PERIPLE

PERIPLE
Sebuah Kehilangan


__ADS_3

Aku berlari sekuat tenaga tanpa memperdulikan orang-orang yang mengumpat karena tidak sengaja kutabrak. Kulihat ayah dan mama kak Harris berdiri di depan kamar mayat. Lukas saat ini sedang berada di kantor polisi untuk menjadi saksi karena dia termasuk salah satu orang yang beretemu bunda terakhir kali.


Polisi mengabariku bahwa tim SAR menemukan mayat di pinggir sungai daerah sebelah. Dengan keadaan tubuh yang hancur sehingga tidak bisa dikenali. Tapi hal yang mengejutkan adalah pakaian yang dikenakan mayat itu sama persis dengan pakaian yang katanya Lukas dikenakan bunda waktu ke rumah sakit. Di jembatan itu bahkan tidak terpasang satupun cctv.


Dengan sisa tenaga, aku mendorong tubuh ayah dengan kasar, "Kenapa ayah nggak mau bunda otopsi, Yah?"


Pihak rumah sakit sudah menyarankan untuk melakukan otopsi, tapi ayah yang sebagai walinya tidak menginginkan adanya tindakan tersebut. Padahal satu-satunya cara agar kami tau apa penyebab hancurnya tubuh itu adalah dengan otopsi.


"Vela, ayah nggak rela tubuh bundamu lebih hancur lagi."


Dengan air mata yang masih berderai, aku tersenyum sumir. Tidak mau melihat bunda hancur katanya?


"AYAH YANG BUAT BUNDA KAYAK GINI, BISA-BISANYA AYAH PAKAI ALASAN ITU?"


"Kalau ngomong sama orangtua jangan pakai nada tinggi, Vela!" Aku melirik tajam ke arah mama kak Harris yang membela ayah.


"Ini urusan keluarga saya. Anda tidak usah ikut campur."


Ayah menarik tanganku kasar, "Dia sebentar lagi jadi ibumu."


Aku menghempaskan tangan ayah. Berjalan mendekati wanita di sampingnya itu, "Jangan bilang anda yang sengaja buat bunda kayak gini?"


"Kalau ngomong jangan sembarangan ya!"


"Karena saya lihat cuma kalian berdua yang tenang-tenang aja dalam keadaan kayak gini."


Tangan ayah sudah terangkat untuk menamparku. Aku sudah bersiap diri. Tapi, dengan jarak tersisa beberapa senti seseorang menahan tangannya.


"Tolong tenang. Ini di rumah sakit apalagi dalam keadaan berduka. Jika anda tidak merasakan duka, setidaknya pahami perasaan putri anda. Jangan memperburuk keadaan."


Laki-laki itu menggenggam tanganku dan membawaku pergi dari tempat itu. Dia mengajakku keluar dari rumah sakit, melewati taman, dan berakhir duduk di kursi putih panjang.


Dia melepas genggamannya, lalu meraih kepala kecilku dan menyandarkan di bahu lebarnya.


"Lo boleh nangis. Jangan biarin kesedihan membeku di hati lo."


Untuk terbuka saja, mataku terasa sangat berat. Kepalaku benar-benar pusing tak tertahan.

__ADS_1


"Maafin gue. Ternyata sikap gue ke lo selama ini semakin ngehancurin hidup lo. Maafin gue. Harusnya gue jadi satu-satunya laki-laki yang buat lo bahagia."


"Mahen, kenapa lo ikutan bolos kayak Lukas?" Tanyaku lirih.


Mahen mengelus surai hitamku. Dunia yang ada di depan mataku kini berputar sangat hebat. Udara disekitar menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Dengungan keras terdengar sangat memekak di telingaku. Kepalaku sangat sakit, hatiku sangat hancur. Aku tidak bisa merasakan sedikitpun oksigen masuk melewati hidung. Perlahan, semuanya menggelap.


...***...


"Vel?"


Dengan mata berat, aku menoleh ke samping ranjang tempatku berbaring. Masih terlihat seseorang yang sama seperti terakhir kali sebelum pingsan.


"Mahen? Bunda udah di bawa pulang?"


Dia menggeleng, "belum."


"Hen, anterin gue pulang sekarang."


"Nggak. Lo masih butuh istirahat."


"Ck. Istirahat bisa nanti, bisa besok, gue mau lihat bunda buat terakhir kalinya! Kemarin gue nggak ketemu bunda di rumah sakit ini karena gue nggak bangun-bangun."


Dia berjongkok di depanku, "ayo."


"Apaan sih! Gue bisa jalan sendiri."


"Kalau lo mau cepet pulang nurut sama gue, Vel."


Aku menghela nafas panjang. Lalu menuruti perintah Mahen untuk naik ke punggungnya. Kami melangkah keluar dan bertemu dengan Lukas yang berlari dari arah pintu masuk.


"Ikut mobil gue aja." Kata Lukas.


Di mobil Lukas, kami sama-sama terdiam. Pikiranku jauh melayang. Setelah memakan waktu yang cukup lama, kami tiba di rumah. Bendera putih sudah terpasang. Aku turun dari mobil, dan disambut dengan pelukan duka dari sanak saudara. Mereka menangis, tidak ada bedanya denganku. Di samping adik ibuku, ada Rena. Matanya sudah membengkak. Lagi dan lagi, dia memelukku erat. Gadis itu membawaku memasuki rumah, dan melewati kerumunan. Tanpa menyentuh air sedikitpun, aku mengganti segala pakaianku dengan pakaian serba hitam. Bunda akan dikuburkan di makam yang tidak jauh dari rumah.


