PERIPLE

PERIPLE
10. Gadis Bando Merah


__ADS_3

Sudah berjalan enam bulan aku tanpanya. Tidak ada yang berubah. Aku tetap aku yang seperti ini. Ah iya, ada perbedaan antara dulu dengan sekarang. Kalau dulu aku setiap malam menangis karena memikirkannya, atau karena menunggu pesan darinya, kini aku tidak lagi membuang air mataku secara sia-sia.


Aku disibukkan dengan kegiatan sekolah. Tugas-tugas, pramuka, futsal, dan lainnya. Aku benar-benar lepas kontak dari Mahen, Ica, dan siapapun itu yang berhubungan dengannya sekarang. Waktu squad kami ; Aku, Rena, David, Fitri, Rey, Lukas, dan Syifa (Tapi sekarang jarang ikut), Mahen tidak pernah mau berkumpul kalau ada aku. Bukan masalah bagiku.


Sebentar lagi akan diadakan kompetisi futsal wanita di kotaku. Aku masuk tim inti futsal sekolah yang akan menjadi perwakilan ajang tersebut.


Ternyata tim putri baru pertama kali ini dibentuk di sekolah ini. Tahun sebelum-sebelumnya hanya ada tim putra. Banyak yang mengikuti ekskul futsal, hanya saja untuk tim inti masih diseleksi oleh Kak Harris, selaku kapten futsal umum, sekaligus pemilihan kapten futsal putri yang pertama.


Jangan kalian kira aku yang terpilih. Karena yang pantas menempati kedudukan itu adalah Cita dari kelas sepuluh IPA 2. Dan tim intinya ada Aku, Cita, Niken, Caca, dan Wenda. Aku sebagai anchor, pertahanan dan mengatur serangan, posisinya depan keeper. Wenda sebagai keeper. Niken dan Caca menjadi flank ; Niken bagian kiri, dan Caca bagian kanan. Sedangkan kapten kami Cita, menjadi pivot yaitu penyerang depan.


"Pulang bareng siapa dek?"


Aku menoleh, ternyata ada Kak Harris berdiri di belakang gerbang sekolah tempatku menunggu jemputan.


"Nunggu papa kak."


"Masih lama?" Tanyanya dengan langkah mendekatiku.


Aku mengangguk, "Masih kayaknya. Kak Harris kok belum pulang?"


"Ini. Mau fotokopi syarat pendaftaran futsal besok."


"Eh aku udah ngumpulin kan ya kak?"


Laki-laki itu mengangkat tumpukan kertas yang tidak setebal buku sejarah lalu memicingkan mata, "Kalau syarat futsal sih udah. Tapi kayaknya ada yang kurang deh."


Mataku membulat, "Serius? Kayaknya udah lengkap deh kak."


Kak Harris tertawa, "Yang kurang tuh syarat buat ke pelaminan."


Aku menghela nafas kasar, "Dih Kak Harris mah. Udah serius juga."


"Bercanda dek. Berani sendiri nggak nunggunya? Atau mau ikut gue ke fotokopi an depan dulu?"


Aku menggeleng, "Nggak usah kak. Takutnya nanti papa sampai malah akunya nggak ada."


"Oh iya. Yaudah, gue ke sana dulu ya."


"Iya kak."


Tubuh gagah Kak Harris berlalu melewatiku, tak lama kemudian kakinya menyeberang jalanan yang tak terlalu ramai dengan langkah tegas.


Bak pangeran, dia adalah laki-laki yang bisa dibilang sempurna. Tubuh yang tinggi tegap, dengan berat badan yang sangat ideal jika dibandingkan dengan tinggi badannya, rahang yang tercetak jelas, hidung mancung seperti pelosotan yang sering dimainkan anak TK, dan gigi rapi yang menambah kadar kemanisan dalam dirinya ketika dia tersenyum.


Tanpa kusadari, aku tersenyum melihatnya. Dia melambaikan tangannya di seberang sana. Aku menggelengkan kepala dan menepuk pipiku sendiri. Sudah gila memang.


Satu persatu siswa yang tadinya banyak berdiri di sampingku kini sudah pulang. Sudah bertemu dengan sosok penjemputnya. Tinggal aku dan seorang gadis berambut sebahu mendekap tiga buku paket pelajaran. Jika dilihat dari seragam putihnya yang tidak seputih dengan yang kupakai, sepertinya dia kakak kelas duabelas.


