Jenaka, mencoba menebak apa yang sudah di lalui teman sekamarnya sore tadi.


Masih, Ay cuek dan fokus membenarkan posisi selimut kesayangannya.


"Nih ya, ibarat petir, guntur, mendung seharian tapi ujungnya tidak hujan. Begitu pula dengan aku yang malang ini. Sudah penasaran, bertanya banyak, colek-colek, dan bisik menggoda juga sudah tapi tidak menemukan jawaban. Sangat rumit jadi Jenaka.


"Cari angin ah." Gumam Jenaka.


"Kak Bumi, ngobrol yuk." Pekiknya. Jenaka meletakan ponsel miliknya di atas rak buku. Ditariknya jilbab yang menggantung di dalam lemari, lalu beranjak keluar kamar menuju ke teras kos tempat Bumi menunggu dan bersantai.


"Mana dia?" Bumi menanyakan Ay, dari tadi belum juga menyusulnya di teras. Baru 30 menit yang lalu, bilang nya obrolan pulang kampung dan magang lanjut di kos saja. Eh, malah Ay baring sebentar lagi.


"Dia mati suri, tuh di kamar." Jawab Jenaka tampak kesel.


"Haha... Ay, Ay." Ucap Bumi menggaruk kepala yang mungkin tidak gatal. Sepertinya tindakan refleks.


"Kak Bum, aku buatin kopi ya!" Pernyataan Jenaka tidak sempat di respon oleh Bumi, berdiri menuju kamar membuat kopi.


Netra Bumi mengikuti arah Jenaka melangkah menuju kamar.


"Na, bangunin Ay dong." Seru Bumi dari teras.

__ADS_1


"Iya, iya. Sabar." Jenaka membangunkan Ay menggunakan kaki kanan karena masih kesal.


"Oi, oi bangun.


"Hm." Suara Ay mendayu-dayu.


"Iihh, dasar penikmat film barat. Gitu aja serak-serak. Bagun, kak Bumi panggil." Tegas Jenaka.


Jenaka tidak menunggu respon dari Ay, ia mengambil nampan untuk mengantarkan kopi buatannya ke Bumi.


* * *


5 menit kemudian


"Maaf ya, aku tadi ketiduran." Serak suaranya, meminta maaf pada Bumi.


"Gak apa-apa, santai." Bumi tersenyum dikala menatap wajah polos milik kekasihnya.


"Na, maaf ya sebelumnya, bisa beri kami waktu berdua gak di sini, ada yang penting nih." Bumi menunduk sambil memberi kode maaf ke arah Jenaka. Menurut Bumi, ini privasinya dengan Ay, meski nanti obrolannya tentang pulang kampung saja.


"Oh, ngomong-ngomong terima kasih kopi nya ya, rasanya pas!" Sambung Bumi.


"Ohhh...ya, ya, ya. Bisa kok bisa, apa sih yang gak bisa buat orang-orang yang mau LDR-an." Jenaka tertawa mengacungkan jempol ke jidat Ay. "Gunakan otakmu yang sedikit karat itu ya, jangan ngambek terus." Ledek Jenaka pada sahabatnya Ay.


"Iidihhh, kayak bener aja lo. Noh, otak lo kayak pipa umum, bengkok." Ledek Ay balik.


Akhirnya, Jenaka melenggang ke kamar memberikan ruang privasi untuk kedua sahabatnya. Padahal Jenaka, lebih dulu tahu rencana Bumi pulang kampung di bandingkan Ay. Kemarin, Jenaka tidak sengaja menguping pembicaraan Bintang dan Bumi tentang harga tiket Tilongkabila. Tapi, setelah kemarin mendengarkan semua pembicaraan dua seniornya, ia tidak langsung memberitahu ke Ay. Takut salah, karena bisa jadi pendengarannya kurang jelas.


