
***
Ghrrrrrrrr ghrrrrrrr
Safira mendengkur sangat keras, membuat Agil terkejut dan menoleh ke arah sumber suara.
" Seeeet dah, capek-capek jelasin malah dia nya molor." cicit Agil.
Agil memandang wajah anteng Safira yang tertidur di atas meja kasir, dengan kedua tangan nya menopang dagu.
" Cakep juga kalok lagi tidur, bulu matanya lentik... hidungnya mungil." puji Agil.
Saking asiknya memandangi putri tidur, Agil tidak sadar kalok Bembi sudah ada di belakang mereka.
" Suruh kerja malah asik kelonan." ucap Bembi asal, tepat di belakang telinga Agil.
Safira pun terbangun dari tidurnya, dan langsung nyengir.
" Sorry... gua ketiduran. penjelasan Lu panjang banget, kayak dongeng penghantar tidur. heheee."
" Iya gak papa, nanti bisa aku jelasin lagi." ucap Agil sabar.
" Sok manis Luuuu..." cibir Bembi sambil meninggal kan mereka.
Bembi mengganti tulisan Close di depan pintu menjadi Open. Dan saat bersamaan, tiba-tiba...
Bruuuukkkk... Seseorang menabraknya.
" Sorry... sorry. Gua buru-buru.' ucap cewek yang menubruk Bembi.
" Bos Lu ada kan?" tanya nya pada Bembi.
Belum sempat Bembi menjawab, si cewek sudah berlalu pergi dan langsung masuk.
" Jay... Jay... " teriak cewek itu.
Sontak semua pegawai mengarahkan pandangan mereka ke cewek.
" Maaf, mbak nya siapa yah? Dan ada perlu apa?" tanya Agil ramah.
" Gua mau ketemu bos lu. Di mana ruangan nya?" tanya nya sambil mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan.
" Dia lagi di ruangan nya mbak, kalok ada perlu biar saya panggilkan." sahut Bembi menuju arah tangga.
" Gak perlu, biar gua cari sendiri ruangan nya." ucapnya sambil berlari menaiki tangga.
" Eh... mbak.. mbak..." panggil Bembi sambil mengejar nya menaiki tangga.
Dilantai dua hanya ada satu ruangan dan taman kecil buat ngademin suasana. Tanpa bertanya cewek itu langsung menerobos masuk ke ruangan ku.
Cekleeek...
Aku yang saat itu sedang mencari sebuah buku di rak buku, spontan menoleh saat pintu ruangan ku terbuka.
" Kak Raya..." ucapku terkejut saat cewek itu muncul di depan pintu.
__ADS_1
Tanpa menjawab Raya malah berlari ke arahku dan langsung memeluk ku. Dia menangis, aku kebingungan.
" Eh... kak. ini...." aku kebingungan dibuatnya. Aku sangat shock di peluk tiba-tiba seperti ini.
" Hilanglah perjaka ku." cicit ku kesal sambil berusaha melepaskan pelukan Raya.
Bembi pun tak kalah terkejut nya setelah dia masuk ke ruangan ku. Wajahnya melongo tak percaya ke arahku.
" Eh... kak. Jangan kayak gini dong." aku mendorong tubuh kak Raya, melepaskan diri dari pelukan dadakan itu.
" Udah aku larang tadi, Jay. Tapi dia main selonong aja." ucap Bembi mendekat.
" Kamu kenal sama nih cewek." tanya Bembi sambil melihat ke arah Raya yang sudah duduk di kursi panjang sudut ruangan ku.
" Dia mantan nya bang Ardi." bisik ku pada Bembi.
" Ngapain dia kesini?" tanya Bembi.
Aku hanya mengangkat bahu sambil duduk di kursi ku. Aku tidak berani mendekati Raya, takut kalau tiba-tiba dia memeluk ku lagi.
" Kakak kenapa? tiba-tiba datang kesini? dan tau dari mana tentang kedai ku?" tanyaku penasaran.
" Lu tau kan... kalok Ardi mutusin gua." ucapnya.
" Iya, tau. Kak Raya kan udah curhat kemarin lusa. Tapi bukan nya masalah nya udah beres yah..." ucapku heran.
" Kamu kenapa gak mau angkat telpon gua? gak baca chat gua?" ucapnya padaku.
" Haaahh???" aku melongo.
