
Bulan ini aku disibukkan dengan pendaftaran sekolah. Tidak ada yang special . Seperti rencana sebelumnya, aku mendaftarkan diri di SMA Merdeka, bersama Rena, Syifa, dan Fitri. Lukas melanjutkan ke SMA Merah Putih, sedangkan Rey dan David melanjutkan ke SMA Nusa Bangsa.
Kamu masih mau bertanya Mahen melanjutkan kemana? Jawabannya tetap sama, dan jika aku menjawab, aku akan merasa tidak bersemangat lagi.
Hari ini, aku sedang berkumpul dengan keenam temanku, untuk mempersiapkan kebutuhan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah), yang dulunya sering disebut MOS (Masa Orientasi Siswa). Awalnya mau di rumahku, tapi karena kejauhan, dan bukan titik tengah, berakhirlah di rumah Rey.
Untung saja sekolah kami semua memiliki syarat MPLS yang sama.
Mahen juga ikut, tetapi menyusul saja katanya. Dia pamit mau mengantar Ibunya ke pasar dulu. Sudah kubilang sejak awal, dia itu anak penurut, dan patuh.
Aku dan Syifa mulai memotong kertas karton yang akan dijadikan topi kerucut. Rey, yang tulisannya paling bagus, sibuk menulis nametag kami bedelapan. Hiasan-hiasan topi pun sudah hampir semua jadi, dan kami percayakan kepada Rena dan Fitri.
Okey, sisa dua orang. David, dan Lukas. Mereka hanya bermain playstation milik Rey.
"YES WINNER LAGI!" teriak Lukas girang.
Davidpun mengamuk, lalu membanting stick yang awalnya dia pegang erat, "LO CURANG YA!"
Bantal yang sedari tadi ada di pangkuan mereka mulai melayang, mengenai wajah satu sama lain. Pertengkaran semakin panas ketika David menjegal tubuh Lukas. Aku hanya menggeleng heran.
Kulirik Rey, yang notabenya adalah pemilik rumah, sekaligus pemilik barang barang yang berada di dalamnya ini. Ternyata dia tidak peduli.
BRUM BRUM
Suara motor yang tidak asing terdengar di telingaku. Motor Ninja hitam, dengan pemilik yang tidak terlalu tampan, tapi terlampau manis. Tak lupa dengan helm kuning neon yang bertengger di kepalanya.
Mataku tak berpaling sama sekali, sampai Mahen memasuki rumah Rey, dan berceletuk "Yah belum jadi. Balik aja deh."
Semua mata yang ada di sana pun, menatapnya sinis. Bantal senjata dua bocah pun beralih terlempar ke arahnya.
"Yang ngerjain cuma segini orang, mana yang dua sibuk main sendiri," ujar Rey tidak terima.
"Nahh. Lo dateng-dateng ngoceh aja kayak Bu Lina."
BUK
Rena melempar gulungan karton tepat di punggung Lukas, "Lo daritadi juga cuma gaming."
"Lah kan cowok lo yang ngajak, napa yang diamuk gue."
"Heh denger ya! Yang mondar mandir beli keperluan ini kan David. Lo ngapain? Udah dateng paling akhir, cuma main ps."
"Nyenyenyenye."
"Udah-udah. Istirahat dulu." lerai Mahen, sembari meletakkan kantong plastik besar yang bertulisan Indoapril. Dia mengambil dua kaleng minuman yang ada di dalamnya, lalu duduk di sebelahku, dan memberikannya satu kepadaku.
"Hen, lo nggak buka group chat?" Tanya Fitri
Mahen tampak kebingungan, "Emang ada chat? Gue mute sih soalnya."
"Iya tadi gue titip ke lo beli mika yang buat cover nametag."
"Yah. Sorry, tadi nggak sempet pegang HP juga gue. Yaudah gue cariin lagi aja."
Melihat Mahen yang terlihat lelah, aku menahannya untuk pergi, "Udah biar gue aja yang nyari. Kasihan Mahen capek. Di deket sini ada kan?"
"Aku aja, Vel. Lagian dari tadi kamu belum istirahat kan?"
"Ini sekalian mau refreshing , suntuk di dalem terus."
Aku tersenyum, dan mendapat senyuman balik dari dia.
