
"Jujur, gue juga baru tau kalau anak dari pacar nyokap gue itu elo, Vel."
Kak Harris menghela nafas panjang, "Waktu lo di rumah gue, dan lihat reaksi lo dengan mobil yang ada di depan, gue masih bertanya-tanya apakah yang ada dipikiran gue itu benar?"
Aku melihat Kak Harris yang duduk di sampingku mulai menunduk. "Dan waktu di lapangan sewaktu pertandingan, gue tau yang bikin lo jatuh adalah cewek yang ada di minimarket sama Mahen waktu itu. Gue pikir, selama lo deket sama Mahen, hati lo selalu ngerasain sakit. Jadi gue putusin buat ungkapin perasaan gue waktu di pantai. Gue pengen selalu ada buat lo. Sampai akhirnya gue ke rumah lo buat nganter pulang. Di sana pertanyaan-pertanyaan gue terjawab. Gue sangat kaget waktu itu. Bahkan sengaja pengen cepet-cepet pergi karena belum siap lihat kenyataan yang terlalu pahit. Yang dikatakan ayah lo itu bener, gue emang pernah ngomong sama dia kalau pengen balas dendam, tapi gue nggak tau kalau keluarganya itu elo."
Suaranya bergetar. Tapi tidak mengeluarkan setetespun air mata. Jika memang benar, kak Harris pasti merasakan hal sama dengan yang aku rasakan.
"Gue nggak pernah nyesel udah sayang sama lo. Bahkan gue bersyukur bisa sayang sama orang yang memang benar-benar butuh kasih sayang. Bokap sama nyokap gue udah cerai satu tahun yang lalu. Papa sekarang balik lagi ke Korea, gue sama adik gue ikut mama tinggal di Indonesia karena kemauan dari kami berdua. Tapi ternyata keputusan gue buat tinggal sama mama itu sedikit salah. Beberapa hari setelah papa pergi, mama bawa pulang laki-laki lain. Sering bercumbu tanpa tau waktu."
Sontak, mataku membulat sempurna. Kalimat terkahir kak Harris membawa ingatanku kembali ke masa itu. Aku pernah menemukan sendal jepit berwarna merah muda di mobil ayah. Aku juga pernah menemukan lipstick merah tua di laci dashboard mobil ayah. Tanpa bertanya, aku mengira itu semua milik bunda. Karena yang kutahu ayah adalah orang yang paling setia, waktu itu.
"Gue minta maaf udah buat lo lebih hancur. Lo boleh benci sama gue, tapi ijinkan gue buat bertanggung jawab sama luka yang udah gue beri selama ini. Biarin gue nyembuhin trauma gue juga lewat rasa sayang yang gue beri buat lo."
Padangan kami saling bertemu. Matanya memerah, rautnya menunjukkan bahwa dia sedang membutuhkan tempat untuk bersandar. Aku bisa melihat bahwa matanya telah tak kuasa membendung air mata yang memberontak untuk keluar. Ketika dia menunduk dan menutupi wajahnya dengan ntelapak tangannya yang lebar.
Aku menarik tubuh kekarnya kedalam pelukku. Punggungnya mulai bergetar. Mulai terdengar isak tangis tertahan seirama dengan tanganku yang mengusap punggungnya.
Setelah sedikit tenang, dia menegakkan tubuhnya kembali. Tangannya tergerak mengusap airmata yang tak kusadari ikut menetes sejak tadi.
"Kenapa ikut nangis?" tanyanya.
"Ternyata yang selama ini jahat itu bukan Kakak, tapi aku." Jawabku kembali memakai aku-kamu. "Kita harusnya saling menguatkan kan?" Lanjutku dengan suara parau.
"Terlalu berengsek nggak sih kalau gue minta lo maafin gue, dan kita kembali dekat lagi?"
Aku tertawa dalam hati. 'Kita' ya? Aku lupa bahwa kita sudah sedekat itu dalam waktu yang singkat.
"Terlalu berengsek nggak sih kalau aku nggak memaafkan seseorang yang seharusnya mendapat permintaan maaf dariku?" jawabku.
"Pelan-pelan ya, Vel. Kita perbaiki yang udah rusak."
__ADS_1
Aku mengangguk, "mau minum sampai mabok nggak?"
"Jangan ngadi-adi deh. Haram."
"Mabok Coca-Cola, Kak."
"Nanti lambung lo kambuh."
"Please. Sekali ini aja."
"Besok sekolah, Vel."
"Aku mau bolos. Mau jenguk bunda."
"Yaudah gue ikut."
"Jadi mabok ya? Please."
"Yeyyy!" Kataku bersorak kemudian beranjak ke dapur.
Aku mengambil satu cola berukuran besar, sedangkan kak Harris mengambil dua sloki. Alih-alih kembali ke ruang tamu, aku mengajak kak Harris ke ruang tengah.
