
"Vella Almera!"
Aku tersadar dari mimpiku karena merasa terpanggil. Masih dengan nyawa seperempat yang pengembaliannya belum lunas, jadi berniat untuk tetap bergeming.
"Saya ulangi. Vella Almera nomor absen 31 kelas sembilan empat, diharap maju ke depan untuk mengambil ijazah dan cap tiga jari."
Perlahan, aku mulai menegakkan tubuhku yang ramping dari meja kesayanganku selama satu tahun terakhir. Tahun sebelumnya, tepatnya waktu kelas tujuh dan delapan aku bagian dari kelompok tiga.
Tenang, bukan karena aku menjadi bodoh saat naik tingkat sembilan, sehingga aku turun dari kelompok tiga ke kelompok empat. Sekolah ku tercinta ini pengelompokkannya random. dan inilah yang patut dicontoh. Tidak pandang bulu, tidak berkelompok sesuai RAS.
Bruk
Aku merasa ada yang menghalangi kakiku. Pada dasarnya tubuhku lemah, berakhirlah glongsoran di lantai yang belum di sapu dari kemarin.
"Aduh, bidadarinya jatuh nih. Makanya kalau berharap jangan ketinggian mbak."
Aku mendongak terlihat nenek sihir yang sedang tersenyum miring ke arahku. Kepalaku benar-benar terasa penuh, seolah semua darah yang ada di tubuhku naik semuanya ke kepala kecil ini.
Tanganku menopang diri untuk bangkit. Kutepuk rokku yang sedikit kotor karena debu, kemudian berjalan mendekati meja si nenek sihir, "Sebentar."
Aku mengambil sesuatu di dalam tasku, kemudian kuletakkan di mejanya, "Saya pinjami, dimanfaatkan ya. Kalau kacanya kurang besar, besok saya belikan lagi."
Sengaja ku tekankan, pada kata "kaca" agar dia tau fungsi dari benda yang telah ku beri tadi.
Kulihat wajahnya yang memerah, dan matanya yang mendelik, seperti setan? Ya semacam itu. Tinggal diberi efek yang ada tanduknya.
Aku membalikkan badan, dan melangkah dengan mantap. Tidak lupa dengan senyum miring yang terpampang di wajah biasaku ini.
Setelah mengambil hasil akhir Sekolah Menengah Pertamaku, aku langsung keluar. Dan ya memang dibolehkan karena urusanku dengan sekolah sudah benar benar tamat.
Sangatlah menyedihkan. Aku harus berpisah dengan benda dan mahluk yang selama ini telah membuatku nyaman. Ah hanya sedikit. Jangan dipikir aku mempunyai banyak teman selama tiga tahun bersekolah di sini. Bisa dihitung dengan jari manusia pada umumnya. Itupun tangan saja sudah cukup, tidak perlu ditambah dengan jari kaki. Boleh menggunakan kalkulator, tapi menurutku itu akan sia-sia.
Yang sulit kutinggalkan adalah meja kesayangan, jajanan kantin yang membuat kecanduan dan ... Ah ini harusnya kusebutkan di urutan pertama. Kekasihku, baru bermula ketika kami menginjak kelas sembilan. Terserah kalian mau menganggap ini cinta monyet atau cinta kera, karena mereka sama saja sejenis. Dia satu tingkat denganku, tapi beda kelompok. Dia berada di kelompok tiga. Kelas kami bersebelahan, jadi kalau istirahat atau sebelum bel masuk aku suka duduk di kursi panjang di depan batas kelasku dan kelasnya.
Panjang umur kalau kata orang, dia berada sekitar 3 meter tidak jauh dari hadapanku. Sedang bersama teman-teman lain. Ingin sekali menyapa, tapi di sisi kiri ku ada raja yang sedang menunggu. Bukan Raja Firaun yang jahat, raja ini mirip seperti Raja Rimba, bedanya rajaku adalah manusia dan tidak tinggal di hutan. Aku hanya tersenyum ketika tidak sengaja pandangannya teralih kepadaku, kemudian melangkahkan kakiku menuju tempat berdirinya rajaku.
"Sekolah mana yang mau nerima nilai segitu, hm?" ejek Ayahku yang kurasa semakin memperlamban langkahnya untuk menyamai langkah kakiku.
