
***
Di sebuah kontrakan, tampak Safira sangat gelisah. Ia terbaring di atas kasur dengan gelisah. Sebentar-sebentar menghela nafas seraya merubah posisi. Berguling-guling kesana kemari seperti sedang memikirkan sesuatu. Ternyata dia memikirkan kejadian sore tadi, saat dia mencium Jay.
" Bagaimana gua bisa nyium pak bos sih... safiraaaaaa... apa sih yang ada di otak Lu?"
Safira menjambak rambutnya sendiri.
" *Kira-kira pak bos beneran tidur gak yaaaa?? Kalok ternyata dia gak tidur, berarti dia tau gua nyium bibirnya.... Aaaaaaaa gimana dong??"
" Tapiiiii kalok memang dia gak tidur, kenapa dia diem aja waktu gua cium. Semoga aja dia beneran tidur. Aaaa pusing... dasar begok... begok... begok*." Safira memukul kepala nya.
" *Andai saja pak bos tidak menyukai cewek lain, mungkin gua sudah jujur padanya tentang perasaan gua ini. Tapi gua sadar, cewek idaman pak bos tuh yang kalem, lembut, manis seperti Aisyah..."
" Kenapa sih, gua harus suka sama cowok kaku model begitu?? Emang gak bisa gitu ganti ke cowok yang lebih enjoy... lebih asik, kayak Indra gitu*." Safira terus bermonolog sendiri.
Sampai tengah malam Safira tidak bisa tidur, sibuk dengan pikiran nya sendiri. Safira pun tidak tau sejak kapan dia mulai menyukai bos nya yang kaku itu. Safira pun tak mengerti, kenapa dia tiba-tiba mencium bibir bos nya. Dulu Safira memang sempat berpacaran saat masih sekolah, tapi dia tidak pernah mau melakukan kontak fisik yang menjurus ke mesum. Mungkin sekedar pegang tangan, itupun ada alasan nya.
Meskipun bisa dibilang anak gaul, tapi Safira tidak ingin mengarah ke pergaulan bebas. Apalagi semenjak hidup sendiri, Safira tidak mau lagi menjalin hubungan dengan pria manapun. Tapi entah kenapa dia bisa menyukai bosnya yang kaku itu. Awalnya dia hanya kagum dengan sifat bosnya yang bisa menghargai para pegawai nya, tidak pernah memarahi pegawai dan tidak suka main pecat seperti bos-bos lain nya.
***
Di kedai...
Aku merasa sangat gelisah mengingat tentang Aisyah. Beberapa kali aku membuang nafas kasar. Berusaha untuk tidak mengingat wanita itu, namun ternyata sulit bagiku. Senyum manis Aisyah selalu terbayang dimata ku. Mungkin memang benar kata orang, cinta pertama memang susah dilupakan.
Kenapa aku harus menelan rasa pahit ini, padahal baru saja aku mengenal cinta. Dan bahkan belum sempat merasakan indahnya dicintai. Kenapa aku sudah merasakan sakit ini. Andai saja aku tidak jatuh cinta padanya, mungkin sekarang aku akan menerima kehadiran Aisyah sebagai calon kakak ipar dengan senang hati. Sungguh ini berat bagiku.
" Huuuft... haus." ucapku seraya bangkit dari tiduran, dan berjalan menuju meja. Aku sambar botol minum ku segera.
GLEEKK!!
Saat aku mengelap bibirku seusai minum, tiba-tiba aku teringat Safira. Aku sentuh bibirku dan mengingat tragedi tadi sore.
" Neng sapi sialan... kenapa dia malah menambahi beban pikiran ku." umpat ku kesal.
Tapi lagi-lagi tubuhku memanas mengingat ciuman sekilas itu. Aku menelan saliva ku. Aku sungguh tak menyangka, ciuman pertama ku akan dicuri oleh gadis bar-bar seperti Safira.
Aku selalu memimpikan ciuman pertama yang romantis dengan gadis yang sangat aku cintai. Tentunya setelah gadis itu halal bagiku. Sosok yang bisa menjaga kesucian cinta kami. Yang menjadi bidadari surgaku.
Aaaah... Safira telah merenggut mimpiku itu. Berani sekali dia melakukan itu padaku. Kenapa dia begitu padaku? Dulu aku memahami nya saat dia memeluk ku, itu hanya untuk membantu ku lepas dari Raya. Lalu apa maksud ciuman nya tadi sore?
