
Aku termenung. Bersama Rena di hadapanku, terhalang oleh meja kecil yang cocok untuk makan berdua. Sunyi, hanya terdengar suara seruputan mie instan yang dihasilkan oleh mulut Rena. Kulihat wajah cantiknya yang terlihat sangat santai, tanpa ada sedikitpun beban yang mengganggu.
Tuk tuk
Gadis itu mengetuk mangkukku menggunakan sumpitnya, "Iya gue tau kalau gue cantik. Tapi daripada lihatin gue mending lo makan deh itu mie. Kasihan udah gendut gendut gitu."
"Ren, lo nggak punya beban pikiran ya?" Tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Rena.
Dia menghela nafas, lalu meletakkan sumpitnya di samping mangkuk yang hanya bersisa kuah mie, "Ada."
Tangannya mengangkat mangkuk itu, kemudian menenggak kuah yang tersisa secara rakus.
Setelah benar-benar habis, Rena menaruh kembali mangkuk itu, "Gue mikir gimana caranya nurunin berat badan kalau tiap lo galau, lo selalu ajak gue makan terus kayak gini."
Aku tertawa, kemudian mulai memakan mie yang telah mengembang. Rasanya tidak seenak waktu masih panas, waktu baru selesai dimasak. Seperti manusia bukan? Kalau diabaikan cukup lama dan sudah terlanjur kecewa, akan dingin, dan tidak terasa menyenangkan lagi.
Rena merebahkan dirinya di karpet yang kami duduki sejak tadi. Menungguku menghabiskan mie, sekaligus menenangkan perut yang kewalahan karena ***** makan yang teramat tinggi. Padahal setelah makan, tidak boleh langsung berbaring kan? Terserah Rena saja. Biarkan dia bahagia.
Membutuhkan waktu lebih dari lima menit untuk aku menghabiskan mie yang sudah mengembang tadi. Itupun, masih tersisa kuah di sana. Aku membereskannya, lalu ke dapur untuk sekalian ku cuci.
Ku kembalikan mangkuk dan sumpit pada tempat semula. Setelahnya, kembali ke tempat Rena merebahkan diri.
"Ren, jalan-jalan yuk. Kemana kek. Cari angin atau sekalian cari boba gitu," ajakku yang langsung membuat Rena terbangun dari rebahannya.
"Ayok. Lagi pengen boba nih gue."
"Yaudah bentar. Gue ambil jaket dulu."
Aku berlari ke kamar untuk mengambil jaket, lalu menyusul Rena yang sudah di halaman rumahku, bertengger di atas motornya. Tidak menggunakan helm, karena jarak rumahnya denganku tidak begitu jauh.
"Tolong dong bawain HP gue. Nggak ada saku nih. Nggak bawa tas juga," ujar Rena sembari mengulurkan ponsel bercase hitam itu kepadaku.
"Gue bikin status whatsapp ya Ren?"
"Iya. Kayak biasanya aja."
Mendapat persetujuan dari empunya, aku memainkan ponsel Rena. Lalu membuka aplikasi whatsapp, menuju status, dan membuat video tidak jelas di jalan.
Tak sengaja aku melihat ada status Mahen 3 minutes ago, isinya suara dia menyanyi, duet dengan perempuan yang tidak kukenal suaranya.
"Mahen ya? Sama siapa deh?" Teriak Rena karena situasi jalanan yang cukup ramai.
Aku tidak menjawab. Langsung kurogoh saku jaketku, untuk mengambil ponsel. Membuka Whatsapp lalu ke status.
Surprise
Status Mahen tidak muncul di whatsapp ku. Dia takut membuatku cemburu? Tapi kalau memang tidak ada apa-apa kenapa seperti itu?
"Vel vel. Itu Rey bukan sih? Sama Fitri? Satunya itu siapa dah?" Tanya Rena bersamaan dengan motornya yang berhenti.
Aku mengalihkan pandangan ke arah yang Rena tunjuk. Ternyata benar, di sana ada Rey. Di sebuah cafe pinggir jalan tempat kami berhenti. Di seberang Rey ada Fitri, dan di samping Fitri ada seorang perempuan yang aku pun tidak tau siapa namanya.
