
Plak
Kak Harris memejamkan matanya, aku juga ikut membelalakkan mata. Apa yang baru saja kulakukan? Menampar pipi Kak Harris dengan tanganku sendiri, walupun tidak terlalu keras.
"Kak? Are you okay? Maaf refleks," Kataku hampir menangis dengan tangan mengusap pipinya.
Kak Harris malah terkekeh, "Gue yang harusnya minta maaf, Vel."
Kak Harris menarik tanganku untuk berdiri dan mendekati air. Ombak pantai belum terlalu menakutkan. Masih malu-malu untuk menampakkan keganasannya di depan kami berdua.
"Jadi gimana?" Tanya Kak Harris sembari menyisir surai hitamku yang berantakan diterpa angin.
Aku menunduk, melihat kaki telanjangku yang diterjang air. Kata-kata Lukas tentang pengertian sebuah kecocokan kembali menghampiriku. Berputar-putar di angan, dan menimbulkan kebimbangan di hati. Aku juga perlu memastikan satu hal lagi, untuk memutuskan perkara ini.
Kak Harris menggandeng tanganku, "Lo nggak perlu jawab sekarang."
Selalu saja, Kak Harris adalah laki-laki yang pengertian. Sosok pengayom yang diidam-idamkan banyak gadis di luar sana.
"Woy. Ditinggal pacaran nih kita."
Sontak kami menoleh ke belakang, melihat Lukas yang berteriak dan berjalan menghampiri kami disusul dengan Mahen.
"Apaan pacaran?" Gerutuku.
"Loh nggak jadi pacaran?"
Aku memicing ke arah Lukas, "Oh jadi kerjaan lo ya ini? Pake pura-pura ambil minum segala."
"Haha. Gue emang haus beneran."
"Itu kan banyak." Kataku menunjuk samudera yang sangat luas.
"Anjir. Nggak gitu kali Vel. Eh tapi seriusan nggak jadi pacaran?"
"Bukan nggak jadi, cuma belum jadi." Sahut Kak Harris.
Mahen dan lukas serempak menjawab, "Alhamdulillah. " Yang langsung mendapat gamparan dari Kak Harris secara bergantian.
Lukas melirik dan menepuk pundak Mahen, "Masih ada kesempatan bos."
Pagi ini, aku melihat dengan jelas bagaimana matahari terbit di ufuk timur. Memberikan warna yang sangat indah kepada langit, yang disuguhkan untuk mahluk di dunia ini agar bisa menikmatinya.
Seperti halnya cinta, yang jika tumbuh akan memberi warna kepada sang pemilik rasa. Menebar kebahagiaan di setiap detiknya bagi penikmat.
Rasa sakit dan kantukku perlahan memudar. Berganti dengan rasa cemas dan ketakutan, saat melihat tiga laki-laki bercengkrama tanpa suatu perselisihan. Mereka memang berbeda, mempunyai keindahan sesuai dengan porsinya masing-masing. Yang jelas, aku tidak ingin kehilangan mereka. Aku juga ingin berteman baik dengan masalalu.
__ADS_1
***
Setelah mengantar Lukas dan Mahen pulang ke rumah masing masing, Kak Harris melajukan mobilnya menuju rumahku. Aku sudah mengabari bunda, dan jangan tanyakan seberapa rindunya aku kepada beliau. Aku berusaha meyakinkan kepada bunda bahwa aku sudah baik-baik saja, dengan mengirimkan foto selfi kami berempat sewaktu di pantai. Namun sampai saat ini, ponselku belum memberi tanda-tanda adanya balasan dari bunda.
Mobil Kak Harris memasuki pagar rumahku. Setelah mematikan mesin, Kak Harris turun lebih dulu lalu membukakan pintu untukku.
Pintu dpean terbuka, dan di samping mobil Kak Harris ada mobil Ayah. Tak berubah, minggu adalah family time.
"Vel. Gue langsung aja ya."
Aku menahan Kak Harris yang sudah membalikkan badan, "Mampir dulu. Kemarin-kemarin belum sempet mampir kan."
Kak Harris berdecak, "Sekarang waktu buat keluarga kamu kan."
Laki-laki itu menghempaskan tenganku sedikit kasar, dan berbalik menuju mobilnya.
"HARRIS!"
Aku tersentak saat melihat ayah memanggil Kak Harris dengan tatapan nyalang. Beliau berjalan mendekati Kak Harris.
Bug
"Ayah!" Aku berlari menghampiri Kak Harris yang telah tersungkur ke tanah setelah mendapat pukulan keras dari ayah. Sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah, matanya menatap ayahku tak kalah nyalang.
"Ayah apa-apan sih?!"
"Sudah saya peringatkan berulang kali, jangan ganggu anak saya. Yang salah di sini saya. Saya kira kamu hanya main-main dengan ancaman kamu balas dendam ke saya. Kamu boleh dendam ke saya, tapi bukan seperti ini caranya. Vella tidak ada urusannya dengan masalah ini."
Apa? Apa maksud dari perkataan ayah? Masalah apa?
Bug
"Sayang sudah." Seorang wanita paruh baya berlari menghampiri ayah dan menahannya untuk tidak melanjutkan tidakan brutal itu. Tak berselang lama, wanita itu berpindah memeluk Kak Harris sembari menangis.
