
***
Aku tidak memperdulikan mereka yang asik menertawakan ku. Dadaku semakin sakit setiap kali ku lihat Aisyah. Apalagi setiap bang Roni mengusap bibirnya menggunakan tisu. Sebisa mungkin aku menahan air mataku agar tak jatuh. Aku tidak ingin ketahuan oleh mereka.
" Tahan Jay, kamu pasti bisa. Kamu kuat..." berulang kali aku menguatkan hati.
Setelah makan malam selesai, aku pergi ke kamarku. Sedangkan mereka asyik ngobrol di ruang tengah. Suara canda tawa mereka terdengar jelas dari kamarku. Terdengar begitu bahagia nya.
Aku tengkurap di kasur ku, air mata yang sedari tadi aku tahan. Kini mengalir dengan sendirinya di pipiku. Sudah lama aku tidak menangis, terakhir kali mungkin saat SD. Sejak saat itu aku memutuskan untuk menjadi jiwa yang kuat, tidak cengeng. Aku bosan diejek abangku.
Dan malam ini, aku menjadi sosok cengeng lagi. Aku ingin menahan nya, tapi tidak bisa.
" Apakah cinta sesakit ini?? Apakah semua cowok merasa kan ini?? Inikah yang dinamakan patah hati?? Apakah cuma aku yang menangis didunia ini karena urusan cinta??"
" Andai waktu bisa ku ulang kembali, tidak akan ku sia-sia kan waktuku. Bembi benar, aku terlalu pengecut. Harusnya aku berani mengungkapkan perasaan ku."
Aku terus meratapi semuanya, hingga akhirnya aku tertidur. Aku berharap ini hanya mimpi. Aku ingin, esok ketika mataku terbuka... yang pertama ku lihat adalah pesan dari Aisyah seperti biasanya.
***
Aku melangkah dengan langkah berat. Rasanya tidak ingin berangkat kerja. Tapi, dengan alasan apa? Patah hati??? Ah... pasti itu akan menjadi bahan ejekan baru bagi kedua abang ku. Belum lagi Bembi dan Safira, pasti mereka akan meledek ku habis-habisan.
" Jay... sarapan dulu sayang." teriak mamah ketika melihatku nyelonong tanpa menegurnya.
" Jay puasa mah." jawabku asal lalu pergi tanpa salam.
Mamah menatap kepergian ku dengan mata penuh tanda tanya.
" Kenapa tuh anak... biasanya dia selalu pamit. Cium tangan... terus salam. Eh ini malah nyelonong aja." mamah bergumam heran.
"Kenapa mah?" tanya papah yang baru datang ke meja makan.
" Itu pah... Jay. Kok kayak nya dia berubah yaaa? padahal kemarin baik-baik aja." jawab mamah.
" Mungkin pusing mikirin kedai nya yang sepi mah." celetuk papah asal.
" Heeeem... tapi setidaknya Jay mampu bertahan sampai sekarang, pah. Dia tidak pernah mengeluh." ucap mamah membelaku.
" Belain aja teruuuuuusss." celetuk bang Roni yang langsung menyambar roti tawar.
" Makan itu duduk dulu Ron... " mamah geleng-geleng kepala.
__ADS_1
***
Sesampainya di kedai...
" Selamat pagi pak bos." sapa Safira seperti biasanya.
Aku tidak menjawab nya dan langsung buru-buru pergi menaiki tangga. Mungkin hari ini aku akan tidur sepanjang hari.
Safira menatap kepergian ku dengan tampang penasaran.
" Kenapa lagi tuh pak bos. Bukannya kemarin-kemarin mood nya bagus. Lagi di mabuk cinta?? Kemarin aja semangat banget ngomongin Aisyah. Apa jangan-jangan...." Safira menutup mulutnya.
" Jangan-jangan apa neng?" tanya Bembi yang sedari tadi mendengar Safira ngomong sendiri.
" Eh... kak Bembi. Bikin kaget aja..." ucap Safira kaget.
" Itu kak... pak bos." imbuh nya.
" Mana pak bos?? Udah dateng??" tanya Bembi sambil melongok keluar.
" Udah masuk ruangan nya. Tapi kayaknya lagi badmood gitu." tutur Safira.
" Ah masak sih? Bukan nya kemarin lagi bahagia mbahas Aisyah ya??" ucap Bembi tak percaya.
