
***
Raya pergi meninggalkan ruangan ku. Tinggal lah aku dan Safira di ruangan. Aku masih tetap diam di tempat, sibuk dengan pikiran ku.
" Maaf Pak bos, tadi itu...." ucap Safira mencoba menjelaskan.
" Aku tau, kamu gak perlu jelasin apa-apa. Lebih baik kamu juga pergi dari sini." usir ku.
Tanpa menjawab Safira segera keluar dari ruangan ku.
Aku berjalan gontai menuju kursi ku. Aku terduduk lesu sambil memegangi dada ku yang sedari tadi berdegub kencang.
" sebenernya apa yang terjadi padaku? Kenapa rasanya seperti ini. perasaan aneh apa ini?" batinku.
Tiba-tiba saja aku teringat kata-kata bang Ardi.
" Saat Lu tiba-tiba seperti terkena setrum, dan nafas terasa sesak. Jantung berdetak sangat kencang... itulah tandanya Lu udah jatuh cinta sama seseorang. Suatu saat nanti, Lu pasti merasakan."
" Ah tidak... itu tidak mungkin." ucapku menyangkal.
" Mana mungkin aku jatuh cinta sama dia... cewek tomboy yang tak ada sisi manisnya itu. Sudah jelas ini bukan cinta, karena aku semut. Aku suka cewek yang manis, lembut, anggun....." aku kembali berfikir.
" Tapi kenapa tubuhku bereaksi seperti itu saat neng Sapi memeluk ku? kenapa???" aku bermonolog sendiri.
" Oh mungkin karena aku terkejut, tiba-tiba di peluk seperti itu... tapi aku tidak merasakan apa-apa saat Kak Raya memeluk ku.... Ah entah lah." aku mengacak-acak rambutku.
Terik panas hari itu semakin terasa, aku ingin menikmati es krim vanila rasanya. Mungkin setelah makan es krim, pikiran ku jadi adem.
Langkah ku terhenti saat aku sudah berada di luar ruangan.
" Tapi nanti kalok ketemu neng sapi, aku harus gimana....?" aku jadi ragu.
Aku mondar-mandir di depan ruangan ku dengan perasaan tak menentu.
" Ah... kenapa aku harus takut? Aku tidak melakukan kesalahan padanya. Dia yang memeluk ku, bukan aku." ucapku meyakin kan diri, lalu menuruni tangga.
Ku lihat sudah mulai banyak pengunjung dilantai bawah. Saat sudah sampai di anak tangga paling bawah, aku melihat Safira yang sedang melayani pembeli. Entah kenapa langkahku seketika berhenti.
Antara maju atau mundur, aku menelan saliva ku. Dan tiba-tiba saja Safira menoleh ke arahku, mata kami bertemu.
DEG!!!
" Mampus lah aku..." aku berbalik arah.
Aku menaiki tangga setengah berlari, aku tidak tau apakah ada yang melihat ku. Atau Safira masih melihat ku? Entah lah, yang jelas aku tidak berani menoleh.
Sesampainya di ruangan, aku langsung menyambar botol aqua di atas meja ku.
__ADS_1
Gleek...
Tinggal satu tegukan saja. Aku membuang nafas kasar, lalu menuju kursi panjang disudut ruangan ku. Kursi itu terletak di dekat jendela, dengan pemandangan indah di luar sana. Aku bisa mencium aroma wangi bunga saat jendela itu terbuka. Iya, bunga dari taman kecil diluar ruangan ku. Lebih tepatnya di loteng.
Aku menghempaskan tubuhku ke kursi itu.
" Ah... mending aku tiduran disini dulu. Nanti saat jam makan siang, aku akan turun." Aku yakin saat itu Safira akan pergi makan siang bersama pegawai lain nya.
***
Dilantai bawah...
Safira masih menatap ke arah tangga dengan wajah penasaran.
" Kok pak bos gak jadi turun yaaah? Apa mungkin pak bos marah karena tadi gua.....?? Ah, gak mungkin lah. Pak bos kan tau kalok tadi gua cuma bantuin dia aja. Itupun karena kak Bembi menyuruh ku." Safira bermonolog sambil memegang pelipis matanya.
" Kenapa Fira?" tanya Agil yang sedari tadi memperhatikan Safira sedang melamun.