Sudah setengah jam aku berdiri di sini. Kurasa kaki ku mulai pegal. Ku kibaskan kakiku secara bergantian, bersamaan dengan bahuku yang ditepuk pelan oleh seseorang.


"Belum dijemput juga?"


Kak Harris lagi rupanya, "Belum kak. Udah selesai?"


"Udah kok. Biasanya nunggu lama kayak gini juga?"


"Em, iya. Mungkin sampai tiga jam."


Mata Kak Harris membulat, "Tiga jam? Lama banget. Kenapa nggak bareng sama temen-temen aja?"


"Enggak deh kak. Nggak mau ngrepotin mereka."


Tangan Kak Harris terlihat pegal memegang tumpukan kertas yang tebalnya tiga kali lipat dari yang dia bawa sebelumnya, "Gue masuk duluan ya."


Aku mengangguk, "Semangat kak."


Kak Harris membalasnya dengan senyuman lalu beranjak pergi. Tak sampai sepuluh menit, suara motor terdengar dari dalam, dan berhenti tepat di sampingku.


"Ayo!"


Aku menoleh, "Hah?"


Kak Harris membuka helm nya dan tersenyum, "Bareng gue aja. Lo bisa chat ke papa lo kalau udah pulang."

__ADS_1


"Eh nggak usah kak. Rumahku jauh."


"Yang penting lo nya jangan jauh jauh. Nanti rindu kalau kata Dilan."


Aku tertawa, "Seriusan nggak usah."


"Gue juga serius loh ngajak pulangnya. Biar papa lo juga langsung pulang nanti, nggak usah kesini dulu."


Aku bergeming. Iya juga.


"Udah. Buruan naik," Paksa Kak Harris dengan memakaikan helm bogo ke kepala kecilku. Dan tentunya membuatku kaget.


"Jarang-jarang loh gue baik gini."


Jarang apanya? Menurutku dia selalu baik. Dulu waktu kejadian di cafe dia juga menawarkan diri untuk mengantarku pulang.


Dengan terpaksa, tapi sebenarnya tidak terlalu, aku menaiki jog belakang motor merah Kak Harris.


"Pakai dek," Ujarnya sembari mengulurkan jaket yang baru saja dia lepas.


Aku masih bergeming.


"Rok lo pendek," Lanjutnya, yang langsung ku respon dengan menerima jaket yang Kak Harris ulurkan.


"Udah siap?"


"Iya kak."


"Mau kecepatan tinggi atau pelan aja?"


"Terserah Kak Harris aja."


"Yaudah. Gue mau ngebut. Tapi jangan lupa pegangan."


"Yaudah pelan aja deh kak."


"Haha yaudah."


Motor Kak Harris mulai meninggalkan sekolah. Melaju dengan kecepatan pelan, sesuai dengan yang dia katakan tadi.


"Enggak deh kak."


"Nggak suka?"


"Suka kok."


"Yaudah ayo beli."


Aku mengehela nafas pasrah ketika Kak Harris menghentikan motornya di depan minimarket yang terdapat berjajar-jajar jajanan.


Aku dan Kak Harris turun dari motor dan melepas helm kami masing-masing.


"Mang. Ciloknya satu porsi dibungkus ya."


Oh ternyata Kak Harris beli cilok cuma buat dia.


"Ke dalem dulu yuk, ngadem." Ajaknya, dan kubalas dengan anggukan. Memang benar cuaca hari ini cukup panas. Apalagi setengah jam berdiri di depan gerbang tanpa ada yang meminjamkan payung.


"Mang. Saya tinggal ke dalam dulu ya."


"Oke bos." Jawab penjual ciloknya.


Aku mengekor Kak Harris melewati pintu masuk minimarket. Tiba-tiba dia berhenti, "Kok ngebuntutin sih?"


"Kan tadi Kak Harris yang ngajak."


Tangannya menarik tanganku, "Iya. Maksutnya kenapa di belakang. Harusnya kan berdampingan. Gini nih."


Aku tersipu. Kami masih berseragam, dengan jaket Kak Harris yang melingkar di pinggangku. Dia bukanlah Mahen yang menganut prinsip anak sekolah nggak boleh pacaran di depan umum.


