
Perempuan Egois Miliku
Bagian 8
"Muka sangar, hati hello kity, bucin pula."
Itulah kalimat ejekan yang kak Inggar ucapkan sembari berkutik dengan laptopnya. Sikap Bumi menghadapi Ay banyak di cari oleh kaum perempuan dilingkungan bergaulnya. Memberi kabar, perhatian kecil, video call, chat setiap saat, selalu menjenguk meski Ay tidak membutuhkan itu.
Ay tidaklah begitu egois. Dia hanya egois jika dihadapkan dengan media sosial. Lihat saja di akun sosmednya, foto profilnya menampilkan gambar hamparan sawah dengan gaya estetik.
Tak ada satupun di beranda memunculkan aktifitas keseharian atau sekadar swafoto.Kosong. Namun pengikutnya banyak. Entah apa yang dikagumi pengikut sebanyak itu.
Berbeda dengan sikap di media sosial. Jika pepatah mengatakan "Just book by the cover", itulah yang menggambarkan sikap Ay. Di dunia nyata, sangatlah ramah dan suka berkomedi seperti teman sekamarnya Jenaka. Sama sama kuat ketawa, suara lantang, dan tidak ambil hati dengan candaan. Paling penting tidak suka bergosip. Sangat berbeda bukan?
Perempuan berhati kerikil kecil kecil tapi tajam.
Tak banyak candaan selama Inggar kakak perempuan Bumi menginap di kosanya. Berbeda usia, salah satu tembok pembatas bagi Ay untuk berguyon berlebihan. Kebetulan Inggar raganya saja di kamar Ay, otaknya menjalar kemana mana memikirkan skripsi.
Yah, Inggar lagi dihadapkan dengan semester akhir. Lagi diposisi mengejar dosen. Mahasiswa tingkat ini biasa menyebutnya 'mahasiswa haus tanda tangan'. Sebentar lagi diwisudah. Kemudian balik kampung. Atau bisa jadi 'sarjana pengangguran'.
"Satu hari lagi, tapi rasanya begitu lama."
"Apa kabar nya di sana?"
"Semoga cuaca baik, perjalanannya menyenangkan."
"Tapi, ada untungnya juga dia mendaki. Ay bebas maraton untuk nonton, gak ada ting ting, suruh vidoe call lah, balas chatlah, dan bosan lihat mukannya setipa hari, hihi."
Itu kalimat terselubung di hati Ay. Merasa bebas. Tak ada yang tiba-tiba salam depan pintu. Tak ada gangguan. Tak ada notif brutal.
* * *
3 hari pendakian Bumi, 3 hari pula notifikasi ponsel Ay sunyi senyap. Emang di 1 tahun ini, notif ponsel Ay berubah status. Dari nothing special menjadi si paling special. Asyik. Bumi berhasil merenggut keegoisan Ay sedikit demi sedikit.
__ADS_1
"Udah perjalanan pulang belum?"
"Gimana di sana, cuacanya bagus?
"Pemandangannya oke gak?"
"Awas ya, kalau lirik cewe seksi di sana"
"Kabari Ay kalau udah pulang ya!"
"Ka"
"Ka"
"Ka"
"Bapak Bumi, bisakah Anda membalas pertanyaan Ay?"
"Huhh... huhhhh, Ay kangen." Yap, Ay berhasil mengungkapkan sedikit rasa sayangnya dengan kata 'kangen'.
Bukan tanpa alasan Ay mengaktifkan notif khusus ini. Ay berpikir, kalau tidak notif khusus dia tidak bisa membedakan notif notif yang lain. Supaya kalau Ay lagi maraton nonton film, setidaknya Ay tau itu notif dari Bumi sehingga Ay tidak buru buru untuk membukanya.
Terlihat sangat tidak ramah bintang lima pemikiran Ay ini. Betul, betul perempuan. Pasal satu, perempuan tidak pernah salah; pasal dua, jika perempuan salah kembali ke pasal satu.
Setelah Ay menunggu lama balasan dari Bumi, Ay mendekati Inggar.
"Kak, wisudahnya kapan?" Susah ya kak, bikin skripsi?". Ay memborong pertanyaan.
