PERIPLE

PERIPLE
7. Cafe Merah Jambu


__ADS_3

"Jadi? Apa?"


Kami yang sedari tadi diam dengan pikiran masing-masingpun terinterupsi oleh pertanyaan David.


Aku sedang berada di Annyeong Cafe. Bersama Rena, David, dan Lukas. Rena yang membawa kami ke sini. Untuk menghiburku katanya.


Lukas memasang tampang kebingungan, "Apa deh?"


"Ck. Jadi kita harus apa?" Decak Rena, sadar bahwa waktu setengah jam terbuang sia-sia hanya untuk berdiam diri.


"Kas. Coba deh lo chat Mahen suruh ke sini." Perintah Rena yang langsung disetujui oleh Lukas.


"Udah gue suruh kesini. Nih ya HP nya gue taruh di atas meja. Ntar kalian baca bareng-bareng jawaban dia."


Kami mengangguk. Enam menit belum ada balasan membuat Rena mencak-mencak, "Sibuk ngapain sih anjir sampai slowrespond banget kayak presiden."


"Sabar sayang. Mungkin dia tidur kan," Bela David sembari menepuk pundak Rena.


"Mau maghrib gini nggak mungkin tidur lah."


"Iya udah ditunggu aja."


Lima menit berlalu, dan akhirnya ponsel Lukas berdenting. Kami berempat langsung melihat balasan yang dikirimkan Mahen.


Mahen


Sorry Kas gue gabisa. Sibuk.


"Tumben amat tu bocah bilang sibuk lo ajak ketemu." Ujar David. "Lo chat nya gimana dah?"


"Gue bilang gini tadi hen sini Annyeong Cafe, ada Vella."


Pantas saja. Rena langsung melirikku dan menggampar kepala Lukas menggunakan tas berwarna hitamnya, "Ye goblok lu. Mana dia mau kalau ada Vella di sini."


"Lhoh emang kenapa kalau gue bilang ada Vella? Toh kalau emang dia nggak beneran selingkuh dia pasti bakal nemuin Vella."


Iya juga. Sikap Mahen mulai aneh belakangan ini. Tidak pernah ada kabar, membalas pesan hanya singkat, tidak pernah ada kata sayang lagi, dan tidak pernah ada status fotoku lagi.


Kemarin Lukas bilang kalau yang bersama Mahen di Cafe Merah Jambu itu namanya Ica. Iya, Ica teman sekelas Mahen, yang kemarin dia antar pulang. Lukas tau dari Rey. Kata Lukas, Rey pun kaget saat melihat Mahen datang berboncengan dengan perempuan selain aku.


Awalnya Rey dan Fitri hanya ingin dating berdua. Tapi dikarenakan Mahen dan perempuan itu juga mendatangi tempat yang sama, jadilah Rey mengajak mereka berdua untuk bergabung.


Rey bilang ke Lukas karena dia pintar menjaga rahasia. Vella jangan sampai tau, kata Rey. Tapi apa boleh buat kalau aku sendiri yang memergokinya secara langsung? Mau tidak mau Lukas angkat suara kan? Walaupun jawabannya tetap mengecewakan, tetapi setidaknya tidak ada kesalah pahaman.


"Rey suruh kesini aja deh," usul David sembari mengambil penselnya, dan langsung mengirim pesan untuk Rey.


"Itu si Syifa sama Fitri nggak sekalian kamu ajak beb?"


"Nggak usah. Syifa lagi nganter mamanya belanja," Sahut Lukas.

__ADS_1


"Yaudah. Yang penting gue ngajak Rey dulu. Urusan sama Fitri atau enggak mah terserah dia."


Aku mengangguk kemudian menyeruput hot matchalatte yang kupesan tadi.


Rena menepuk lenganku, "Vel. Itu bukannya bokap lo ya?"


Aku langsung melihat ke arah pintu masuk. Seperti dugaan Rena, beliau memang ayahku.


"Eh? Kok bukan sama bunda?"


"Sama client nya Ren," Jawabku yang berusaha positive thinking untuk tidak berpikir bahwa wanita berdress navy selutut itu bukan selingkuhan ayah.


Aku bersyukur ketika mereka berdua memilih bangku yang jauh dariku. Aku tidak mau ayah melihatku, dan aku akan pura-pura tidak melihat ayah.


Posisi dudukku, adalah menghadap ke tempat dimana ayah dan wanita itu duduk. Rena berada di sampingku. Jadi kalau aku tidak pintar-pintar mengalihkan perhatian Rena dan perhatianku sendiri, mungkin akan mengecewakan. Firasatku mengatakan bahwa, wanita itulah yang berbalas pesan dengan mesra dengan ayahku.


"Kok suap-suapan?" Tanya Rena dengan mata membulat dan tangan yang menutupi mulutnya karena merasa kaget.


Sudah aku duga. Aku tidak terkejut, hanya saja aku belum siap. Kenapa harus di sini? Kenapa harus di depan anak semata wayangnya? Aku menunduk. Kurasa mata ku mulai memanas. Jangan di sini Vella. Ini bukan tempat yang tepat untuk menangis.


"Vel, kita pergi dari sini ya?" Kata Rena seolah mengerti perasaanku, dan langsung mengambil tindakan tanpa bertanya kenapa.


"Perlu gue labrakin?" Tanya David, lalu aku menggeleng. Tidak sepantasnya orang lain ikut campur ursan keluargaku kan?


