PERIPLE

PERIPLE
13. Rumah Sakit


__ADS_3

Aku berdiri di tengah lapangan yang dikelilingi banyak penonton. Di paling tengah ada dua wasit berkaos kuning dan celana hitam membawa bola dan peluit. Di samping kanannya ada Cita, Niken, Caca, aku, dan paling ujung ada wenda. Di samping kiri wasit, ada tim sekolah Mahen berjersey kuning.


Ini adalah babak final. Langit di luar kurasa juga sudah mulai gelap. Seperti disengaja, takdir mempertemukan sekolahku dan sekolahnya pada babak paling sengit di kompetisi ini.


Tim kami memilih bola, sedangkan tim lawan mendapat gawang. Kami mulai melakukan strategi, ketika wasit meniup peluitnya. Lagu-lagu penyemangat dari supporter mulai terdengar.


Merasa gawang milikku terancam, sedangkan Wenda terlalu fokus menjaga gawang sebelah kanan, aku menjaga satu lawanku yang siap menerima bola di sebelah kiri. Baru kusadari, perempuan berjersey kuning dengan nomor punggung 15 di hadapanku ini adalah gadis yang bersama Mahen di minimarket waktu itu.


Dia tersenyum sinis. Alih-alih bola, yang kudapat malah sebuah dorongan keras hingga tiang gawang kurasakan menghantam kepalaku bagian belakang. Sangat sakit, dan tidak bisa bernafas. Samar, aku mendengar suara peluit yang memekak telinga, disusul dengan ricuhnya orang-orang yang menyaksikan semua ini. Setelahnya, aku tidak bisa mendengar dan melihat apapun lagi. Seperti buta dan tuli, perlahan dunia ini menggelap dan berubah menjadi sunyi.


...***...


Mataku terasa sakit, ketika perlahan kubuka, dan menyesuaikan cahaya lampu yang terlalu menyorot. Hidung yang tertempel dengan selang oksigen. Dengan kepala berat, dan leher yang sulit untuk digerakkan, aku sedikit melirik samping ranjang.


Kudapati Lukas yang menidurkan kepalanya di sisi ranjang, menggunakan tangan sebagai bantalan. Aku beralih melihat jam dinding, sudah pukul dua belas malam. Kira-kira sudah tujuh jam lamanya aku tertidur.


Di sofa yang tak jauh dari ranjang ini, aku melihat ada dua laki-laki yang tertidur dalam keadaan duduk. Posisi mereka berjauhan, yang satu di ujung kiri, yang satu di ujung kanan.


Aku menggerakkan tanganku, dan malah membuat Lukas terbangun.


"Vel? Jangan gerak dulu. Gue panggil dokter."


Dia bergegas keluar dari ruangan ini, dan kembali bersama satu dokter dan satu suster.


"Coba buat duduk, bisa?"


Aku mengangguk. Dibantu dengan Lukas, aku melakukan apa yang dokter tanyakan.


"Coba buat noleh. Yang sakit sebelah mana?"


"Tengkuk, Dok."


"Ada sakit lain? Pusing atau sakit di bagian kepala lainnya?"


"Sedikit pusing, tapi nggak ada sakit yang lain."


Dokter itu tersenyum, "Nanti pusingnya berangsur sembuh kok. Berbaring lagi ya. Saya cek lagi."


"Tensi , detak jantung, dan suhunya normal. Sebenarnya udah boleh pulang sekarang. Tapi nanti pagi aja nunggu terang ya. Mas nya boleh ikut saya?"


Lukas menggangguk, "Baik Dok."


"Tidur lagi aja nggakpapa." Kata dokter itu, dan berlalu pergi disusul dengan suster yang menemani.


Lukas mendekat sembari tersenyum lega, tangannya mengelus rambutku, "Tidur lagi ya. Gue nemuin Pak Dokter dulu."


Aku mengangguk. Dia menaikkan selimutnya sampai dadaku.