Terdengar raungan sirine ambulance yang membuat aku kembali ke dalam mimpi buruk. Jenazah bunda di bawa masuk ke dalam. Dengan langkah teratih, aku dan Rena bergabung dengan orang-orang yang akan menyolatkan almarhumah bunda. Tidak boleh menangis di depan jenazah, aku tau itu.


Berpuluh-puluh orang beriring mengantarkan bunda sampai tempat pengistirahatan terakhir. Di dalam liang lahat sudah berdiri dua adik bunda, dan ayah. Aku melihat penyesalan yang terpancar dari netra ayah. Kulihat jenazah yang sudah di turunkan, dan di terima oleh mereka bertiga. Entah hanya perasaanku saja, atau memang angin berhembus bertambah kencang.

__ADS_1


Dengan hati yang sepenuhnya ku serahkan kepada Tuhan, aku benar-benar berdo'a agar bunda diberi tempat yang lebih dari kata layak di sisi-Nya. Jika membutuhkan saksi, aku adalah salah satu saksi yang berani bersumpah bahwa bunda adalah orang baik selama hidup di dunia. Aku benar-benar berharap supaya sakit yang bunda rasakan selama menjalani kehidupan dunia, terbalas dengan baik di kekalnya kehidupan akhirat. Aku percaya Tuhan mengambil bunda karena Tuhan sangat menyayangi bunda lebih dari siapapun. Semoga wajah bunda yang mulai mengeriput, tangan bunda yang mulai kasar karena pekerjaan mulia, berubah menjadi bidadari paling cantik di surga.


Andai aku tau bahwa pertemuan di rumah adalah pertemuan terakhirku dengan bunda, aku tidak akan pergi untuk bertanding futsal. Andai aku tau jika itu adalah pertemuan terakhir, maka aku akan bangun dari tidur ku di rumah sakit kala itu. Bunda,


Aku memaksakan tersenyum di hadapan bunda untuk terakhir kalinya. Rena yang selalu setia merangkul pundakku, semakin mempererat rengkuhan. Terimakasih bunda, telah mau menjadi seorang ibu yang bersedia melahirkanku dengan selamat. Terimakasih bunda, telah mampu mengajariku bahwa kita harus selalu berbuat baik sampai akhir. Terimakasih, telah mampu berdiri kokoh di atas tumpukan paku yang runcing. Bunda, andai aku bisa memelukmu, aku akan menyampaikan betapa banyaknya rasa sayangku kepadamu.


Selamat tidur bunda. Aku menyayangimu.


...***...


Aku membuka mata dengan sangat enggan. Bukan berarti tidak berkenan hidup, tapi aku merasa ingin diistirahatkan setidaknya tiga hari. Entahlah ini perasaan apa. Kulihat jam dinding yang sudah lebih dari sepuluh tahun mendekam di kamarku. Jam dinding berbentuk hello kitty pemberian ayah di malam tahun baru.


Jarum jam menunjukkan pukul 12 malam. Pergantian hari setelah hari-hari berat. Aku masih enggan melepas pakaian serba hitam yang kukenakan tadi. Tidak terdengar sedikitpun suara dari luar.


Aku bernajak dari kamar untuk menuju kamar mandi, ingin membersihkan diri yang telah kacau. Saat melewati ruang tamu, sepasang mataku menangkap seorang laki-laki yang duduk di sofa sembari memainkan ponsel.


Seperti tidak melihat, aku mempercepat langkahku untuk pergi dari sana. Tapi laki-laki itu menarik tanganku dengan cukup keras sehingga berakhir aku duduk di pangkuannya.


Sesaat, aku bisa memastikan mata laki-laki ini sembab karena habis menangis. Aku mendorong keras tubuhnya, dan begegas berdiri dari pangkuannya. Tanganku melayang dan mendarat di pipi mulusnya dengan suara nyaring.


"Berengsek lo, Kak!"


Kak Harris menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Vel. Yang dikatakan sama bokap lo itu bukan yang sebenarnya terjadi."


"PERGI LO DARI SINI!"


"Vel. Gue beneran sayang sama lo."


Dia menggenggam tanganku, lalu tanpa berpikir panjang kehempaskan dengan kasar, "oh. Harusnya gue ya yang pergi dari sini."


"Kalau lo pergi, gue ikut pergi, Vel."


Aku tersenyum simpul, "bisa-bisanya lo bilang kayak gitu setelah lo dan nyokap lo bikin bunda nggak ada?!"


"Vel. Beri gue waktu buat ceritain semuanya. Gue tau semua jawaban dari beberapa pertanyaan yang ada di benak lo."


Aku berdecih. Tidak munafik, aku memang terpancing dengan kata-kata yang dia ucapkan itu.

__ADS_1


"Vel. Sekali ini aja. Biar gue jelasin. Setelah lo denger penjelasan gue, lo bebas mau ngapain. Lo boleh menjauh dari gue, lo boleh benci sama gue. Tapi please, kasih gue ruang buat jelasin semuanya."


__ADS_2