
Merdunya rintik hujan di pagi ini membuatku merasa lebih baik dari lelahnya perjalanan hidup. Seolah air-air dari langit itu ikut membasuh luka yang terus bertambah di dalam hati.
Masih dalam rasa takut, aku memikirkan bagaimana keadaan bunda saat ini. Dimana bunda berteduh? Apa bunda sudah makan? Laporan kehilangan telah didaftarkan. Polisi sudah mulai mencari di tempat kemungkinan-kemungkinan yang ada. Selebaran via online pun sudah tersebar. Banyak keluarga besarku yang ikut bingung bercampur cemas setelah mendengar kabar bahwa bunda tidak bersamaku.
Bukannya aku terlalu santai, papa Rena menyuruhku untuk tetap tenang dan percaya kepada ahlinya.
Ponsel Rena berdering. Dia menatapku cemas, dan menjawab teleponnya. Entah dengan alasan apa, Rena keluar kamar sebelum memulai perbincangan dengan sang penelepon.
Selang beberapa menit, gadis itu membuka pintu kamar kembali dengan mata memerah.
"Signal terakhir yang diterima bunda terdeteksi di jembatan sama kayak Lukas nemuin lo, Vel."
"Tim SAR lagi nyari di sekitar sungai." Lanjutnya dengan suara bergetar.
Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tidak juga menangis. Entah karena aku percaya bunda baik-baik saja, atau karena rasaku terlalu mati untuk merasakan kepedihan.
Rena mendekatiku yang terduduk di sisi ranjang. Memelukku dan menangis saat membawaku kedalam dekapannya. Bukankah yang bisa kulakukan saat ini hanya berdoa semoga Tuhan selalu memberi perlindungan untuk bunda dimanapun beliau berada?
Aku melepas pelukan Rena, "Lo buruan berangkat. Ntar telat."
Hari senin, hari yang seharusnya dipenuhi dengan gelora semangat. Aku masih ingin berdiam diri, belum siap menghadapi beratnya kegiatan sekolah. Lagipula barang-barangku masih tertinggal di rumah Ayah.
Rena beranjak keluar dari kamarnya. Dan tinggal aku di sini. Ponselku berdering. Kulihat nama yang tertera, ternyata Lukas.
"Vel. Keluar rumah."
"Ngapain?"
"Kita cari bunda."
"Lo bolos?"
"Udah cepetan."
Dia memutuskan sambungan telepon. Aku bergegas keluar tanpa menyisir rambut, atau mengganti pakaian. Kupakai asal sendal kamar berbulu merah muda milik Rena. Aku berpamitan kepada mbak Asih-- asisten rumah tangga Rena. Papanya sudah berada di kantor, mamanya juga sudah berangkat mengajar di salah satu sekolah menengah di kotaku, menjadi guru sejarah.
Aku melihat Lukas berseragam putih abu-abu dilapisi jaket abu tua tanpa turun dari motor hitamnya. Dia menoleh ke arahku ketika aku membuka pintu gerbang.
"Ih kok bolos?" Tanyaku.
"Ya percuma kalau raga gue sekolah, tapi pikiran gue di sini."
Aku terdiam. Teringat perkataan Rena bahwa Lukas menaruh rasa kepadaku. Lukas turun dari motornya dan mengambil helm yang tercantol di bagian belakang, lalu memakaikannya ke kepalaku. "Kalau sekarang kan lo bukan pacar temen gue lagi."
Suara guntur memekak telinga. Hujan yang tadinya deras berubah menjadi gerimis kecil. Sebelum kami menaiki motor, Lukas melepaskan jaketnya dan memakaikannya di tubuh kecilku. Terasa kebesaran, tapi aku merasa lebih hangat.
Dia tersenyum. Walaupun memakai helm fullface, aku bisa melihat dari matanya yang menyipit.
Motor yang kami tumpangi melaju membelah padatnya kota. Tepat di lampu merah, lukas menarik tanganku untuk memeluknya. Tanpa sepatah kata, dan tanpa sedikitpun bantahan dari diriku. Sangat nyaman.
