
Perempuan Egois Miliku
Bagian 20
Beberapa hal yang dipersiapkan selama menjalin hubungan jarak jauh; seperti menanamkan prinsip percaya satu sama lain serta menjaga komunikasi. Sehingga ada keterbukaan disetiap masalah, walau sekecil apapun. Meski sebagian orang lebih memilih bungkam. Lalu mencurahkan isi hati di media sosial. Namun, hal yang berbeda dengan Bumi dan Ay. Baik Bumi maupun Ay tidak terlalu mengekspos suatu hal di media sosial.
Namun, apa jadinya jika di dunia maya tidak aktif sementara keduanya sedang menjalani hubungan jarak jauh. Bumi yang pulang kampung; Ay sibuk dengan tugas magang untuk memenuhi persyaratan menuju langkah berikutnya.
Nyaris, setiap hari Bumi menghubungi Ay sekadar menanyakan; sudah makan, dengan siapa, bagaimana suasana di tempat magang, bahkan mengutarakan kata-kata gombalan. Setipa hari pula Ay tidak merespon sepenggal kata. Jalan ninja Bumi adalah sabar. Ibarat Baja, kuat dan tahan lama, itulah rasa sabar yang dimiliki laki-laki tubuh kekar itu.
"Beritahu ka Bumi, aku tidak kemana-mana. Tapi, jangan menghubungiku setiap hari!" Jenaka komat manit menyebut kalimat yang diungkapkan oleh Ay. Kalimat itu cukup serius dan entah apa maksudnya.
Usai Jenaka menanyakan apakah Kak Bumi posesif, situasi obrolan keduanya tidak seperti biasa, ada tembok penghalang. Raut wajah Ay yang sudah egois dari sananya, terlihat tambah serem ketika percakapan kemarin begitu intens dan Jenaka terkesan ikut campur menurutnya. Sikap dingin wanita cantik itu keluar sama persis dengan es batu yang ada di dalam kulkas selama bertahun-tahun, dingin dam keras.
"Ay, hari ini istirahat magang? Tanya Jenaka dari sudut teras.
Sementara Ay sibuk mengotak-atik keyboard Laptop yang sudah berusia senja. Sering kali rusak karena ia beli 7 tahun yang lalu. Mungkin sudah waktunya untuk diganti. Kakinya bergoyang kecil mengikuti dip musik dari gawainya.
"Ay, masih marah? Jenaka minta maaf ya." Lanjut Jenaka dengan suara mengiba. Namun tetap di abaikan oleh Ay.
"Hufff, gini amat hidup. Itu salah, ini salah. Emang paling benar si ayam, mau ta'i tinggal ngedan aja tanpa tahu tempat." Ujar Jenaka disela kesibukan matanya mengikuti kendaraan yang lalu lalang dijalan depan kos.
Masih sibuk dengan laptop, Ay hanya fokus pada layar. Jarinya bergantian menekan tombol pada keyboard. Indra pendengar serta penglihatannya tidak sedang tuli dan tidak buta, ia tahu dan lihat ada Jenaka yang duduk di ruangan yang sama dan telinganya dengar dengan baik apa yang ditanyakan oleh sahabatnya itu dari tadi. Masalah apa yang ia coba netralkan, sehingga untuk menggubris Jenaka saja begitu sulit.
Akhirnya, Jenaka bangkit dari tempat duduknya mendekat ke arah Ay. Tidak tega melihat si empunya egois kesusahan memfokuskan pikiran pada dua benda di depan, antara buku pedoman penyusunan laporan magang dan laptop. "Ada yang bisa aku bantu?" Jenaka menawarkan diri dengan suara sedikit tegas. Anggap saja sebagai sogokan untuk mencari tahu apa maksud dari pernyataannya kemarin.
"Gak usah. Saya masih kuat." Jawabnya ketus.
"Masih marah?
"Menurut Anda?
"Sudah tidak."
"Cepat baca, halaman dua paragraf satu!" Melunak juga perempuan berhati karat ini.