"Eh? Sama Mahen?" Kaget Rena, ketika melihat kedatangan seorang laki-laki yang duduk di sebelah Rey.
Aku hanya tersenyum kecut. Merasa lelah dengan segala kebimbangan yang kurasakan selama ini. Semesta selalu berpihak kepada overthinking ku. Setelahnya Mahen berhasil meyakinkanku kembali, bahwa semua baik-baik saja. Selalu seperti itu siklusnya.
Rena menyeretku paksa, "Nggak bisa dibiarin nih. Cowok sialan."
__ADS_1
"Ren. Udah lah. Biarin aja. Jangan ganggu mereka." Ucapku dengan suara serak, dan langkah tertahan.
Rena memegang kedua pundakku, lalu memelukku. Mataku mulai berkaca-kaca. Sepertinya hal sepele, tapi terasa sesak karena dua hal terjadi tanpa jeda. Belum selesai ku membahas tentang status whatsapp Mahen, laki-laki itu sudah berada di hadapanku dengan posisi yang tidak menyenangkan.
Sejujurnya hatiku sedikit kacau, banyak pertanyaan yang dari kemarin belum terjawab. Tentang teddy bear, tentang dia yang mengantar pulang teman perempuannya, ditambah dengan apa yang aku lihat hari ini.
Merasa malu karena dilihat banyak orang, aku melepaskan pelukan Rena, "Jadi cari boba nggak sih? Malah melow gini haha."
"Kuat banget sih lo. Gue tau David ada chat sama cewek lain aja udah marah sebulan."
"Cuma gini doang Ren. Di luar sana banyak yang diselingkuhin tapi tetep mau balik."
Rena tersenyum dan menepuk nepuk pundakku. Lalu beranjak menaiki motor kesayangannya itu. Disusul aku yang kembali duduk nyaman di belakangnya.
Kami mengelilingi kota. Sudah pukul tujuh malam, dan masih ramai. Karena dingin, kulingkarkan tanganku ke pinggang langsing Rena. Dia tidak menolak, malah dia tertawa.
"Lo segini ngenesnya ya pacaran sama Mahen? Nggak pernah ngerasain dibonceng sambil meluk pacar? Hahaha."
Oke. Aku dan Rena memang berbeda cara berpacaran. Dia sering berboncengan, sedangkan aku tidak. Dia sering jalan berdua, sedangkan aku hanya bertemu ketika ada acara dan banyak orang lainnya ikut. Dia menjadi ratu, sedangkan aku? Coba cari jawabannya.
Kucubit pinggang Rena hingga dia mengaduh.
"Aw. Lo mau celaka ya? Nanti kalau nabrak orang atau nabrak pohon gimana coba?"
"Ya gue lompat turun duluan. Biar lo sama motor lo aja yang blangsak. Haha."
"Haha. Kalau lo nggak bisa bahagia sama pacar lo itu, biar gue sahabat lo yang ambil alih."
Aku tersenyum. Dan terdengar Rena menyanyikan lagu kekasih yang tak dianggap. Mancing emosi memang. Tapi ini yang membuatku senang berteman dengannya. Dia selalu ada untukku dalam segala situasi. Dia yang selalu bisa menemuiku tanpa syarat saat aku memintanya.
"Mas. Kayak biasa ya. Chocomint satu, greentea satu," Pesan Rena tanpa bertanya dulu kepadaku.
"Emang enak ya chocomint? Kayak pasta gigi gitu," Tanyaku ketika Rena sudah duduk di kursi sebelahku.
"Enak sih. Rasanya menyegarkan. Lah lo dari dulu greentea mulu? Nggak enak padahal. Ngebosenin."
"Enak tau. Manis, dan beda dari yang lain. Mempermanis hidup gue yang pahit ini."
"Bisa aja lo. Habis ini lo langsung gue anter pulang ya. Lo butuh istirahat kelihatannya."
Aku memicing ke arah Rena, "Bilang aja lo mau kencan sama David."
"Hahaha ya gimana. Sehari kemarin nggak ketemu. Kangen tau."
Sehari nggak ketemu kangen? Yang berhari-hari nggak ketemu apa kabar?
"Atas nama Rena? Chocomint satu, greentea satu."
Rena mengambil pesanannya. Kemudian menghampiriku untuk segera beranjak dari tempat itu.
