
"Jam segini kalian dapet makanan dari mana?"
Kak Harris membuka bungkusan kertas minyak itu, dan memberikannya kepadaku, "Depan rumah sakit. Ada warung masakan padang yang buka duapuluh empat jam."
Aku manggut-manggut. Lalu kembali hening. Kami berempat mulai sibuk makan nasi padang berlauk ayam dan perkedel, di lantai samping ranjang, tanpa beralas apapun. Kami duduk melingkar, dan di tengahnya terdapat tiga cup kopi, dan satu cup teh panas.
"Serasa camping kalau gini." Kata Lukas sembari menyeruput kopinya.
Kak Harris menyusul, "Mana ada camping tema obat-obatan."
"Nggak lagi deh ke rumah sakit." Sahutku.
Lukas menaruh kopinya, "Kalau lo jadi dokter, terus kerja dimana dong? Di sekolahan?"
"Haha bukan gitu juga. Maksud gue tuh, nggak mau deh ada yang sakit lagi. Kalau dokter kan emang kerjanya di rumah sakit."
Lukas tertawa, Kak Harris juga ikut tertawa. Tak sengaja aku melihat Mahen yang masih sibuk menghabiskan nasinya.
"Lo ngapa dah Hen, diem mulu daritadi?" Tanya Lukas.
Mahen mengepalkan bungkusan yang telah tandas, "Lagi makan, nggak boleh sambil ngobrol."
"Alah biasanya lo makan sambil jalan, ngobrol, pakai tangan kiri, nggak do'a lagi."
Mahen menatap sinis Lukas, kemudian mendapat balasan cibiran. Makanan mereka telah habis, kopi pun tinggal cupnya saja. Aku mengumpulkan semua sampah ke dalam keresek.
"Kalian kenapa bisa di sini?" Tanyaku betulan penasaran.
"Mahen dari sore belum pulang tuh. Gue titipin lo ke dia, terus gue pulang bareng sama temen-temen. Terus jemput Lukas yang juga mau ke sini."
"Lukas tau darimana?"
Lukas tersenyum, "Ikatan batin kan, Vel."
Mahen berdecih, "Gue yang dari awal di sini aja b aja."
"Habis ini ke pantai yuk? Cari sunrise."
Sontak, kami bertiga menoleh ke arah Kak Harris.
"Kita kan harus sekolah." Sahutku.
Kak Harris menempelkan punggung tangannya ke keningku, "Pantes panas. Efek gejeduk gawang nih. Sekarang kan hari minggu."
Benar juga. Pertandingan diadakan di hari sabtu, dan aku tertidur sampai jam duabelas malam, berarti sekarang jam tiga pagi hari minggu. Aku beralih menatap Mahen, dia sibuk memainkan ponselnya.
"Jangan lah. Vella baru sakit gini harusnya langsung pulang." Ujar Mahen setelah memasukkan ponselnya ke saku hoodie hitam yang dia kenakan.
Lukas mengangguk menyetujui, "Nah gue setuju sama si Mahen."
"Yaudah kalau gitu. Gue sama Vella aja yang mantai. Malah enak dong kalau kalian nggak ikut. Vella juga butuh refreshing kali. Lagian cuma ke pantai doangan, bukan yang gym atau golf."
"Boleh. Gue sama Kak Harris aja kalau kalian nggak mau."
__ADS_1
"Heh ya nggak bisa gitu dong. Gue tadi ke sini nebeng mobil lo, Bang. Berarti gue pulangnya juga harus lo anter." Kata Lukas tidak terima.
"Gue juga ikut. Tadi pagi gue nebeng mobil sekolah, jadi nggak tau pulangnya gimana."
"Yaudah semuanya ikut. Seru kalau rame-rame." Kataku final.
Kuambil sampah yang telah ku kumpulkan, dan berjalan keluar untuk mencari tempat sampah. Sebenarnya di dalam ada, tapi sekalian mau jalan-jalan.
Lukas menyusulku, kami jalan berdampingan. Setelah membuang sampahnya, kami berdua masih melanjutkan perjalanan, alih-alih kembali.
Ternyata ruang rawatku berada di lantai dua, jadi aku bisa melihat lantai bawah dari koridor.