Sembari meneguk kopi yang diseduh oleh Jenaka, Bumi melirik Ay selalu menatapnya sendu. Bumi mencoba menerka, apa maksud tatapannya, tapi tak menemukan makna. Biarlah. Mungkin dia sudah berubah caranya memandang. Barangkali dia sudah merasakan bagaimana nanti kalau LDR-an.


"Ay, aku berangkat tanggal 17 ya, aku naik Tilongkabila. Jadwalnya sih berangkat jam 8 pagi." Tutur Bumi.


"Berarti, aku gak bisa ikut antar dong. Secara aku berangkat magangnya jam 7.30, lebih awal aku." Raut wajah Ay berhasil memeras fokus Bumi dari kopi seduhannya.


"Begini, kita lihat perkembangan informasi lokasi magang, kalau benar Senin sudah ada kabar dari prodi, biar Ay gak usah ikut antar, Ay fokus magang aja ya. Kan awal masuk harus ciptakan imej yang baik. Kalaupun belum ada kabar, malaha lebih bagus, Ay bisa antar aku ke Pelabuhan, ya kan." Ujar lelaki yang mempunyai kesabaran penuh menghadapi Ay.


Ay menopang dagu menyimak kalimat demi kalimat yang di lontarkan oleh Bumi. Senyumnya menghipnotis Bumi agar tidak jadi pulang kampung. Bumi masih, berlanjut.


"Aku pulang kampung satu bulan Ay, tidak kang...." Kalimat Bumi menggantung saat ponsel Ay berdering dengan suara keras.


Kring...kring...kring...


Kebiasaan yang terpatri, Ay tidak langsung jawab. Dia melirik nama siapa yang muncul dibalik suara keras itu. Ternyata teman satu kelas di kampus 'Embun A 15" keterangannya pun cukup lengkap. Nama, kelas, dan angkatan.


"Halo Em, kenapa? Tumbel telepon biasanya spam." Fokus boleh ke telepon tapi mata Ay terus-terusan menatap wujud cinta di depannya.


"Ye...ye.... Ay, lokasi magang 3 udah keluar ini." Suara temannya sangat riang.


"Yeh... lihatnya di mana Em?" Tanya Ay ikut gembira.


"Ada itu, di chat group kelas. Keti yang bagikan. Buruan lihat." Ucap Embun teman kelas Ay di ujung telepon.


"Oke, terima kasih info nya ya. By."


Tut...tuutt...tuuuttt... Panggilan berakhir.


Reflek, Ay berdiri dan berjoget-joget. Bumi yang menyadari bahwa adegan di depan matanya itu hanyalah gerakan reflek semata.


"Fiks, aku ikut antar ka Bumi!" Kalimat itu keluar begitu saja.


Setelah Ay mengakhiri panggilan telepon, Ay meletakan kembali benda pipih miliknya di kursi samping kiri. Beralih fokus ke Bumi yang sedang menikmati kopi hangat di gelas ukuran kecil itu.


"Gimana, udah selesai?" Tanya Bumi.


"Udah. Lokasinya udah keluar ka. Tapi aku belum baca." Ay tersenyum lebar menatap Bumi kekasihnya.


"Coba liat lokasinya. Siapa tau lokasi Ay jauh." Bumi menunjuk ke arah ponsel milik Ay yang ia simpan tadi di kursi.


"Oke ka." Ay menoleh diraihnya ponsel yang berwarna hitam.


"Ini dia nih." Gumamnya. "Alhamdulillah, ada teman satu kelas aku yang satu lokasi." Senyum di wajah Ay terukir begitu sempurna. Mampu membuat tatapan Bumi tajam dan lembut.


"Tapi, yahh... lokasinya melewati jalan poros tempat macet, terlambat terus dong tiap hari." Ay kilat merubah senyum manisnya tadi menjadi memelas.


"Lihat juga tanggal mulai magangnya?" Bumi membuyarkan kekecewaan Ay.

__ADS_1


"Ka Bumi aja deh yang lihat, malas. Nih..." Disodornya ponsel itu kepada lelaki kulit putih bening di sampingnya.


Bersambung...


__ADS_2