Perempuan Egois Miliku

Perempuan Egois Miliku
Perempuan Egois Miliku (10)


__ADS_3

Perempuan Egois Miliku


Bagian 10


Beranjak dewasa, Ay perlahan berubah. Dulu teman kecilnya memandang ia perempuan yang manis. Namun, manis itu hilang mengikut arus perubahan zaman.


Bila anak usia SMA di kampung-kampung tidak begitu akrab dengan Gadget, berbanding terbalik dengan anak SMA yang ada di kota. Semua merek Gadget dikenalnya.


Ada yang membuat dua akun untuk satu aplikasi, menyimpan gambar-gambar aneh, berkenalan lewat dunia maya, bahkan ada yang sampai di dunia nyata kemudian menjalin kasih.


Ay berubah egois. Mukanya terkesan jutek, waktunya banyak disita Gadget. Sehingga dia berkenalan dengan seseorang sehari setelah Ujian Nasional waktu itu. Sama-sama baru menyelesaikan jenjang menengah, dimulainyalah chat-chatan sampai tengah malam. Sedikit masalah langsung berujar kasar. Terus berpindah-pindah ke lain hati.


Itu yang laki-lakinya lakukan saat bersama.


Keras usaha Ay mempertahankan arus gelombang, sepenuh hati merawat rasa yang tumbuh. Dengan santai laki-laki itu menebar pesona kesana kemari. Patah semangat Ay, hingga tali itu melepas kuat.


Lekat diingatan Ay, betapa berani hati seorang lelaki menerima telepon dalam waktu bersamaan, dirinya dan satu lagi perempuan di ponsel yang satu.


Bukan sengaja ia menghadirkan keegoisan. Riuh ingatan luka lebam membawanya mendekat. Seminggu sebelum ia berangkat kuliah, Ay memutuskan seluruh kontak dengan mantan. Melenggang dia menuju kota metropolitan menuntut ilmu. Subur tumbuh egois dalam diri.


Jadi, benar rumor rekan diorgandanya, Ay adalah si perempuan egois, berangkat dari patah hati. Kali ini Bumi yang merasakan pelimpahan Ay. Sedikit Bumi membentak ia lebih-lebih membangkang. Menurut Bumi, sifat egois Ay sedikit mengarah ke ngambekan.


Kalau pasangan lain, kaum perempuan yang terlihat bucin. Seperti mengingat hari jadi, tanggal, juga tahun. Minta dibelikan boneka, bunga, coklat, kado, pokoknya yang romantis-romantis. Berbeda jalur, dihubungan keduanya Bumi lah yang mengingat semua itu. Walau tidak mendapat predikat romantis sekali.


Bahkan dua hari menjelang 1 tahun usia hubungannya, Bumi mengucapkan selamat, membuat kata romantis berhasil menepis sebagian keegoisan Ay. Dari Ay tidak pernah menangis sampai merengek kangen jika berjauhan, buktinya Bumi berkelana 3 hari saja membuat Ay kali pertama bilang kangen.


* * *


Jarak usia Bumi dengan Ay tidaklah jauh. Bumi kelahiran tahun 1995 dua tahun berikutnya barulah Ay menginjakan kaki di muka bumi pada tahun 1997. Kalau boleh berandai, warna kulit Bumi sangat berbeda dengan Ay. Ay berkulit sawo matang, Bumi berkulit putih bening. Mirip dengan kulit aktor-aktor pada serial drakor. Laki-laki hidung mancung, tinggi 1,72 cm, langsing, bersikap lemah lembut, tidak gampang akrab dengan perempuan, setia, dan berwibawa. Kharismatik.


Bumi masuk perguruan tinggi tahun 2013. 2 tahun lebih dulu merasakan asam garam dunia kampus. Tahu tata cara mengendalikan kepuasan semata, menempatkan kebutuhan dan menyampingkan keinginan, agar bernafas panjang di tanah rantauan. Cara Bumi berhemat.


Setahun mengarungi bahtera cinta, waktu yang sangat singkat bagi kaum non LDR an. Dalam kurun waktu satu tahun keduanya belum begitu terbuka ke para senior organda, baik senior perempuan maupun laki-laki. Hanya orang terdekatlah yang tahu persis hubungannya seperti Jenaka, Ahmad, dan Inggar.


"Aku tidak tahu, mengapa ada yang berbeda di dalam diriku?" Gumam Ay.


