Perjaka Sang Semut

Perjaka Sang Semut
Namanya Aisyah


__ADS_3

***


" Gimana, paham gak?" tanya Bembi padaku setelah menjelaskan panjang lebar padaku.


" Paham kok, dikiiiitt..." ucapku agak ragu.


" Ah capek kalok jelasin teori nya mah. Mending langsung praktek nanti." usul Bembi.


" Haaaaahh?? Nanti??" tanyaku melongo.


" Ya iyalah nanti... masak tahun depan. Lebih cepat lebih bagus, mut. Kalok kelamaan, takutnya nanti dia udah di gebet orang lain." ucap Bembi antusias.


Aku terdiam, ini pertama kalinya aku akan mendekati cewek yang aku sukai. Rasanya badanku panas dingin.


" Udah sih mut... santai aja. Ini baru mau kenalan muuut. Setelah kenalan, masih ada beberapa tahap ke depan nya. Mulai dari PDKT dan seterusnya... dan nanti setelah yakin, baru ungkapin perasaan kamu ke dia." Bembi kembali menjelaskan panjang lebar.


" Seeeet dah... kok kayak nya lebih gampang nyusun skripsi yah." celetuk ku.


Bembi terkekeh mendengar ucapan ku.


" Udah ah, kerja dulu. Takut dimarahin pak bos." ucap Bembi bercanda sambil melanjutkan pekerjaan nya.


Krucuk... krucuuuukkkk...


" Duh... laper nih, tadi gak sarapan dulu." batinku sambil beranjak pergi ke dapur. Aku membuka laci atas lemari perabotan. Aku selalu mengisi laci atas itu dengan berbagai macam makanan, seperti Roti tawar dan aneka roti berisi. Dan yang paling wajib adalah aneka mie instan, makanan favorit ku.


Meskipun aku jarang makan di kedai, tapi stok makanan instan ini sekedar untuk Jaga-jaga saja. Siapa tau aku malas makan keluar karena panas atau hujan, atau saat aku tidak sempat sarapan seperti sekarang. Dan yang paling rajin memakan roti tawarnya itu si Bembi. Makhluk satu itu doyan banget roti tawar dari sejak masih didalam perut sepertinya.


Aku mengambil 2 bungkus mie goreng, lalu memasaknya dengan tambahan potongan sosis.


" Bembi... mau mie gak?" teriak ku pada Bembi setelah mie nya siap.


Tanpa menjawab, Bembi menghampiri aku di dapur. Lalu duduk di depanku, kami pun menikmati mie goreng buatan ku.


Kami selalu seperti ini sejak kecil. Kami sering berbagi makanan satu sama lain. Berbagi minuman pun sudah hal biasa bagi kami. Satu hal yang belum pernah, yaitu berbagi tempat tidur. Aku tidak pernah membagi tempat tidur dengan siapapun, sekalipun itu abang ku atau orang tua ku. Aku tidak bisa tidur saat ada orang lain di samping ku. Itu sudah menjadi kebiasaan ku dari kecil, dan semua orang terdekat ku mengetahui hal itu, termasuk Bembi.


" Muuut... sebenarnya aku mau bikin pengakuan sama kamu." ucap Bembi setelah kami selesai sarapan.


" Pengakuan apaan?" tanyaku.


" Tapi janji dulu, kamu gak akan marah." pinta Bembi.


" Ck... emang mau ngomong apa sih Bembi? Tumben amat pakek nyuruh aku janji segalak."

__ADS_1


" Aduh... gimana ya ngomongnya..." cicit Bembi.


" Jangan bilang kamu....." aku tidak melanjutkan ucapan ku, dan menyilang kan kedua tanganku di depan dada bak seorang gadis yang hendak di anu.


" Apaan sih Jay... kamu mikir kejauhan sih..." seru Bembi menggerutu.


" Habisnya kamu mau ngomong aja pakek belibet." ucapku sambil menurunkan tangan.


" Jay... eh, pak bos. Aku minta maaf ya...."


" Minta maaf buat apa?" potong ku.


" Ck... dengerin dulu napa." decak Bembi kesal.


" Maaf, soal waktu kejadian beberapa hati yang lalu. Sebenarnya aku yang nyuruh neng sapi masuk ruangan mu, buat bantuin kamu." ucapnya hati-hati.


