Perjaka Sang Semut

Perjaka Sang Semut
Kang rampok


__ADS_3

***


Hari itu terasa sangat terik. Safira sudah merasa sangat lelah dan haus sekali. Dia mengendarai motornya ke arah kedai es krim dekat situ.


" Semoga ada es krim mini dan murah disini." batin Safira.


Dia memarkirkan motornya asal setelah melihat ada es krim di atas meja. Dia segera turun dari motornya.


Safira menoleh kanan kiri, memastikan tidak ada orang yang melihat nya.


" Semoga es krim ini sengaja di tinggal pemiliknya." ucapnya penuh harap.


Dia memakan es krim itu buru-buru.


Hingga dia tidak sadar jika seseorang mendekati nya.


Seorang cowok sudah berdiri tepat di depannya dengan tatapan yang sulit digambarkan.


Safira tersadar, dia meletakkan sisa es krim itu.


Mereka saling tatap.


" Seger ya es krim gratis?" sindir ku.


Iya, cowok itu adalah Jay yang datang setelah mengambil motor nya.


Safira terkejut.


" Bagaimana dia bisa tau kalok aku tidak membeli es krim ini." pikir Safira.


Tapi dia segera memasang muka memelas.


" Aku sangat kehausan, dan aku baru saja kerampokan." Safira mengarang cerita sedih untuk mendapat empati dari ku.


" Setelah ini kamu pasti akan bilang bahwa kamu butuh kerjaan." tebak ku asal-asalan.


Safira nyengir.


" Lu memang dukun handal." ucap Safira ngawur.


Aku melotot ke arah cewek tomboy itu.


" Please, tolong bantu gua. Gua tau Lu pasti kerja di sini kan?" tanya Safira memastikan.


Safira memasang wajah memelas sambil tangan nya memohon.


" Itu tidak mungkin." ucap ku singkat.


" Hei, Lu belum nyoba bantuin gua. Kenapa udah bilang gak mungkin." protes Safira.


Aku berlalu ke arah motorku tanpa mempedulikan Safira.


Safira bingung, antara mau mengejar Jay atau mau menghabiskan es krim nya.


" Aiisssh... " Safira segera mengejar Jay menggunakan motornya.


Safira celingukan dijalan raya, mencari jejak Jay.


Beberapa saat kemudian, dia melihat Jay berhenti si sebuah warteg.


" Nah... itu dia." ucap Safira.


Tanpa pikir panjang Safira menyusul ku, dan langsung duduk di depan ku.


" Lu bisa kan bantu gua? please.... Gua tau, Lu itu orang yang sangat baik." rayu Safira.


" Ini pesanan nya mas." ucap pemilik warteg menyerah kan pesanan ku.


" Terima kasih." jawab ku sambil tersenyum kepada si pemilik warteg.


" Eh... Lu denger gak sih kalok gua ajak ngomong." Safira kesal di acuhkan.

__ADS_1


" Semua tergantung sikapmu." jawab ku cuek.


" Tapi setau ku, pemilik kedai itu tidak pernah memperkerjakan pegawai wanita." imbuh ku sembari menyuapkan mie goreng ke mulutku.


Krucuk.... krucuuukkk...


Safira segera memegangi perutnya.


Aku tersenyum sekilas melihat tingkahnya.


Tiba-tiba wajah Safira berbinar-binar.


" Buk, pesan mie goreng satu. pakek telur ya buk." teriak Safira kepada ibu warteg.


Dia melihat ke arah ku dengan tatapan licik.


Tak lama kemudian, pesanan nya siap.


" Nanti yang bayarin dia ya buk." ucap Safira kepada ibu warteg sambil menunjuk ku.


Uhuuuuk....


Aku tersedak karena terkejut.


Aku melotot ke arah nya, sambil meneguk air minum.


" Enak amat minta gratisan. Kenal aja kagak." ucapku kesal.


" Kenalin, gua Safira." ucapnya sambil mengulurkan tangan.


Aku enggan menyambutnya. Aku melanjutkan menyantap mie goreng ku.


" Kalok Lu bantu gua masuk kerja di kedai es krim itu, nanti gua traktir balik pas gajian pertama." ucapnya seraya menarik uluran tangan yang aku abaikan.


Aku menghela nafas dan menatap ke arahnya.


