
Mereka tertawa, tapi tidak denganku. Kulihat Rena yang ingin tertawa tapi sungkan kepadaku. Dia sudah melihat pesan dari Kak Thea.
"Neng Vella tumben diem? Biasanya paling nggak bisa berhenti ketawa," tegur Mang Ameng si penjaga kantin yang sedang ku datangi ini. Entah sejak kapan Mang Ameng duduk di sana. Di bangku samping kami berkumpul.
Kulihat teman-teman yang masih asyik dengan pembicaraan mereka, tanpa satupun yang teralihkan kepadaku. Kutoleh lagi Mang Ameng, "Iya mang. Lagi nggak enak badan. Hehe."
"Kelulusan harusnya seneng, Neng. Mau mamang bikinin ceker ayam pedas kesukaan Neng Vella?"
"Eh. Enggak usah mang. Lambungnya lagi sedikit rewel, jadi nggak pengen makan pedes dulu."
Kembali ku melamun. Haruskah aku mempermasalahkan hal sepele seperti ini? Hanya jaket. Aku tau dari nenek sihir kalau Mahen dan Kak Thea memang memiliki jaket couple. Ah jangan kaget. Dulu aku berteman baik dengan nenek sihir. Waktu kami masih berada di tingkat tujuh, aku masih satu kelas dengan gadis itu.
Dia sering memintaku untuk menemaninya duduk di depan kelas. Karena Mahen masuk dalam geng terkenal di sekolahku, jadi kalau mereka mau masuk kelas, banyak yang caper dengan mereka.
"Eh itu si Mahenn. Yaampunnn lucunyaa."
Aku bergidik ngeri waktu itu, "Lucu apanya? Biasa aja gitu kok."
"Lucu tauk. Eh tapi sebel gue. Masa Mahen sama si Thea couple jaket."
"Yaudah sih nggakpapa. Orang pacaran juga. Wajar dong gitu."
Nenek sihir tertawa, dan berkata "Tau nggak? Tadi pagi yang pakai jaketnya cuma si Thea, Mahennya enggak. Malu kali ya punya pacar tukang nglabrak kayak dia."
Iya Kak Thea itu suka banget ngelabrak, terutama ngelabrak angkatanku. Sudah banyak korbannya. Dan payahnya lagi, dia sering bolak balik ke toilet yang ada di dekat kelas tujuh. Biasalah modus. Cari perhatian buaya. Eh, si Mahen ikutan kena.
Pernah nih, di suatu hari. Waktu aku mau menemui Rena yang ada di parkiran motor (Sebenarnya nggak boleh, cuma tetep ngeyel aja, dan geger tuh kalau ada razia), tidak sengaja aku melewati Mahen dan Kak Thea yang sedang berduaan di pinggir jalan. Ck, kayak nggak ada tempat lain. Kalau nggak salah sih, Kak Thea nya mohon-mohon buat dianter pulang sama Mahen.
Tapi Mahen bersikeras menolak. Kelihatan dari cara Mahen menghempaskan tangan Kak Thea.
"Apa lo lihat-lihat?"
Aku terkejut dan menunjuk diriku sendiri, "Gue?"
"Yaiyalah elo. Siapa lagi yang lewat di sini selain lo? Picek mata lo?"
Wah nggak bisa santuy nih kakak kelas satu. Gila aja berani ngomong gitu di depan pacarnya. Cewek gila emang.
Aku mengabaikannya lalu melanjutkan perjalananku menuju parkiran. Amit-amit deh selera nya si Mahen.
Terdengar teriakan dari belakang sana, tentunya dari Kak Thea, "Nggak sopan amat sih lo bocah. Mentang-mentang temennya Felly lo?"
Felly itu nama nenek sihir yang dari awal aku ceritakan. Dulu mereka musuh bebuyutan. Orang-orang selalu mengatakan bahwa kami kembar. Felly dan Vella, kemana-mana pasti berdua. Sekarang mereka kawan bagaikan kepompong sampai menjadi kupu-kupu. Karena bernasib sama. Dan berprinsip sama, yaitu menghancurkan hubungan Mahen denganku.