"Eh lo ikut gue sama David aja gimana Vel? Sekalian nanya soal Mahen sama Rey tadi."
Benar juga. Tapi bukankah itu akan mengganggu kencan mereka berdua?
"Nggak usah deh Ren. Kan waktu lo buat quality time sama David."
Rena berdecak, "Udah nggakpapa ikut aja. Lagian gue kencanpun, kalau temen gue sedih gue juga kepikiran."
__ADS_1
"Yaudah tapi mau kemana? Bawa boba gini, udah malem juga."
"Ke tempat basecamp mereka aja. David di sana sama Lukas. Gue kencan berduanya bisa besok lagi."
Jadi Mahen, David, Rey, dan Lukas itu punya basecamp. Tempatnya di angkringan milik ibunya Lukas, namanya Angringan Budhe. Buka sampai larut. Kalau kata ibunya Lukas, adanya mereka berempat di angkringan itu berkah, pembawa rezeki. Karena akan banyak yang datang. Entah teman-teman mereka yang ingin ikut nongrong, atau gadis-gadis yang ingin melihat dan cari perhatian mereka.
Aku yang akhirnya menurut perkataan Rena, mengikutinya ke Angkringan Budhe. Kurang lebih enam menit, kami sampai di tempat tujuan.
Kulihat David sedang bermain game bersama Lukas, terlihat dari mereka yang memegang ponsel secara landscape.
Mereka berdua duduk lesehan, dihadapannya ada dua gelas susu jahe, dan dua piring berisi gorengan lengkap.
Angkringan Budhe ini cukup luas. Banyak pembeli yang sedang memilih jajanan. Dan banyak juga bapak-bapak yang nongkrong di atas kursi panjang, berbincang dengan ayah Lukas. Ibunya Lukas sibuk membuatkan pesanan.
Rena memasuki angkringan itu, lalu menyapa semua orang yang ada di dalamnya, aku pun seperti itu.
"Lukas, ini temanmu dateng lho. Bikinkan minum, Ibu baru bikinin pelanggan."
Merasa terpanggil oleh ibunya, Lukas menaruh ponselnya, lalu menghampiri kami, "Lesehan aja ya. Lebih enak. Mau minum apa?"
"Gue teh tarik panas aja deh. Ren lo mau apa?"
"Samain kayak Vella aja deh Kas."
Lukaspun manggut-manggut, "Yaudah nyusul David di sana aja. Gue bikinin dulu."
Rena duduk di samping David, lalu menyandarkan kepalanya ke pundak David. Sedangkan aku hanya duduk di depan mereka, dan menyandarkan kapalaku ke ... ah tidak. Aku hanya melihat keuwuan mereka.
"Dav. Kamu beneran nggak tau kalau mereka keluar berempat?"
Yang dimaksud mereka oleh Rena adalah Mahen, Rey, Fitri, dan gadis misterius tadi. Aku tebak pasti tadi Rena langsung chat David saat kejadian.
"Enggak bilang apa-apa sih. Cuma tadi waktu aku ngajak mereka berdua nongkrong ke sini, jawabnya lagi di luar."
"Lo tau kalau Mahen lagi deket sama cewek lain?" Tanyaku ke David.
"Nggak tau Vel, sumpah. Gue aja kaget waktu lihat status dia yang nyanyi tadi."
"Dan di gue nggak ada," Aku tersenyum miris.
Rena yang sedari tadi bersandar pun menegakkan tubuhnya karena kaget, "Serius lo? Kok tadi lo nggak bilang sih? Apa coba maksudnya? Tau gitu beneran gue labrak tadi."
"Ada apaan labrak-labrak segala?" Tanya Lukas yang datang membawa nampan berisi dua gelas teh tarik panas.
"Gue sama Vella tadi mergokin Mahen selingkuh Kas. Gila yang temen lo."
"Selingkuh gimana?" Tanya Lukas
"Gue lihat Mahen ada double date sama si Rey. Dan ceweknya gue nggak kenal."
"Oh. Di Cafe Merah Jambu?"
Aku kaget. Kok Lukas tau?
"Kok lo tau?" Tanyaku penasaran.
Lukas tidak menjawab, dan malah berbalik badan mengembalikan nampan.
__ADS_1