Aku menoleh, sembari menyeringai "Dih apaan sih, Yah. Nilai bagus tau. Masuk urutan 21 dari 128 siswa."
Aku itu pintar. Dulu waktu Sekolah Dasar selalu menempati peringkat pertama. Tapi karena salah masuk SMP, jadilah aku sedikit terlihat kurang pintar.
"Oy Vel!"
Secara bersamaan, aku dan Ayah menengok, lalu ku lihat Rena yang tersenyum lebar sembari melambaikan tangannya ke arahku. Tinggal Rena seorang di sana. Kekasihku dan teman-teman lain sudah berlalu, sepertinya menuju kantin. Tidak perlu berpikir panjang, tanganku terangkat untuk membalas lambaiannya.
Rena berlari kecil mendekati kami.
__ADS_1
"Halo, Om." Ujarnya sembari menjabat, dan mencium tangan Ayahku. Lalu dibalas senyuman oleh beliau.
"Om, nanti Vella pulangnya bareng sama saya aja. Soalnya mau ada nongkrong dulu sama temen-temen. Biasalah, terakhir ketemu sebagai kawan SMP." minta Rena dengan cengiran khasnya.
Ayahku menepuk kepalaku pelan, "Yaudah. Ayah pulang duluan ya. Rena, titip Vella. Nanti kalau pulang langsung pulang. Jangan mampir kemana-mana"
"Siap Om!" Rena mengambil sikap hormat yang hanya dibalas dengan kekehan dari Ayah.
"Hati-hati yah."
Setelah memastikan Ayah tidak ada di area ini, kugampar punggung Rena "Nggak baik tau bohong terus."
"Aw. Sakit Anjir! Ya gimana lagi. Masa gue ngomong gini ke bokap lo, 'Om Vella nya mau pacaran dulu, Om pulang duluan aja.' Mau jadi apa lo? Bokap lo kayak singa gitu."
"Heh enak aja lo ngatain bokap gue kayak singa."
Tapi benar juga sih kata Rena. Ayah pernah bilang "Kamu mau pilih sekolah atau pacaran? Kalau sekolah, nggak usah pacaran. Kalau pacaran, nggak usah sekolah."
"Yaudah yuk ke kantin." ajakku, sembari marungkul dan menyeret paksa si Rena.
Dan benar, di kantin udah ada David, pacar Rena. Syifa yang sedang membuatkan indomie telur untuk Lukas. Fitri yang sedang menabok lengan Rey, entah apa penyebabnya. Dan di pojok kantin, ada siswa yang tak terlalu tinggi sedang memainkan gitar, dia ...
"MAHEN! Hebat kan gue, bisa bawa Vellanya lo ke sini."
Iya. Dia, Mahen, pacarku. Mata yang awalnya tertuju pada gitar, teralihkan sementara kepadaku dan Rena. Iya, hanya sementara. Karena, selang beberapa detik, Mahen kembali fokus ke gitar yang sedang dia belai. Haha pacarnya aja nggak pernah.
"Nah lengkap nih, sini woy merapat. Ngapain jauh-jauhan. Yang LDR aja nggak kuat. Di kasih yang deket malah menjauh," Teriak David saat berjalan mendekati meja Mahen. Tangannya membawa 2 cup boba. Bisa kupastikan, yang satu buat Rena.
Semuanya mendekat. Duduk di kursi panjang yang berada di 2 sisi sebuah meja. Aku duduk di seberang Mahen. Di samping ku ada Rena, Syifa, dan Fitri. Tidak perlu kusebutkan, harusnya kalian tau siapa yang ada di seberang mereka.
Jadi, kita ini geng pacaran sepulang sekolah. Guru-guru juga sudah tau kalau kami ini pasangan kekasih. Dan mungkin mereka juga memaklumi. Rena, david, dan Rey di kelompok 2. Sedangkan Syifa, Fitri, dan Lukas satu kelompok denganku, di kelompok 4. Dan si nenek sihir, berada di kelompok 5 yang menjadi urutan terakhir. Jadi, pembagian hasil akhir itu semua kelompok di campur menjadi satu. Ruang kelas 9 1, 2, 3 dan 4 kelasnya terhubung, dan bisa digunakan ketika acara seperti ini. Sedangkan kelas kelompok 5 berdiri sendiri.