Mungkinkah Safira sengaja melakukan nya? Atau jangan-jangan Safira diam-diam menyukai aku?? Ah... tidak mungkin. Seperti nya dia dekat dengan Bembi. Lalu... kenapa dia mencium ku?
__ADS_1
Hah... kenapa hidupku sekarang menjadi kacau begini?
Aku terus saja gelisah memikirkan semua itu, hingga akhirnya aku benar-benar terlelap.
***
Keesokan harinya...
Seperti biasa, Bembi datang pagi sekali.
" Loooh... semut udah berangkat?? Tumben amat tuh anak." ucap Bembi saat mendapati motor Jay terparkir di teras samping kedai.
Bruuk!!
Bembi menabrak pintu yang masih terkunci.
" Looooh kok masih dikunci?? Dikunci dari dalam nih kayaknya." cicitnya.
" Kalok nih pintu terkunci dari dalam, berartiiii... semut nginep di kedai dong." Bembi berfikir keras.
" Kira-kira ngapain tuh anak... mungkin kah dia lagi ada masalah keluarga, makanya dia gak pulang kerumah." Bembi menebak-nebak.
Bembi merogoh kantong jaketnya.
" Eeem kok gak ada...??" ucapnya seraya mencari sesuatu di kantongnya.
Bembi mengintip ke dalam kedai, menyisir ruangan kedai. Lalu merogoh ponselnya dari saku jaketnya. Tampak ia sedang mencari sebuah nomor.
" Ya elah... malah gak aktif. Mana yang bawa kunci serep nya si neng sapi lagi... kemarin lupa minta sebelum aku pulang. duuuuh ck." Bembi duduk berjongkok di depan pintu.
" Hallo neng sapi... buruan berangkat!!! Aku gak bawa kunci serep." titah Bembi.
" Ya udah buruan..." ucapnya lalu mengakhiri panggilan.
Bembi berjalan mondar-mandir didepan kedai. Selang 15 menit, barulah Safira muncul.
" Lo kak... itu kayak nya motor pak bos. Terus kenapa kakak minta kunci serep ke aku?" tanya Safira bingung.
" Dikunci dari dalam." jawab Bembi singkat sambil menerima kunci dari Safira.
"Dikunci dari dalam? Apa pak bos semalem gak pulang kerumah?" batin Safira.
Lalu ia mengekori Bembi setelah pintu kedai terbuka. Dia celingukan mencari Jay.
__ADS_1
" Neng, aku ke ruangan pak bos dulu ya. Kamu tolong siapin semua nya sendiri dulu ya. Nanti aku nyusul." titah Bembi.
Safira hanya mengangguk seraya menatap Bembi yang berlari menaiki tangga.
Tok tok tok!!!
" muuuuuttt..." panggil nya dari luar.
" Iyaaaaa.... masuk, bem." jawabku serak.
" Aku masuk beneran nih." ucapnya seraya mendorong pintu.
Dia celingukan seperti sedang mencari seseorang. Aku masih terkulai lesu di kursi panjang ku.
" Kamu tidur sendirian, muuuuuttt??" tanya nya menyelidik.
" Terus kalok gak sendiri, emang mau tidur sama siapa?" ucapku malas.
" Ya siapa tau, kamu ngumpetin cewek disini." ucapnya menggoda ku.
Dia menghampiri aku.
" Bangun muuuut... udah siang. Buruan mandi.." titah Bembi sambil menarik jaket yang ku tutupkan ke wajahku.
Aku menggeliat malas sambil mengusap wajah kusam ku.
" Aku izin gak kerja hari ini." ucapku lemah.
" Seeet dah, mau ngapain mut?? Kan udah ada disini, ngapain gak kerja?" sahut Bembi.
Aku hanya menghela nafas panjang.
" Kamu kenapa, muuut? lagi ada masalah? cerita dong..." serunya padaku.
" Iya nih Bem. Lagi ada masalah..." jawabku ragu.
" Ya udah cerita..." ucapnya seraya menarik kursi disamping meja kerja ku.
" Ceritanya panjang banget, Bem. Jadi mending gak usah cerita aja." ucapku sambil kembali menutup kan jaket ke wajah ku.
" Ya udah kalok belum mau cerita... Tapi jangan tidur terus dong. Kemarin juga kamu tidur seharian. Belum puas apa??" celetuk nya.
CEKLEK!!!
__ADS_1
Tiba-tiba ada yang membuka pintu ruangan ku.
... bersambung.