" Emang kamu gak bisa cari kerja tempat lain apa?" ucapku ketus.


" Orang tuamu kemana?" tanyaku asal.


Seketika dia berhenti makan, lalu mengambil minuman ku dan meminumnya.


" Orang tua gua udah meninggal sejak gua masih SMA." ucapnya sedih.


" Maaf aku gak tau." ucapku yang serba salah melihat muka sedihnya.


" Jadi gimana? Lu bisa kan bantuin gua?" tanya nya lagi penuh harap.


Aku berfikir sejenak.


" Haruskah aku membantu nya, orang asing yang super ceroboh dan belum ku kenal." pikirku.


Aku melirik penampilan nya yang tomboy dan acak-acakan. Serta gayanya yang sangat jauh dari kriteria ku.


" Kalok dia beneran gak punya apa-apa dan gak punya siapa-siapa, mungkin lebih baik aku menolongnya." sifat tak tegaan ku muncul.


Dia masih asik menyantap mie nya. Terlihat jelas, dia sangat menikmati makanan itu.


" Baiklah kamu bisa kerja mulai besok." ucapku tanpa sadar.


Dia melongo ke arahku.


" Emang Lu bos nya?" selidiknya.


Aku menggaruk kepalaku secara tidak sadar.


" Iya sih, tapi bukan bos yang bisa kasih bonus tambahan." ucapku jujur.


Matanya berbinar-binar.


" Iya, gak papa. Gua mau kok. Yang penting gua dapet kerjaan." ucapnya bersemangat.

__ADS_1


Dia menggenggam tanganku yang berada di atas meja dengan tidak sadar.


Spontan aku menarik tanganku.


" Eh sorry... " ucapnya.


Aku hanya mengangguk.


" Jadi gimana, besok gua beneran udah boleh kerja?" tanya nya meyakinkan.


Aku mengangguk. Tiba-tiba muncul ide di otak ku.


" Tapi ada syaratnya." ucapku padanya.


Dia menatapku dengan rasa penasaran.


" Apa syarat nya?" ucap nya penuh tanda tanya.


" Kamu harus bisa menemukan ide baru untuk kedai kami. Menu baru atau cara pemasaran yang unik." tantang ku.


Dia tampak berfikir beberapa saat.


Aku melihat arloji ku, dan mengeluarkan dompetku lalu membayar kepada pemilik warteg.


Aku beranjak pergi, sedangkan dia masih tetap duduk sambil terus berfikir.


Entah apa yang dia fikirkan aku tidak peduli.


Aku menaiki motorku lalu memakai helm ku.


Tiba-tiba dia sudah berada di sampingku.


" Baiklah... gua terima tantangan Lu." ucapnya agak ragu.


Aku bisa melihat keraguan di wajah nya dengan jelas.


" Datang lah besok pagi tepat jam 8 pagi." ucapku mengingatkan.


" Siap, bos." jawabnya penuh semangat hingga membuat ku terkejut.


" Terimakasih karena udah mau bantuin gua." ucapnya saat aku menghidupkan motorku.


Aku hanya tersenyum dan berlalu pergi meninggal kan dia.


" Dasar kang rampok." ucapku tanpa peduli apakah dia bisa mendengarnya atau tidak.


***


Di tempat lain....


Tampak seorang pengusaha muda sedang memaki-maki karyawan nya.


Lalu tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.


" Papah... " ucapnya setelah tau siapa yang menepuk pundaknya.


" Ardi, begini kah caramu bekerja? kamu tidak melakukan tugasmu. Tapi kamu selalu memarahi semua karyawan mu? " tegur pak Agung kepada anaknya.


" Lalu dimana abangmu?" lanjutnya.


" Bang Roni sedang pergi makan siang pah... " jawab Ardi.


" Jam makan siang sudah habis dan dia belum juga kembali... ck." Pak Agung berdecak kesal dengan kelakuan putra-putranya.


" Kalian boleh kembali ke ruangan masing-masing." ucapnya pada seluruh karyawan yang dimarahi Ardi.


"Dan kamu ikut ke ruangan saya." perintah nya pada Ardi.


Saat Ardi dan pak Agung hendak melangkah, tiba2 terdengar suara langkah kaki terburu-buru dari arah belakang.


... bersambung.

__ADS_1


__ADS_2