__ADS_1
"Oy malah pacaran. Yaudah biar Vella aja. Fit, itu temenin si Vella. Kasihan kalau sendiri," Suruh Rey, karena mungkin kalau aku sendiri memang bakalan nyasar. Baru dua kali aku ke rumah Rey. Sedangkan Fitri sudah beberapa kali di ajak ke rumah ini.
Fitri mengangguk, "Iya Vel jangan sendiri. Sama gue aja. Sekalian pakai motor gue."
"Oke deh."
Aku mengambil tas selempangku, Fitri hanya mengambil dompetnya saja. Lalu kami melangkah keluar dari rumah besar ini. Di halaman Rey ada lima motor. Milikku, milik David yang tadi boncengan dengan Rena, milik Lukas yang boncengan dengan Syifa, milik Fitri, dan Milik Mahen.
Sebentar. Kok di motor Mahen ada dua Helm?
"Eh Fit. Kok di motor Mahen ada dua helm ya?"
Fitri yang sedang memutar balik motornya pun menoleh ke motor Mahen, "Eh iya ya? Helm mamanya tadi mungkin."
Helm ibunya? Kenapa nggak di taruh di rumah aja? Atau keburu waktu buat datang ke sini? Jadi ingat waktu aku melihat motor Mahen yang ada di parkiran, padahal dia bilang tidak bawa motor. Berhubungan dengan setelahnya aku melihat Kak Thea di pinggir jalan yang sedang memegang helm.
Helm? Aku mendekati motor Mahen. Helm ini sepertinya tidak asing.
"Vel. Ayo. Panas nih."
Aku berusaha mengabaikannya lagi. Lalu mendekati Fitri. Motor yang kutumpangi mulai beranjak menjauhi rumah Rey. Seirama dengan pikiranku yang semakin jauh memikirkan apa yang terjadi dengan Mahen.
Aku sudah berusaha untuk tidak mempermasalahkannya kemarin. Tetapi hari ini ada yang janggal lagi. Atau aku yang terlalu overthinking ? Hobi anak muda jaman sekarang.
Tak memerlukan waktu lama, sekitar satu kilometer, kami berdua berhenti di sebuah minimarket. Tidak ramai, tapi tidak terlalu sepi juga. Aku berjalan masuk dahulu, karena Fitri masih memarkirkan motornya. Aku mulai mencari mika yang kami butuhkan. Tak sampai tiga menit, Fitri sudah terlihat tidak jauh dariku.
Boneka? Kenapa dia malah nyari boneka? Aneh-aneh memang.
Kuambil mika bening sejumlah enambelas. Sengaja ambil dua kali lipat, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Aku mendekati fitri yang masih sibuk memilih boneka. Di tangan kanannya, memegang teddy bear berwarna caramel, di tangan kirinya terdapat boneka teddy yang modelnya sama tapi berwarna merah muda.
"Emmm. Kalau gue sih bagus yang caramel. Tapi terserah lo sih lebih suka yang mana."
"Bukan buat gue sih. Cuma dimintain tolong sama temen cowok gue, mau buat kado. Tapi dia malu kalau beli sendiri. Yang caramel aja deh ya. Gue juga lebih srek yang caramel."
Aku cuma manggut-manggut. Lalu kami berdua menuju kasir.
Di jalan, aku cerita kepada Fitri, "Fit kok gue curiga ya sama si Mahen?"
"Hah? Curiga gimana?"
"Lo inget nggak waktu terakhir kita berdelapan pulang sekolah, habis ambil ijazah? Dia bilang sama gue pulangnya nebeng Rey. Tapi gue kayak lihat motor dia di dalem parkiran,"
"Oh, motor Ninja item?"
"Iya. Sama persis kayak punya Mahen. Apa gue salah lihat aja ya?"
"Hahaha. Lo nggak salah lihat. Itu motor papanya Rey. Motor dia di bengkel waktu itu."
Jadi, aku yang terlalu berburuk sangka? Tapi Kak Thea yang bawa helm sama persis dengan yang di motor Mahen?
"Eh tapi Fit. Waktu di jalan pulang gue juga lihat Kak Thea lagi nunggu seseorang, pegang helm yang sama persis kayak yang di motor Mahen tadi."
"Lo apaan sih Vel curigaan banget sama cowok lo. Emangnya helm yang kayak gitu cuma satu di dunia ini? Banyak kali. Jangan kebanyakan mikir deh."
