PERIPLE

PERIPLE
4. Ica


__ADS_3

Seperti itulah Mahendra Aksara Putra. Membuatku tenang ketika berada di sisi nya, lalu membuatku khawatir ketika berada jauh dari dirinya. Tidak ada seorangpun yang mendukung argumentasiku saat ini. Tapi, semesta selalu membuatku berpikir yang tidak-tidak.


Sekarang adalah hari Senin. Hari pertama aku masuk SMA Merdeka, salah satu Sekolah Menengah Atas favorite di kota tempatku tinggal. Ada tiga jurusan ; IPA, IPS, dan Sastra Indonesia.


Aku mengambil jurusan sastra, karena tingkat khayalku tinggi. Rena mengambil jurusan IPA, Fitri dan Syifa mengambil jurusan IPS.


Aku menyadari minatku di dalam sastra, sejak Sekolah Dasar. Setiap ada tugas mengarang, karanganku selalu paling banyak. Lebih dari tiga lembar. Padahal temanku yang lain hanya satu lembar, itu saja tidak penuh.


Tapi yang namanya manusia pasti ada kurang dan ada lebihnya, aku yang penyuka segala macam mata pelajaran berbau bahasa ini tidak menyukai apapun yang berjenis angka. Terutama matematika.


Menurutku perpustakaan adalah tempat ternyaman untuk self-healing . Aroma novel yang memanjakan, membuatku lupa waktu jika berada di sana. Aku sering ke perpustakaan kota, memanfaatkan temanku yang suka mencari kuota gratisan.


Kembali ke hari Senin ini, kami siswa-siswi baru di kumpulkan di lapangan, dibariskan sesuai dengan kelasnya. Tak lupa memakai topi dan mengalungkan nametag  yang telah dibuat di rumah Rey waktu itu.


Diberi arahan, untuk kelas dari masing masing jurusan. Kelas IPA dibagi menjadi tiga kelas, kelas IPS juga dibagi menjadi tiga kelas, sedangkan kelas satra hanya ada satu kelas. Konon, katanya peminat sastra itu sedikit. Takutnya kalau di buka banyak kelas, yang terisi hanya satu kelas. Masing-masing kelas berisi tigapuluh dua murid.


Setelah semua barisan dibubarkan, dan diberi tau untuk memasuki kelas yang telah dibagi, para murid terpencar. Kelasku, berada di lantai 2, yang di depannya terdapat pohon cemara. Aku sengaja duduk di bangku pojok depan, tepat di depan meja guru, seperti kebiasaanku sebelum-sebelumnya.


"Hai. Gue boleh duduk di sini?" Tanya seorang siswi berambut hitam panjang terurai, dan berbando biru muda.


Aku mengangguk, lalu bergeser ke bangku yang mepet pada dinding.


"Salam kenal, gue Tara dari SMP 4," ucapnya seraya mengulurkan tangannya kepadaku, yang langsung kubalas, "Gue Vella dari SMP 2."


"Ternyata di kelas ini banyak ceweknya ya."


Pandanganku mengikuti Tara menyapu seluruh ruangan ini, "Iya. Yang cowok cuma ada lima."


Apakah peminat sastra kabanyakan perempuan? Padahal yang paling bisa merangkai kata manis itu laki-laki. Dilan contohnya.


Setelah anggota OSIS masuk, kami disuruh memperkenalkan diri secara bergantian. Kemudian membentuk struktur kelas. Aku dan Tara terpilih menjadi sekertaris. Ketuanya bernama Rani, dan Bryan terpilih menjadi wakilnya. Sedangkan bendahara dipegang oleh Vita dan Lia.


Kami langsung membuat Group chat  whatsapp. Dan manjadi semakin akrab setelah saling berbalas pesan.


Ada satu pesan yang masih kutunggu. Pesan dari salah satu teman SMP ku yang juga melanjutkan ke SMA Harapan. Namanya Tiwi, satu kelompok denganku, dan pernah sebangku waktu kelas delapan.


Bukannya tidak percaya dengan Mahen, tapi sedikit was-was. Apa salahnya waspada, kan?


Sampai pulang sekolah, Tiwi masih belum online . Dia memang jarang memegang ponsel. Tapi aku butuh kabar darinya.


Setelah beberapa jam menunggu akhirnya ada pesan dari Tiwi. Langsung ku buka cepat-cepat isi pesannya.


Tiwi

__ADS_1


Tadi Kak Thea godain Mahen. Kan MPLS nya di suruh mencatat nama Anggota OSIS. Kak Thea masuk OSIS, terus waktu Mahen minta ke dia, dianya bilang "Masa lupa sama gue?". Tapi Mahennya biasa aja sih.


...***...


Hari demi hari berlalu. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah telah berakhir, dan aku semakin dekat dengan teman-teman baruku. Aku mempunyai geng baru sekarang. Karena sama-sama penikmat lagu-lagunya maroon 5, sedangkan kami beranggotakan enam orang ; Aku, Niken, Via, Cika, Talia, dan Rani (ketua kelas baruku), maka nama geng ini adalah maroonsix. Jangan tertawa, itu bagus tau.


Jam kosong adalah waktu bahagia untuk murid pemalas seperti aku. Kata Pak Liam, wali kelasku, terserah mau ngapain aja, asal jangan keluar kelas atau rame, takut kelas lain iri. Jadi waktu ini dimanfaatkan dengan baik untuk tidur, mabar (main bareng), dan bergosip. Contohnya aku dengan beberapa temanku ini. Baru kenal gini aja kami sudah banyak bahan untuk pergosipan.