"Oy Vel!"
Aku mencari sumber suara, ternyata Rena sudah menungguku dengan 2 helm. 1 dipakai di kepalanya, satu lagi dipangku, di pahanya. Tubuhnya terlihat seimbang dengan motor Ninja yang sedang ditumpanginya. Rena adalah gadis flexible. Dia akan menjadi puteri, ketika bersama David. Dan menjadi bodyguard , ketika bersamaku atau bersama teman-teman perempuan yang lain.
Aku mendekat, lalu mendapat gamparan dari Rena, "Lama amat lo. Mau dipakai in atau pakai sendiri?"
"Pakai sendiri lah."
__ADS_1
Yang dimaksud Rena adalah helm. Dia sering memakaikan aku helm. Soalnya kata dia, aku kalau pakai helm suka nggak bener, bakal lepas kena angin katanya.
Aku menaiki motor Rena, dan duduk di tempat boncengan seperti biasa. Tanganku terulur untuk menerima helm yang di berikan Rena.
Bersamaan dengan aku melihat Mahen melewati depan kami, memakai motor hitam kesayangannya. Disusul dengan Kak Thea yang berjalan sendirian, dengan mata merah seperti habis menangis.
"Gila ya si Mahen. Tega bener ninggalin ceweknya jalan sendirian. Bego tuh cowok."
Iya sih kasihan juga. Jangan sampai punya pacar kayak Mahen, batinku waktu itu. Menyetujui umpatan yang dilontarkan oleh Rena.
Bahuku terasa terguncang, dan kembali menyadarkan aku dari lamunan gila itu. Kembali duduk di kantin, dan kembali pada kenyataan bahwa akulah yang sekarang menjadi pacar Mahen. Akulah yang menggantikan posisi Kak Thea. Dan aku bukan hanya penonton kisah Mahen lagi, tapi akulah lawan mainnya.
Seperti bermimpi, aku akan menghadapi sifat Mahen yang bisa dibilang tidak punya empati kepada perempuan. Aku sering bertanya tanpa jawaban. Apa tujuan Mahen memiliki pacar jika dia tidak siap menjalani konsekuensi untuk menghargai wanitanya?
Ku lirik Mahen yang mulai menggendong ransel sekolahnya. Dia tidak bertanya sedikitpun tentang perubahan sikapku. Sampai akhirnya Lukas menegurku, "Kenapa diem aja sih , Vel dari tadi? Diajak ngomong dari tadi nggak nyaut. Mau pulang nggak lo?"
"Eh iya juga ya. Baru sadar gue. Lo sakit Vel?" Tanya Fitri.
Aku menggeleng pelan, lalu melangkah duluan meninggalkan kantin. Tiba-tiba aku merasa ada yang menindih pundakku.
"Kenapa sayang?"
Mahen ternyata. Kulirik jaket yang dia kenakan. Dan memutuskan untuk menjawab pertanyaannya tadi dengan senyuman.
"Kamu kenapa lagi?" Tanya Mahen ulang, yang kukira ingin memastikan bahwa aku baik-baik saja, atau karena aku sering marah, hingga dia menggunakan kata "lagi" dalam pertanyaannya?
"Mahen, aku boleh tanya sesuatu nggak?"
Tanpa ku sadari, ternyata aku telah menghentikan langkah, yang membuat Mahen juga ikut berhenti.
"Napa berhenti? Keburu hujan nih," celetuk David.
Rena mendekat, lalu menggandeng tangan David, "Udah biarin aja Dav. Kita berempat duluan aja. Biar mereka berdua nyusul."
"Gue tunggu di parkiran ya, Vel." lanjutnya, dengan menepuk pundakku. Aku tersenyum, dan mengucapkan terimakasih tanpa suara. Dibalas oleh senyuman dan anggukan Rena, seolah benar-benar mengerti apa yang aku rasakan dan apa yang aku butuhkan saat ini.
