PERIPLE

PERIPLE
16. Bunda Hilang


__ADS_3

Kakiku terasa semakin menipis karena sejak tadi sudah sukarela berserepetan langsung dengan panasnya aspal. Akalku terlalu membabi buta untuk sekedar memakai alas kaki.


Tidak peduli dengan orang-orang yang menatapku miris. Mungkin mereka mengira bahwa aku adalah gadis liar yang baru saja mendapat kekerasan karena pergaulan bebas. Atau mungkin ada juga yang mengira bahwa aku adalah gadis yang baru saja berkelahi dengan staff rumah sakit jiwa untuk memaksa bebas. Satu hal yang perlu mereka tau, aku tidak peduli dengan apa yang ada di dalam pikiran mereka.


Langkah tertatihku ini sudah bertahan cukup lama, hingga berkilo-kilo meter jaraknya. Aku tidak merasa lelah berjalan, aku hanya lelah menghadapi segala kenyataan. Membawaku ke sebuah jembatan panjang, yang di bawahnya terdapat sungai yang kukira cukup deras arusnya jika untuk berenang.


Aku berhenti, menatap kosong ke arah air-air yang terlihat sangat tenang. Pipiku terasa kaku dikarenakan sisa air mata yang telah mengering. Setidaknya aku ingin bernafas bebas di sini, tanpa melihat suatu hal yang malah membuatku merasa semakin sakit.


"AAAAAAAA."


Aku berteriak sekancang-kencangnya, seolah orang-orang yang beraktivitas di balik tubuhku ini memiliki gangguan pada fungsi indera pendengaran.


Wajah bunda yang menangis malam itu, dan perlakuan ayah yang menamparku tadi terputar silih berganti di dalam benak.


Tetes demi tetes air telah lolos dari mataku. Aku membalikkan tubuh yang perlahan mulai merosot. Kupeluk lututku, dan menenggelamkan kepalaku di sela-selanya. Cuaca yang sangat panas secara tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin. Tubuhku menggigil, dadaku rasanya sangat nyeri.


Saat tubuhku benar-benar lemas dan akan rubuh, seseorang merengkuhku. Memelukku sangat erat, dan menyandarkan kepalaku di dada bidangnya. Tangis yang awalnya hanya berupa isakan, kini berubah menjadi erangan. Aku menangis sejadi-jadinya. Tubuhku bergetar, tanganku terkulai lemas.


"Keluarkan semua air mata lo, kalau itu bisa ngebasuh luka lo, Vel."


Aku melepaskan pelukannya. Menatap seorang laki-laki yang berjongkok di hadapanku. Laki-laki yang sama, laki-laki yang selalu ada ketika aku merasa tidak berguna di dunia.


Tangannya menangkup wajahku. Mengusap air mataku, mengusap darah yang telah mengering di wajahku, dan mengusap bibir keringku.


"Sakit Vel? Ayo bagi ke gue. Tampar gue, tonjok gue. Jangan cuma lo yang ngerasain sakitnya. Gue juga mau ngerasain apa yang lo rasain sekarang."


Aku menggeleng dengan air mata yang semakin berderai. Dia menarikku kembali dalam peluknya.


"Lo hanya perlu terus melangkah. Memikul setumpuk rasa lelah. Menahan segala sakit yang tak berdarah. Boleh marah, boleh merasa lemah. Tapi jangan sampai menyerah, apalagi berputar arah. Beberapa langkah lagi lo sampai pada kata indah."


Perlahan, hatiku menghangat. Udara dingin yang menusuk tulangku mulai menghilang. Kaki perihku kembali terasa. Tangis nanar, perlahan mengecil menjadi sebuah isakan.


Aku melepas peluknya, "Kas. Bunda gue hilang."


"Kita cari sama-sama ya?" Katanya seolah dia akan benar-benar menemaniku ke ujung dunia sampai aku menemukan bunda.


Lukas mengelus rambutku, kemudian membalikkan badan dan berjongkok di depanku, "Ayo naik."


Tangisku berhenti, dan aku masih bergeming. "Ayo Vella, kita cari bunda."


Dia menarik tanganku dan membawaku dalam gendongannya. Bukan terus seperti ini, tak jauh dari sana Lukas memarkir mobilnya. Dia meletakkanku secara hati-hati, kemudian berputar menuju bagasi dan kembali membawa sebuah sendal jepit berwarna kuning.


Tangannya dengan telaten memakaikannya di kakiku yang memerah. Setelahnya, Lukas melepas jaketnya lalu dipakaikan untuk menyelimuti tubuhku. Terakhir, dia membukakan sebotol air mineral untukku. Tanpa bertanya, dia melajukan mobilnya, bersamaan dengan mataku yang sudah tidak bersedia untuk tetap terjaga.

__ADS_1


...***...


Aku merasakan sesuatu yang hangat menempel di keningku. Dengan mata yang masih berat, kupaksa untuk mengedarkan pandangan di tempat yang tidak asing ini.


"Vella."


Aku menolehkan kepala dari tempat ku terbaring. Ada Rena di sampingku. Dia memegang tanganku dan menangis. Kulepas genggamannya, dan balik menggenggamnya.


"Lo kenapa nangis, Ren?"


"Lo masih tanya kenapa gue nangis setelah lihat keadaan lo kayak gini?"


Dia tersenyum sumir, "Bokap lo kan yang bikin lo kayak gini?" Aku masih bergeming.


"Baru tadi malem gue denger lo cedera. Rasanya kayak mimpi Vel, waktu Lukas dateng ngebopong lo dengan keadaan yang sangat-sangat kacau."