Aku cukup kaget dengan nada bicara Fitri yang bisa dibilang cukup tinggi. Padahal selama ini dia paling lemah lembut diantara kami berempat. Aku hanya diam. Ternyata memang aku yang salah. Aku yang terlalu berpikir jauh. Dan aku sendiri yang membuat semuanya menjadi semakin runyam.
Aku merasa bersalah kepada Mahen. Aku terlalu mencurigainya. Padahal kepercayaan juga termasuk unsur penting dalam sebuah hubungan.
Sesampainya di rumah Rey, Fitri masuk terlebih dahulu. Meninggalkan boneka yang terbungkus plastik berdiri di bagian depan motor maticnya.
__ADS_1
Aku mulai memasuki rumah Rey, lagi. Menenteng kantong plastik berisi mika yang kubeli tadi.
Kulihat semuanya yang sedang bekerja, sudah selesai. Tersisa nametag yang masih menunggu untuk disampuli.
Mahen melambaikan tangannya, menyuruhku untuk mendekatinya. Dan duduk di sampingnya.
"Udah, kamu duduk aja. Biar mereka yang nyampulin nametag nya."
Aku tersenyum sedih. Melihat dia yang begitu tulus menyayangiku. Akulah yang memperumit hubungan ini.
"Mahen, aku minta maaf."
"Kenapa minta maaf? Karena udah maling hati aku?"
Dia masih saja bercanda. Kusandarkan kepalaku ke pundaknya, "Maaf udah ngerepotin hati kamu selama ini."
"Ya harus gitu dong yang. Kan aku pacar kamu. Masa kamu mau merepotkan pacar orang lain?"
Aku kembali duduk tegak, lalu kutatap matanya. Dia menggandeng tanganku, "Percaya sama aku ya?"
Hampir saja mata ku berkaca-kaca, tapi dia memegang jajanan singkong di depan wajahku, "Buka mulutnya. Aaaa."
Aku membuka mulut, lalu mengunyah keripik yang dia suapkan tadi. Tangannya terangkat untuk mengelus rambutku, "Makan yang banyak. Jangan banyak pikiran. Biar cepet gendut."
Dia terlalu baik, untuk membuatku merasa terjahati.
Tidak sampai dua jam, semuanya selesai. Segala ciki dan minuman tinggal cangkangnya saja. Aku dan teman-teman perempuan lain mulai memunguti sampah-sampah yang berserakan tak beraturan. Dikumpulkan menjadi satu, ke dalam kantong plastik yang awalnya juga sebagai wadah mereka.
"Udah selesai nih. Pulang yok. Mau rebahan gue."
"Iya nih. Pegel banget," sahut Rena yang menyetujui ajakan David.
Syifa juga menarik tangan Lukas, "Iya. Bareng-bareng aja. Pulangnya."
"Gue mau di sini dulu deh, hehe."
Kami yang lain tidak kaget ketika Fitri mengatakan seperti itu. Wajar, di rumah calon mertua. Haha
Aku mengangguk, "Yaudah kita pulang dulu ya Rey. Maaf udah ngrepotin. Salam dari kami buat nyokap bokap lo."
"Iya. Ntar gue sampaikan ke nyokap bokap, kalau udah pulang kerja. Thanks ya guys."
Kami semua keluar darj rumah Rey, menempati motor masing-masing. Rey dan Fitri juga ikut keluar, turut mengantar kami.
"Mahen, nggak pulang?" Tanya ku kepadanya, karena dia masih belum menaiki motornya.
Dia menggeleng, "Aku nanti ya. Mau main dulu di sini. Kamu duluan aja, hati-hati. Jangan ngebut, ya?"
"Iya deh. Aku pulang duluan ya sama temen-temen."
Motor David berada di urutan pertama, setelahnya ada motor Lukas, dan terakhir motorku.
"Duluan ya bro," pamit David, sembari menbunyikan klaksonnya, yang diikuti oleh suara klakson Lukas. Aku pun mengikuti mereka.
"Hati hati ya temen-temen," teriak Fitri dengan tangan melambai.
Belum jauh dari rumahnya, ku lihat dari sepion motorku, Fitri sedang memberikan Teddy bear yang dia beli tadi kepada Mahen.
Jadi yang Fitri maksud dengan temen cowoknya tadi, adalah Mahen? Kenapa tidak jujur saja kalau itu Mahen?
Untuk apa? Kado katanya? Ulang tahunku kan masih lama.
__ADS_1