__ADS_1


Aku tersenyum melihat punggung Lukas yang mulai menghilang dari ruangan ini. Aku mendudukkan diriku kembali. Kulihat Mahen dan Kak Harris yang masih terlelap. Sepertinya mereka kelelahan.


Kenapa mereka ada di sini? Darimana Lukas tau kalau aku ada di rumah sakit ini? Kenapa Kak Harris mau menunggu aku sampai larut? Dan kenapa Mahen sepeduli itu denganku?


Aku menapakkan kakiku ke lantai. Mendekati sofa yang diduduki dua laki-laki itu. Aku menyelimuti tubuh kekar mereka dengan selimut yang seharusnya untuk pasien.


Mereka terbangun. Mata yang semula menyipit, kini telah terbelalak.


"Vella?" Ucap mereka bersamaan.


Kak Harris dan Mahen kalang kabut beranjak dari tempat semula, dan mendekatiku.


"Lo udah siuman?" Tanya Kak Harris


Mahen berdecak, "Lukas sialan. Dia pergi kemana anjir? Pasien sampai berkeliaran gini. Mendingan aku aja tadi yang jagain kamu."


Pintu terbuka. Manampakkan Lukas yang berlari mendekatiku, "Kok malah bangun?"


Plak


Mahen menggampar kepala Lukas, "Dia siuman bukannya Alhamdulillah malah ditanya 'kok bangun?'. Lo dari mana aja sampai Vella bangun lo nggak ada."


Aku meringis melihatnya, kulirik Kak Harris yang juga menatap mereka dengan tatapan miris tanpa suara.


Lukas mendengus, menatap tajam laki-laki yang baru saja menggeplak kepalanya.


"Vel, kenapa malah duduk di sini sih lo? Kan tadi gue bilang tidur lagi aja." Kata Lukas sembari memegang pundakku, tetapi langsung disingkirkan oleh Kak Harris.


Mereka bertiga saling menatap sengit. Aku mendengus, lalu beranjak dari sofa.


"Mau kemana?" Tanya mereka bertiga kompak. Aku melihat mereka yang saling menatap bergantian.


"Apaan lo?" Nah barengan lagi. Kurasa mereka adalah kakak beradik yang sudah lama terpisahkan. Dan berterima kasihlah kepadaku, karena sudah mempertemukan dan memperjelaskannya di sini.


Aku melangkahkan kakiku, dan disusul oleh tiga laki-laki yang sedari tadi berdebat. Mereka membaringkanku di ranjang.


"Laper nggak sih?" Tanya Kak Harris menginterupsi.


Mahen dan Lukas mengangguk. "Vella dari tadi juga belum makan," Ujar Lukas.


Mahen menatapku, "Tapi emang nggakpapa makan jam satu pagi gini?"


Lukas menyaut jaketnya yang tersampir di kursi tempatnya menungguku tadi, "Ya daripada mati kelaperan. Mau lo?"


Lukas beranjak, tapi sampai di ambang pintu dia berhenti, "Gaada yang mau nemenin gue?"


"Nggak." Sahut Mahen dan Kak Harris bersamaan.

__ADS_1


Aku bangkit, "Gue aja."


"Nggak boleh!" Larang mereka barengan lagi.


"Biar gue aja." Kak Harris mengalah, mengambil jaketnya di sofa, dan menghampiri Lukas.


Tersisa aku dan Mahen. Lima menit berlalu, tanpa ada yang mengeluarkan sepatah kata. Aku berdehem dan menarik selimut sampai menutupi kepala. Ku miringkan badanku membelakangi Mahen.


"Vel. Tadi bunda ke sini. Khawatir sama keadaan kamu. Tapi udah kami suruh pulang, buat istirahat."


Aku bergeming. Pura-pura tidur.


"Aku minta maaf ya. Maaf kalau selama kamu sama aku, kamu nggak pernah ngerasain apa yang namanya bahagia. Maaf aku selalu buat kamu sakit. Maaf aku nggak pernah bisa selalu ada buat kamu."


