PERIPLE

PERIPLE
11. Nomor Whatsapp


__ADS_3

"Mantan ya dek?"


Aku yang mulanya mau memakai helm pun terpaku sesaat. Lalu kutoleh Kak Harris yang baru saja mengambil cilok pesanannya, "Kok tau?"


"Tau apa?"


"Kalau Mahen mantanku."


"Hah?"


"Hah?"


"Gimana sih?"


"Tadi kan Kak Harris tanya mantan ya?"


"Eh? Enggak. Gue tadi bilang ciloknya dek."


Aku memalingkan muka. Mungkin pipiku sekarang sudah semerah kepiting rebus. Karena terlalu malu. Tapi tiba-tiba terdengar gelak tawa Kak Harris. Aku hanya meliriknya, belum berani untuk menoleh.


"Bercanda dek. Lo nggak salah denger kok."


Aku mempoutkan bibirku, "Kak Harris mah dari tadi bercandaan mulu."


"Iya maaf dek. Kalau buat serius besok ya, belum lulus nih."


Saking gemasnya, aku mencubit lengan Kak Harris. Lebih berotot dari yang aku duga ternyata. Dia mengaduh. Entah hanya untuk membuatku lega, atau memang cubitanku terasa sesakit itu.


"Hadap sana coba."


Aku membalikkan tubuhku membelakangi Kak Harris. Dia membuka ransel sekolahku, dan memasukkan sesuatu ke dalamnya. Setelah menutup kembali, tangan Kak Harris memegang kedua pundakku dan memutar tubuhku untuk menghadap ke arahnya.


"Nah udah."


Aku menatap mata teduh Kak Harris, begitu juga dengan dia yang menatapku. Jarak kami begitu dekat. Kak Harris perlahan memajukan kepalanya, kedua tangannya mengapit helm yang sudah bertengger di kepalaku. Semakin dekat, tersisa kurang dari satu jengkal, aku menutup mataku. Aku bisa merasakan hangatnya hembusan nafas Kak Harris menyapu wajah lelahku. Semakin hangat ...


Cklik


"Kalau pakai helm, jangan lupa dikancing ya. Takut lepas dijalan loh."


Mataku terbuka perlahan. Menampakkan Kak Harris yang sudah kembali berdiri normal di tempat semula. Dengan senyum manis, seolah tidak tau jika yang baru saja dia perbuat membuat detak jantung gadis biasa seperti aku bekerja lebih keras dari biasanya.


"Ciloknya dipegang aja ya?" Seperti biasa, laki-laki berlesung pipit itu memegang tanganku tanpa permisi.


Menggenggamkan sebuah keresek hitam, yang di dalamnya masih ada plastik bening berisikan cilok sepuluh butir.


"Kok buat aku? Ciloknya Kakak mana?"


"Kalau cuma cilok mah gue bisa bikin sendiri dek. Yuk pulang, keburu maghrib."


Aku membonceng motor Kak Harris, dengan tangan kanan membawa cilok. Melaju cukup cepat dibandingkan dengan kecepatan dari sekolah ke minimarket.


"Malam minggu besok mau kemana?" Tanyanya dengan sedikit berteriak untuk bisa menyaingi kerasnya suara motor.


"Belum tau kak. Palingan di rumah aja nonton drakor."


"Ooh. Jaga kesehatan ya. Besok ada gladiresik buat tournament lusa."


"Iya. Kakak juga ya jaga kesehatan."


Samar-samar kudengar Kak Harris terkekeh di depan sana, "Gue kan nggak main dek."


"Ya emangnya yang boleh sehat cuma yang main kak?"


"Haha. Iya enggak lah."


"Hmm."

__ADS_1


"Lihat lo sehat dan bahagia selalu aja udah buat gue ngerasain hal yang sama kok." Ujar Kak Harris yang membuatku menggeser pantat sedikit lebih jauh dari badannya.


"Kok mundur-mundur?"


"Emang kerasa ya kak?"


"Haha Iyaa."


"Aku cuma nggak mau Kak Harris dengerin deg-degan nya aku."


Kak Harris tegelak, "Ya nggakpapa. Jangan mundur, dek. Gue aja baru mau maju loh."


Apa katanya? Yang benar saja. Kalau tadi jantungku berdetak dua kali lipat, mungkin sekarang sudah lima kali lipat cepatnya.


"Itu depan belok kanan kak."


Setelah memakan waktu kurang lebih limabelas menit, Kak Harris menurunkanku di depan rumah berlantai dua minimalis, berpagar abu tua sesuai dengan warna cat rumah.


"Thanks ya kak."


Dia mengangguk lalu melepas helmnya, "Bokap nyokap ada?"


Aku menoleh. Kulihat pintu depan tertutup rapat. Biasanya kalau ada orang di rumah, pintu depan selalu terbuka. "Enggak ada deh kak. Papa mungkin belum pulang kerja, kalau mma mungkin lagi senam sore sama ibu-ibu komplek."


"Berani sendirian di rumah?"


"Berani dong. Udah kebiasa dari kecil di rumah sendiri kalau mama papa kencan."


Aku tersenyum sumir. Teringat waktu kecil. Tidak pandang pagi, siang, sore, atau malam, aku sendiri di rumah. Dulu aku merasa tidak adil. Sudah tua kenapa harus kencan segala. Anak tunggal yang malang pun duduk sendirian di rumah.


Tapi sekarang, dengan keadaan seperti ini, aku merasa jauh lebih buruk dari sekedar ditinggal sendirian di rumah. Aku lebih memilih ditinggal kencan orangtuaku dibanding aku yang sekarang sudah bisa kesana kemari tanpa diantar, tapi keluargaku berantakan.