"Kas. Menurut lo, mending memperbaiki seribu kesalahan dengan orang yang sama, atau memulai dari awal dengan orang yang baru?"
Lukas menghentikan langkahnya, dan melihat ke lantai satu, yang hanya ada beberapa orang di sana. Masih terlalu pagi untuk memulai aktivitas.
"Nggak ada salahnya memperbaiki bahkan lebih dari seribu kesalahan dengan orang yang sama, tapi dengan syarat keduanya memang berniat untuk memperbaiki demi hubungan itu sendiri."
"Gue suka sama seseorang, Kas."
Sunyi. Tidak ada jawaban dari Lukas.
"Gue suka sama Kak Harris. Tapi gue masih belum sepenuhnya lupain Mahen." Lanjutku, yang masih belum mendapat sahutan dari laki-laki itu.
Aku menunduk. Kudengar helaan nafas panjang dari Lukas. Dia merengkuhku dalam peluknya. Tidak ada sedikitpun pergerakanku untuk menolak, karena yang kurasa saat ini adalah kenyamanan.
"Vel. Lo terlalu rapuh untuk membuat orang yang ada di sekitar lo nggak tahan pengen ngelindungin lo."
"Perasaan suka itu tumbuh dengan seiring berjalannya waktu. Lo pernah dengar peribahasa jawa tresno jalaran soko kulino? Kita terbiasa, baru timbul sebuah rasa suka. Lo tiap hari ketemu Bang Harris, apalagi dia selalu temenin lo, gue malah nggak percaya kalau semisal lo bilang kalau lo nggak suka sama dia."
"Kalau masalah Mahen, apa lo punya jaminan kalau dia nggak bakalan ngelakuin kesalahan yang buat lo sakit selama ini? Jangan sampai lo kerja bolak-balik dua kali. Lo cuma belum sepenuhnya lupa, bukan berarti lo masih sayang sama dia. Emangnya lo masih jealous kalau denger dia deket sama cewek lain? Dan selama lo lepas kontak dari dia apa lo mengalami kesulitan?"
Aku berpikir. Aku memang sudah tidak peduli dengan siapa Mahen dekat sekarang. Aku juga baik-baik saja menjalani kehidupan tanpanya, bahkan aku merasa hidupku lebih baik jika tanpa dia.
"Gue sama Bang Harris dengar pembicaraan lo sama Mahen tadi. Gue lihat lo nangis. Gue udah mau nonjok Mahen, tapi untungnya ditahan sama Bang Harris."
Aku menangis bukan karena aku masih sayang Mahen. Tapi aku hanya tidak terima, kenapa dia selalu seenaknya ikut campur hidupku, sedangan aku tidak boleh melakukan hal demikian kepadanya.
"Dari situ gue tau, kalau Bang Harris emang pantes buat lo, Vel."
Entah kenapa saat Lukas mengatakan kalimat itu, darahku berdesir. Aku membalas pelukan Lukas, bahkan lebih erat dari Lukas memelukku. Dia melonggarkan rengkuhannya, dan beranjak untuk menemui Mahen dan Bang Harris.
Di sana, mereka berdua sudah bersiap. Kami berempat jalan beriringan menuju tempat administrasi kemudian keluar menuju parkiran. Kak Harris mendekati mobil hitamnya. Dia masuk terlebih dahulu.
Lukas membukakan pintu belakang, menyuruhku masuk, kemudian disusul olehnya. Tak disangka, Mahen juga membuka pintu mobil belakang, duduk di sebelah kananku. Aku terhimpit oleh mereka berdua.
"Kalian pikir gue sopir?" Sindir Kak Harris yang mulai menyalakan mesin mobil.
Aku memukul Mahen dan Lukas, "Depan satu ah. Masih mending udah dikasih tumpangan."
Mereka berdua tidak bergerak sama sekali. Aku geram dibuatnya, "Yaudah gue aja yang depan."
"Nggak. Gue aja. Lo nggak usah banyak gerak." Sahut Lukas yang kemudian bergegas membuka pintu, pindah duduk di samping kemudi.
__ADS_1
Lagu Now I Know yang dinyanyikan oleh Kaleb J memenuhi isi mobil ini. Tidak ada yang bicara, lagi. Sebenarnya ada apa sih?
Merasa kantukku tidak lagi tertahan aku mulai terlelap.