"Kemungkinan November Ay. Yah, gampang gampang susah. Tapi, kalau kita berusaha dan niatnya menyusun skripsi pasti mudah. Intinya, berani meluangkan waktu aja Ay untuk skripsi. Karena kalau tidak meluangkan waktu, skripsi yang awalnya mudah akan berakhir terbengkelai. Itu yang terjadi dan kak Inggar lihat di beberapa senior." Inggar menjelaskan secara keseluruhan.
"Iya juga ya kak! Itu aja makalah Ay sudah satu minggu belum selesai selesai, hehe." Ay menunjuk ke rak buku dekat lemari pakaian.
"Tapi Ay, watak mahasiswa kalau bukan darurat dia tidak kerja, tunggu hari H baru mondar mandir cari materi. Itu juga, hasilnya pasti mengopi paste dari mbak dan mas google."
__ADS_1
"Hihi, Ay juga termasuk golongan mondar mandir itu kak. Teman kelas Ay juga begitu." Ujar Ay.
"Kak Inggar sukanya mie apa, sedap goreng? Atau sedap soto?" Tawar Ay pada Inggar.
Karena sudah memasuki waktu magrib. Ay dan Inggar kebetulan belum makan dari tadu siang. Jadi, untuk waktu makan malamnya di percepat.
"Kak Inggar ikut Ay aja". Jawab Inggar melempar senyum ke Ay.
"Berarti mie sedap goreng ya kak! Ay sukanya itu." Tegas Ay.
"Inggar hanya mengangguk". Pertanda setuju.
* * *
Bumi mengangkat alis satunya sambil tersenyum saat baca pesan dari Ay. Bumi dan kawan-kawannya tiba di kos menjelang waktu isya. Bumi tidak langsung membalas. Bukan sengaja, melainkan arus batrai ponsel masih 16%.
Menanggalkan seluruh aktifitas selama satu malam. Hanya tidur dan tidur. Tengah malam bangun sekadar bertamu ke toilet dekat kamar. Pulas tidur ku. Seluruh tubuh dibaluri selimut berwarna abu-abu. Belum sempat balas pesan dari Ay.
Samar ku dengar percikan air di kamar mandi sejak waktu subuh berlalu. Siapa lagi kalau bukan Bintang. Dia yang paling rajin menyuci pakain juga membersihkan kamar mandi.
Sementara Aku, hanya bangun cek hp, baring lagi menetralkan seluruh tulang-tulang yang entah rasa apa ini. Sepulang dari pendakian kemarin, ingin rasanya istirahat satu bulan saking jauhnya perjalanan. Sangat lebay hehe.
Bumi mencoba menayang kembali rekaman otak selama berkelana 3 hari. Mulai dari gantian bawa motor, isi bensin berapa kali, jalanan yang menantang, bawaaan yang banyak, juga proses pendakian dari pos satu sampai puncak.
Ada yang santai saja bawaannya, ada juga yang menggandeng perempuannya, ada juga yang putus asa untuk tidak melanjutkan pendakian.
Ahh, sungguh indah pengalaman berharga ini. Secara Bumi baru pertama mendaki, jadi sangat antusias dengan seluruh situasi pendakian.
Pukul 9 lewat berapa menit. Bumi sudah beranjak dari tidurnya. Mulai kemas-kemas pakaian untuk dipisahkan mana yang kotor dan mana yang tida kotor. Tak lupa ia mengeluarkan kantong hitam berisi sampah bekas minuman dan makanan selama pendakian.
Terus berpindah ke kamar mandi menghilangkan bau tak sedap di badan. Hihi 3 hari tidak mandi. Luar dalam baunnya.
Setelah mandi, Bumi berniat ke kosan Ay tanpa memberitahu lebih dulu. Biasa laki laki manis. Mengingat kemarin Ay secara brutal mengirim pesan begitu manis kalimatnya. Kangen katanya. Bumi mengajak sahabatnya Bintang untuk bertamu ke kosan Ay. Bintang pun langsung menyetujui ajakan itu dan langsung tancap gas menuju kosan doi. Kikuk.
__ADS_1
Bersambung ....