"Maafin mama, Nak."
Tubuhku merosot ketika aku merasakan bahwa bumi yang kupijak saat ini telah runtuh. Bahkan semesta seakan enggan merengkuhku dalam keadaan seperti ini. Pandanganku mulai buram. Terpenuhi air sialan yang kini mendominasi pelupuk mata.
Aku berusaha untuk berdiri. Berjalan dengan langkah terseok. Ku langkahkan kaki ku memasuki rumah. Berlari kesetanan membuka satu persatu pintu yang ada di dalam rumah ini.
"BUNDA!"
"Bunda dimana?" Tidak ada sahutan.
Dengan tangan bergetar, aku merogoh ponselku. Mencoba untuk menghubungi bunda, tapi tidak ada respon. Wanita yang ku lihat menyebutkan diri sebagai mama Kak Harris adalah wanita yang sama dengan yang ada di wallpaper ponsel ayah, sama dengan wanita yang aku lihat di cafe waktu itu.
__ADS_1
Bukankah ini jawaban yang aku nanti atas pertanyaan di rumah Kak Harris waktu lalu? Bukankah sudah cukup jelas dengan wanita itu memanggil ayah dengan sebutan "sayang"? Lalu, bolehkah aku menyebutnya dengan wanita ******?
Aku merutuki diriku sendiri karena telah jatuh kepada seorang anak yang telah membuat bunda menangis. Aku merasa sangat bodoh setelah mengetahui bahwa laki-laki yang selama ini bersikap manis padaku hanyalah sebuah jebakan untuk menghancurkan aku sama seperti ibunya yang menghancurkan ibuku.
Di ambang pintu, tiga orang yang kuanggap sama berengseknya menatapku dengan tatapan nanar. Ayah mendekatiku dan mencoba membantuku bangkit, tapi kutepis dengan kasar.
"Dimana bunda?" Tanyaku datar.
Ayah mengusap kasar wajahnya, "Ayah nggak tau, Vel. Dari tadi ayah pulang bunda kamu udah nggak ada di rumah."
Aku tersenyum miris, air mataku kembali berlinang, "Jadi ayah baru pulang tadi pagi? Semaleman kemana aja yah?"
Beliau tidak menjawab, bahkan untuk membalasan tatapanku saja tidak berani. Kupukul dada ayah dengan tenaga yang tersisa, "Ayah darimana aja?! Ayah nggak tau kan kalau Vella tadi malem nggak pulang karena harus di rawat di rumah sakit?"
Ayah yang semula tidak melihatku, kini menatapku dengan tatapan menyesal.
"Bunda tadi malam ke rumah sakit yah nungguin Vella! Bunda cemas sama Vella! Bahkan ternyata sampai sekarang bunda belum sampai rumah, karena cuma bunda yang peduli sama Vella! APA AYAH PEDULI SAMA SEMUA ITU?! APA AYAH PEDULI SAMA VELLA DAN BUNDA?! AYAH MALAH MILIH WANITA ****** YANG NGGAK PUNYA PERASAAN KAYAK DIA!"
Plak
"Jaga bicara kamu ya, Vella! Ayah susah payah didik kamu bukan buat ngomong kurang ajar sama orang lain."
Aku memegang pipiku yang kurasa sudah membengkak. Tapi rasa sakitnya tidak terlalu terasa karena terkalahkan oleh rasa sakit yang terlalu mendalam di bagian lain.
"Jadi ayah mau Vella jadi anak yang nurut sama didikannya ayah? Ayah mau Vella jadi orang brengsek seperti ayah?"
Plak
Masih di pipi yang sama, tamparan keras itu kudapatkan lagi.
"Bisa-bisanya dalam situasi seperti ini ayah lebih memilih wanita ****** itu."
"Jangan pernah bicara seperti itu lagi sama calon ibu kamu."
"Maksud ayah?"
"Ayah akan menikah lagi. Dengan atau tanpa persetujuan kamu dan ibumu."
Rasa sabarku sudah benar-benar habis. Seluruh tubuhku terasa sangat nyeri. Pipi yang awalnya hanya terasa sedikit sakit, sekarang berubah menjadi sangat sakit. Bibirku kelu, tidak bisa membalas perkataan ayah. Bahkan untuk tersenyumpun, bibirku enggan melakukan.
Aku mengusap air mataku kasar menggunakan lengan. Ku langkahkan kakiku lebar-lebar agar cepat keluar dari neraka ini. Entah pantas atau tidak aku menyebut sebuah rumah yang dulunya kujadikan tempat untuk pulang.
Aku tidak peduli dengan suara ayah yang terus memanggil namaku. Aku berani bersumpah, beliau memanggilku bukan untuk mengakui kesalahan dan menyesal dengan apa yang telah dia perbuat.
Yang ada di pikiranku saat ini adalah mencari dimana bunda. Aku tidak akan membiarkan bunda menderita karena perlakuan bangsat ayah.
__ADS_1
Berjalan tanpa tujuan, dengan air mata yang semakin deras mengalir, bercampur dengan darah yang keluar dari pipi bengkakku.