Lukas ternyata membawaku ke jembatan yang sama dengan dia menjemputku waktu itu. Bedanya, sekarang Lukas memarkirkan motornya di tempat yang sepi. Bukan di jalan raya, melainkan di tempat yang lebih dekat dengan area sungai. Aku turun dari motor setelah Lukas mematikan mesinnya. Kulepas helm fullface kebesaran milik Lukas yang dipinjamkan kepadaku.
Lukas menggandengku. Kami berjalan di atas rumput yang basah. Sendal berbulu milik Rena ikut bergelut tanpa peduli bahwa wujudnya sudah tidak karuan.
__ADS_1
"Di sebuah hidup, yang sering membuat manusia kecewa adalah ekspetasi dari diri mereka sendiri. Seperti halnya lo punya temen, temen lo itu punya dua permen. Dia makan semua permen itu di depan lo. Lo merasa kecewa karena temen lo nggak ngasih satu permennya buat lo. Padahal dari awal, dia nggak bilang kalau dia mau kasih satunya buat lo." Kata Lukas tanpa melepas gandengan tangannya.
Aku melihat wajahnya yang masih terlihat lebih tinggi dariku, padahal dia berjalan di tanah yang miring sedangkan aku berjalan di tanah yang lebih tinggi. Aku melihat gurat kecemasan di wajah Lukas.
"Lo tau? Katanya daun yang jatuh dari sebuah pohon itu udah tertulis di suratan takdir Tuhan." Lanjutnya. Dia menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya untuk menghadapku.
"Jadi, kalau hati gue udah jatuh untuk lo, apa itu juga udah tertulis dalam suratan takdir juga?"
Aku menatap Lukas dengan mata sedikit membelalak. Aku tau dia menyukaiku. Tapi aku merasa ini terlalu tiba-tiba.
"Kas--"
"Gue nggak mau lo terluka. Setidaknya biarin gue selalu ada di sisi lo, sampai lo nggak ada waktu buat berekspetasi tentang apapun itu. Kita harus bisa menerima semua yang ditakdirkan Tuhan. Tuhan adalah penulis cerita, sedangkan kita hanya sebuah peran di dalam ceritanya. Seberusaha kuat apapun kita, Tuhan yang berhak mengatur alur cerita sampai cerita itu berakhir. Percaya sama gue. Apapun yang terjadi setelah ini, entah itu tentang bunda atau ayah lo, Tuhan sebaik-baiknya penulis skenario."
Pandanganku perlahan memburam. Air mata sudah menutupi penglihatanku. Gandengan tangan Lukas terlepas, lagi-lagi dia merengkuhku. Air yang turun dari langit sudah berhenti. Terganti dengan air yang lolos dari mataku.
Aku terisak. Lukas mempererat pelukannya. Apa-apaan ini? Dia bilang dia tidak mau membuatku terluka. Tapi setelah apa yang dia katakan, malah membuatku menangis. Aku membenarkan semua perkataan Lukas tanpa terkecuali.
"Kita cari bunda ya. Tapi apapun hasilnya nanti, lo harus terima. Karena mau lo terima atau enggak, semua itu sudah ditakdirkan."
Isakanku terhenti bersamaan dengan pelukan kami yang terlepas. Aku bisa merasakan bagaimana dinginnya tangan Lukas ketika dia mengusap air mataku. Sangat dingin, berbeda dengan tangannya yang hangat ketika menggandengku.
Kami kembali menyusuri pinggir sungai. Tidak ada orang yang ada di sana selain aku dan Lukas. Air sungai lebih tinggi dari biasanya, mungkin karena hujan semalaman. Tempat ini juga tidak cocok untuk memancing. Terlalu deras arusnya untuk para ikan memulai sebuah kehidupan.
Setelah beberapa saat kami berjalan, aku melihat beberapa orang dengan seragam berwarna orange yang juga sedang menyusuri sungai.
Lukas menyambar tanganku dan berbalik, "Kita bakalan kena marah kalau ketahuan tim SAR turun ke sini. Bagian sana serahin aja ke mereka."
