PERIPLE

PERIPLE
8. Kejelasan


__ADS_3

Aku terpaku di tempatku berdiri, disaksikan lebih dari dua pasang mata. Ingin memaki, tapi mulut terbungkam. Ingin manampar, tapi otak tidak memerintahkan tangan untuk segera bergerak. Seperti inilah logika dan perasaan. Sangat bertolak belakang. Perasaan mengatakan harus, tapi logika mengatakan jangan, begitupun sebaliknya.


"Aku jelasin ya, Vel." Ujar Mahen dengan tangan terulur untuk memegang tanganku, tapi aku beringsut mundur.


"Cih gitu doang lebay amat," Decih Ica.


Rena mendekati gadis itu, dan menjambak beberapa helai rambutnya, "Diem ya anjing. Masih mending lo nggak gue hajar."


"Gue boleh minta kalian pergi dulu? Biarin gue ngomong sama Vella berdua," Ujar Mahen.


Ica mendekati aku dan Mahen, "Nggak mau. Gue harus di sini. Gue juga yang dipermasalahkan. Kalau cuma lo berdua, takutnya Mahen ngomong yang enggak-enggak tentang gue."


"Udah. Mending lo ikut gue dulu," Kata Lukas sembari menarik tangan Ica, yang mendapat pemberontakan dari gadis berambut pendek itu. Kemudian mereka semua benar-benar pergi.


Aku menunduk. Tak kuasa membalas tatapan bersalah di mata Mahen. Mahen memegang tanganku, "Sayang, jangan salah paham dulu ya. Coba lihat aku."


"Aku buat kamu sakit ya, Vel? Aku buat kamu nangis ya, Vel?" Tanya Mahen dan aku tetap bergeming. Mahen menghela nafas frustasi, "Vel, aku lebih rela kamu pukul lho daripada kamu diem kayak gini."


"Mahen, ada banyak pertanyaan yang belum sempat aku tanyakan ke kamu," Kataku dengan posisi yang masih sama.


"Kalau mau tanya, lihat orangnya dong Vel."


Aku mendongak, "Tapi kamu harus jawab jujur ya."


Mahen tersenyum dan mengangguk. Ah seperti de javu. Aku berada dalam keadaan seperti ini lagi.


"Kamu ada hubungan apa sama Ica?"


Mahen terkesiap, "Kamu tau namanya? Dari siapa?"


"Aku nanya, seharusnya kamu jawab, Mahen. Bukan malah balik nanya."


"Iya iya. Aku sama dia cuma sekedar teman biasa, Vel. Nggak lebih."


"Kamu tau, aku ada di cafe ini waktu kamu di sini sama dia kemarin?"


"Aku baru tau tadi. Rena yang kasih tau."


"Dan aku lihat lagi sekarang. Apa aku salah kalau aku marah?"


"Aku ada project sama dia buat duet di acara ulang tahun sekolahku besok, Vel."


"Oh, yang kamu buat story whatsapp dan akunya kamu privacy?"


"Kamu tau?"


"Kenapa harus berdua? Kenapa nggak kasih tau aku? Kenapa malah kamu sembunyiin dari aku? Aku selama ini banyak salah ya Hen sama kamu sampai kamu kayak gini ke aku?"


Dia ganti menunduk. Aku mengalihkan pandangan ketika kurasa mataku mulai buram lagi. Aku masih diam tanpa menatapnya, menunggu jawaban dari dia.


"Apa kamu juga nggak tau kalau aku lihat boneka yang Fitri beli itu titipan dari kamu?"


Kini Mahen mendongak dengan mata membulat, seolah tertangkap basah ketika berbuat suatu kesalahan fatal. Tangannya merogoh saku jaket yang dia kenakan. Mengambil ponsel, dan mencari sesuatu di dalamnya. Dia menyodorkan ponsel yang memperlihatkan foto anak kecil dengan senyum manis sedang memeluk boneka berwarna caramel persis seperti yang Fitri beli denganku.


"Boneka itu buat kado keponakanku, sayang. Dia kemarin ulang tahun. Kamu tau dia kan?"


Satu pertanyaan sudah terjawab. Tapi aku belum mengeluarkan suara kembali.

__ADS_1


"Vella. Aku minta maaf ya. Aku beneran cuma temenan sama dia."


"Kenapa kamu nggak pernah balas pesanku?"


"Aku sibuk banget akhir-akhir ini. Jadi jarang buka HP. Maafin ya?"


Kulihat matanya yang menatapku sendu. Tidak ada satupun kebohongan yang tersirat. Aku kembali percaya kepadanya. Aku tersenyum lalu menangguk. Dia ikut tersenyum dan tangannya mengelus puncak kepalaku. Dia menarikku dalam rengkuhannya. Hangat, tapi malu juga kalau dilihat orang.


"Makasih ya. Maaf udah merepotkan hati kamu."


Aku mengangguk dalam dekapannya, "Udah konsekuensi orang pacaran kan kalau sakit hati itu."


"Yaudah yuk masuk lagi. Nanti temen-temen kelamaan ghibahin kitanya. Haha."


"Aku malu ketemu mereka."


Mahen merangkul pundakku, "Terus mau kemana hm? Ke KUA? Udah tutup yang kalau jam segini."


Aku mencubit pinggang Mahen sampai laki-laki itu mengaduh. Akhirnya aku mengikuti Mahen masuk, tanpa dirangkul. Dia berjalan di depanku, dan aku mengekorinya. Malu kalau dilihat orang banyak katanya. Prinsipnya tetap sama, anak sekolah belum cocok kalau bermesraan di tempat umum.


