
Namaku Wijaya, tapi lebih akrab dipanggil Jay. Umurku saat ini memasuki kepala tiga, namun tetap saja aku masih perjaka. Penampilan ku tidak terlalu buruk sebenarnya, bahkan bisa dibilang cukup tampan dengan mata sipit, hidung kecil dan bibir manis ku. Tapi entah mengapa, aku selalu merasa kecil di bandingkan dengan dua abang ku. Aku kurang percaya diri untuk memulai hubungan cinta dengan siapapun. Berbeda dengan kedua kakak ku yang selalu gonta ganti pasangan.
Hidup di tengah keluarga kaya, tidak membuatku merasa angkuh. Namun, aku selalu merasa bak seekor semut ditengah keluarga ku yang bergelimang harta. Itu berawal saat ulang tahunku yang ke-10, tepatnya saat aku di khitan. Saat itu aku masih berdasi merah, berambut ala-ala batok kelapa dan masih cengeng. Entah kenapa aku selalu tertawa setiap mengingat masa kecilku.
"Jay, ini tidak akan sakit" ucap dokter yang akan menghitan ku.
Aku memejamkan mata sambil menangis. Mama dan papa ku berusaha menenangkan. Sedangkan kedua abang ku malah mengejek ku dari sudut ruangan.
Dokter berusaha membujuk ku dengan coklat, tapi aku tidak suka. Rasanya yang menurutku tidak terlalu manis karena ada sensasi pahitnya terbayang jelas di benak ku.
"Aku maunya permen susu" rengek ku.
Lalu mama mengambil nya dari tasnya, karena sudah paham apa yang menjadi kesukaan ku.
"Ini sayang" mama menyodorkan beberapa bungkus permen susu padaku.
Aku langsung meraihnya. Mood ku kembali ceria saat permen susu berasa strawberry mulai menempel di lidahku.
"Ini akan seperti digigit semut, tidak akan sakit Jay. percayalah" ucap dokter sambil mengoleskan cairan dingin di perjaka mungilku.
"Tetap saja sakit dok, karena yang digigit semut itu adalah adiknya semut" seru Roni, abang pertamaku mengejek.
"Iya, itu sangat kecil sampai semut pun akan mengira jika itu adiknya" timpal Ardi, abang kedua ku.
Aku melotot kearah mereka.
"Semut kecil mama ini lah suatu saat yang akan membahagiakan keluarga kita" mama berusaha menghiburku dengan nada lembutnya. Dan kemudian beranjak mengajak kedua abang ku pergi dari tempat itu.
Tinggal lah tersisa papa dan dokter di samping ku. Aku mencoba menenangkan diri. Ku pejamkan mataku sambil mengingat kata mama.
"Ah berarti tidak buruk menjadi semut. Kata mama, semut lah yang akan membuat keluarga kami bahagia. Baiklah, mulai sekarang aku akan menjadi semut yang berbakti" batinku sambil membayangkan menjadi pangeran semut.
"Sudah selesai Jay, anak pintar" ucap dokter membuyarkan lamunan ku.
"Sudah dok? Apa semut ku baik-baik saja sekarang? " tanyaku polos sambil menunjuk perjaka ku.
Awalnya dokter dan papa bingung dengan kata-kata ku, tapi akhirnya mereka mengerti maksudku. Mereka tertawa bersamaan.
"Anak lain lebih suka menyebutnya burung, Jay. Kenapa kok kamu sebut semut? " Dokter menggodaku
"Mungkin karena punya mereka besar, jadi itu seperti burung. Sedangkan punyaku, tidak sebesar burung, dok" jawabku polos
Mereka kembali tertawa sambil menggeleng kan kepala.
__ADS_1
Aku tidak memperdulikan mereka, karena yang ada di bayanganku adalah pangeran semut yang memakai mahkota di kepala nya. Sama seperti film kartun yang pernah aku tonton.
Sejak saat itu, aku lebih sering menyebutku sebagai sang semut. Apalagi setiap berada di dekat abang-abang ku, aku merasa kecil. Mereka yang dengan perawakan tubuh besar, terlihat gagah dan keren mewarisi postur tubuh ayahku. Sedangkan aku, bertubuh kerempeng dengan tinggi hanya 165 cm. Hampir sama dengan tinggi mamahku.