Tidak perlu dibahas sebenarnya.
"Jadi pada mau lanjut kemana?" Tanya Lukas memecah keheningan.
"Kalau gue sih mau di SMA Merdeka sama Vella, Syifa, Fitri." Jawab Rena.
Rey terhenyak, "Harus ya kalian berempat itu apa-apa bareng?"
"Ya nggak gitu. Setiap murid lulusan kan punya cita-cita sendiri mau lanjut kemana. Nah, karena kita berempat sehati kali ya jadi sama gini," ucapku.
"Nah, ini nih yang mau gue bilang tadi," sahut Rena yang mendapat cibiran dari beberapa manusia yang lain.
"Lo mau lanjut kemana, Hen? Main gitar mulu lo, Vella di sini juga. Taruh napa, kasihan tuh dianggurin."
Mahen berpaling, lalu menaruh gitarnya di samping kursi, disandarkan ke dinding.
__ADS_1
"Belum tau gue. Nilai segitu mau masuk sekolah yang gue suka juga nggak bisa, Lukas tuh yang masuk sana."
David menepuk pundak Mahen, "Santuy lah bro. Masih ada gue sama Rey, ikut kita aja"
"Tapi nyokap gue nyuruh gue ke SMA Harapan. Yang lumayan bagus, deket dari rumah juga," Jawab Mahen dengan tatapan sayu.
Iya, dia adalah laki-laki yang selalu bisa menyenangkan orangtuanya. Terutama ibunya.
"Padahal mah kemarin dia janji kalau nilainya sempurna, bakalan ngajakin gue keliling dunia."
Mahen terkekeh, "Nah, kamu tau sendiri kalau pacarmu ini nggak bakalan dapet nilai sempurna."
"Wah, berarti emang sengaja tuh, Vel. Omongannya dia mah nggak ada yang bisa dianggap serius."
Semuanya tertawa, Mahen juga. Tapi tidak denganku. Sebenarnya aku takut kalau kalau hubungan ini cuma dijadikan dia bahan candaan saja. Waktu aku dekat dengan dia, aku sudah dilabrak 3 orang. Mantannya yang sudah menjadi alumni, adik kelas yang mengaku dekat dengan Mahen juga, dan satu lagi si nenek sihir.
"Ekhem. Gue ke toilet dulu ya," pamitku.
"Eh bentar, gue ikut," ucap Rena yang sudah mengikutiku berdiri, dan say good bye ke David. Cih, cuma mau ke toilet aja padahal.
Kami merapihkan diri di depan kaca, menata rambut yang telah teracak acak oleh angin waktu perjalanan dari kantin ke sini.
"Eh besok daftarnya kita berempat berangkat barengan aja," ajak Rena, tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca.
Aku mengangguk, "Iya boleh. Tapi lo harus jemput gue."
"Iya, iya. Kayak gimana biasanya aja. Udah?" Tanya Rena yang sudah mau keluar dari toilet.
Aku mengangguk lalu mengikutnya.
"Eh, Vel. Tadi katanya si Mahen mau lanjut ke SMA Harapan? Bukannya si mantannya, siapa itu? Thea? Ya itulah pokoknya, yang ngelabrak lo dulu. Dia SMA nya juga di sana kan?"
Langkahku terhenti, kaget. Iya, aku baru ingat kalau Kak Thea sekolah di sana juga. Jujur, aku takut. Karena, sampai sekarang Kak Thea masih mengejar Mahen untuk kembali kepadanya. Bahkan, gadis itu selalu menghalalkan segala cara, ketika dia menginginkan sesuatu.
Ting!
Aku merogoh saku kanan rokku, yang menjadi sumber suara adanya notifikasi pesan tersebut.
Deretan nomor, yang tandanya pesan itu bukan berasal dari salah satu nomor yang ada di kontak ponselku. Nomor asing.
Pacar lo pakai jaket itu kan? Itu jaket coupleĀ sama gue dulu.
"Kak Thea?"
"Hah? Kenapa Vel?"
Tanya Rena, yang berbalik badan lalu menhampiriku.
__ADS_1
Aku panik.