" Ah... ogah. Pak bos kalok lagi badmood serem. Ditanya apapun gak akan dijawab. udah lah, biarin aja paling juga tidur orang nya." ucap Bembi sambil mengibaskan tangan nya.
Seharian itu Safira tidak fokus kerja, dia sering menoleh ke arah tangga. Bahakan jam makan siang pun dia menunggu bosnya itu turun. Tapi hasilnya nihil. Jay tidak keluar dari ruangan nya. Gadis itu semakin penasaran, ia juga cemas jika terjadi sesuatu kepada bosnya itu.
Sepulang kerja, Safira membersihkan kedai seperti hari-hari biasanya.
" Kok pak bos gak turun-turun juga yah?? Emang dia gak mau pulang??" cicit Safira.
Dia melangkah menaiki tangga, namun sampai di tengah jalan dia berhenti.
" Ah... gak jadi deh. Nanti dikiranya mau ikut campur." ucap Safira berbalik menuruni tangga.
" Tapi kalok misalnya pak bos kenapa-kenapa gimana?" ia kembali khawatir. Dan akhirnya...
Tok tok tok...
CEKLEK!!! Dia membuka pintu ruangan ku. Dia melihat ku terbaring di kursi panjang. Dia mendekatiku, dan duduk jongkok disampingku.
__ADS_1
Dia menatap ku yang pura-pura tidur dengan satu tangan kututup kan diatas mata.
" Ternyata pak bos kalok diliat dari deket manis juga ya... ganteng, keliatan keren kalok kayak gini. Gak keliatan kaku kayak waktu ngomong." cicit Safira memujiku.
Mendengar pujian Safira tiba-tiba saja tubuhku mulai memanas lagi. Jantungku berdegup kencang, nafasku mulai terasa berat.
"Waduh... kenapa lagi nih badanku kambuh lagi?? Apa jangan-jangan aku punya penyakit ya?" batinku.
Cup!!!
Tiba-tiba saja Safira mengecup bibirku. Aku terkejut tapi tak berani membuka mata.
" Hilang sudah kesucian bibirku ini. neng Sapi memang kurang ajar."
" Manis." ucapnya lirih.
Detak jantung ku semakin tak beraturan, dan aku merasa hawa aneh menjalar keseluruh tubuhku. Dan... tiba-tiba semut ku mulai bereaksi.
"Oh Tuhan.... Apalagi ini?" jerit ku dalam hati.
Cukup lama gadis itu diam menatap ku, lalu kemudian beranjak pergi meninggalkan aku.
Setelah kudengar dia menuruni tangga, barulah aku membuka mataku. Aku sentuh bibirku yang tadi dikecup Safira. Aku pegangi juga dadaku yang berjedak-jeduk ria. Aku mulai mengatur nafasku.
" Safira sialan... beraninya dia mencuri ciuman pertama ku." umpat ku.
Setengah jam kemudian, aku baru beranjak keluar dari ruangan ku. Aku melangkah pelan-pelan menuruni tangga. Aku celingukan takut jika tiba-tiba saja Safira muncul. Tapi seperti nya dia sudah pulang. Kulihat kedai tampak bersih dan rapi, tanpa sengaja aku tersenyum.
Aku berlenggang menuju ke dapur, perutku terasa lapar karena tidak makan dari pagi. Ditambah lagi, semalam aku tidak menghabiskan makan malam ku. Entah kenapa rasanya lama sekali air yang ku masak tidak juga mendidih.
Aku mengambil bungkus roti tawar dan mengambilnya sehelai.
" Rasanya lumayan." ucapku setelah roti itu masuk kedalam mulutku.
Sungguh ini pertama kalinya aku kelaparan. Aku mengambil roti tawar lagi lalu memakan nya dengan lahapnya.
" Lebih baik malam ini aku tidur disini." ucapku.
Aku tidak sanggup jika nanti bang Roni pulang mengajak Aisyah ke rumah. Cukup kemarin malam aku merasa tersiksa. Pelan-pelan aku akan melupakan Aisyah, biarlah dia menjadi kekasih abang ku. Toh katanya, cinta tak harus memiliki.
Meskipun sakit, aku pasti bisa melalui rasa sakit ini. Biarlah semua ini ku simpan sendiri, tanpa ada satu orang pun yang tau.
__ADS_1
... bersambung.