
Pak Agung Bramantyo dan Ardi Bramantyo menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang secara bersamaan. Tampak bu Nawang, istri pak Agung berjalan sangat cepat ke arah mereka.
" Mamah ngapain kesini, pah?" ucap Ardi heran.
" Papah juga gak tau, di." jawap pak Agung singkat.
Bu Nawang mempercepat langkahnya.
" Mamah kesini kok gak ngabarin dulu?" tanya pak Agung setelah istrinya tepat dihadapan nya.
" Mamah mau bicara sama Ardi." jawab bu Niken dengan nada ketus.
Ardi mengernyitkan dahinya, ada apa lagi sekarang, pikir Ardi.
" Ya sudah mari bicara di ruangan papah aja, mah." ajak pak Agung.
Mereka pun berjalan menuju ruangan pak Agung. Kalau dilihat dari raut wajah bu Niken, sepertinya ada sesuatu yang terjadi.
Sesampainya di ruangan kerja pak Agung. Bu Niken langsung menjewer telinga Ardi.
" Kamu ini ya, susah banget di nasehati." ucap bu Niken sambil tangan nya menarik telinga anaknya dengan kuat.
Ardi meringis kesakitan sambil memiringkan kepalanya.
" Sakit maaaah." ucap Ardi kesakitan.
" Sebenarnya ada apa, mah? Coba jelaskan masalahnya." pinta pak Agung kepada istrinya.
Bu Niken melepaskan tangannya dari telinga Ardi. Dia duduk di kursi lalu pak Agung dan Ardi pun ikut duduk.
" Sebenarnya apa yang kamu lakukan terhadap Raya sih l, di?" tanya bu Niken menyelidik.
" Mamah tuh pusing, dari pagi Raya nelpon ke rumah berkali-kali. Mana nelpon nya sambil nangis-nangis." omel bu Niken.
Pak Agung dan Ardi menghela nafas bersamaan. Mereka mengira ada hal penting yang membuat bu Niken sampai datang ke kantor.
" Yaelah, mah. Kirain ada apaan. Udahlah biarin aja tuh si Raya. Memang pinter drama tuh cewek matre." Cerocos Ardi.
Sebenarnya Ardi memutuskan Raya bukan karena dia sedang halangan saat Ardi mengajak nya ke hotel. Tapi karena Raya minta dibelikan apartemen.
" Papah kan sudah berulang kali bilang sama kamu, jangan main perempuan. Fokus sama perusahaan." pak Agung ikutan ceramah.
" Setelah ini, papah gak mau denger masalah perempuan lagi. Kamu sama abang mu itu sama saja." imbuh pak Agung.
Ardi hanya diam, menjawab pun percumah saat mamah dan papahnya sedang duet ngomel begini.
Saat pak Agung sedang ceramah panjang lebar, tiba-tiba...
tok tok tok....
__ADS_1
" Masuk." perintah pak Agung.
Dan ternyata yang nongol adalah Roni Bramantyo. Tentu saja materi ceramah pun semakin panjang.
" Ini lagi, sama aja bandelnya. Gak pernah dengerin kalok ada orang tua ngomong. Jam kerja malah kelayapan gak jelas." omelan pun berlanjut.
" Maaf, pah. Roni ketiduran." jawab Roni ngasal.
Emosi pak Agung semakin menjadi.
" Ketiduraaann? Kamu makan siang dimana sih sampai bisa ketiduran?" ucap pak Agung geram.
Roni menguap dan langsung duduk didekat bu Niken. Dia melonggarkan dasinya.
" Tumben mamah ke kantor?" Roni mengalihkan pembicaraan.
Bu Niken tidak menjawab pertanyaan Roni.
" Mau duet ngomel sama papah." ucap Ardi menjawab pertanyaan Roni sambil nyengir.
Spontan pak Agung dan bu Niken melotot ke arah Ardi.
" Sudah, pokoknya kalok sampek Raya ngadu ke orang tuanya. Mamah bakal hukum kamu, di." gertak bu Niken kepada Ardi.
" Looooh kok aku yang dihukum sih, mah. Namanya pacaran itu udah wajar putus cinta. Raya aja yang lebay, drama queen." ucap Ardi protes.