" Ck... memang susah yah, ngomong sama anak mami."
" Gua mau, Lu jadi pacar gua sekarang!!" ucap raya kembali mengejutkan aku dan Bembi.
" Haaahh??? " aku kembali ber hah bengong.
Aku beranjak mendekati Bembi.
" Bem, gimana ini. Bantuin dong." aku berbisik kepada Bembi.
" Udah, Terima aja gak papa Jay. Lumayan kan.... " belum sempat Bembi menyelesaikan kalimat nya, aku menyikut perutnya.
Bembi meringis menahan sakit.
" Udah deh, aku pamit kerja dulu pak bos." ucapnya sambil buru-buru meninggal aku dan Raya.
"Waduh... sialan tuh si Bembi. Kalok sampek aku di perkosa kak Raya, awas aja dia." gumam ku lirih.
Raya beranjak dari duduknya lalu menghampiri aku.
" Matilah aku." batinku sambil menelan saliva.
" Lu mau kan bantuin gua, Jay. Gua mau balas dendam sama abang Lu. Jadi...." dia semakin mendekatiku.
Aku menyilang kan kedua tangan di depan dadaku, antisipasi jika tiba-tiba saja dia memeluk ku lagi.
__ADS_1
" Ja... jadi apa kak?" tanyaku.
" Jadi Lu harus mau jadi pacar gua. Dengan begitu, gua bisa bikin kedua abang Lu marah karena gua berhasil merusak adiknya yang masih suci ini." ucapnya sambil menyentuh bibirku dengan jari telunjuk nya.
Aku kembali menelan saliva ku.
" Hilang sudah perjaka ku." cicit ku.
Saat aku bingung mencari cara untuk melarikan diri dari macan betina itu, tiba-tiba seseorang masuk ke ruangan ku.
" Neng sapi." gumam ku lirih.
Safira berjalan mendekati aku dengan senyum mengembang di bibirnya.
" Apalagi sekarang, ya Tuhan.... lindungilah kesucian ku." do'a ku dalam hati.
Safira menggeser tubuh Raya yang berada di depanku.
" Maaf, mbak nya ada perlu apa ya sama pacar saya?" ucap Safira menirukan gaya bicara ku.
" Njiiiiirrrr.... ni anak malah mengarang bebas." batinku.
" Pacaaaar?" ucap Raya mengernyit kan dahi nya seolah tak percaya. Safira menggandeng tanganku.
" Iya... iya kan sayang?" ucap Safira sambil mengedipkan matanya padaku.
" I... iya. Ini pacar aku, kak." aku tidak punya pilihan lain saat ini.
" Sejak kapan? Bukan nya Lu anti pacaran? Gak suka cewek?" tanya Raya beruntun.
" Karena kami baru jadian pagi tadi." ucap Safira lagi dengan kebohongan baru nya.
Aku hanya mengangguk seperti orang bodoh.
Raya menatap aku dan Safira bergantian, dengan sorot mata tak percaya.
" Sumpah Demi apa?? Berani apa?" tanya nya penuh selidik.
" Berani peluk." jawab Safira asal nyeplos.
Dan tanpa meminta persetujuan ku, dia langsung memeluk ku didepan Raya.
Aku kembali terkejut dengan pelukan dadakan dari Safira. Detak jantungku berdebar sangat hebat. Berbeda saat kak Raya yang memeluk ku tadi. Nafasku pun terasa sesak, aku berulang kali menelan saliva ku. Sekujur tubuhku terasa seperti tersengat listrik, aku hanya diam merasakan perasaan aneh ini.
Melihat aku diam saja, tak melawan saat di peluk Safira membuat Raya menghela nafas.
" Oke... gua percaya." ucap Raya kemudian.
Safira melepaskan pelukan nya, aku masih tetap terdiam tak bergeming sedikitpun. Rasa sesak didada ku mulai berkurang.
" Gua cabut aja deh kalok gitu..." ucap Raya melenggang keluar pintu. Dia menghentikan langkah nya tepat di bibir pintu sambil menoleh.
" Lupain tentang yang tadi gua ucapin ke Lu... anggap aja gua gak pernah ngomong apapun. Dan satu lagi,... rahasia kan dari abang Lu." tegasnya padaku. Aku hanya mengangguk.
... bersambung.
__ADS_1