Aku mulai membuka tutup botol cola, tapi tidak bisa terbuka walaupun sudah lebih dari satu menit lamanya. Hingga akhirnya kak Harris mengambil alih botol tersebut, dan terbuka dengan mudah, hanya dengan beberapa detik saja.
Dia menuangkan air bersoda itu memenuhi gelas kecil milikku, lalu menuangkan di gelasnya. Tidak ada tos, karena ini bukan sebuah pesta. Kami sama-sama berduka, dan ini bukan sebuah perayaan. Aku biasa mabok cola ketika berada di tingkat stress yang tinggi.
Jangan ada yang bilang bahwa aku tidak bersedih. Sedihku teramat dalam, sehingga aku tidak tau lagi harus bagaimana mengekspresikannya. Terasa benar-benar kosong.
Sesaat, bahkan aku lupa apa tujuanku hidup, lupa masih adakah seseorang yang bisa menggantikan posisi bunda sebagai seseorang yang aku kagumi. Ah tidak, tidak akan pernah ada, selamanya.
Aku menelan satu gelas cola itu sekali tenggak. Kak Harris mengernyit saat melihat raut wajahku yang tampak biasa-biasa saja seolah yang kuminum itu hanyalah air putih. Terasa hambar di indra penyecapku, seperti hidupku sekarang. Seperti hidupku tanpa bunda.
__ADS_1
Aku mengisi ulang sloki yang telah kosong itu, berulang kali, silih berganti dengan kak Harris. Kutatap nanar botol yang sudah kosong itu. Hening, tidak ada sedikitpun suara yang terdengar. Ataukah otakku terlalu penuh sehingga tidak mampu lagi menerima suara dari telinga?
Aku berdiri dari tempatku duduk, tapi tangan kak Harris lagi-lagi menahanku.
"Mau kemana?"
"Ambil lagi."
Dia menghela nafas panjang, dan menarikku untuk kembali duduk. Bedanya, kini aku dan dia berjarak hanya sekitar satu jengkal. Kami duduk di karpet beludru merah yang bunda beli setahun yang lalu. Bersandar pada sofa, disusul dengan tangan kak Harris yang menyandarkan kepalaku ke bahunya.
"Gue masih ngerasa kalau beberapa hari ini itu mimpi buruk. Gue berharap ada seseorang yang bangunin gue setelah ini."
"Semakin berat cobaan, rasanya semakin ringan isi kepala kita ya, Kak. Kayak tadi waktu aku bangun, terus keluar kamar. Aku sekarang lupa kapan aku membuka pintu itu, kapan aku menuruni tangga."
Dia tersenyum tipis, "gue kangen papa."
"Aku kangen bunda. Di tempat ini, aku sama bunda selalu menghabiskan waktu berdua. Sering sampai larut malam, nonton drakor yang kami suka sambil nunggu ayah pulang kantor. Tapi ternyata, ayah yang selalu terlambat itu bukan karena lembur seperti yang beliau katakan lalu kami percaya. Sampai detik ini aku masih merasa bahwa bunda itu belum benar-benar pergi. Aku merasa bunda masih ada di sini. Aku ... "
Suaraku kembali bergetar. Sulit sekali untuk mengungkapkan. Bisa saja aku pergi tanpa tau arah lagi jika tidak ada kak Harris yang duduk di sofa ruang tamu beberapa menit yang lalu.
"Ada lagu baru. Mau gue puterin?"
Aku mengangguk sebagai jawaban. Kak Harris mengambil ponselnya yang semula tergeletak di meja kecil yang tak jauh di hadapan kami. Dari intronya saja sudah membuat suhu sekitar menurun.
"Jangan berlarut dalam sebuah kesedihan, Vel. Gue percaya lo masih ngerasa seperti itu karena memang bunda lo masih di sini. Di dalam hati lo. Semakin lama lo merelakan, semakin lama juga lo memulai kebahagiaan."
Lirik lagu yang sangat menyayat hati. Lagu terputar begitu mulus. Mendayu, mengundang air-air langit untuk turun menyertai kesedihan kami berdua. Di luar sana hujan semakin deras, menelan suara musik yang tadinya terdengar keras saat memecah keheningan.
"Jangan sedih. Ada gue di sini." Ujar kak Harris.
Jarak kami sudah sangat dekat sekarang. Kesedihanku semakin membuncah. Tangan kak Harris menangkup wajah kecilku. Ibu jarinya dengan lihai mengusap air mataku. Samar, aku melihat matanya yang memerah. Sampai akhirnya aku merasakan sesuatu yang menyentuh bibirku. Manisnya rasa cola kembali menyentuh lidahku. Kami bertaut, tanpa paksaan.
__ADS_1
Sekali lagi, ini bukan sebuah pesta. Kami hanya sama-sama membutuhkan tempat untuk bersandar.