Ardi memegangi tengkuk nya sambil menyandar ke kursi.
" Bang Roni aja belum kawin." bantah Ardi.
" Tiap hari juga gua kawin kaliiiikkk.... " sahut Roni. Lalu mereka berdua tertawa bersamaan.
" Sudah cukup hentikan!!! kalok kalian gak bisa berubah, papah akan tarik semua fasilitas kalian. Kalian belajar mandiri seperti Jay." hardik pak Agung kepada kedua putranya itu.
Bu Niken tersenyum mendengar ucapan pak Agung. Tanpa sadar pak Agung memuji Jay yang jauh lebih mandiri dari kedua abangnya.
Selama ini hanya bu Niken yang selalu mendukung Jay. Sedangkan pak Agung selalu merendahkan usaha anak bungsunya itu.
***
Ke esokan harinya...
Aku mendengar suara aneh tak jauh dariku.
"Ah ah ahhh ouuucch" suara itu makin berisik.
Aku masih ngantuk sekali, mataku terasa berat untuk bangun. Tapi suara itu semakin mengganggu telingaku. Aku terbangun kesal.
Ternyataaa... suara itu berasal dari ponsel bang Ardi, yang ternyata sudah ada di kamarku.
__ADS_1
Entah sedari kapan dia masuk ke kamarku.
Aku menatap bang Ardi kesal, lalu kembali berbaring memeluk guling.
" Ngapain sih bang? Pagi-pagi udah ganggu aja." protes ku.
Bang Ardi tidak menjawab pertanyaan ku, karena masih asik dengan layar ponselnya.
Entah apa sebenarnya yang sedang ia tonton.
" Video gua sama Raya pas lagi kuda-kudaan, Jay." jawab bang Ardi setelah beberapa menit kemudian.
Aku mengernyitkan dahiku. Mendengar kata kuda-kudaan, aku malah teringat seni kuda lumping yang sering ada dikampung nenek. Saat semua orang bersuka ria menonton nya dari dekat, aku malah memilih menjauh dan mencari tempat persembunyian.
" Lu mau liat kagak?" tanya bang Ardi padaku.
" Ogah ah." jawabku.
" Biar Lu bisa belajar, Jay. Sampai kapan Lu takut sama cewek? Normal gak sih Lu?" ucap bang Ardi penuh ejekan.
" Apa hubungannya nonton gituan sama cewek?" tanya ku asal.
Bang Ardi naik ke ranjang ku dan memperlihatkan video itu padaku.
Aku spontan kaget melihat nya. Gilak abangku satu ini. Aku kira kuda lumping, ternyata video mesumnya sama si Raya. Aku segera menyingkirkan ponselnya dari pandangan ku.
Bang Ardi terkekeh melihat reaksi ku.
" Ngapain sih abang liat kayak begitu. Terus buat apa coba lagi kayak gituan di rekam?" tanyaku ketus.
" yeeee Lu sih gak pernah enak-enak. Kadang kita butuh ngrekam yang kayak begini, buat perlindungan diri." ucapan bang Ardi makin tak bisa ku pahami.
" Maksudnya bang?" tanya ku bodoh.
" Video ini adalah alat biar gua bebas dari Raya. Kalok sampek dia berani macem-macem. Atau mencoba memeras keluarga kita, aku sebarin aja video ini." bang Ardi menjelaskan.
Aku hanya menggelengkan kepala ku.
" Jahat amat sih bang." ucapku sambil beranjak bangun dari tempat tidurku.
" Ah susah ngomong sama perjaka model Lu. Eh masih perjaka kan, Lu?" ucap bang Ardi mengejek sambil memegang SEMUT KU.
Aku paling sebal saat kedua abang ku berbuat seperti ini. Seenaknya saja memegang semut ku. Aku langsung pergi meninggalkan bang Ardi yang terus saja menertawakan aku.
Aku masuk ke kamar mandi. Saat aku menggosok gigi, suara aneh itu kembali terdengar di kamarku. Semakin keras dari sebelumnya. Sepertinya bang Ardi sengaja mengejek ku. Tapi kemudian tiba-tiba...
GUBRAAAKKKK!!!
... bersambung.
__ADS_1