Ya, memang banyak yang bilang kalau aku mirip dengan Mamahku. Kulitku yang kuning, serta hidung mungilku itu sangat mirip dengan mamah.
***
Dert drrrttt drrrttt
Getar HP membangunkan aku dari tidur nyenyak ku. Aku meraih HP dan melihat panggilan masuk.
"Raya memanggil"
Aku letakan kembali HP ku setelah membacanya.
Raya adalah cewek abang ku yang kedua, bang Ardi. Entah kenapa setiap mereka bertengkar, selalu saja merepotkan aku. Padahal aku sendiri pun belum pernah merasakan dunia per pacaran.
Aku sempat menghayal memiliki gadis manis, dengan sikap yang anggun seperti mamahku. Aku juga sudah menyiapkan panggilan istimewa untuk pacarku kelak.
*SEMUT MANIS*
Apa perlu *SEMUT BETINA* saja? Biar kompak dengan aku, sang semut perjaka.
Ah entahlah, yang jelas jantungku berdegup kencang setiap aku menghayal kan tentang kisah percintaan.
Aku semakin malas untuk beranjak bangun.
"Masalah apa lagi sekarang? " gumamku
Baru satu minggu yang lalu aku membantu mendamaikan mereka berdua, hanya karena telat nelpon.
Dan sekarang sudah ada drama baru lagi.
Oh shiit, harusnya mereka tau posisiku. Aku yang masih perjaka dari ujung kaki hingga ujung rambut ini.
"iya kak, ada apa? " akhirnya aku mengangkat telpon Raya.
"Jay, tolong aku.... hiks hiks" ucapnya.
Seperti biasa, dia menangis setiap meminta tolong padaku.
Drama baru apa kali ini, batinku sambil membuang nafas kasar.
__ADS_1
"Bang Ardi jahat, Jay. sroooooottt... "
suara itu membuatku tersentak dari tiduran ku.
Njiiiirrr jorok amat, batinku. Aku memang orang yang jijik dengan hal-hal yang berbau ingus, kentut dkk.
"Putusin aja kalok jahat" ucapku ngawur
Bukan nya menjawab, Raya malah semakin histeris.
Waduh salah ngomong nih, batinku.
"Udah Jay, bang Ardi mutusin aku... hiks hiks..... Sro..... " sebelum terdengar jelas, aku menjauhkan HP dari telinga ku sambil bergidik.
"Dia mutusin aku karena aku lagi halangan... hiks hiks" ucapan nya membuat aku bingung.
Apa hubungannya halangan sama putus.
"Emang kenapa kalok halangan? " tanyaku tak mengerti.
Maklum aku belum tamat bab PDKT, jadi aku merasa super tolol di bidang ini. Tapi anehnya, semua kekasih Abang ku selalu mengadu padaku setiap bertengkar dengan Abang ku.
"Iiiiiih Jay, please deh. Kalok tolol jangan pakek banget" bentak raya.
Anjir ni cewek, udah minta tolong tapi bahasa nya kasar amat, batinku geram.
"Kakak kan tau, aku gak paham soal pacaran. Lagian ngapain curhat ke aku. Sono curhat sama bang Roni. Dia lebih jago urusan beginian. " ucapku ketus.
"Ogah, yang ada aku mempermalukan diri sendiri" sahut Raya jutek.
"Kok bisa? " tanya ku
"Iiiiiiiihhhh....... kamu tuh yaaaa. " raya semakin kesal.
Aku tak menyahut ucapannya.
"Awalnya aku pacaran sama bang Ardi tuh buat manas-manasin bang Roni. Karena aku ditolak sama bang Roni" Raya menjelaskan.
Entah kenapa tiba-tiba aku tertawa mendengar penjelasan raya.
Mendengar aku tertawa, raya mematikan telpon nya. Mungkin marah, tapi terserah lah. Lagian juga aku hanya Konsultan gratis, batinku.
Aku masih tertawa, semudah itu mereka berganti perasaan. Cinta bagi mereka adalah permen karet, yang setelah hilang manisnya mereka buang begitu saja.
__ADS_1
Sedangkan aku, sangat menghargai apa itu cinta. Tidak akan aku serahkan hatiku untuk sembarang orang. Aku harus benar-benar memastikan bagaimana hatinya dulu sebelum menjalani hubungan. Tapi kapan aku memulai cinta ku? Entahlah, aku pun tidak tau.
... bersambung.