PERIPLE

PERIPLE
12. Rumah Kak Harris


__ADS_3

Masih seperti hari-hari yang lalu, pagi tadi Sang Surya menampakkan diri di ufuk timur. Sejalan dengan munculnya kekhawatiran tentang hati yang belum sepenuhnya pulih. Kebimbangan mulai hadir setelah aku mendengar kabar dari Rena, bahwa Mahen yang sudah kuanggap mantan pacar, mengatakan jika hubungan kami belum selesai.


"Vella. Temen kamu udah nunggu di bawah." Panggil bunda di balik pintu kamarku.


"Iya bun. Baru sisiran."


Siang ini adalah jadwal tim sekolah kami untuk bertanding. Aku memakai jersey baru berwarna biru muda bertulisan Angels FC di bagian tengah depan, yang kubalut dengan jaket abu-abu yang dibelikan ayah tahun lalu.


Sepatu, kaus kaki yang panjangnya selutut, dan crab (pelindung betis) ku masukkan ke ransel kecilku. Aku berangkat dengan alas sendal berwarna hitam. Kali ini aku mengucir rambut di bagian atas.


Setelah memastikan semua siap, aku beranjak keluar kamar dan menuruni tangga. Ku lihat Kak Harris yang sedang berbincang dengan bunda. Mereka berdua melihat ke arahku, ketika menyadari kehadiran diriku.


"Udah lama kak?" Tanyaku.


Bunda tersenyum,  "Udah dari tadi tuh. Baru aja mau bunda bikinin minum, eh kamu udah siap aja."


"Eh yaudah bun bikinin minum dulu. Masih agak lama juga."


"Eh nggak usah repot-repot tan, kami langsung aja. Soalnya ada yang ketinggal di rumah, jadi harus balik rumah dulu." Tolak Kak Harris.


"Oh yaudah. Kalian hati-hati ya. Semoga bisa tampil dengan maksimal, dan membuahkan hasil sesuai harapan."


"Aamiin." Jawab aku dan Kak Harris serempak.


Aku menjabat tangan bunda, "Bunda, Vella berangkat ya."


Lalu bergantian dengan Kak Harris yang menyalam tangan bunda, "Saya bawa Vellanya dulu ya tan. Assalamualaikum."


"Iya. Jangan ngebut ya, nak. Waalaikumsalam."


Seperti biasa, aku memakai helm milik adik Kak Harris. Menaiki motor yang biasa dia bawa.


"Dek kayaknya gue harus minta maaf sama bunda lo."


"Kenapa?"


"Gue nggak bisa kalau nggak ngebut. Soalnya jarak dari sini ke rumah gue jauh. Dan kita dikejar waktu."


"Yaudah kak nggakpapa ngebut aja, yang penting nggak asal-asalan."


"Yang penting itu lo pegangan dek. Pegangan gue."


Aku bergeming. Harus pegangan dimana? Aku mengangkat tanganku untuk memegang kedua pundak Kak Harris. Helaan nafas panjang Kak Harris terdengar. Dia menurunkan tanganku dan memindahkan ke pinggangnya. Jantungku berdetak tidak normal lagi.

__ADS_1


"Udah siap?"


"U-udah kak."


Kak Harris melajukan motornya sangat kencang, sehingga mau tidak mau aku harus mempererat pelukan. Ralat, mempererat peganganku di pinggangnya.


Bisa dibilang cukup panas untuk teriknya matahari di jam sepuluh pada umumnya. Aku kaget ketika di setiap lampu merah, tangan lebar Kak Harris menggenggam kedua tanganku yang tertaut di perut ber-abs-nya.


"Biar tangan lo nggak kepanasan." Jelas Kak Harris.


Setelah melewati tujuh lampu merah, kami sampai di rumahnya. Rumah berwarna putih yang bisa dibilang terlalu besar jika hanya ditinggali oleh Kak Harris, adik, dan kedua orangtuanya.


"Ayo." Ajak Kak Harris sembari menggandeng tanganku.


Di halaman rumah luas Kak Harris, aku melihat mobil yang tak asing. Aku berhenti sebentar, hanya untuk memastikan.


"Kenapa berhenti?" Tanya Kak Harris.


Aku menoleh ke arahnya, tetapi dia malah melihat mobil yang sejak tadi aku perhatikan. Raut muka Kak Harris berubah menjadi serius. Tatapan mata yang biasanya hangat, kini berubah jadi dingin.


Dia mengalihkan pandangan. Tanpa kata, laki-laki itu menarikku kembali untuk melangkah memasuki rumah. Sialnya aku malah ingin buang air kecil.


"Kak boleh numpang ke toilet?"


Kak Harris mengangguk, "Boleh. Tapi sendirian aja nggakpapa? Gue mau ambil barang dulu di kamar. Lo lurus aja ke sana, nanti kalau udah mentok, belok aja ke kanan."


Kak Harris berjalan cepat menaiki tangga. Akupun berlari menuju toilet yang sepertinya sudah sangat menunggu kedatanganku.


Setelah merasa lega, aku melangkahkan kaki untuk kembali ke ruang tamu rumah besar ini. Benar-benar bisa disebut istana.


Saat melewati satu pintu, aku mendengar suara-suara yang tidak seharusnya aku dengar. Rancauan-rancauan yang biasa diucapkan oleh dua orang yang sedang melakukan hubungan suami istri itu terdengar cukup keras.