"Aku tidak tahu, mengapa hatiku begitu ego?" Sambungnya.


"Apa yang laki-laki itu rasakan saat bersamaku?"


"Bahagia kah dia?"


"Atau putus sabarnya!"


"Siapapun itu, beritahu aku bagaimana caraku melembutkan sikap. Aku mohon."


Ay yang berusaha untuk menghibur diri, malah terperanjat dalam lamunan. Sesekali cairan bening itu jatuh membasahi jarinya. Bertanya-tanya dalam diri. Siapa yang bersembunyi di dalam dirinya.


Bukan sengaja aku mengeraskan sikap pada Bumi, tapi egois beserta gengsiku yang menguasai. Ay tak dapat mengusirnya secara cepat. Ay sering melihat Bumi mencari di google "cara menghadapi perempuan". Ada rasa takut kehilangannya. Namun bagaimana caraku bersikap.


Ditatapnya foto Bumi, melihat celah kesenduhan saat menghadpi sikapnya. Barang kali terselip di wajahnya yang ganteng, Ay mau merangkulnya erat. Namun, Ay tidak mendapatkan sedikit saja celah itu.


Menggunakan 2 jari, Ay membesarkan gambar wajah Bumi, kemudian usap pelan.

__ADS_1


"Jangan bosan dengan Ay ya!"


"Damping Ay, menetralkan keegoisan!"


"Tuntun Ay, sampai netraku hanya menatapmu!"


Mengalir deras air mata Ay. Sakit matanya menangis tak mengeluarkan suara. Terbatuk dia dalam posisi dibaluti selimut.


Lalu, huahhhh... Ay menguap dan meletakan benda pipih di genggaman di atasa rak buku.


* * *


Pagi Hari...


"Semoga ta'i mu berwarna-warni....


"Tinggal... tinggal apa yang menyenangkan...Tinggalkan Dirimu...


"Tetaplah optimis, jangan bayar hutang...


"Berhentilah sok keren, karena cebokmu saja masih pakai air...


"Numpang tanya dong, apa yang membuat upil kita menumpuk?


Terbahak-bahak Jenaka membaca komentar warganet di salah satu postingan artis papan atas tanah air. Berselonjoran di sudut kamar mendengarkan lagu dangdut kesukaannya.


Sementara itu, Ay masih mengusap kasar matanya sambil tersenyum melihat tingkah Jenaka. Ay bangun karena mendengar suara Jenaka yang sangat receh saat membaca komentar amburadul dari warganet.


"Dihhh, kenapa lo ketawa?" Dengan suara khas bangun tidur Ay menatap aneh ke Jenaka.


"Bergaya lagi, dengar musik dangdut lo ya?" Ay penasaran


"Apaaa...?" Inggar bertanya balik pada Ay dengan suara yang cukup keras sambil melepaskan handset bagian kiri.


"Makanya jangan sering pake handset, jadi planga plongo kan loh." Ay mencubit kecil kaki Jenaka yang selonjoran.


"Hehe... abis lagu nya enak. Lo nanya apa tadi Ay?"


"Gak nanya gue!" Jawab Ay singkat.


"Dasar... itu doang ngambek." Balas Jenaka.


"Ehh, gitu rasanya kalau orang dicuekin. Sakit kan? Sakit gak?" Sambungnya lagi.


"Gak sakit, bleee..." Ay yang lagi menyisir rambut mengulurkan lidahnya meledek Jenaka.


"Nahhh... begini nih, kalau cewe tidak pernah nonton drakor. Hatinya keras kayak batu di halaman tetangga." Jenaka meledek balik.


"Drakor...dra...kor apaan? Darah Kotor? Apa sih Na?"


"Yaelahhh, itu doang kagak tau. Ini yah, Drakor tuh D-r-a-m-a K-o-r-e-a." Jenaka memberitahu Ay dengan mengeja kata Drakor.


"Ya... mana gue tahu dunia lo." Jawab Ay mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Jadi Ay, drama yang dibuat orang Korea itu kaum Indonesia bangat menyebutnya Drakor. Filmnya romantis-romantis. Pemeran laki-lakinya mukanya mulus persis janji-janji kaum elit. Di Indonesia kita ini drakor banyak digemari perempuan." Jelas Jenaka sambil memegang pundak Ay.


