
"Mau martabak nggak?"
"Nggak suka makanan asin apalagi berminyak."
"Susu?"
"Lagi nggak mood minum yang berat-berat."
"Papeda?"
"Udah tutup semua kali kalau jam segini."
"Yah. Lo pengen apa gitu nggak?"
"Pengen Mahen aja."
"Kan udah dapet Vel."
"Cuma status doang. Raganya sama orang lain. Gue juga nggak bisa pastiin hati dia cuma buat gue kan?"
Lukas tidak menjawab. Kami masih di perjalanan. Dari Cafe Merah Jambu, menuju rumahku. Rena dan David sudah berbelok arah, dan kami terpencar.
Rasanya malas pulang. Di rumah tidak ada teman. Yang kulihat hanyalah ayah dan bunda yang sudah tertidur karena lelah dengan aktivitas masing-masing.
"Kas. Jangan pulang dulu gimana?"
"Ya nggakpapa sih gue mah. Tapi lo bilang dulu sama bonyok lo. Setidaknya mereka tau lo baik-baik aja."
Udara malam yang menyenangkan. Masih ramai karena ini sabtu malam, atau biasa disebut dengan malam minggu, alias satnight. Aku mempunyai keinginan bermalam minggu keliling kota.
Dan tak disangka keinginanku terwujud bersama Lukas.
"Gue ada tebak-tebakan nih Vel."
"Apa?"
"Tapi lo harus nebak. Nggak boleh langsung nyerah kayak biasanya."
"Haha iya iya."
Lukas terkekeh dan malah diam. Aku mendekatkan kepala ku ke samping telinganya, "KOK MALAH DIEM?"
"Anjir kuping gue."
"Haha. Ya lo nya kelamaan."
"Oke. Mi, mi apa yang menyenangkan?"
Aku memicing, walaupun Lukas tidak bisa melihatnya. Di pikiranku langsung tertuju pada sebuah gombalan.
"Yah Kas gue nggak tau deh jawabannya."
"Dih tadi kan lo udah bilang nggak boleh langsung nyerah."
"M-milikin kamu?" Jawabku lirih tapi terdengar oleh Lukas.
"Mie ayam dong Vel, enak."
Aku menabok punggung Lukas, "Ngeselin yaaa!"
Lukas tertawa keras, dan aku juga ikut tertawa.
"Akhirnya lo bisa ketawa lagi Vel."
Aku terdiam lalu tersenyum, "Kas cari ronde aja yuk."
"Yuklah gas. Di pojok alun-alun itu, mau?"
Tanganku menepuk pundak Lukas, "Mauuuuu!"
Aku adalah gadis penyuka wedang asal Tiongkok itu. Ya walaupun tidak sama persis dengan aslinya, aku tetap suka dengan perpaduan jahe dan rempah-rempah lain yang menghangatkan tubuh.
Motor Lukas melambat ketika sudah mendekati stand penjual wedang ronde.
"Mang. Dua ya. Saya tinggal muter dulu," pesan Lukas dengan mengacungkan dua jarinya.
"Mau arumanis?"
Aku mengangguk, "Yang warna ungu ya?"
"Siap bos."
__ADS_1
Lukas berjalan melewati tempatku berdiri, tak sampai tiga meter dia berhenti. "Kok diem? Jadi nggak arumanisnya?"
"Loh gue ikut?"
Dia mengangguk, "Iya. Takut diculik tante-tante."
"Haha. Om-om kali ah."
Aku terkekeh lalu berlari kecil mendekatinya. Kami berjalan beriringan. Sepertinya Lukas kedinginan. Terlihat dari kedua tangannya yang dimasukkan ke saku jaket army yang sedang dia kenakan.
"Dingin Vel?" Tanyanya tanpa menghentikan langkah.
Aku menggosok kedua telapakku, "Lumayann."
Lukas berhenti. Dan membuatku ikut berhenti. Laki-laki itu melepas jaketnya, dan memberikannya kepadaku. "Pakai sendiri ya. Nggak baik makein jaket ke pacar temen."
Aku bergeming. Lukas menggoyangkan tangannya, "Buruan dipake. Pegel nih."
"Tapi lo juga kedinginan kan?"
Lukas hanya tersenyum. Dia menarik tanganku untuk menerima jaket yang dia sodorkan, kemudian melanjutkan langkahnya. Kupakai jaket beraroma maskulin itu, dan berjalan menyusul pemiliknya.
Kami hanya diam, sampai tiba di tempat yang kami tuju.
"Mang arumanis warna ungunya satu ya." Pesan Lukas.
Mamang penjual arumanispun mendongak, "Lah yang readystock itu masih."
