Perempuan Egois Miliku

Perempuan Egois Miliku
Perempuan Egois Miliku (5)


__ADS_3

Perempuan Egois Miliku


Bagian 5


Masih dalam suasana persiapan Milad XX


Ting...


"Ay, entar pergi ke tempat milad sama aku aja ya!". Bumi mengirim pesan berupa pernyataan.


"Hah, a..apa ini? Pergi sama! Gak, gak, gak." Ay, Ay jangan gampang di bonusin, naik angkot aja. Ay mengelus ngelus dadanya. Seperti perempuan pada umumnya dengan gengsinya.


"Gak ka. Ay naik angkot aja ama Jenaka dan teman-teman." Gemetar tanganku mengetik kata demi kata.


"Kenapa Ay? Ay malu? Kalau Ay malu, entar kita perginya belakangan aja, gimana?” Banyak modus memang para lelaki.


"Gak ka, gak!" Ay masih dengan sifat gengsi.


Berkat rasa malunya tadi, akhirnya Ay tiba di tempat milad dengan teman temannya menggunakan angkot, orang di Kota ini, menyebutnya denga Pete-pete.


Tempat milad berada di ruangan yang cukup luas, dinding chat warna kuning lampu yang sangat terang, entah berapa besaran wotnya. Ay hanya menikmati desiran angin pantai sekali kali mengibas ujung jilbab yang di lilit di leher, ujung satunya tetap menutupi dada.


Segar, pantai ini di hiasi kerlap kerlip lampu malam, jauh dari hiruk pikuk kota, satu pun kendaraan hanya lewat dalam hitungan jam tidak begitu banyak. Cukup sepi namun semua rumah sewaan di sini dipenuhi kegiatan-kegiatan mahasiswa, entah dari mana asal mahasiswa sebanyak itu. Kami pun hanya fokus dengan tujuan milad organda kam.


"Assalamualaikum dan selamat malam minggu warga XX, tentunya dengan semangat milad 6 tahun XX..."


MC membuka acara dengan lebih santai tapi tetap mengikuti susunan yang sudah ditulis oleh panitia kegiatan.


Lalu, perwakilan penasihat memberikan kata sambutan juga makna milad ke 6 tahun organda ini. Disusul oleh perwakilan pembina, memberikan sepatah dua kata tentang perjalanan jauh organda, sepak terjang yang sangat baik pada 2 tahun terakhir.


Sambutan ketiga adalah perwakilan dari para senior yang sangat antusias memberikan wejangan yang cukup panjang, mulai dari manajemen organda, perencanaan yang telah di rancang, dan adab yang harus dipertahankan selama diperantauan.


Kesimpulan dari ketiga sambutan adalah tetap berkontribusi pada organda, baik secara materi maupun non materi. Jangan karena merantau, lantas kita melupakan adab atau adat istiadat dari tempat lahir, jangan muda terobsesi dengan perkembangan zaman. Juga yang paling penting tetap menjaga silaturahmi.

__ADS_1


Kemudian, Satu per satu rangkaian milad berlalu. Berakhir dengan potong kue dan foto bersama sebagai bukti kita pernah bersama di tanah rantauan.


Dokumen rupanya atau arsip atau mungkin untuk memenuhi memori ponsel, intinya Ay bahagia malam ini, hehe. Ay bahagia bukan karena lagi jatuh cinta ya, tapi karena kita semua akhirnya berkumpul, bercanda ria, dan bersenang-senang melupakan sebentar kesibukan kampus.


Sudah memasuki acara bebas, ada yang joget, bercerita, duduk tapi mulai mengantuk, dan Ay pun melipir lagi ke tepi pantai meninggalkan orang orang di ruangan acara.


"Ay, Ay foto berdua yuk." Jenaka mengajak dengan menarik tangan Ay.


"Oke, ganti gaya, lagi... lagi... 1 2 3...” Arahan dari yang pegang kamera, membuat Jenaka bergaya bebas, entah dari mana dia mendapat referensi.


Langsung full penyimpanan, haha. Dasar perempuan emang hobi foto.


