
GUBRAAAKKKK!!!
Pintu kamar terbuka. Dan tampak mamah sudah siap dengan ceramah nya.
" Ardiiiiiii!!! apa yang kamu lakukan?" teriak mamah pada Ardi.
" Aku gak ngapa-ngapain mah." bantah Ardi.
Aku mengintip melalui lubang kecil kunci pintu kamar mandi sambil terkekeh.
" Berani-beraninya kamu ngajarin adikmu hal-hal yang tidak pantas." mamah mendekati Ardi.
" Aku gak nga..... " kata-kata Ardi terpotong.
" Mamah denger semuanya. Kamu gak usah ngelak." potong mamah.
" Ck... Ardi gak ngapa-ngapain kok. Cuma nonton ini aja." ucap Ardi sambil mengangkat ponselnya.
" Tetap saja ini bisa mencemari telinga adikmu yang masih perjaka itu." ucap mamah ketus.
" Yaelah ma, sampek kapan Jay jadi anak mami. Gak boleh pacaran, gak boleh aneh-aneh. Jangan ini jangan itu." ucap Ardi sambil memonyong kan bibirnya.
" Sampek dia dapet jodoh dan nikah. Tanpa belajar pun, kalok udah nikah pasti naluri dan hasrat nya tumbuh sendiri kok. Mamah gak mau ya, kalok sampek adik kamu itu jadi ketularan kamu sama Roni. Mamah pengen anak mamah ada yang bener-bener jadi laki-laki bermoral." ucap mamah menjelaskan panjang lebar.
Ardi beranjak dari duduknya lalu pergi berlalu begitu saja dari kamarku, meninggal kan mamah yang sedang kesal. Tak lama kemudian terdengar suara pintu tertutup, pertanda mamah juga sudah keluar dari kamarku. Aku melanjutkan mandi sambil bersiul-siul.
Aku tersenyum mengingat bang Ardi yang di omeli mamah. Selama ini mamah lah yang mendukung ku agar tidak mengenal cinta terlebih dahulu. Katanya agar tidak seperti kedua abang ku. Supaya bisa menghargai wanita dan menjaga harga diriku sebagai laki-laki. Mungkin terkesan culun dan anak mami, karena sampai umur 30 tahun tidak pernah tau rasanya punya pacar. Tapi dibalik itu semua aku melihat sisi positif nya. Aku bisa lebih fokus mengejar impianku.
***
Aku menghampiri meja makan sambil menyambar roti tawar yang sudah mama olesi mayones. Lalu berpamitan menyalami mamah dan juga papah yang baru duduk.
" Mah, pah. Jay berangkat dulu ya... Assalamu'alaikum." pamit ku.
" Makan nya sambil duduk dulu Jay. Buru-buru amat sih." tegur Mamah.
" Jay lupa kalok hari ini ada pegawai baru, mah." ucapku menjelaskan.
Tanpa meminta jawaban mereka, aku langsung berlalu pergi menuju motor ku. Namun saat aku merogoh kantongku, ternyata kontak ku tidak ada. Dan terpaksa aku harus berlari masuk lagi.
" Kenapa Jay?" tanya mamah saat melihatku berlari kecil.
" Kontak nya ketinggalan." ucapku sambil terus berlari. Mamah hanya menggelengkan kepala.
" Lain kali sebelum keluar kamar, diperiksa dulu semua." nasehat mama meskipun aku hanya mendengar samar-samar dari kejauhan.
***
Sementara di kedai, Safira sudah datang. Tentu saja pegawai lain bingung dengan kehadiran nya. Itu karena aku lupa memberi tau Bembi bahwa akan ada pegawai baru, dan seorang wanita.
__ADS_1
Safira berdiri di depan pintu dengan di kelilingi para pegawai lain. Bembi memperhatikan Safira dari ujung kaki sampai ujung rambut.
" Kalian masih gak percaya kalok gua pegawai baru disini?" tanya nya pada mereka.
Semua nya menggeleng serempak.
Safira lalu duduk di bangku yang ada di teras.
" Ya udah, kalok gitu gua tunggu bos dateng." ucap Safira ringan.
Bembi menghampiri Safira dan duduk di depan nya.
" Selama ini, yang gua tau. Si semut gak pernah mau kalok pegawai wanita kerja di kedai ini." ucap Bembi tak percaya.