Ah tolong ingatkan, bahwa kami tidak berpacaran.


Kak Harris menggandengku menaiki tangga menuju lantai dua. Dan melepasnya ketika sudah sampai di atas.

__ADS_1


Kami menuju tempat pakaian bayi. Melihat dress kecil yang lucu, sepatu yang hanya berukuran satu jengkal, dan baju warna-warni yang sangat menggemaskan.


"Dek sini deh."


Aku mendekati Kak Harris yang sibuk memilih sepatu-sepatu kecil yang didominasi dengan warna cerah. Di tangan kanannya, ada sepatu berwarna merah muda berpita merah yang menutupi bagian depan sepatu itu. Di tangan kiriya, ada sepatu berwarna merah muda dengan glitter memenuhi bagian luar sepatu.


"Bagus yang mana deh?"


Aku memasang tampang berfikir, dan mengalihkan pandanganku ke sepatu-sepatu lain. Kulihat sepatu dengan ukuran sama seperti yang Kak Harris pegang, berwarna cream dan membentuk kepala kucing ketika sebelah kanan dan kirinya di satukan.


"Ini lucu deh."


"Eh iya unik." Katanya dan menaruh kembali dua sepatu yang dia tanyakan kepadaku tadi.


"Buat siapa sih kak?"


"Buat keponakan gue dek."


Aku manggut manggut dan membiarkan Kak Harris mengambil alih sepatu kucing tersebut.


"Yang ini aja deh. Yok lanjut." Katanya dan menggandengku lagi. Kali ini menuju asesoris perempuan. Sepertinya untuk peneman sepatu tadi.


Kak Harris mendekati deretan bando, jepitan, dan hiasan rambut lain. Tangannya terangkat untuk mengambil bando berlapis beludru maroon, yang ada di deretan paling atas.


"Eh maaf."


Ternyata tangannya mendarat di bando itu pada detik yang sama dengan gadis berkaus hitam di hadapan kami.


"Ambil aja nggakpapa." Kata Kak Harris mengalah.


Tanpa rasa sungkan, gadis itu mengambil bando tersebut, "Maaf ya saya ambil."


Kami berdua mengangguk, kemudian dia beranjak meninggalkan kami berdua.


"Yah. Udah diambil."


Aku hanya terkekeh mendengar keluhan Kak Harris. Ku ambil jepit rambut sederhana, berwarna tosca. Tak disangka Kak Harris merebutnya dan memakaikannya di rambutku.


"Nah, cantiknya nambah lima persen," Ujar Kak Harris sembari menepuk nepuk kepalaku.


Aku tersipu lagi. Dia mengambil lebih dari lima jepit rambut dengan warna yang berbeda-beda, lalu memasukkannya ke dalam tas belanja yang sudah berisi satu sepatu.


Waktu aku mau melepas jepit yang ada di rambutku, Kak Harris menahan pergerakanku, "Jangan dilepas. Udah gini aja."


"Tapi malu, nanti di kasir."


"Nggak usah malu. Selama good-looking, semuanya aman."


Aku terkekeh dan membiarkan tanganku digandeng dengan Kak Harris lagi. Kami menuju kasir 1. Dan kulihat di kasir sebelah, antrian paling akhir ada gadis yang tadi sempat berebut bando dengan Kak Harris.


Aku ingin membayar sendiri jepit yang sudah bertengger di kepalaku, tapi Kak Harris memaksa untuk dia saja yang mengeluarkan uang.


Selesai membayar, kami beranjak keluar.


Bruk


"Aduh maaf." Kataku dan berjongkok untuk mengambil barang belanja seseorang yang bertabrakan denganku.


"Eh Mahen?"


"Bang Harris bukan sih?"


Aku mendongak. Dan benar, itu adalah Mahen mantan kekasihku.


"Loh? Sama Vella?" Kagetnya dengan raut wajah yang mebingungkan.


Aku tersenyum dan kembali memungut barang belanjaan yang ternyata milik Mahen.


Bando maroon?


"Eh? Kenapa ini? Kok berantakan?"


Suara seorang gadis yang belum lama kudengar mengalihkan perhatianku.

__ADS_1


Mahen? Bando maroon? Gadis itu?


__ADS_2