...***...
"Vel."
Mataku menyipit, dengan posisi kepala yang tersandar di bahu Mahen. Sontak, aku menjauh darinya. Aku tidak melihat Kak Harris dan Lukas di depan.
"Udah sampai. Ayo turun. Ditinggal sama Lukas sama Bang Harris."
Tanpa menjawab, aku keluar dari mobil. Masih gelap, lampu-lampu jalanan belum dimatikan. Aku merogoh saku bajuku, yang sepertinya diganti dengan bunda tadi malam. Yang ku tahu, bangun-bangun aku sudah tidak memakai jersey lagi. Aku mengambil ponselku untuk melihat jam. Masih pukul empat pagi rupanya.
Kak Harris dan Lukas tidak terlihat. Entah mereka sudah bermain air atau bermain wanita di sana. Kurasakan tanganku digenggam oleh Mahen. Aku memberontak.
"Untuk yang terakhir, Vel."
Katanya, yang membuatku tidak bisa berkata apa-apa. Aku tidak tau maksut dari perkataannya. Apakah sstelah ini dia tidak lagi mengganggu hidupku? Ataukah dia sudah memutuskan untuk melupakanku juga? Ataukah setelah ini dia mau menjalin hubungan dengan perempuan lain? Terserah, itu bukan urusanku.
Kami berdua berjalan santai, rasanya benar benar dingin. Tapi Mahen tidak melepas hoodienya untukku. Dia tidak memakai kaus dalam, pikirku.
Dari kejauhan, aku melihat Lukas berjalan mendekati kami bersamaan dengan genggaman Mahen yang terlepas.
Sedikit sesak, tapi tidak apa. Itu yang terakhir kan katanya? Aku harusnya senang, setelah ini tidak lagi dibimbangkannoleh harapan semu. Aku sekarang benar-benar lepas.
"Hen. Anterin gue ambil minum di mobil."
Tidak sesuai dugaanku, Mahen mengangguk.
"Lo nyusul Bang Harris ke sana dulu aja Vel." Kata Lukas dengan menunjuk pinggir pantai yang belum menginjak tahap pasang.
Tanpa menunggu persetujuanku, mereka berdua beranjak pergi. Aku melanjutkan langkahku menuju tempat Kak Harris duduk seorang diri.
Dia mendongakkan kepalanya ketika aku berdiri di sampingnya. Aku mendudukkan diri, memeluk lututku karena kedinginan. Kak Harris melepas jaketnya dan menyampirkannya di punggungku.
"Akhirnya gue bisa bernafas lega." Katanya tanpa menghadapku.
Aku melihat Kak Harris tersenyum. Sangat sempurna jika terlihat dari samping seperti ini. Sekarang aku percaya, Tuhan menciptakan manusia dalam sebaik-baiknya bentuk.
"Dari kecil, gue pengen banget ke pantai bareng orang yang gue sayang. Bareng keluarga kayak orang-orang lainnya."
Aku belum menanggapi, karena kurasa Kak Harris masih ingin meneruskan perkataannya.
"Dan sekarang gue bersyukur bisa wujudin harapan gue."
Laki-laki itu menolehkan kepalanya menghadapku, "Walaupun bukan sama keluarga, setidaknya gue bisa ke sini sama orang yang gue sayang lainnya."
"Vel, gue sayang sama lo."
Detik itu juga, aku lupa bagaimana cara menghirup oksigen dengan semestinya. Aku merasa angin pantai terlalu banyak untuk memasuki paru-paruku. Bukan sesak yang menyakitkan, tapi sesak yang aku sendiri tidak tau mau menjelaskan dengan cara seperti apa.
Kak Harris menatapku dengan tatapan yang teduh, tatapan menenangkan, tidak ada tuntutan apapun yang tersirat dari pancaran mata indahnya.
__ADS_1
Deburan pantai yang terus berteriak seolah memang tidak ada yang bisa mengganggu suaranya, langit mulai memperlihatkan semburat merah, semerah pipiku sekarang. Matahari mulai terbit, bersamaan dengan perasaanku yang bergejolak.
Paras tampan itu, perlahan namun pasti mulai mengikis jarak diantara kami. Hal yang rerlalu indah untuk disaksikan oleh orang lain termasuk Lukas dan Mahen.