"Nggak special mang kalau yang di sini. Maunya yang baru."
Aku tidak marah karena Lukas memperlama waktu yang ada. "Nggakpapa ya Vel? Tadi antrian ronde rame kan. Sambil nunggu."
"Iya nggakpapa."
Aku mengedarkan pandanganku. Secara tiba-tiba, Lukas menutup mataku seperti beberapa jam yang lalu. "Bentar. Gue mau kasih surprise."
Tidak ada pemberontakan dari diriku. Aku terdiam. Temanku yang satu ini emang kadang suka aneh-aneh.
Bisa dibilang cukup lama untuk sekedar memberi kejutan, tutupan tangan Lukas terbuka. "Ta-daaa!"
Aku tertawa ketika sebuah cotton candy ungu bergambar si bis kecil ramah berada di hadapanku. Aku mengambilnya, lalu memeluknya.
"Ayo balik. Nanti dikira mamang rondenya kita cuma prank."
"Eh iya juga ya."
Aku bangkit dari dudukku terlebih dahulu. Mau membayar, tapi Lukas menahan pergerakanku. Dia mengeluarkan dompet kulitnya, dan memberikan selembar uang sepuluh ribuan, dan salembar uang lima ribuan. Dia beranjak meninggalkan stand itu. Aku menyusulnya, dan menahan lengannya.
"Gue aja ih Kas."
"Udah, gue aja. Itung-itung bersedekah kepada yang membuthkan."
Aku meninju lengan Lukas, "Enak aja. Gue lebih membutuhkan kasih sayang tauk."
"Mau gue kasih?"
Aku terhenyak, tetapi Lukas malah tertawa. "Bercanda, Vel. Gue tau maksut lo itu kasih sayang dari Mahen kan?"
Tanpa menjawab, aku melanjutkan langkahku. Lukas menyejajarkan langkahku, "Jangan marah. Nanti cepet tua."
Aku hanya menanggapinya dengan senyuman. "Lo tau kenapa gue awet muda gini? Ya karena gue nggak suka marah-marah."
Iya. Lukas itu tidak pernah marah, walaupun dulu Syifa sangat dekat dengan teman laki-lakinya. Walaupun dia sering melihat Syifa diantar pulang oleh Dino, teman sekelasku.
"Eh Kas. Lo kenapa deh bisa putus sama Syifa?"
Dia tersenyum, "Nggak cocok itu adalah ketika kelebihannya nggak bisa melengkapi kekurangan gue. Dan kelebihan yang gue miliki nggak bisa melengkapi kekurangan dia. Apa yang baik darinya bukanlah apa yang gue butuhkan. Sedangkan apa yang gue butuhkan adalah sesuatu yang nggak ada di dalam dirinya."
Belum sempat aku menanggapinya, kami sudah tiba di penjual ronde tempat kami memesan dua porsi tadi. Kami memilih tempat duduk yang dekat dengan jalan. Biar udara bisa masuk, kata Lukas. Tempat ini cukup luas. Ada sekitar sepuluh meja kecil di dalamnya.
Dengan model lesehan, tanpa satupun kursi yang menemani meja-meja malang itu. Aku memainkan ponselku, ketika Lukas berkata, "Vel tukar tempat yuk. Lo duduk di sini. Gue yang duduk di sana."
"Hah? Kenapa deh?" Tanyaku sembari meletakkan ponsel di atas meja.
"Udah. Buruan."
Aku menuruti perintah Lukas, dan berdiri untuk bertukar tempat duduk dengannya. Tapi apa boleh buat, ketika sepasang mataku tertuju kepada sepasang manusia di sana. Ica dan Mahen lagi. Rupanya tidak langsung pulang tadi.
Lukas melihatku dengan helaan nafas panjang. Berakhir benar-benar aku duduk di tempatnya tadi, dan laki-laki itu mengggantikanku menyaksikan Mahen dan Ica.
Pesanan kami datang. "Jangan lupa berdoa dulu Vel. Berdoa juga buat kesembuhan hati lo."
__ADS_1
Aku mengangguk dan berdoa, setelahnya menyendok kolang-kaling yang tenggelam di air hangat beraroma jahe ini. Menyuapkan ke mulutku, dan menelannya.
"Eh? Nggak panas?"
Aku tersenyum simpul, "Lebih panas hati gue Kas."
"Vel. Sebenernya gue udah lihat mereka waktu tadi beli Si Tayo."
"Yang lo tutupin mata gue tadi kan?"
Lukas bergeming. Aku terkekeh, "Udah tau gue."