"Tadi gue dikasih tau Rena kalau lo nggak ada temen di rumahnya. Makanya gue ajak jalan."
"Ngajak jalan apa ngajak demam?"
Dia terkekeh, "Gue tau lo butuh temen. Gue nggak mau lo menyerah dalam keadaan sendirian. Kalau ada gue, dan lo pengen nyerah, kan gue bisa kasih semangat gue ke lo. Mayan lah buat tambah-tambah. Mau bubur?"
"Gue udah kenyang, Kas."
"Yang kenyang itu jiwa lo. Raga lo masih butuh asupan. Bubur yang di alun-alun itu enak."
"Gue nggak suka bubur."
"Sukanya apa? Gue?"
Aku memukul lengan Lukas, "Ada kacangnya. Jadi nggak suka."
"Ya kan bisa pesen nggak pakai kacang, Vel."
"Emang bisa?'
Dia menarikku, dan berjalan lebih cepat dariku, "Bisa. Yang nggak bisa itu kita jadi satu, kan?"
...***...
"Mang. Buburnya dua, satunya nggak pakai kacang."
__ADS_1
"Siap."
Lukas mengambil tikar yang masih tergulung di samping gerobak. Kemudian membukanya di samping taman. Kami berdua duduk berhadapan.
"Kayak de javu deh, Kas."
"Haha kenapa?"
"Itu yang lo mesen tadi, gue kayak pernah denger kata-katanya."
"Dilan?"
"Ah iya. Lo nonton Dilan?"
"Iya. Kan gue fansnya Iqbaal."
"Dih sejak kapan?"
"Haha. Nggaklah. Dulu Syifa yang pengen nonton itu."
Syifa. Aku merasa bersalah dengannya. Kalau yang dikatakann Rena benar, bahwa Lukas memutuskan hubungan mereka karena aku, bukankah aku jahat? Apa aku termasuk orang ketiga?
"Oh iya. Gimana kabar Syifa?"
"Baik sepertinya."
"Syifa cewek baik, Kas."
"Lo udah dikasih tau Rena kan tadi pagi?" Kubalas dengan anggukan lemah.
"Kebiasaan deh. Lo pasti merasa bersalah kan? Padahal gue udah mewanti-wanti dia buat nggak kasih tau lo, karena kalau lo tau lo bakalan kayak gini."
"Kenapa sih Kas?"
"Bukan salah lo. Ini keputusan gue. Dan gue sama Syifa berakhir dengan baik."
"Kenapa baru sekarang gue taunya?" Lirihku.
"Gue nggak mau ngerusak kebahagiaan lo selama ini."
"Jadi apa alasan lo pacaran sama Syifa, kalau akhirnya lo tinggalin?"
Dia menghela nafas panjang, "Dari dulu dia udah tau kalau gue suka sama lo. Tapi dia maksa buat jadi pacar gue, dan katanya dia mau menerima kalau kapanpun bakal gue putusin. Gue tau gue jahat. Dari awal gue nggak pernah mengiyakan permintaan Syifa. Tapi semua itu berjalan gitu aja. Kalian menganggap gue sama Syifa pacaran karena Syifa selalu ngikut kemana gue pergi."
Aku hanya terdiam dan menunduk.
"Karena gue sadar gue cowok berengsek, gue nggak memaksa lo buat membalas perasaan gue."
Dia memang tidak memaksa. Tapi dengan sikapnya selama ini, apa dia tidak berpikir bahwa aku akan terjebak dalam sebuah perasaan nyaman? Padahal dia sendiri yang bilang tresno jalaran seko kulino, rasa sayang akan hadir dari sebuah kebiasaan.
Setelah beberapa menit menunggu antrian oanjang, bubur kami datang. Di temani dengan dua gelas teh hangat dan satu piring berisi lauk pauk.
Mendung di langit, perlahan menghilang dan menampakkan sinar surya yang mulai menghangati bumi dan seisinya.
__ADS_1