
T'lah kucoba t'rus bertahan
Tentang cinta yang kurasa
Ku mencinta, kau tak cinta
Tak sanggup ku terus bertahan
Sadar ku tak berhak untuk terus memaksamu
Memaksamu mencintaiku sepenuh hati
Aku 'kan berusaha untuk melupakanmu
Tapi terimalah permintaan terakhirku
Genggam tanganku, sayang
Dekat denganku, peluk diriku
Berdiri tegak di depan aku
Cium keningku 'tuk yang terakhir
Ku 'kan menghilang jauh darimu
Tak terlihat sehelai rambut pun
Tapi di mana nanti kau terluka
Cari aku, ku ada untukmu
Lagu pesan terakhir yang dinyanyikan oleh Lyodra itu menemaniku yang sedang duduk sendiri di meja belajar dekat jendela, melihat hujan yang seharusnya tidak turun di bulan ini.
Aku sedikit lelah dengan apa yang terjadi. Sebenarnya semua ini bukanlah hal yang tiba-tiba. Tuhan telah menunjukkan kepadaku berangsur dari hari-hari yang lalu.
Jawaban dari Lukas yang semakin membuatku berpikir antara bertahan atau relakan.
"Daripada buat bertahan, mending lo gunain waktu lo buat cari yang lain aja deh, Vel. Sayang lo nya kalau sia-sia gini." Saran Rena setelah mendengar apa yang Lukas katakan.
Ditambah dengan kata-kata David, "Jangan bertahan karena seberapa lama lo pacaran Vel. Dia itu cuma dua persen dari hidup lo. Lo mau sembilanpuluh delapan persen lainnya berantakan gara-gara dia?"
Yang salah itu siapa? Aku yang terlalu berlebihan atau dia yang terlalu seenaknya?
Banyak pesanku yang dari kemarin belum dia balas, bahkan tidak dibuka. Tetapi diri memaksa utuk menanti kabar sesorang yang mungkin sekarang sibuk dengan perempuan lain.
Kriet
Pintu kamar ku terbuka. Memperlihatkan bunda, berdaster merah muda bermotif bunga yang berdiri di ambang pintu. Beliau mendekatiku, dan duduk di tepian ranjang.
Wanita cantik itu tersenyum, sorot matanya sayu.
"Vella, sini duduk di samping bunda," Minta bunda dengan menepuk-nepuk kasur yang ada di sampingnya.
Aku menghampiri bunda. Bunda menatapku dengan mata sendu. Mata indah yang biasanya menenangkanku kini berubah menjadi gelisah, dan mulai berkaca-kaca.
"Bunda? Ada apa?"
Tanpa menjawab, bunda memelukku. Tubuhnya bergetar, menangis dengan suara tertahan. Aku tidak bertanya lagi. Kuusap punggung bunda dan kubiarkan bunda menyandarkan diri kepadaku.
Setelah dirasa cukup, bunda melepaskan peluknya. Melihat bunda yang rapuh seperti ini, duniaku serasa berputar begitu cepat. Terlalu pusing untuk dirasakan.
Beliau mengulurkan ponsel tanpa suara. Kuterima ponsel yang menyala itu, lalu kulihat apa isinya. Sulit sekali untuk mencerna. Dunia yang kupikir terlalu cepat berputar, berhenti tanpa aba-aba. Sesak. Sangat sakit untuk sekedar menghirup udara bebas.
Pandanganku muai buram. Ponsel yang kupengang mulai basah. Sudah tidak bisa kutahan lagi. Pertahanankan ku benar-benar runtuh.
Sejak kapan ayah bermain hati dengan wanita lain? Dimana ayah yang selalu mengingatkanku untuk bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan? Dimana ayah yang selalu membiarkanku mengambil jatah makannya waktu kecil? Dimana ayah yang selalu menggendongku dan berlarian bersamaku?
__ADS_1
Apa aku masih bisa berkata "aku ingin mempunyai suami seperti ayah" setelah melihat bunda menangis?
Bunda kembali memelukku erat. Isak tangisnya mulai terdengar. Dan dadaku bertambah sesak. Aku menangis lebih keras dari bunda. Aku rindu ayah yang selalu meluangkan waktunya untuk sekedar bercerita bersama. Aku rindu ayah yang memintaku membuatkan kopi untuknya dan untuk bunda.
Rasanya seperti mimpi. Aku tidak tau apa yang aku lakukan ketika bertemu ayah setelah ini.
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dariku ataupun dari bunda. Kami sama-sama diam. Lalu berbaring di ranjang yang sama.
Sangat menyakitkan untuk menerima kenyataan bahwa bunda tidur bersamaku. Aku lebih rela tidur sendiri, dan bunda tidur dengan ayah.