Jenaka melempar senyum sinis. "Jangan jadi pendendam kau ya!" Ucapnya santai seraya menyolek hidung Ay dan mengikuti nada bicara pada salah satu film komedi Indonesia.
"Siapa yang dendam?
"Kamu."
"Gak, kamu."
__ADS_1
"Loh! Kok saya? Coba diingat-ingat apa pernah Jenaka si paling cantik ini dendam pada orang-orang? Titah Jenaka untuk menepis tuduhan Ay, bahwa dirinyalah yang dendam.
"Malas mikir. Mau bantu baca gak nih. Kalau tidak Anda pindah dari samping saya." Setiap kata yang keluar dari mulut tajam, vibesnya seperti atasan pada kantor-kantor kerja. Tegas dan pedas.
"Ya, ya. Galak amat si bu." Jenaka pun mulai membaca kalimat demi kalimat hingga tidak terasa hampir satu jam lamanya.
"Oke, sampai di sini aja Na." Telunjuknya menunjuk ke buku tepat pada sebuah tabel.
"Nanti kita lanjut, menjelang akhir magang. Ini saya hanya membuat laporan mentahnya saja. Laporan utuh nanti setelah file-file dirampung dari teman satu jurusan." Penjelasan yang sangat santun seperti dosen menjelaskan materi pada mahasiswa atau guru memberi materi pada siswa, bahasa baku juga jelas dan padat.
Jenaka mengangguk matanya berat karena ngantuk.
* * *
Dentingan ponsel yang cukup keras mengagetkan Ay dari seriusnya penjelasan atas materi yang diberikan oleh guru pamong di depan siswa. Lalu, berhenti sejenak meminta ijin pada murid untuk menjawab telepon.
Ia melangkah keluar ruang kelas menuju teras. Dia merogoh ponsel dari saku almamater berwarna biru tua. Tumben, kali ini dia langsung angkat. Biasanya ia tidak peduli. Ia meningkatkan kecerahan pada layar ponsel untuk mengetahui siapa gerangan yang menghubungi. 'Kk Bintang' nama kontak yang terpampang jelas pada layar. Ay mengembuskan nafas pelan.
"Halo kk Bin. Apa ada perlu?"
"Iya, halo Ay. Sebenarnya gak ada perlu Ay. Cuma mau nanya kabar kok. Sehat?
"Oh. Aku sehat kk."
"Hehe. Gimana sehat? Sakit?" To the point.
"Idihhh, serem amat pertanyaan loh. Eh, ngomong-ngomong ada yang mau bicara sama elu Ay."
"Siapa? Bicara aja. Cepat ya kk, soalnya aku lagi ngajar di tempat magang ini."
"Halo, bisa Anda kenal suara saya?"
"Iya, ka Bumi kan!? Mimik wajah berubah kesal dan ia langsung mengakhiri sambungan telepon.
Dan jalan ninja paling dekat yang ia tempuh adalah menonaktifkan ponsel.
Setelah mengetahui bahwa disambungan telepon Bintang ada juga Bumi, Ay memutuskan sambungan telepon. Rupanya Bumi menemukan jalan baru untuk berkomumikasi dengan Ay. Meminta bantuan Bintang sebagai modus utama. Akan tetapi, niat hati untuk bantu sahabat, malah Bintang apes di buat Ay. Lebih dulu Ay menerka apa maksud Bintang. Modus yang Bumi dan Bintang gunakan tidak berlaku padanya.
Ay kembali ke ruang kelas. Melanjutkan tugas yang sempat diistirahatkan tadi. Moodnya hilang, dari suara lembut dan penampilan layaknya seorang pendidik berubah tajam bak Harimau yang siap menerkam mangsa.
Merapikan buku dan barang lainnya yang ia bawa ke ruangan, satu persatu Ay masukan ke dalam tas ransel miliknya. Ia berusaha mengontrol diri untuk menetralkan otak, tetap santai agar terlihat elegan di depan peserta didik.
