Perjaka Sang Semut

Perjaka Sang Semut
Kekasih bang Roni


__ADS_3

***


Semenjak hari itu, hidupku kian berwarna. Hari-hari aku lalu dengan penuh semangat. Hatiku bagaikan taman bunga yang sedang bermekaran. Tak sehari pun ku lewati tanpa Aisyah. Bukan hanya bercanda saat bertemu di kedai, tetapi juga selalu berkirim pesan sampai malam. Perasaan cinta di hatiku pun semakin menggebu-gebu. Ingin rasanya segera ku ungkap kan perasaan ku ini. Tapi... lagi-lagi aku bingung untuk memulai nya.


" Cieeee yang lagi kasmaran." ejek Bembi menggoda ku.


" Cieeee cieeeee." Safira pun ikut meledek ku.


Aku hanya tersenyum sumringah mendengar ejekan dari mereka.


" Jadi kapan nih mau diresmiin?" tanya Bembi padaku.


" Resmiin apanya Bem?" tanya ku santai.


" Ya... hubungan kalian. Dia udah tau perasaanmu kan, mut?" pertanyaan Bembi membuatku bimbang.


" Aduh... kalok itu sih aku gak yakin, Bem. Kira-kira dia udah tau belum yah? " ucapku cemas.


" Ya ngomong dong, biar dia tau." celetuk Safira.


Aku menghela nafas panjang.


" Kayaknya belum waktunya deh... soalnya baru satu bulan kami deket." ucapku ragu.


" Ya elah mut... emang mau nunggu berapa bulan?? 4 bulan? 6 bulan? setahun? seeet... dah. Mau ngungkapin perasaan apa mau kredit motor sih?" celetuk Bembi.


" Ya gak gitu juga sih, Bem... tapi aku kan butuh keyakinan. Sebenarnya dia tu nganggep aku apa. Kan aku belum tau perasaan dia gimana ke aku. Kalok aku sekarang buru-buru ngomong, takutnya ntar dikira aku player." ucapku membela diri.


" Kalok gak buru-buru, nanti keburu dianya di ambil orang, semuuuuttt. Emang kamu mau?" ucap Bembi gemes.


" ya gak mau lah." jawabku tegas.


" Makanya itu buruan ngomong." ucap Safira yang seperti nya ikutan gemes.


" Bantuin cari tau tentang perasaan dia dong." ucapku yang membuat Bembi dan Safira semakin gemes padaku.


" Ya ampun semuuuuttt... Tinggal ngomong aja apa susahnya sih. Toh kamu sama dia ya sering ngobrol." Bembi semakin geram.


" Kalok dianya gak suka sama aku, gimana?" tanyaku penuh keraguan.

__ADS_1


" Kalok itu sih udah resiko, mut. Namanya kita suka sama seseorang. Harus bisa terima dua kenyataan. kenyataan pertama, dia juga suka sama kita... dan yang kedua, dia gak suka sama kita. Kita harus siap dengan apapun resikonya nanti." celoteh Bembi menjelaskan.


" Aaaah tauk deh, aku pamit pulang." ucapku sambil berdiri.


" Loh kok malah pulang sih...?" ucap Safira dan Bembi serentak.


" Iyaaaaa... hari ini aku mau nemenin mamah belanja. Soalnya nanti malem ada acara keluarga. Kata mamah sih.... bang Roni mau ngenalin pacarnya ke keluarga." jawab ku.


" Serius, mut? Bang Roni sekarang punya pacar?" tanya Bembi terkejut. Dia tau bagaimana watak kedua abang ku. Mereka hanya suka main perempuan, tapi kalok untuk serius itu mustahil bagi mereka.


" Gak tau... ya mungkin, bisa jadi. Siapa tau memang bang Roni udah mulai berubah." jawab ku sambil mengangkat bahu.


" Ya udah deh... aku balik duluan yah. Nitip kedai..." ucapku seraya berlalu pergi.


***


Malam harinya...


Aku sedang membantu mamah menyiapkan hidangan makan malam. Sudah seminggu ini pembantu kami izin pulang kampung, ada urusan keluarga. Jadi mamah meminta ku membantunya.