Aku terperanjat mendengar penjelasan nya.


" Jadi kamu juga yang nyuruh neng sapi meluk aku?" tanya ku melotot.


" Iiiihh kalok itu bukan ide ku. Tapi neng sapi nglakuin itu karena situasi saat itu memang gak ada pilihan lain kan?" ucap Bembi.


" Please... maaf banget ya mut. Rencana aku sama neng Sapi mau minta maaf setelah kejadian itu. Neng sapi minta tolong ma aku, dia takut kamu marah. Tapi.... kamu nya malah molor sehari an." cerocos Bembi.


Bembi mengangguk tegas.


" Ya itu karena si neng sapi ketakutan kamu diemin, muut. Dia takut kamu pecat. Makanya aku ngusulin ide itu. Kan gak mungkin aku nyuruh dia bersihin kedai sendiri. Itu mah seolah-olah kayak aku menghukum dia, mut." Bembi kembali nyerocos.


" Jadi gimana? Dimaafin gak nih?" tanyanya butuh kepastian.


" Aku maafin kok, lagian aku gak marah tuh sama si neng Sapi." jawabku jujur.


" Terus ngapain kamu diemin dia sampek berhari-hari gitu?" tanya Bembi penuh selidik.


" Emmm itu.... aku... eemm." aku jadi belibet sendiri ditanya begitu. Masak iya aku harus ngomong yang sejujurnya.


" Itu apa Mut?" tanya Bembi Seraya menatapku lekat.


Aku garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.


" Aku juga gak ngerti Bem. Udah ah gak usah dibahas. Nih anak-anak pada kemana sih? Kok pada belum dateng?" ucapku mengalihkan pembicaraan.


" Kamu aja yang berangkat nya kepagian Bos." seloroh Bembi. Aku tidak menggubris nya, dan berlalu pergi menaiki tangga menuju ruangan ku.

__ADS_1


***


Tepat jam 10.00 pagi, aku keluar dari ruangan ku. Iya... itu adalah jadwal si manis datang ke kedai. Di kedai sudah mulai ramai ternyata,ku lihat pegawai ku sedang melayani beberapa pengunjung. Seperti biasa aku duduk tak jauh dari pintu masuk. Aku duduk menghadap ke luar sambil menatap kendaraan yang berlalu lalang.


BRUUUKKK!!


Aku spontan berlari keluar dan menghampiri gadis manis yang terjatuh. Motornya roboh saat dia hendak memasuki halaman kedai.


" Kamu gak papa?" tanyaku padanya.


" Gak papa kok, mas." ucapnya lembut.


Suaranya sungguh membuat adem telinga ku.


Ku toleh kanan kiri, tak ada seorang pun yang datang dengan nya.


" Yes... dia datang sendiri." ucapku dalam hati bersemangat.


Aku membantu memarkirkan motornya, dan mengajaknya masuk ke dalam kedai.


Safira yang tadi sempat keluar pintu, buru-buru masuk sebelum aku sampai depan pintu.


" Silahkan duduk... ada yang sakit gak?" ucapku penuh perhatian.


" Gak ada kok mas." jawabnya sambil tersenyum manis. Senyum yang selama ini hanya bisa aku liat dari kejauhan.


" Mau pesan apa mbak?" tanya Feri, salah satu pegawai ku.


" Seperti biasa aja, mas. Tapi satu aja yaaa... Soal nya temenku gak bisa dateng." ucapnya.


" Okeee." jawab Feri yang seperti nya sudah hafal pesanan si manis.


Aku bersorak-sorai dalam hati sambil mengulum senyum.


" Eh... iya mas. Kenalkan, aku Aisyah." ucapnya memperkenalkan diri.


" oh... aku Jay." ucapku sambil menyambut tangan nya.


Tak butuh waktu lama untuk bisa akrab dengan nya. Ternyata dia memang gadis yang ramah dan periang. Sangat mudah baginya untuk membuat orang lain nyaman didekat nya. Kami mengobrol tentang ini dan itu, dengan sesekali di selingi canda tawa.


" Ah... indahnya duniaku. Kamu memang yang aku tunggu selama ini. Tidak sia-sia aku tetap sendiri sampai sekarang." Ucapku dalam hati.


... bersambung.

__ADS_1


__ADS_2