Perjaka Sang Semut

Perjaka Sang Semut
Inikah cemburu?


__ADS_3

***


Kepala mulai dingin setelah menikmati es krim. Namun entah kenapa hatiku masih terasa memanas. Bembi sedang sibuk menyiapkan pesanan es krim yang tadi ku embat. Ingin rasanya aku menarik Safira dari tempat duduknya, dan mengajaknya bicara. Aku ingin tau alasan dia mencium ku kemarin.


Tapi... untuk apa aku harus menanyakan hal itu? Bukan kah sudah jelas, dia memiliki pacar. Mungkin kah Safira adalah seorang gadis mesum yang suka mencuri kesempatan dari pria lugu seperti ku? Atau jangan-jangan pacarnya itu juga adalah salah satu korban dari ke mesuman nya?


Aku melirik arloji ku, sudah hampir satu jam Safira bercanda ria dengan pria itu. Dan parahnya lagi, pria itu menyuapi Safira es krim. Aku semakin kesal melihat nya. Aku beranjak dari duduk ku lalu menghampiri mereka.


" Kerja... woiiii.. kerja!!" sindir ku seraya berlalu melewati mereka. Aku pura-pura membereskan kursi dan meja di teras kedai.


Selang beberapa menit, ku lihat pria itu berpamitan kepada Safira. Lalu dia tersenyum saat melewati ku, aku melengos pura-pura tidak melihat nya. Jika dilihat dari mobil yang ia bawa serta pakaian nya, seperti nya pria itu sangat kaya dan mapan.


Aku menatap mobilnya yang sudah menjauh, lalu masuk kembali ke dalam. Ku lihat Safira kembali bekerja. Senyum yang sedari tadi terlukis diwajahnya, kini hilang. Dia hanya diam sembari menatap angka-angka di layar monitor.


Awalnya aku ingin menghampiri nya, namun detak jantung ku berdebar-debar saat melihat bibir Safira. Aku kembali teringat ciuman itu.


Aku menuju ruangan ku dengan langkah kaki seribu. Perasaan aneh itu kembali muncul didalam hatiku. Aku terduduk di kursi ku ngos-ngosan. Aku raih botol minum ku dan langsung menenggak nya.


" Sial... ada apa dengan ku? Apa aku sudah gila sekarang? Kenapa aku terus mengingat ciuman itu? Aaaah sialan." aku terus mengumpat.


Aku pun teringat wajah ceria saat bersama pria tadi. Kenapa aku merasa tidak senang melihat dia tertawa begitu? Apakah benar aku cemburu padanya? Seperti yang dibilang Bembi? Inikah cemburu? Tapi kenapa? Aku tidak mencintai nya, jadi kenapa aku harus cemburu? Aku mengacak-acak rambutku kesal.


Tok tok tok!!!


" Iyaaaa... masuk!!!" titah ku.


Betapa terkejut nya aku setelah tau siapa yang datang. Safira... gadis yang aku hindari tadi, kini malah dia datang ke ruangan ku. Ya Tuhan.... apa yang harus aku lakukan?


" Ini laporan pemasukan minggu ini pak. Seperti yang pak bos minta tadi." ucapnya seraya memberikan sebuah flashdisk padaku.


" Em... iya. makasih." jawabku kaku.


Dia membalikkan badan dan beranjak pergi dari ruangan ku.


Aku hanya bisa menatap punggung nya yang sudah menjauh. Aku menghela nafas panjang dan mengelus dadaku.


" Untung lah dia tidak mencium ku lagi." ucap ku merasa lega.


***

__ADS_1


Safira menuruni tangga dengan perasaan yang tak menentu. Safira terduduk di pertengahan tangga, tepat di belokan tangga sehingga tidak akan terlihat dari lantai bawah. Dia mulai mengatur nafas nya.


" Aduh... dadaku berdebar sangat kencang. Aku takut pak bos melihat ku gugup. Semoga saja dia tidak merasakan ciuman itu." gumam Safira.


Safira berusaha untuk bersikap biasa saja, namun saat pak bos menghampiri nya di meja kasir, entah kenapa detak jantung nya berdegub sangat kencang. Untung saja Indra datang ke kedai tepat waktu. Dia menggunakan kesempatan itu untuk menghilangkan rasa gugupnya itu.