Aku masih tidak menjawab. Mungkin setahu Mahen, aku sudah terlelap.


"Aku sayang kamu, Vel. Cewek-cewek yang ada di dekatku cuma sebatas teman. Cuma kamu satu-satunya yang ada di hati aku. Cuma kamu yang bisa ngertiin aku."


Mahen menghela nafas panjang, "Aku punya banyak temen, yang pacarnya selalu nuntut buat dijemput setiap saat, minta skincare, minta uang buat beli ini itu, dan posesif kalau cowoknya deket sama temen ceweknya. Dan aku baru sadar, kamu nggak pernah menuntut aku sama sekali."


"Aku kehilangan kamu. Aku tau kamu sengaja menjauh dari aku. Dan aku nggak pernah cari kamu bukan tanpa alasan. Aku pengen kamu tenang dulu. Aku pengen kita mulai semuanya dari awal. Aku pernah marah ke Ica, karena dia terlalu ngatur hidup aku. Dia nggak suka kalau aku deket sama kamu, padahal yang statusnya pacar aku itu kamu."


"Dan cewek yang sama aku waktu di minimarket itu temenku sekelas juga. Namanya Dina. Aku nganterin dia juga di suruh Ica. Kayanya dia sengaja mau jebak aku biar ketemu kamu yang sama Harris brengsek itu."


Aku tersenyum sumir, air mata ku mulai menetes tak karuan.


"Setelah pertemuan itu, aku kepikiran kamu. Kenapa kamu malah pergi sama cowok lain? Kenapa kamu nggak minta jemput aku aja? Malemnya aku minta nomor kamu ke David. Tapi David nggak mau kasih. Katanya, kalau dia kasih nomor kamu ke aku, Rena bakalan putusin dia. Gobloknya, dia itu bucin banget, kenapa juga harus bilang sama Rena."


Dia terkekeh, "Aku tau kamu nggak tidur, Vel."


Aku mengusap kasar sisa air mata yang tertinggal di pipi. Menyibak selimut dengan kasar, dan duduk menghadap Mahen.


"Enak banget ya lo ngomongnya? Setelah beberapa bulan lo nggak nanya kabar gue, nggak muncul sama sekali di depan gue, dan bahkan waktu gue sama yang lain kumpul lo sengaja nggak ikut. Lo tiba-tiba ngomong kayak gini?"


Mahen menatapku nanar, "Aku takut kamu tambah kacau Vel, kalau aku selalu muncul di hidup kamu kemarin-kemarin. Tapi setelah aku lihat kamu sama Bang Harris, aku jadi nggak rela. Aku nggak mau kamu direbut sama siapa-siapa. Aku nggak mau kamu bahagia sama orang lain."


"Tapi gue udah suka sama orang lain, Hen."


Mahen tertunduk, "Maafin aku. Aku emang pantes dibilang brengsek. Keluar masuk kehidupan kamu begitu aja, tanpa tanya apakah udah ada orang yang menempati posisiku dulu. Aku terlalu takut dengan jawaban yang kamu kasih. Tapi, ternyata tanpa aku tanya, kamu udah kasih tau aku lebih dulu."


Aku menengadahkan kepalaku ketika kurasa air mataku mulai menetes lagi. Aku mengerjap. Aku memang masih menyayanginya. Tapi sudah separuh perjalanan untukku melupakan Mahen. Bahkan, aku tidak memiliki kepastian dengan seseorang yang ku maksut menjadi pengganti Mahen.


Aku merasa nyaman bersama orang itu. Walaupun tidak senyaman dengan Mahen, tapi aku tidak pernah merasakan sakit hati jika bersamanya. Aku selalu bahagia, dia selalu mempunyai cara agar aku bisa tertawa lepas. Dia selalu bisa membuat kerisauan hidup luntur begitu saja.


Aku mencintai Mahen, tapi aku juga mencinta dia yang selalu ada untukku.


Bolehkan aku egois untuk kali ini saja?

__ADS_1


__ADS_2