Karena tidak mungkin seorang Lukas melakukan hal yang cuma-cuma. Dia selalu berpikir matang-matang terhadap apa yang akan dia lakukan. Hanya saja tadi aku tidak bisa memastikan apa yang ada di balik telapak tangan Lukas. Ada dua hal yang membuatku berkata jika semua laki-laki itu sama, kan? Nah, aku sekarang sudah ada kepastian siapa pelakunya.
"Kas. Lo marah nggak kalau gue bilang semua cowok itu sama aja?"
"Enggak lah. Ngapain marah?"
"Ya kan lo juga cowok."
Lukas tertawa, "Gini Vel. Semua cowok emang sama kok. Yang lo maksud mereka yang nggak cukup dengan satu cewek kan? Kami emang kayak gitu. Tapi tergantung masing-masing orangnya bisa nahan ***** sesaat itu atau enggak. Ada juga loh yang udah bisa nahan tapi malah diperlakukan nggak baik sama ceweknya. Kasihan kan cowok yang kayak mereka? Udah dihianatin, disamain kayak cowok nggak baik lagi."
Aku merasa tersinggung dengan kalimat terakhir yang Lukas katakan.
"Semua yang kita lakuin ada balasannya Vel. Semua hal menyakitkan yang kamu terima saat ini adalah jawaban dari doa-doa yang lo tanyakan ke Tuhan salama ini. Lo pasti berdoa semoga selalu bahagia kan? Nah, sekarang Tuhan menyingkirkan orang yang menghalangi kebahagiaan lo."
Aku tertegun. Rasa tersinggungku tadi terurungkan. Aku merasa malu kepada Lukas, kepada Tuhan, dan kepada diriku sendiri. "Jadi, aku yang egois?"
Lukas menggeleng, "Bukan egois. Dari sini lo harus pintar-pintar mengambil hikmah. Lo harus pintar-pintar mengambil langkah setelah Tuhan menunjukkan hal-hal yang nggak baik buat lo."
"Tuhan sayang sama lo. Satu kali, dua kali, tiga kali Tuhan mengingatkan ke lo yang masih tetep ngeyel. Jangan sampai Tuhan berhenti mengingatkan lo lagi."
"Udah. Dihabisin dulu. Keburu dingin. Bukan ronde lagi namanya nanti."
"Apa dong?"
"Rindi."
Aku tertawa, Lukas juga. Kami berdua meneruskan acara makan ronde. Makan atau minum? Terserah kalian menyebutkannya. Kalau aku lebih suka mengatakan makan.
Setelah selesai makan, aku berniat melepas jaket Lukas yang aku kenakan. Tapi tidak jadi karena Lukas menahannya, "Jangan dilepas."
"Gue udah nggak dingin Kas. Gerah nih."
"Iya sekarang emang panas, soalnya lo habis makan yang panas-panas. Tapi nanti di jalan dingin, Vella."
Aku cemberut. Dan tidak jadi melepas jaket.
"Pulang sekarang bos?" Tanya Lukas dan aku mengangguk.
"Loh berdua aja nih? Temen lo yang dua tadi mana?" Aku mendongak. Mahen dan Ica sudah berdiri di samping meja yang aku tempati. Aku dan Lukas berdiri.
"Rena sama David mana?" Tanya Mahen dengan senyum miris.
Aku menoleh ke arah Lukas. Lukas bergeming, menatapku dengan tatapan penuh arti.
Ica kembali bersuara, "Nggak bisa jawab kan? Dia emang sengaja deh Hen biar bisa berduaan."
Mahen menggelengkan kepala dan tersenyum sarkastik, "Nggak nyangka gue. Ternyata lo selingkuh sama temen gue sendiri."
Aku bergeming.
"Jadi lo nuduh gue selingkuh, cuma mau nutupin kesalahan lo sendiri?"
Tidak tahan dengan perkataan bertubi dari Mahen, kurasa air mataku sudah tidak bisa dibendung lagi. Satu tetes meluncur mulus di pipiku.
Bug
Mataku membulat. Kepalan tangan Lukas mendarat di pipi kiri Mahen.
"Kalau bukan di tempat umum, bukan cuma pipi lo yang bengkak."
Mahen menyeringai, tangannya terkepal. Sebelum Lukas mendapat pukulan dari Mahen, aku menghentikannya.
"Udah!"
"Mahen, hubungan kita cukup sampai di sini."
Aku mengambil arumanisku dan melangkahkan kaki pergi dari tempat menyeramkan itu. Baru satu langkah, seseorang menahan lenganku. Saat ku toleh ternyata Mahen.
"Nggak bisa gini dong Vel."
__ADS_1
Aku tersenyum miring ketika melihat Ica menyunggingkan senyum puasnya. Kunghempaskan tangan Mahen dan beranjak pergi.