"Oh yaudah. Kita duluan ya Hen, Vel." pamit Rey sembari memlambaikan tangan, lalu mereka berempatpun benar-benar pergi.
Kini, tinggal kami berdua di sini. Ada banyak perntanyaan yang ingin aku perjelas sekarang, tapi lidahku terasa kelu, mulutku enggan mengeluarkan sepatah kata pun.
"Vela, kamu kanapa? Kamu mau tanya apa?"
Mahen bertanya lagi. Bedanya kali ini dia memegang kedua pundakku, dan menatapku dengan tajam.
"Mahen, jawab jujur ya."
Aku menghela nafas lemah.
"Itu jaket yang dulu couple sama Kak Thea ya?"
Dia tertawa. Lalu menoel hidungku, "Siapa yang bilang ke kamu?"
__ADS_1
Apa? Dia tertawa? Ini lelucon? Dia tidak tau apa gimana kalau Kak Thea kesenengan karena dia masih pakai jaket kesayangan mereka dulu?
Kurasa darah tinggiku kumat, "Jadi bener itu jaket yang dia maksud?"
"Dia siapa sih?"
"Tadi Kak Thea bilang ke aku kalau jaket yang kamu pakai itu jaket couple kalian."
"Nggak mungkin lah Vel aku pakai jaket dari dia. Dulu aja nggak pernah aku pakai kok."
"Ya mana aku tau."
"Ini itu emang mirip sama yang dia beli buat aku dulu. Tapi ini jaketnya Bang Faris. Ngadi-adi tuh anak. Tau darimana juga hari ini aku pakai jaket."
Aku tersentak. Iya juga ya. Darimana dia tau Mahen pakai jaket.
"Tadi pagi lihat kamu pas berangkat paling," ujarku
"Emm. Enggak deh. Tadi pagi aku nebeng mobilnya Bang Faris. Ini aja aku pulangnya nebeng si Rey."
Terus tau dari mana? Dari nenek sihir? Niat banget mereka nguntit si Mahen.
Aku cemberut, "Yakin gitu?"
Tangan Mahen terangkat untuk mengacak rambutku, "Yakin sayang. Yuk pulang."
Aku tersenyum lega, kemudian beranjak pergi. Bersama Mahen tentunya. Tak lupa dengan tangannya yang menggandeng tanganku. Manis sekali.
Sesampai di parkiran, aku hanya melihat tiga orang yang sedang asyik tertawa. Rena, Rey, dan David tentunya. Aku melambai ketika mereka bertiga menyadari bahwa aku dan Mahen telah hadir untuk bergabung dengan mereka.
"Udah senyum senyum aja nih," goda Rena. Sepertinya Rena cerita ke mereka berdua tentang apa yang terjadi antara aku dan Mahen tadi.
Aku tersipu malu, "Rena ayo langsung pulang. Udah dicari ayah."
"Yaudah ayo. Dav, aku duluan ya. Nganter Vella dulu. Nanti kamu jadi ke rumah kan?"
"Jadi dong sayang," jawab David yang masih duduk di kursi sebelah tempat parkir.
Aku yang sedang memakai helm pun bedecih, dasar bucin.
Kami berdua, pamit dengan tiga laki-laki yang tersisa di sana. Saat motor Rena mulai meninggalkan parkiran itu, tak sengaja aku melihat ada motor Mahen di dalam.
Ku tepuk punggung Rena, "Eh Ren, lo lihat motor Mahen nggak? Kok gue tadi lihat sekilas kayak motor dia ya?"
"Hah? Enggak. Gue nggak lihat. Lo aja kali yang salah lihat."
Aku hafal kok sama motor hitamnya Mahen. Apa aku salah lihat?
Selang beberapa detik kemudian, aku melihat Kak Thea berdiri di pinggir jalan sendirian. Tangan kirinya membawa helm, dan tangan kanannya memegang ponsel.
Sedang menunggu siapa dia?
__ADS_1