Hari ini mamah masak banyak sekali. Mungkin spesial menyambut pacar bang Roni. Mamah pasti bahagia mendengar bang Roni punya pacar. Selama ini mamah selalu berharap abang ku itu segera bertaubat dan menemukan pasangan yang tepat. Dan malam ini, impian mamah jadi kenyataan.


Ting tung... ting tung...


" Mungkin itu mereka sudah sampai, Jay. Tolong kamu buka kan pintunya yah..." perintah mamah padaku dengan senyum mengembang.


" Iya mah." jawabku sambil berjalan ke ruang tamu.


CEKLEK!!!


Aku membuka pintu dengan semangat, namun senyum itu hilang saat aku melihat wanita yang datang bersama bang Roni.


" A... Aisyah." aku terkejut.


" Mas Jay." Dia pun tak kalah terkejut nya.


" Kalian udah saling kenal?" tanya bang Roni pada kami yang masih terdiam.


Aku merasa jantungku serasa berhenti berdetak. Hatiku terasa ngilu bagai di sayat-sayat. Tubuhku melemas tanpa daya.

__ADS_1


Aku masih mematung saat bang Roni menggandeng tangan Aisyah masuk kedalam rumah. Ku lihat Aisyah berjalan menunduk.


Mereka sudah sampai di ruang tengah dan disambut dengan tawa bahagia mamah. Sedangkan aku masih mematung di depan pintu. Aku bingung harus berbuat apa. Tidak mungkin bagiku untuk marah pada bang Roni. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan mamah.


Ini juga bukan salah Aisyah, karena dia tidak tau perasaan ku. Ini salahku, harusnya aku tidak membuang-buang waktu. Sekarang aku harus bagaimana? Aku sangat bingung harus bersikap apa didepan mereka.


" Pinter anak papah... padahal papah belum mencet bel, udah di bukain pintunya." ucap papah yang tiba-tiba sudah ada di hadapan ku. Disusul dengan bang Ardi di belakang nya.


" Tumben amat jadi manis gini adik abang..." ucap bang Ardi sambil menepuk pundak ku.


***


Dimeja makan...


Tampak bang Roni dan Aisyah sedang bercanda bersama mamah. Aku berjalan mendekat dengan perasaan rapuh.


" Ayo sini, Jay!! " seru mamah setelah melihat ku datang. Aku duduk tepat berseberangan dengan Aisyah.


" Kenalan dulu dong sama calon kakak ipar." ucap mamah bahagia.


" Mereka udah kenal kok mah. Aisyah bilang mereka berteman." bang Roni menjawab pertanyaan mamah.


" Berteman?? jadi selama ini Aisyah menganggap ku hanya teman?? Apa mungkin hanya aku yang merasakan perasaan ini?? Itu sudah pasti.. buktinya Aisyah menjadi kekasih bang Roni." ucapku dalam hati.


Beberapa saat kemudian papah dan bang Ardi bergabung bersama kami, setelah mereka selesai berganti pakaian. Suasana meja makan semakin ramai suara tawa bahagia. Mereka sangat bahagia malam ini, kecuali aku.


Aku hanya terdiam menikmati makan malam ku yang terasa sangat menyerat kan bagiku. Aku sibuk dengan pikiran ku sendiri. Ingin rasanya aku meninggal kan meja makan, tapi... aku harus jawab apa ketika mamah bertanya alasan nya. Suasana malam ini sangat berbeda, kulihat semua orang bahagia. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan mereka karena kebodohan ku.


Lagi-lagi aku tersadar.... aku hanya lah semut. Yang tak pernah terlihat dibanding abang ku. Wajar jika Aisyah tak bisa melihat perasaan ku.


" Kamu kenapa sayang?" suara mamah mengejutkan aku.


" Kok diem aja dari tadi?? kamu sakit??" tanya mamah padaku.


" Emmm enggak kok mah." jawabku sambil menunduk. Sungguh aku tidak ingin mereka melihat mataku yang mulai berembun.


" Ah... mamah kayak gak tau aja. Jay kan selalu gitu kalok ketemu cewek mah..." celetuk bang Ardi ngawur. Mereka pun serempak tertawa. Aku hanya diam saja, ku tahankan diri agar tidak membuat kekacauan.


... bersambung.

__ADS_1


__ADS_2