Selang beberapa menit kemudian bunda sudah tertidur pulas. Wanita yang ku kira sangat sabar selama ini kini telah menyerah menghadapi masalah yang ada sekarang. Haruskah aku ikut menyerah?
Dan, bolehkah aku mengatakan bahwa semua laki-laki itu sama saja?
***
Aku membuka mata ketika merasakan silaunya mentari pagi yang mampu menembus jendela kamarku. Hanya aku sendiri. Tidak ada bunda. Apakah aku baru saja bermimpi buruk?
Kutapakkan kakiku ke lantai, dan keluar dari kamar untuk mencari bunda. Tujuan utamaku adalah dapur. Aku hanya ingin memastikan mimpi gilaku tadi malam.
Kulihat bunda yang sedang mencuci wajan. Dan kembali terjebak dalam mimpi buruk itu lagi saat melihat bunda memakai daster yang sama, dengan mata membengkak.
Aku mengambil apel dari kulkas. Lalu kupotong menjadi enam bagian, "Bunda. Aaaa. Makan apel di pagi hari itu bagus lho."
Bunda tersenyum lalu menerima suapanku.
"Bunda. Hari ini Vella bolos sekolah aja ya? Pengen jalan-jalan sama bunda."
"No no no. Bunda nggak mau jalan. Bunda maunya kamu sekolah yang rajin."
"Tapi nanti bunda sendiri dong."
Tangan bunda mengelus rambutku lembut, kemudian menarikku dalam dekapan hangatnya, "Kamu jangan ikut mikir ya, Vella. Bunda menyesal kasih tau kamu. Kamu nggak seharusnya ikut mikir kayak gitu."
"Nggakpapa bunda. Vella nggak mau bunda sedih sendirian. Vella mau nemenin bunda."
Bunda semakin memelukku erat, "Kamu tau kenapa bunda hanya diam padahal bunda juga bisa kalau mau seperti ayahmu?"
"Vella. Suami itu bagaikan imam, dan istri itu bagaikan makmum. Jika imam rukuk, makmum mengikuti rukuk. Jika imam bersujud, makmum akan mengikuti untuk bersujud. Tapi bunda nggak bisa seperti ayah, Vella. Bunda ingin anak bunda ini jadi anak yang baik. Kalau kedua orangtuanya sama-sama tidak baik, anak bunda ini akan mencontoh siapa?"
Wanita sebaik bunda, ada yang menyakiti? Haruskah aku melabrak perempuan yang menggoda ayah? Atau aku harus marah kepada ayah karena telah tergoda oleh wanita lain?
Bunda melepaskan pelukannya, "Kamu mandi, sarapan, terus ke sekolah ya. Tadi bunda telepon Rena buat jemput kamu."
"Iya bunda."
Aku meninggalkan dapur lalu menuju kamar mandi. Menyelesaikan segala aktivitas rutin setiap pagi satu per satu. Bedanya, sekarang bukan lagi dengan perasaan senang.
Aku berpamitan dengan bunda ketika Rena sudah berada di halaman rumahku. Ayahku? Dia sudah berangkat ke kantor sejak tadi pagi.
Di perjalananpun, aku tidak berbicara dengan Rena. Dalam keadaan seperti ini aku malas berbicara. Rena juga mengerti bahwa aku sedang ada masalah.
Atau mungkin setahu Rena, aku masih memikirkan kejadian Mahen semalam.
"Thanks ya Ren. Maaf gue selalu ngerepotin lo." Ucapku tulus, ketika sudah berada di parkiran khusus kelas sepuluh,
Rena tersenyum sendu, "Gue nggak tau kalau masalah kemarin busa bikin lo se down ini Vel. Yang kuat ya."
Aku mengangguk lalu pergi dahulu meninggalkan Rena yang masih mau berbincang dengan teman sekelasnya di parkiran.
Aku takut untuk menceritakan masalah ini ke siapapun. Menurutku ini adalah privacy yang harus dijaga. Bisa jadi yang tidak suka denganku akan bahagia mendengar aku berantakan seperti ini.
Ah kepala ku terasa sakit ketika mataku menerima cahaya yang berlebihan. Biasa, efek terlalu lama menangis.
Jam‐jam pelajaranku tidak ada yang kosong. Dan ada tambahan dari OSIS untuk pemilihan kegiatan ekskul.
Ada tujuh kakak kelas yang masuk. Tiga perempuan, dan empat laki-laki. Tiga darinya adalah anggota OSIS, dan kutebak empat lainnya adalah kakak kelas ketua ekskul.
__ADS_1
"Hallo selamat siang adik-adik semua. Assalamualaikum wa rakhmatullahi wa barakatuh."