"Udah. Kita pindah aja. Ntar gue kabarin Rey kalau pindah," Ujar Lukas.


Perkataan mereka malah membuatku tidak tahan lagi untuk membendung air mata yang sejak tadi sudah di pelupuk mata. Setetes demi setetes mulai mengalir di pipiku. Rena memelukku, "Nggakpapa nangis."


Setelah benar-benar tenang, kami berempat beranjak keluar dari cafe yang membuat aku trauma mulai sekarang.


Aku menbonceng Lukas, dan Rena membonceng David. Kami mulai melaju menuju Cafe Merah Jambu, tempat aku melihat Mahen dengan perempuan itu kemarin, setelah Lukas mengabari Rey bahwa kami pindah ke sana tanpa alasan.


Jaraknya tidak jauh. Hanya butuh waktu lima menit untuk sampai di sana. Tepat sekali dengan Rey yang juga datang dari lawan arah, bersama Fitri diboncengannya.


Kami memasuki cafe itu dan memesan minum serta snack.


"Mau duduk dimana kita?" Tanya Lukas dengan nada seperti Dora.


Pandanganku menyapu Cafe terluas di daerah ini. Terlalu penuh sepertinya.


"Penuh nih. Nggak nyaman buat ngobrol kalau banyak orang gini," Ujar Fitri.


Rey berjalan mendahului kami, "Yaudah di belakang aja. Lebih seger."


Cafe ini memiliki tempat untuk dine in yang luas. Ada yang di sebelum pintu masuk, ada yang di dalam dengan empat air conditioner, dan ada yang di belakang dengan tema outdoor yang photoable.


Kami berlima mengikuti Rey, dan memilih tempat duduk yang cukup untuk enam orang. Saat kami sedang berkeliling, aku melihat seseorang tidak asing.


"Mahen ******," Umpat David.

__ADS_1


Kami semua kaget. "Jadi ini kesibukannya?" Tanya Rena tidak terima.


Rena berjalan menghampiri Mahen dan perempuan yang sama seperti kemarin yang aku lihat. Aku berbalik badan dan berniat untuk pergi dari sana. Mataku mulai panas lagi. Aku benci hal ini. Aku benci situasi yang membuat aku menangis di tempat umum.


Sesorang menahan tanganku, lalu menggandengku keluar dari sana. Mencari tempat yang aman untuk aku bisa menangis tanpa seorang pun melihat.


Lukas memelukku. Aku menangis tanpa suara. Air mataku yang tadi keluar dan sempat terhentikan kini kembali memaksa untuk menetes.


"You're stronger than i think, Vel. Tapi kalau lo nggak bisa tahan semua, lo boleh meledakkan emosi lo. Jangan paksa diri lo untuk menyimpan semuanya sendirian."


Aku melepaskan pelukan Lukas. Lalu duduk di kursi taman samping cafe menyebalkan ini.


"Udah Vel jangan nangis lagi. Muka lo jelek kalau nangis. Ntar si cicak merasa lebih cantik dari lo lagi."


"Cicak?"


"Iya cicak. Yang tadi sama Mahen."


Aku terkekeh, "Ica, Kas. Jangan sembarangan gantiin nama orang. Ntar lo disuruh aqiqahin lagi."


Lukas pun ikut tertawa, "Kalau disuruh ngeaqiqahin gue nggakbisa Vel. Tapi kalau nikahin mah gue langsung gas aja."


"Nikahin Ica? Jangan dong ntar Syifa gimana."


Lukas tersenyum, "Gue udah enggak sama Syifa, Vel."


Aku tersentak kaget, "Jangan bercanda deh Kas. Gue tau lo pengen hibur gue, tapi nggak gini konsepnya."


"Gue serius, Vel. Kami berdua putus baik-baik kok. Sekarang masih berteman. Jangan bilang ke yang lain, ye?"


"Sejak kapan?"


"Selepas pulang dari rumah Rey waktu itu."


Berarti banyak kejadian lain di rumah Rey yang tidak aku tau. Aku tersenyum, kemudian menepuk bahu Lukas, "Yaudah semoga ini yang terbaik buat kalian ya. Tapi kita masih geng kan?"


"Masih dong. Nggak berubah kalau itu mah."


Aku melihat Rey dan Fitri yang berjalan mendekati kami. "Are u okay?" Tanya Fitri.


Aku menggeleng, "No, i'm not. Maaf ya gue ngerepotin kalian semua. Setiap gue ada masalah, kalian selalu berusaha bantu gue. Tapi setiap kalian ada masalah, gue nggak bisa berbuat apa-apa."


Fitri mendekatiku dan memelukku, "Vel, itu udah tugas gue sama temen-temen lain. Kita kan geng, jadi kalau salah satu ada masalah yang lainnya juga ngerasain hal yang sama."


"Jangan terlalu dipikir. Sekarang masih diurus Rena sama David." Kata Rey kemudian.


Aku sangat bersyukur memiliki teman seperti mereka. Terutama Rena, yang selalu maju paling depan ketika ada yang menggangguku.


Selang beberapa menit, aku melihat Rena, David, Mahen dan juga perempuan itu berjalan ke arahku. Mereka berempat seperti pasangan double date yang serasi.

__ADS_1


Mahen mendekatiku, "Vel aku minta maaf."


__ADS_2