Aku bergidik ngeri, dan mempercepat langkahku. Yang benar saja. Siang bolong seperti ini orangtua Kak Harris melakukannya.


Aku kembali ke ruang tamu, dan ternyata Kak Harris belum turun. Aku mengelilingi ruangan ini. Melihat foto Kak Harris dan adiknya yang ternyata sangat cantik,  memiliki lesung pipit yang sama di kedua pipinya.


Langkahku terhenti. Mataku terpaku pada satu foto yang menampilkan empat orang tersenyum bahagia. Dadaku terasa nyeri. Jantungku berdetak sangat cepat, bahkan tidak memberi celah untukku bernafas.


Dengan langkah yang sangat berat, aku berjalan keluar. Melangkahkan kaki mendekati mobil yang kurasa tidak asing tadi. Aku hanya ingin memastikan sesuatu.


Kepalaku benar-benar pusing ketika melihat nomor plat mobil tersebut. Aku merasa tulang-tulang yang ada di tubuhku lolos satu persatu meninggalkan tempatnya.


Aku memegang dadaku yang terasa sangat sakit. Kakiku lunglai, badanku rubuh di depan mobil itu. Mataku memanas, tapi aku benar-benar memaksa untuk tidak menangis.

__ADS_1


"Bukan waktunya nangis Vel." Ujarku kepada diriku sendiri dengan suara bergetar.


Aku pernah mendengar bahwa ada satu cara untuk menenangkan diri, namanya butterfly hug. Masih dengan keadaan bersimpuh, aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada. Kupengang kedua pundakku, dan menepuknya pelan, berulangkali. Tarik-buang nafas secara beraturan.


Kata-kata bunda yang menginginkan anaknya menjadi orang baik tiba-tiba terngiang di pikiranku. Wajah lelah bunda yang selalu beliau tutupi dengan senyuman tiba-tiba hadir di benakku. Aku harus bersama bunda, aku harus menjadi orang yang lebih kuat lagi supaya bisa menguatkan bunda. Aku tidak boleh lemah, karena bunda akan semakin tidak berdaya. Bukankah hanya aku harapan bunda?


Aku berdiri, menepuk-nepuk celanaku yang terkena debu. Beberapa detik kemudian aku tertawa. Aku menertawakan hidupku. Aku ingin berkata bahwa aku lelah, tapi aku malu dengan mereka di luar sana yang merasa lebih lelah.


Aku hanya gagal dalam percintaan. Aku masih mempunyai bunda yang luar biasa, teman yang hebat, dan aku bersyukur karena selalu diperlakukan dengan baik oleh semua orang yang berada di sekitarku.


"Gue kira kemana, Astaghfirullah."


Aku menoleh, menemukan Kak Harris yang sudah berdiri tak jauh dariku dengan tatapan cemas.


"Cari udara kak."


"Yaudah yuk. Cus ke GOR. Yang lain udah kumpul."


Aku mengangguk lalu mendekatinya, "Ngambil apa deh kak tadi?"


"Nametag dek. Buat pemain, coach, sama official. Mana tadi nyelip-nyelip lagi, jadi lama. Maaf ya."


"Nggakpapa kak."


Tuhan sengaja mengatur semua ini. Mulai dari aku yang di jemput Kak Harris, nametag yang tertinggal, dan lamanya Kak Harris di kamarnya. Tuhan hanya memberiku jalan untuk mengetahui hal-hal yang sudah Tuhan siapkan.


"Tadi udah makan kan?"


Aku mengangguk, "Udah dong. Dua jam sebelum jam tanding."


Kak Harris tersenyum dan menepuk-nepuk kepalaku. Dia mengambil helm dan memakaikannya di kepalaku. Tapi sebelum itu terjadi, aku menahannya. "Aku pakai sendiri aja kak."


"Eh? Yaudah."


Aku mengambil helm merah muda itu dengan perasaan tidak enak. Perlakuan Kak Harris yang manis kepadaku selama ini, tidak terasa istimewa lagi. Aku ingin mencegah hatiku agar tidak jatuh kepadanya.


Motor Kak Harris melaju meninggalkan rumah yang membuatku trauma. Aku tidak akan pura-pura tidak ada yang terjadi hari ini. Aku akan mengingatnya, karena itulah kenyataanya.


Tidak sampai duapuluh menit, kami sampai di Gedung Olah Raga Diamond. Di luar gedung itupun sudah sangat ramai orang. Lebih dari lima kelompok dengan jersey warna-warni, membuat suasana itu tambah ramai.


Supporter kurasa lima kali lipat lebih banyak dibanding dengan pemain. Mereka sudah membawa banner bertuliskan nama sekolah mereka masing-masing. Dilengkapi dengan berbagai alat untuk mengiringi lagu yang akan mereka nyanyikan untuk pahlawannya. Ada juga yang menggambari pipinya dengan gambar bendera merah putih. Antusias yang sangat luar biasa.


Aku dan Kak Harris berjalan beriringan menuju tempat tim kami berkumpul. Seperti biasa, Kak Harris menjadi pusat perhatian gadis-gadis yang berada di sana.

__ADS_1


"Maaf ya telat." Tutur Kak Harris.


Kami berdua bertos dengan semua anggota Angels FC. Aku mengedarkan pandanganku. Kulihat sekolah Mahen juga mewakili, sepertinya Mahen dan Ica menjadi pengurusnya. Mereka sedang berkumpul dengan timnya. Tetapi dengan posisi Mahen di samping Ica.


__ADS_2