" Si semut?" ucap Safira penuh tanya.
" Maksud gua pak bos." jawab Bembi.
" Emang beneran gitu, gua pegawai wanita pertama disini?" tanya Safira.
" Beneran lah, ngapain kita orang bohong. Gua temen si semut dari kecil. Dan selama gua kenal sama tu bocah, dia paling anti sama cewek." ucap Bembi memulai bergosib.
" Ah masak sih?" Safira tak percaya.
Lalu pegawai lain pun ikut nimbrung.
" Ih beneran loh mbak, bahkan sampek sekarang kami gak pernah liat pak bos ngobrol sama cewek." sahut Agil, pegawai ku yang paling muda. Kalok kata tante-tante zaman sekarang, brondong. Hehe...
" Eh maksud gua gak gitu, ya kan siapa tau aja gitu." Ucap Safira membela diri.
***
Tiit tiiiittt
Aku mengejutkan rumpian mereka dengan klakson. Seketika mereka langsung bubar, kecuali Bembi dan Safira yang menunggu ku.
" Mut, Lu yakin ngijinin tuh cewek kerja disini?" tanya Bembi menghampiri ku.
Aku hanya mengangguk sambil menghampiri Safira.
" Pagi pak bos." sapa Safira sok ramah dengan senyum meringis nya.
" Sudah kenalan sama yang lain?" tanyaku.
" Gimana mau kenalan, pak. Orang gak ada yang percaya sama gua." jawab Safira.
" Halo kenalin, saya Bembi." sapa Bembi memulai perkenalan.
" Gua Safira." jawab Safira.
__ADS_1
" Met gabung di kedai kami neng Sapira." ucap Bembi dengan logat khas Sunda nya.
Aku menutup mulutku menahan tawa.
" Kok jadi Sapi sih? SAFIRA... S-A-F-I-R-A" yang punya nama protes.
Aku masih saja menahan tawaku.
" Maklum neng, lidah Sunda mah susah ngomong ep." Bembi membela diri.
" Sudah sudah... ayo mulai open sekarang!" aku memberi intruksi sambil masuk ke dalam.
" Oh ya neng Sapi.... kamu gantiin Agil sebagai kasir ya. kamu bisa belajar dulu kalok belum paham." ucapku.
" Ih kok jadi neng sapi sih... " Safira protes.
Aku kembali menahan tawa.
" Dan satu lagi.... jangan pakek kata Lu gua kalok lagi kerja disini." ucapku memberi tau.
" Loh emang kenapa?" tanya Safira.
Namun aku telah menaiki tangga, dan ku dengar Bembi menjelaskan kan nya.
" Pak bos gak suka dengan kata-kata Lu gua. Apalagi di tempat kerja. Menurut nya itu gak sopan, apalagi kalok berbicara kepada pelanggan." Bembi menjelaskan.
" Teruuuuuussss..... gua harus ngomong pakek bahasa Inggris gituh?" Safira mulai ketus.
" Ya Pakek bahasa, saya...aku...kamu. Kayak bahasa pak bos." jawab Bembi.
" Huh ribet amat sih... mau kerja apa mau belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar sih gua ni." keluh Safira.
" Udah..... nurut aja. Aslinya si semut itu baik kok. Tapi ya memang kaku gitu orang nya."
" Nanti juga kalok udah kenal, asyik kok orang nya. Super humble, super pengertian dan super super ..... " ucapan Bembi terpotong.
" Super ngeselin." potong Safira sambil menuju ke kasir.
" Lu yang namanya siapa tadi....? " tampak Safira mengingat-ingat.
" Saya Agil, mbak." jawab Agil.
" Oh iya, Agil... ajarin gua yah." pinta Safira.
" Iya mbak, tenang aja." Agil nyengir.
" Jangan mbak sih... kayak tua amat gua." protes Safira.
" Ya kan mbak nya lebih dewasa dari saya. Ya udah kak aja." Safira pun mengiyakan.
__ADS_1
" Di ajarin yang bener gil... biar neng sapi bisa betah kerja disini. Kan lumayan biar ada bau-bau wangi nya." ucap Bembi sambil nyelonong pergi. Safira hanya memonyong kan bibirnya karena mendengar namanya di panggil aneh, neng sapi.