Meskipun sesekali Safira mencuri pandang ke arah pak bos yang sedang menatap tajam ke arahnya. Safira semakin salah tingkah di buat nya. Dan ketika pak bos menegurnya, dia pun langsung mengusir Indra. Dia takut pak bos nya itu marah.


" Gua kira... dia ngeliatin gua terus dengan tatapan tajam itu pertanda dia sedang cemburu. Eh ternyata... karena gua asik ngobrol sama pelanggan di jam kerja. Dasar kaku..." Safira menggerutu kesal.


" Iiiiiiih kesel banget deh... hah." Dengus nya kesal seraya bangkit menuju lantai satu.


" Kamu dari mana aja sih neng?" celetuk Bembi ketika Safira sampai di meja kasir.


" Eh... aku... anu. habis nganterin laporan pemasukan ke ruangan pak bos." jawab Safira blepotan.


" Kirain ketiduran di sana." Ledek Bembi.


Spontan pipi Safira memerah.


Bembi yang melihat perubahan itu langsung menatap wajah Safira lekat.


" Kayaknya hari ini ada yang beda sama kamu dan pak bos." ucap nya kemudian.


" Ya kayak ada yang kalian sembunyiin dari aku." ucap Bembi penuh selidik.


" Gak ada kok kak, nyembunyiin apaan cobak?" Safira bersikap tidak terjadi apa-apa.


" Ah... gak mungkin deh. Aku tuh paling pinter kalok urusan baca aura wajah seseorang." jawab Bembi membanggakan diri.


" Buku kaliiiik dibaca." sahut Safira.


" Yeeeee gak percaya ni bocah. Oke... lihat saja, sebentar lagi aku pasti tau apa yang coba kalian sembunyikan." ucap Bembi penuh rasa yakin.


Safira pura-pura tidak mendengar ucapan Bembi. Dan langsung nyelonong pergi.


" Eh mau kemana? Di ajak ngomong... main nyelonong aja." seru Bembi.


" Mau makan siang, laper dengerin kak Bembi ngramal." jawab Safira dari luar kedai.

__ADS_1


Bembi geleng-geleng kepala.


Bembi semakin yakin dengan firasatnya.


" Mereka gak mau ngaku... Liat aja, aku pasti tau apa yang mereka rahasia kan." cicit Bembi.


***


Aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Aku tidak ingin membuat Mamah semakin menghawatirkan aku.


" Assalamu'alaikum." ucapku masuk kedalam rumah, sesaat setelah seseorang yang tampak asing membuka kan pintu. Mungkin pembantu baru, pikirku.


" Wa'alaikumsalam... eh anak mamah pulang." mamah menghampiri ku.


Aku mencium tangan mamah.


" Gimana kabar kamu sayang? Gimana? Udah mulai baikan?" mamah menyerbu ku dengan serentetan pertanyaan. Aku hanya mengangguk pelan.


" Mamah sempet khawatir lo Jay... Tiba-tiba kamu berubah gitu. Terus malemnya gak pulang." ucap mamah penuh perhatian.


" Jay gak papa kok mah. Mamah tenang aja, Jay gak akan hamil." sahut ku berusaha mencair kan suasana.


Mamah memukul pundak ku.


" iiiiiiih suka ngelantur deh kalok ngomong... kamu itu perjaka sayaaaaang. bukan perawan.... iiiih." sekarang mamah mencubit pinggang ku.


Aku terkekeh geli. Mamah menggandeng ku, mengantarkan aku ke kamarku.


" Mamah kangen sama semutnya mamah." ucap mamah saat kami menaiki tangga.


" Rumah terasa sepi kalok gak ada kamu..." imbuh mamah.


" Ah masak sih mah? Kan ada papah, ada bang Roni, ada bang Ardi juga." sahut ku.


" Hem... mereka mah beda. Rame nya bikin kepala mamah pusing. Mereka kaku, gak bisa di ajak bercanda." celetuk mamah.


" Tapi temen-temen Jay bilang... kalok Jay tuh kaku lo mah." ujarku.


" Kalok kamu sih, kakunya kalok berhadapan sama cewek. Tapi kalok sama temen cowok, kamu seru kok. Tuh buktinya si Bembi... kemana-mana ngintilin kamu terus." ucap mamah dengan nada menggoda.

__ADS_1


" Apaan sih mah? ngintilin tu bahasa apa?" Gantian aku yang menggoda mamah. Kami pun terkekeh.


... bersambung.


__ADS_2