" Eemm... gak papa kok. Cuma itu tadi anuuuu.... " ucap Safira ragu.
" Itu apaaa?? anu apaa?" tanya Agil penasaran.
" Eh gak jadi... gak papa kok." Safira tidak jadi bercerita. Dia takut kalau pak bos akan semakin marah jika dia menceritakan hal memalukan itu.
***
" Kak, bisa ngomong sebentar gak?" bisiknya.
" Eh neng sapi... mau ngomong apa? ngomong aja kaliiiik." jawab Bembi sumringah.
" Iiiihh jangan disini... ditempat lain aja." usul Safira.
" Oooooh mau ngajakin makan siang nih cerita nya?" tanya Bembi menggoda.
Tanpa menjawab, Safira menggeret tangan Bembi keluar kedai. Bembi mengajak Safira makan di cafe yang tidak jauh dari situ. Safira menurut, karena dia cuma berniat mau menanyakan perihal yang membuatnya berfikir tadi.
***
Sesampainya di cafe, Safira tampak bingung mau memulai pertanyaan nya dari mana.
" Neng sapi mau pesen apa??" tanya Bembi.
" Samain aja sama kak Bembi." tuturnya.
" Mbak... pesen nasi goreng ayam nya dua ya. minumnya jus jeruk aja." ucap Bembi kepada pelayan.
" Sebenarnya mau ngomong apaan sih? sampek ngajak pergi dari kedai segalak.." tanya Bembi penasaran.
__ADS_1
" Itu kak... aduh gimana ya ngomong nya." Safira garuk-garuk kepala. Bembi semakin penasaran.
" Udah... ngomong aja. Kan sekarang cuma ada kita berdua." goda Bembi.
Safira menghela nafas panjang sambil melepas topi nya.
" Gini kak, tadi pagi kan kakak nyuruh aku ke ruangan pak bos. suruh bantuin pak bos dari cewek tadi kan..." Safira mulai ngomong.
" Iya, teruuuuusss??" Bembi semakin penasaran.
" Silahkan pesanan nya, mas... mbak." ucap pelayan seraya meletakkan pesanan mereka di meja.
" makasih mbak." ucap Bembi ramah.
" Sambil makan neng." ajak Bembi kepada Safira. Safira pun menurut.
" Teruuus, tadi setelah tuh cewek pergi. Gua sempet liat pak bos mau turun deh. Tapi pas gua noleh, dianya malah lari balik lagi ke atas... kenapa ya? apa jangan-jangan marah sama gua??" ucap Safira sambil menyendok nasi goreng di piringnya.
" Ngapain harus marah?? kan neng niatnya bantuin dia." timpal Bembi ringan.
" Iya... tapi masalahnyaaaa... tadi gua meluk pak bos di depan tuh cewek."
Uhuk uhuk.....
Bembi tersedak mendengar perkataan Safira.
Buru-buru Safira mengambilkan air putih untuknya.
" Pelan-pelan makanya." ucap Safira sambil memberikan segelas air putih pada Bembi.
Setelah minum air putih....
" Lu tadi ngomong apa?? Lu meluk pak bos??" tanya Bembi. Safira mengangguk.
" Waduuuuuhh ... neng Sapiiiiiii." Bembi mengusap kasar wajahnya.
" Kamu tau, kenapa saya nyuruh kamu pura-pura jadi pacar nya pak bos?? Itu supaya tuh cewek gak asal main peluk-peluk ke pak bos. Dan kamu malah...... ikutan meluk juga." Bembi geram.
" Gua kan cuma mau bantuin pak bos, beneran dah... sumpah. Gua gak bermaksud apa-apa." Safira membela diri.
" Iya tapi masalahnya ini pak bos... Jay... si Semut yang anti cewek. Perjaka ting-ting. Masih suci dari ujung rambut sampek kaki." Bembi mengacak-acak rambutnya. Dia tau bagaimana sahabat nya itu, dia pasti sekarang sedang mengurung diri dengan pemikiran rumit nya.
" Emang sebegitu polosnya pak bos kita?" tanya Safira penasaran.
" Ya pokoknya begitulah... lebih baik nanti kamu minta maaf aja deh. Kalok gak nanti biar aku yang coba ngomong." ucap Bembi bimbang.
... bersambung.
__ADS_1