Sebenarnya untuk waktu mata pelajaran yang dia ampuh untuk sementara waktu tinggal lima belas menit lagi. Berdasarkan RPP di menit lima belas diperuntukan mengevaluasi materi pada pertemuan itu, akan tetapi ia persingkat karena moodnya terlanjur rusak. Mengucapkan salam sebagai penutup Kegiatan Belajar Mengajar (***).
__ADS_1
"Anak-anak untuk pertemuan hari ini, kita sampai di sini. Sampai jumpa lagi minggu depan. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh dan selamat siang."
Melangkah gontai ke pintu keluar dan belok kiri menuju ruangan khusus mahasiswa yang disiapkan pihak sekolah untuk masa praktik atau magang. Ruang itu bersebelahan dengan perpustakaan.
Emosional nya sudah bisa di kendali, kembali ia mengaktifkan ponsel untuk menghubungi Bintang. Seraya menyandarkan tubuh ke sofa yang disediakan pihak sekolah. Baru satu menit, menangkan diri. Ponselnya berdering dengan nama yang sama 'Kk Bintang'.
"Hallo Kk." Volume suara sangat kecil agar terkesan santai.
"Masih sama ka Bumi gak? Lanjutnya penuh curiga.
"Emang kenapa Ay? Lagi ribut?"
"Tidak. Kalau masih di situ. Gue kasi mati nih."
"Gak kok Ay. Udah pergi."
"Alhamdulillah."
"Lah, kok Alhamdulillah. Tadi katanya tidak ada masalah. Kok sekarang Alhamdulillah."
Sebetulnya Bumi masih di sampin Bintang. Berulang kali Bumi mohon pertolongan pada sahabat karibnya itu. Untuk mencari tahu alasan Ay memblokir semua jalur komunikasi.
Bintang berdeham lalu menodong Ay dengan beberapa pertanyaan. "Ay blok kontak Bumi? Ay tidak pernah balas chat, telepon, dan video call ya? Ay sibuk? Apakah magangnya melelahkan? Atau apa?
Ay membagi perhatian antara diskusi teman magang dan mendengar todongan Bintang. Fokusnya tidak begitu menyimak. Baik suara Bintang maupun suara sumbang diskusi kelompok magang sama-sama ribut. Kemudian, Ay mengangkat tangan kiri memberi kode izin untuk keluar dari lingkaran diskusi.
"Hallo kk Bin. Bisa pelan-pelan gak? Di sini ramai anak sekolah."
"Baca chat Ay! Jawabnya berdasarkan nomor ya." Agar tidak mengulangi pertanyaan yang sama, Bintang berinisiatif membuat daftar pertanyaan lalu kirim ke WhatApp Ay. Ada empat nomor.
"Iya, iya. Kalau aku jawab secara keseluruhan boleh gak?"
"Boleh. Yang penting Ay jawab. Yang tidak boleh itu Ay selalu cuek." Jawaban berupa sindiran. Seperti diskusi publik ya.
Bintang menambah volume, agar Bumi bisa menyimak dengan saksama.
"Gini kk, ini kan kita sudah mau tiga tahun. Dari awal aku bilang, aku tidak suka kalau telepon, chat, video call setiap hari. Apalagi setiap menit. Dan mungkin ka Bumi sudah tahu itu. Mungkin juga kemarin lalu Jenaka suda kasi tahu sama ka Bumi kalau aku tidak kemana-mana, aku di sini, tapi mohon jangan menghubungiku. Maksud aku adalah gak mungkin dong aku hanya melayaninya. Kita kan sama-sama punya kesibukan. Kalau kesibukannya ka Bumi hanya menghubingiku secara terus-menerus; dan kesibukanku berbeda, aku lagi menyelesaikan proses magang. Dan aku lelah. Akhir-akhir ini ka Bumi terkesan tidak percaya sama aku. Tuduhannya pun banyak kk Bin."
"Dan aku telah memikirkan baik buruknya kalau aku akan..."
Dipotong Bintang " jangan dong Ay, bicarakan baik-baik. Jangan terburu-buru." Seakan Bintang tahu maksud dari keterangan Ay, ia cepat memotong celetuk mengerikan itu.
Bersambung...
__ADS_1