Berbeda dengan Ay yang tidak mengindahkan ajakan Jenaka tadi. Ay hanya mondar mandir menikmati semilir angin, duduk sesekali menerkam pasir, foto pemandangan dengan gaya estetik, merekam video... dan suara ajakan membuat Ay memasukan ponsel ke saku rok.


"Ay, foto yuk." Kali ini Bumi yang mengajak.


"Hah, fo...foto?" Tanya Ay penuh malu malu.


"Ehmm... Jenaka bergumam. "Tadi gue ajak gak mau, awas aja kalau ajakan yg ini mau. Gue hapus entar fotonya."


"Gantian ya, Jenaka dulu yang ambil." Bumi merengkuh bahu Ay.


"Siap kak Bumi.”


"Eh, eh gimana? Hanya berdua?. Ay mengerutkan dahi.


"Iya satu kali saja" Jawab Jenaka penuh senyuman menggoda.


1, 2, 3 dan ganti gaya..." Dengan sigap Jenaka mengambil begitu banyak gambar wajah Ay dan Bumi.


“Sungguh arahan yang memalukan. Ay yang hobi foto estetik malah disuruh gaya bebas. Bagaimana coba gaya bebas kalau sama yang ini, Ay melihat sinis ke arah Ka Bumi.” (Suara gaib Ay berulah lagi).


Terciptalah foto pertama. Ay yang mengenakan dua warna dasar pada style kali ini, jilbab dan kaos oblong warna biru, blazer hitam dan rok hitam yang sangat serasi.

__ADS_1


Sedangkan Bumi kaos oblong warnah hitam kesukaan kaum Adam dengan celana lavis warna biru, yah... warna khas lavis sambil menenteng tas kecil barwarna hitam yang entah apa isinya di dalam. Itulah yang Ay lihat di layar ponsel miliknya.


Ay, yang dari tadi hanya menarik ulur beranda WhastApp. Cukup membuatnya bosan dan mulai mencari tempat untuk sekadar baring menumpahkan sedikit rasa lelah atas keramaian malam ini. Dilayar ponsel yang selalu Ay pegang, sudah menujukan pukul 04.53. Pertanda waktu subuh sudah berlalu.


"Ay, Ay, Ayy.”


Samar Ay mencoba menerka suara yang memanggil namanya. Ay sempat tertidur di pinggir tenda beberapa menit dengan posisi menangkupkan dua kaki. Dingin menusuk setiap inci tubuh, belum sempat Ay mengetahui betul siapa yg menyebut namanya, buru-buru menutupkan pandangannya menggunakan blazer, menghindari binar lampu.


Ay, Ayyy, di panggil tuh sama kak Bumi" Oh ternyata Jenaka yang menggoyangkan pelan tubuh Ay dari tadi.


"Hmmm, kenapa? Mata masih tertutup.


"Dinginkan, nih." (Jenaka menyodorkan jaket yang diberi Bumi untuk menutupi tubuh ini yang sedari tadi menggigil).


"Cepat Ay tangkap menggunakan tangan kiri dan jleb". Ay mulai meraskan kehangatan meskipun tidak cukup untuk menutupi seluruh tubuhnya.


"Ayo, ayo... jangan sampai ada yang lupa!"


"Panitia, panitia... perhatikan anggota yang mungkin masih tidur..."


"Yang tidak pake motor, silakan masuk pete-pete...”


Keributan ada di mana mana. Semuanya sudah siap untuk pulang ke kos masing masing. Yok gas pulang...


Riuh kendaraan mulai terdengar sudah memasuki area perkotaan. Jarak antara kota dengan tempat milad tadi tidaklah jauh. Kalau pagi jalanan masih lenggang belum ada kemacetan. Makanya buru-buru panitia menyiapkan kendaraan untuk pulang, menghindari kemacetan.


Cukup 30 menit sudah sampai kosan, tempat ngumpul pas pergi kemarin sore.


Ting... Ting...


"Jangan langsung mandi ya, Ay!" Bumi mengirim pesan.


"Istirahat yang banyak, sore aja mandinya!"

__ADS_1


Dua pesan yang Ay baca berupa kalimat perintah. Manis sekali laki-laki ini. Di mana dia menemukan kalimat kalimat itu. Ay kembali mengelus elus dada. Seperti biasa Ay hanya baca tanpa membalas.


Bersambung ....


__ADS_2