"Siang kak."
"Waalaikumsalam wa rakhmatullahi wa barakatuh."
"Kami dari anggota OSIS dan perwakilan dari ekskul sekolah, ingin menawarkan kepada kalian untuk memasuki ekskul sesuai dengan pilihan kalian." Ujar salah satu siswa, yang kami ketahui ketua OSIS SMA Merdeka.
"Saya Adnan, ketua OSIS sekaligus ketua tim basket. Dan empat teman saya akan memperkenalkan diri sesuai dengan ekskul yang mereka pegang masing-masing. " Lanjutnya.
"Saya Harris, ketua dari tim Futsal."
"Saya Dyo, ketua ekskul musik."
"Saya Tia, ketua ekskul Tari."
"Dan saya Lisa ketua modern dance."
Mereka berlima memegang banyak formulir. Banyak yang sudah terisi. Mungkin kelas ini adalah kelas terakhir yang mereka datangi.
"Kami berlima akan menjelaskan secara bergantian tentang ekskul yang akan kami tawarkan kepada kalian. Nanti kalau sudah, kalian bisa datang ke kami, untuk meminta formulir sesuai dengan ekskul yang kalian pilih. Masing-masing siswa hanya boleh memilih satu ekskul."
Merekapun mulai menjelaskan apa yang akan dilakukan di dalam ekskul tersebut. Mulai dari jadwal ekskulnya, dan penghargaan-penghargaan yang mereka dapatkan dari tournament yang telah mereka ikuti.
Teman-teman ku sebagian besar memilih basket, karena ketuanya adalah si ganteng Adnan. Sedangkan aku dan Niken memilih untuk meminta formulir kepada Kak Harris, yang beratti memilih ekskul futsal.
Sejak aku kecil, aku suka bermain bola. Mungkin karena temanku dari dulu kebanyakan laki-laki, dan sering mengajakku bermain bola, sampai sekolahpun aku selalu bahagia ketika mendapat materi sepak bola di mata pelajaran PJOK.
"Kak. Setiap ekskul futsal pasti di GOR ya?" Tanyaku kepada kak Harris.
"Enggak dek. Kalau cuma harian biasa, kita pakai lapangan basket sekolah."
Aku membayangkan ngeri ketika harus terjatuh di lapangan panas dan kasar itu, "Sakit dong kalau jatuh."
Kak Harris tertawa, "Iya sakit. Soalnya dari pihak sekolah kita belum mengijinkan ekskul di luar sekolah."
Aku manggut manggut tanda mengerti. Lalu membawa formulir itu ke mejaku, dan mengisinya secara lengkap.
"Eh Vel. Kak Harris itu dulu ketos di SMP gue. Banyak yang jambak-jambakan cuma karena dia. Haha" Ucap Niken, sembari menoel punggungku dan berbisik karena takut yang dibicarakan akan mendengar. Jadi Niken itu duduknya di bangku belakangku.
Aku menolehnya, "Yaudah sana gebet aja. Kan besok lo satu ekskul sama dia, pepet terus. Mumpung ada kesempatan."
"Ah gue sadar diri lah Vel. Ya kali cowok kayak Kak Harris mau sama cewek burik kayak gue."
"Merendah untuk meroket nih pasti." Jawab gue, dan kembali menyelesaikan formulir itu.
"Oke kalau sudah kumpulkan ke kami lagi ya." Teriak Kak Adnan karena kelas ini menjadi sangat ramai seperti tidak ada guru. Tapi memang tidak ada.
Kuberikan formulir yang sudah terisi lengkap ke Kak Harris.
"Eh dek."
Aku yang berniat kembali ke tempat dudukku pun membalikkan badan lagi, saat Kak Harris memanggilku.
"Iya kak? Nggak kebaca ya?" Aku menyengir lebar karena sadar bahwa tulisan tanganku benar-benar tidak bagus, bukan hanya kurang bagus.
"Eh enggak dek. Ini kamu harus kasih contact person kamu di bagian atas."
Aku tersentak, "Eh? Emang iya?"
"Iya dek. Tuh lihat punya temen-temen kamu yang lain juga dikasih. Buat dimasukin ke group soalnya. Tadi waktu Adnan jelasin kamu pasti ngelamun ya?"
Aku tersenyum malu, lalu mengambil kembali formulir itu, dan menuliskan nomorku di pojok kanan atas.
"Nih kak. Hehe," Kataku sembari mengembalikan formulir yang sekarang sudah kupastikan benar-benar terisi lengkap, walaupun susah dibaca.
Kak Harris tersenyum, "Thanks ya dek."
__ADS_1
"For what?"
"Nomor whatsapp nya"