"Eh Vel. Pacar lo sekolahnya di SMA Harapan?" Tanya Cessa kepadaku.


Aku mengangguk.


"Hebat banget loh si Vella. Pacaran langgeng banget udah mau satu tahun aja," puji Niken.


Iya memang pada umur segini, pacaran satu tahun itu termasuk sudah lama. Palingan kalau yang lain beberapa bulan putus. Namanya juga cinta monyet.


"Jurusan apa cowok lo?" tanya Cessa lagi.


"Kalau nggak salah sih IPA 3. Kenapa emang?"


"Hati-hati loh, Vel. Gue ada temen cewek yang lanjut ke sana juga. Kayaknya sekelas deh sama cowok lo. Dulu dia suka ngerebutin cowok orang."


Aku berdecak. Cuma kayak gitu mah nggak bakal aku pikirin. Aku percaya Mahen tidak akan berpaling. Dia bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta. Dulu dia putus dengan Kak Thea karena Kak Thea pernah selingkuh dari Mahen.


Ting


"Mas pacar tuh," goda Niken saat melihat popup pemberitahuan ponselku. Teman-teman lain ikut menggodaku, karena mereka juga melihat isi pesan tersebut. Aku menyesal telah menaruh ponsel di atas meja.


Mahen❤


Semangat sekolah ya cantik🤗


Aku tersenyum. Harus belajar hubungan jarak jauh sekarang. Dulu kalau rindu, tinggal keluar kelas, pura-pura ke toilet untuk lewat kelasnya. Dulu, waktu les persiapan Ujian Nasional, aku dan Mahen sering satu kelas. Dan dia selalu menempati bangku belakangku. Memainkan rambutku dari belakang, atau terkadang menendang-nendang kursiku agar aku menoleh ke arahnya.


Aku pernah menangis karena ditinggal main salah satu game di ponselnya, hingga setiap kali aku bicara tidak Mahen jawab.


Haha masa itu.


Saat iseng melihat status whatsapp, tak sengaja melihat statusnya Mahen foto perempuan. Setelah aku buka, ternyata itu fotoku. Foto yang dua hari lalu aku jadikan snapgram, menggunakan efek yang ada telinga dan hidung kelinci. Diberi caption  emoji hati berwarna merah.


Kini pipiku ikut bersemu merah karenanya.


Aku tidak membawa motor hari ini, jadi aku ingin meminta Mahen untuk menjemputku. Selama hampir satu tahun pacaran dengannya, aku sama sekali belum pernah membonceng motornya. Dia juga sama sekali belum pernah mengantarku pulang, atau mengajak kencan seperti pasangan pada umumnya. Kalau katanya, "Malu. Masih anak kecil kita. Belum cocok buat kayak gituan."

__ADS_1


^^^Vella Almera^^^


^^^Mahen, nanti bisa jemput aku?^^^


^^^Read^^^


Mahen❤


Aduh, maaf ya Vel nggakbisa. Kamu minta dijemput sama bunda aja


^^^Vella Almera^^^


^^^Iya nggakpapa, Mahen. Kamu hati-hati ya pulangnya^^^


^^^Read^^^


Selalu seperti itu jawabannya. Tidak ada alasan yang pasti. Kalau aku bertanya kenapa pasti dia jawab nggakpapa. Akhirnya, aku meminta bunda untuk menjemputku. Tidak menjadi masalah kata bunda. Aku anak tunggal, jadi beliau ingin selalu mengupayakan banyak hal untukku. Terimakasih bunda.


Aku menunggu jemputan di lobby  sekolah. Bersama Dara, Tara, dan juga Lia. Kami dijemput, terkecuali Lia. Dia naik angkutan umum, dan masih menunggu temannya yang belum keluar kelas.


Ngomong-ngomong soal Mahen, sejak tadi dia tidak mengabariku lagi. Entah dia sudah pulang atau belum. Entah dia masih di sekolah atau sudah main bersama teman-temannya.


Ting


Ada pesan, mungkin mahen? Tapi setelah kubuka, ternyata bukan. Itu pesan dari Ana teman sekelas Mahen waktu SMP, dan dia sekarang juga satu SMA dengan Mahen. Ada apa? Tumben sekali. Aku tidak terlalu dekat dengan Ana.


Ana


Vela. Gue tadi lihat Mahen boncengin cewek sekelas dia. Kalau nggak salah namanya Ica. Kata temen gue, dia terkenal ganjen waktu SMP.


Aku menghela nafas kasar. Apa lagi sekarang? Masalah teddy bear sudah ku biarkan. Tapi sekarang ada-ada saja yang memperkuat pikiran burukku. Pikiranku melayang.


Aku tidak terlalu mempermasalahkan dia yang tidak mau menjemputku. Kupikir memang terlalu jauh, bahkan berlawanan arah.


Tapi, siapa yang pacarnya? Selama ini aku belum pernah sekalipun duduk di motornya, kenapa dia memperbolehkan perempuan lain di tempat itu? Padahal belum lama kenal?


Apa aku salah aku berpikir seperti ini?


Jadi, aku harus percaya dengan perkataannya selama ini atau tidak? Saat emosiku benar-benar berada di level tinggi, tiba-tiba ponselku berdenting kembali.


Mahen❤


Sayang, Ana chat  kamu? Iya aku emang ngebonceng temenku. Karena dia minta tolong. Soalnya dia belum dijemput.

__ADS_1


Sekarang apa?


__ADS_2