"Lo inget waktu dulu kecil lo sakit dan gue ikutan sakit? Nggak ada bedanya Vel sampai sekarang."


Ah ayolah. Aku sudah lelah menangis, air mataku sudah habis di dalam sana. Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku dan semakin mengeratkan genggaman tanganku saat Rena semakin sesenggukan.


"Apa perlu gue laporin bokap lo ke bokap gue biar langsung ditangkap?" Aku baru ingat bahwa papa Rena adalah seorang polisi.


"Ren? Gue boleh minta tolong?"


Aku mengubah posisi tidurku menjadi duduk, "Bunda hilang, Ren. Bantu gue nyari bunda."


"Gue udah tau dari Lukas, Vel. Tapi kita tunggu sampai nanti malem ya, soalnya nyokap lo hilangnya belum sampai duapuluh empat jam, kan?"


Aku mengangguk, "Tapi darimana Lukas tau gue di sana?"


Rena mengehela nafas, "Mahen yang kasih tau Lukas kalau dia lihat lo jalan kayak orang gila. Dia nggak berani nyamper lo karena dia takut kalau hadirnya dia malah nambah keadaan lo semakin buruk. Makanya dia hubungin Lukas saat itu juga. Mahen tau kalau Lukas juga suka sama lo."


Mataku membulat sempurna. Dua pernyataan yang membuatku sangat terkejut. Mahen yang memberi tahu Lukas, dan Lukas memiliki rasa kepadaku. Demi apapun, aku hanya mengira bahwa Lukas bersikap baik kepadaku hanya sekedar teman, tidak lebih.


"Lo tau darimana? Jangan ngada-ada deh, Ren."


Lagi-lagi Rena menghela nafas jengah, "Lo kenal gue nggak cuma sehari dua hari. Dan lo harusnya tau kalau yang gue tadi ngomong itu serius."


"Lo tau darimana Lukas suka sama gue?"


"Jadi lo sendiri yang nggak tau kalau dia suka sama lo sajak lama?"


"Hah?"

__ADS_1


"Lo tau nggak alasan Lukas sama Syifa putus?" Aku menggeleng.


"Karena Lukas nggak mau bohongin perasaan dia sendiri. Waktu Mahen mulai nyakitin lo, dia nggak bisa tinggal diam. Tapi di sisi lain, dia nggak mau nyakitin hati Syifa. Makanya Lukas memilih untuk putusin Syifa, dan berusaha selalu ada buat lo."


Aku tergelak, "Lo ngomong apaan sih, Ren? Lo ngelantur ya?"


"Vel, lo pura-pura nggak sadar atau beneran goblok sih? Mana mungkin ada cowok yang sepeduli itu sama cewek yang cuma dianggep teman. Gue tanya sama lo, Mahen yang dulu berstatus pacar lo, apa dia ngelakuin apa yang Lukas lakuin ke elo?" Aku menggeleng, tapi masih tidak percaya.


"Lukas suka sama lo bahkan sebelum Mahen suka sama lo, Vel."


Segala perkataan Rena masih sangat sulit kucerna. Aku tidak menyangkal, bahwa semua yang Rena katakan memang benar adanya.


"Sebelum sama Syifa, dia pengen deketin lo tapi lo masih punya pacar Reno yang beda sekolah itu. Dan setelah lo putus, bukannya lihat sekitar, tiba-tiba lo malah jadian sama Mahen yang baru deket berapa hari doang."


Aku merasa kepalaku kembali sakit. Bagaimana bisa serumit ini. Aku jadi berpikir, apakah sakit yang aku terima dari Mahen adalah balasan karena aku selama ini menyakiti perasaan Lukas? Terus bagaimana dengan Syifa? Apa dia tidak menaruh dendam denganku atau malah dengan Lukas? Ini adalah hari yang teramat panjang. Begitu banyak kenyataan-kenyataan yang harus ku telan pahit.


Rena memelukku, mengusap punggungku. Aku tidak menangis sama sekali. Otak kecilku sudah terasa penuh untuk menampung kesedihan-kesedihan yang ku dapat hari ini.


Rena melepas peluknya, "Kenapa bokap lo ngelakuin ini sama lo, Vel? Dia nuduh lo yang buat bunda hilang?"


Aku menggeleng, "Bahkan ayah nggak peduli bunda hilang, Ren."


"Terus kenapa?"


"Ayah mau nikah lagi. Dan lo tau siapa perempuan yang kita lihat di Annyeong Cafe waktu itu? Dia mamanya Kak Harris, Ren."


Kalimat itu sangat cukup untuk membuat Rena sangat terkejut, "Kak Harris temennya Kak Adnan? Yang ketua tim futsal sekolah?"


Aku mengangguk, "Lebih parahnya lagi, dia ngedeketin gue cuma mau ngelancarin balas dendam dia ke bokap gue."


"Maksudnya?"


"Ya mungkin dia juga nggak terima kalau nyokapnya selingkuh. Soalnya tadi pagi dia cerita yang bersangkutan keluarga."


"Tapi nih ya, Vel. Sebenarnya kalau dinalar emang nggak nalar sih. Masa dia tiba-tiba deketin lo dj sekolah, padahal baru pertama kali itu dia ketemu sama lo."


Benar juga. Kenapa Kak Harris memilih aku untuk dia dekati, padahal teman-temanku banyak yang jauh lebih menarik dariku.


"Jadi ini semua karena ulang Harris bangsat itu?"


Aku dan Rena menoleh. Kudapati tiga laki-laki yang berjalan beriringan mendekati kami. Mereka adalah Lukas, David, dan Mahen.


Apalagi setelah ini?

__ADS_1


__ADS_2