"Dek? Kok ngelamun?"


"Enggakpapa kak. Mau mampir dulu?"


Aku manggut manggut. Kulepas helm bogo yang daritadi sudah melindungi kepalaku, dan mengembalikan kepada sang pemilik, "Helm siapa hayo?"


"Helm adek gue, dek. Berangkatnya selalu bareng gue. Pulang juga sih. Tapi karena tadi kesorean, dia minta dijemput sama papa."


"Eh punya adek?"


"Iya punya. Gedhenya juga sama kayak lo. Haha. Yaudah gue pulang ya." Pamit Kak Harris sembari memakai helm fullface hitamnya.


"Iya Kak . Hati-hati."


...***...


Langit semakin menggelap, menutupi mentari yang harusnya menciptakan sebuah bayangan lurus di hari Jum'at jam duabelas siang ini. Tidak ada guntur, ataupun kilatan yang biasanya menandakan bahwa tidak sampai satu jam lagi hujan akan menyusul turun ke bumi.


Membuat suasana sholat jum'at di masjid sekolah lebih khusyu' dari biasanya. Aku dan Niken hanya melewati mereka, dan berjalan beriringan menuju kantin untuk mengisi tenaga. Satu jam lagi, tepatnya jam satu, latihan futsal akan dilanjutkan.


Aku sangat berterimakasih kepada Kak Harris, sudah menculikku dari pelajaran yang paling aku hindari‐- matematika.


Sejak bel masuk sekolah tadi pagi, aku dan Niken sama sekali belum menginjakkan kaki ke dalam kelas. Tadi pagi waktu kami melakukan pemanasan, Bu Nina (Guru matematika) melihat dan melirik tajam. Seakan mengatakan, "Awas menyesal melewatkan jam saya!"


Di kantin, aku memesan soto dan mengambil dua botol air mineral. Kulihat di tempat duduk paling ujung, ada Rena dan Fitri.


"Duduknya gabung sama temen-temen gue di sana aja ya, Ken."


Dia yang sedang membayar pun menoleh, "Oh yaudah. Nggakpapa."


"Rena, Fitri!"


Mereka berdua menoleh ke arahku, dan Rena melambai, "Vel. Sini aja."


Aku mengangguk dan melangkahkan kaki menuju meja mereka berdua.

__ADS_1


"Niken ya?" Tanya Fitri yang membuat Niken kaget, "Eh? Kok tau?"


"Temannya Nisa kan? Dulu gue satu bimbel sama Nisa."


"Oh iya. Temen gue kemana-mana dia."


"Masih sama Rio dia?"


Niken menyuap sesendok soto ke mulutnya, dan mengangguk.


Setelah menelannya dia bersuara lagi, "Lama banget dia pacaran. Udah dari awal kelas tujuh."


"Dulu yang sering jemput les juga si Rio. Sering cerita tentang lo, loh."


"Wah iya? Yang jelek-jelek nih pasti."


"Katanya dia, lo itu paling famous di sekolah. Jadi bahan rebutan cowok-cowok sekolah lo."


Niken tergelak, "Haha. Ya enggak lah. Mungkin karena temen-temen gue cowok semua dulu."


Dunia memang sesempit itu. Aku dan Rena hanya menikmati makanan yang ada di depan kami. Aku makan soto, sedangkan Rena menyeruput indomie kuah dengan telur setengah matang yang tinggal separuh.


"Lo dikasih tau sama David nggak Vel?"


"Dikasih tau apa?"


"Masa dia nggak bilang sama lo sih? Mahen tadi malem minta nomor lo."


Aku pernah bilang lepas kontak dari Mahen kan? Iya waktu itu aku langsung ganti nomor. Tidak mengabari dia sama sekali, karena memang itu tujuanku.


Gigiku yang tadinya mengunyah nasi pun terhenti sesaat, "Kemarin gue ketemu sama dia."


"Serius?" Tanya Rena sedikit teriak karena kaget, sehingga membuat Fitri dan Niken teralihkan ke arah kami.


"Ada apa?" Tanya Fitri dan Niken bersamaan.


Rena terpaku, "Eh enggak. Lanjut aja ngobrolnya."


Setelah Fitri dan Niken mulai asyik berbincang lagi, Rena berbisik, "Ketemu dimana anjir?"


"Minimarket depan SD 2."


"Kok bisa sih?"


"Kemarin waktu gue nganter Kak Harris beli sesuatu, nggak sengaja nabrak dia di pintu masuk."


"Hah? Gimana?"


"Iya. Kemarin gue pulang dianter Kak Harris, dan ya gitu lah."


"Lo pulang dianter Kak Harris?" Katanya sedikit keras, yang membuatku dan Rena memandang sekitar.


"Sstt! Jangan keras-keras dong. Bisa mati dikubur hidup-hidup sama fans Kak Harris gue."


Dia menyengir, "Kalau menurut gue ya. Mungkin Mahen jealous lihat lo berduaan sama Kak Harris. Terus dia nggak rela gitu."


"Ya apa urusannya sama dia?"


Rena memajukan kursinya, mengikis jarak antara aku, meja, dan dia, "Kata David tuh Mahen masih sering tanya-tanya soal lo."


"Hah? Kapan?"


"Kapan ya? Sekitar dua kalau nggak tiga bulan yang lalu. Gue lupa."


Aku tersenyum miris, "Udah mantan kenapa masih nanya-nanya? Susah move on?"


"Kata Mahen, kalian itu belum putus. Lo masih punya dia." Kata Rena kemudian, yang membuatku tersedak kuah soto.

__ADS_1


__ADS_2