"Kalau Ay mau, nanti gue ajarin cara download film nya. Mau gak? Sana noh nonton... kalau lo nonton, hati Ay nanti berdebar. Hahaha..." Terbahak Jenaka menjelaskan ke Ay mengikuti tangannya membentuk hati di kening Ay.


"Cocok juga lo jadi SPG ya, ekspresi lo meyakinkan. Cocok-cocok." Ay mengangguk-ngangguk dan mengangkat jempol memuji sahabatnya itu.


"Ngomong-ngomong, tadi gue denger lo bilang 'tetaplah optimis, jangan bayar hutang', nyindir di story lo ya?" Muka Ay serius.


"Hihi, eh tadi gue baca komentar di salah satu postingan di Instagram. Ya kali Jenaka kurang asupan buat status segala." Jenaka memperlihatkan isi komentar tersebut ke Ay.


"Tapi, bagus juga sih kalau nyindir di story, supaya yang gaya elit hutang numpuk sadar dompet. Ya kann... hahaha." Jenaka memulai recehnya.


Ay yang sudah beranjak dari tempat duduknya tidak membalas recehan Jenaka. Kemudian Ay mengeluarkan laptop dari tas kampus yang ada di atas rak buku. Menghidupkannya, lalu tengkurap di atas spon berwarna abu-abu. Ay mengajak suasana hatinya untuk mengintip sebentar tugas kuliah yang akan dikumpulkan pertemuan berikutnya.


Akhirnya, Ay dan Jenaka menyibukan diri healing di media sosial juga pada tugas kuliah. Ruang kamar yang sunyi, ditemani riuh kipas angin mendinginkan suasana yang kian panas. Tak ada celetukan tak ada senda gurau. Keduanya benar-benar menikmati dunia maya.


* * *


Tibalah saatnya untuk makan siang. Ay dan Jenaka yang ketiduran sekitar satu jam gara-gara kecapean healing yang terlalu jauh di media sosial. Menyadari sejak pagi sampai sekarang waktu siang belum ada satupun benda yang masuk ke lambung, Jenaka langsung membuka ember beras ambil 2 gelas untuk dimasak.


Sedangkan Ay, memotong kangkung yang dibeli Jenaka tadi saat tukang sayur langganan membunyikan klakson di depan kos pas pagi buta. Tidak ada yang membuka perdebatan receh ciri khas keduanya jika sudah membuka mata. Hanya suara nyaring perlengkapan masak yang mengisi kesunyian.


"Na, lo yang iris bawang ya!" Titah Ay.


"Iya, tapi bawang merah tinggal ini." Jenaka mengambil bawang merah dari tempatnya sisa dua siung.


"Tidak apa, yang penting ada. Kupas satu aja Na! Irit." Tegas Ay.


"Oke Bu Ay." Jenaka melempar senyum yang menurut Ay itu senyum perempuan penggoda.


"Mau dicampur dengan cabe dikit gak?" Tanya Ay pada Jenaka.


"Bo...boleh, asal jangan kebanyakan." Jenaka meyetujui.


"Kenapa? Lambung lo kumat?"


"Gak juga. Tapi, biasa kalau abis makan yang pedis-pedis perut gue responnya cepat. Jadi mencret." Jenaka mengerutkan kening.


"Haha, kok sama, saya juga biasa begitu. Asal makan bakwan di colek sambal pedas dikit aja lansung mules." Ay menyamakan kebiasaan.


"Ya kan." Jenaka tertawa kecil.


"Kalau gitu cabenya satu aja."


"Siap Ay sayang." Cukup baik suasana kali ini, suara lembut tidak ada usil-usilan.


Semua bahan untuk menumis kangkung pun sudah siap. Tinggal menyalakan kompor gas, menuangkan minyak goreng, dilanjutkan dengan menumis.


Sementara Ay memasak, Jenaka yang bagian mengiris bumbu tadi berpindah ke sudut kamar untuk merapikan posisi spon, meluruskan seprei, dan memperbaiki buku-buku yang ada di raknya.


_+ 5 menit kemudian masakan sudah selesai dan siap di hidangkan. Akhirnya kedua sahabat ini mengisi perut yang sedari tadi terus saja memberi alarm. Nikmat rasanya, walau menunya bukan empat sehat lima sempurna. Bukan apa yang kita makan tapi dengan siapa kita menikmatinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2