Baru sekitar dua langkah aku melewati pintu masuk, tangan seseorang menepuk bahuku, hingga aku menoleh.


"Hai dek," Sapa laki-laki berlesung pipit yang manisnya melebihi gula aren ketika tersenyum.


Ku kira Mahen menungguku, tapi saat kutengok, dia berjalan duluan tanpa sadar aku berhenti mengikutinya.


Aku membalas sapaan laki-laki berkaus hitam yang ada di hadapanku, "Hai kak."


"Sendirian aja neng?"


"Sama temen-temen kak di dalam. Kak Harris sendiri?"


Aku manggut manggut. Dan tak lama kemudian terlihat Kak Adnan yang berjalan santai dari kejauhan. Mendekati kami berdua yang sama-sama melihat ke arahnya.


"Berasa artis aja gue dilihatin gini."


Aku terkekeh kemudian menyapa, "Hai Kak Adnan."


"Hai Vella."


Aku kaget, "Kok tau nama aku?"


"Dari ini nih," Kata dia sembari menepuk pundak Kak Harris.


Aku menatap Kak Harris dan Kak Adnan secara bergantian.


"Udah udah. Ayok masuk. Lo gabung kita aja dek," Ajak Kak Adnan santai seperti orang yang sudah lama kenal.


"Dia sama temen-temen nya, bego!" Sahut Kak Harris.


"Oh yaudah. Berarti kita berdua gabung aja sama mereka. Ya nggak, Vel?"


Aku tersenyum canggung dan menggaruk tengkuk yang tidak gatal, "Boleh deh kak."


Aku berjalan masuk, dengan posisi berada di tengah tengah mereka. Samping kiriku ada Kak Adnan, dan di samping kanan ku ada Kak Harris.


"Lah itu Vella," Tunjuk David.

__ADS_1


Rena dan Fitri sepertinya kaget. Terlihat dengan cara mereka menutup mulut dengan mata membulat.


"Kak Adnan?"


"Kak Harris?"


Ucap Rena dan Fitri bersamaan, lalu saling berpandangan.


Aku menyengir, "Mereka berdua boleh ikut gabung nggak?"


Rena bergegas pindah kursi hanya untuk meluangkan tempat agar dua seniorku ini bisa bergabung satu meja dengan kami.


David berdehem. Tapi Rena tidak peka. Kebiasaan gadis itu, kalau ada yang lebih bening suka lupa dengan statusnya sekarang. "Ya nggakpapa dong buat cuci mata biar nggak bosen, yang penting di hati gue cuma David seorang," Kata Rena dulu saat aku menegurnya.


"Gue kira cuma sedikit dek temen lo. Banyak juga ya," Ucap Kak Adnan.


"Hehe. Temen dari SMP kak."


Mereka saling memperkenalkan diri. Terkecuali tentang hubungan. Hanya memperkenalkan nama, dan sekedar teman dari SMP.


Pesanan Kak Adnan dan Kak Harris baru datang. Milikku, dan teman-teman sudah dari tadi.


Kami hanya mengobrol seputar sekolah, dan olahraga. Apalagi di sini ada enam laki-laki. Seru deh.


Aku dan Rena kadang nimbrung. Fitri hanya berbicara ketika Rey mengajaknya bicara. Dan Ica hanya mengeluarkan suara ketika Mahen yang berbicara. Rumit memang.


Tidak ada yang seru di tongkrongan kali ini. Banyak orang baru yang tidak pernah kuduga akan menjadi satu forum seperti ini.


"Udah jam delapan nih. Pulang yuk." Ajak Fitri yang mulai menyelempangkan tasnya.


Rey lah orang pertama yang menyetujui. Lalu mereka berdua pamit untuk duluan.


"Pulang yuk Ren. Ntar aku kena marah papa lagi kalau nganterin kamunya kemaleman." Ajak David ke Rena.


"Yaudah ayo Vel kamu juga harus pulang. Dicariin bunda nanti."


"Vella pulang bareng gue aja ya?"


Semua orang yang tersisa di sana terkejut. Aku bisa memastikan. Rena menyenggol lenganku.


"Eh nggak usah kak repot-repot kak. Rumahku jauh. Hehe" Tolakku. Berharap Mahen akan mengantarku pulang.


"Yaudah. Kita duluan aja ya." Pamit Ica dengan menarik tangan Mahen, tanpa penolakan dari laki-laki itu.


"Eh? Mereka pacaran ya?"


Pertanyaan Kak Adnan tidak terjawab, dan terinterupsi oleh suara Lukas. "Vel. Lo balik bareng gue aja. Kan tadi kita berangkatnya berempat. Lo berangkat bareng gue, pulang juga harus bareng gue."


"Yaudah kak. Biar Vella sama Lukas aja. Aku sama David."


Kak Harris menganggukkan kepalanya, "Yaudah kalian hati-hati ya. Gue sama Adnan ntaran aja deh pulangnya."


"Kami pamit ya kak." Kataku ke Kak Adnan dan Kak Harris. Melambaikan tangan, lalu beranjak keluar dari tempat itu.


Baru saja aku melangkah keluar cafe dan menuju parkiran, pemandangan tidak sedap terjangkau di mataku.


Mahen memakaikan helm berwarna merah mudah ke kepala Ica.

__ADS_1


Baru beberapa detik melihat, sebuah tangan besar menutup mataku, "Udah jangan dilihat kalau bikin sakit."


__ADS_2