
***
Sosok cantik memasuki sebuah kedai makanan siap antar. Dia tampak jalan ter pincang-pincang.
" SAFIRA! " seru ibu pemilik kedai.
Kedua tangan ibu itu sudah berada di pinggang nya.
" Baru dua hari kerja, kamu sudah bikin aku rugi" gertak si ibu kedai.
" Mulai besok kamu tidak usah kerja lagi" imbuh nya.
" Waduh buk, jangan gitu dong. Safira minta maaf buk. Tadi itu ada mobil terparkir sembarangan di pinggir jalan raya. Dan karena buru-buru, tanpa sengaja saya tabrak" ucap Safira menjelaskan.
" Saya tidak mau tau alasan mu, itu masalah mu. Yang saya tau, sekarang saya rugi besar. Dan sebaiknya kamu ganti rugi untuk 100 kotak sarapan yang kamu hancurkan itu." hardik ibu itu dengan emosi nya.
Safira terdiam. Bagaimana dia bisa ganti rugi, dia sama sekali tidak punya uang.
" Saya tidak punya uang buk, tapi nanti setelah saya punya uang. Pasti saya ganti buk, tenang saja. Ini ada uang 50 ribu buat nyicil." Safira meletakkan uang 50 ribuan di meja, kemudian ia berlalu pergi.
Iya, dia lah Safira. Gadis tomboy yang tadi membuat keributan di lampu merah. Safira hidup sebatang kara. Ayah dan ibunya meninggal dunia dalam kecelakaan saat dirinya masih SMA. Sedangkan perusahaan papahnya direbut kakak Tirinya.
Sejak saat itu, Safira hidup seorang diri. Untung dia memiliki sahabat yang sangat baik hati. Dia pun bisa tinggal di kontrakan besar dengan bantuan sahabat nya itu. Sahabat nya berasal dari keluarga kaya, namun tidak meninggalkan Safira saat tau kondisi nya yang memburuk.
Disaat semua sahabat wanita dan pacar meninggalkan dia dalam keterpurukan, hanya satu orang sahabat yang bertahan menemani nya serta menguatkan nya.
***
Tin tiiiiin....
suara klakson mobil tepat dibelakang Safira.
Safira menoleh dan tersenyum, ia menepikan motor matic nya itu.
" Indra... " ucapnya setelah turun dari motor.
Cowok bernama Indra itu turun memarkirkan mobilnya di halaman sebuah bank, lalu turun menghampiri Safira.
Dia adalah satu-satunya sahabat bagi Safira. Yang tak pernah meninggalkan dia dalam keterpurukan.
" Lu ngapain jam segini kelayapan, ndra?" tanya Safira.
" Oh, gua tadi habis meeting di sekitar sisi" jawab Indra singkat.
" Lu masih jam kerja, Ra? " lanjutnya.
Safira bingung mau menjawab apa. Ini adalah untuk kesekian kalinya Safira di pecat dari pekerjaan nya.
" I... iya, gua masih kerja lah. Ini mau balik lagi ke kedai." Jawab Safira berbohong.
__ADS_1
" Oh, ya udah. Nanti kalok udah istirahat kabarin gua yah." pesan Indra.
" Oke!! " jawab Safira singkat.
Indra beranjak masuk kedalam mobil. Dan dia melihat minuman kaleng yang sudah ia beli. Ia berniat memberikan itu kepada sahabat nya.
"Raaaa..." Indra menoleh pada Safira, tapi gadis itu sudah tancap gas. Indra hanya menggeleng kan kepala melihat kalakuan sahabat nya itu.
***
Indra masih tersenyum melihat kepergian sahabat nya itu. Senyum penuh arti. Sudah sekian lama dia memendam rasa cinta kepada sahabat nya itu.
Tapi Indra ragu untuk mengucapkan nya. Bahkan dia tidak bisa membayangkan reaksi Safira saat dia mengutarakan perasaan nya.
Mungkin Safira akan menertawakan nya. Dengan sifat tomboy Safira, Indra sangat paham tanggapan sahabat nya itu mengenai cinta. Apalagi setelah Safira ditinggalkan kekasih nya bertahun-tahun yang lalu.
Sejak saat itu, Safira tidak pernah mau mengenal apa itu cinta. Dia tidak percaya dengan semua ucapan manis cowok. Bahkan, dia berubah menjadi pribadi yang tomboy.
Sangat berbeda saat dulu dia belum mendapatkan ujian di hidup nya.
Dulu Safira adalah sosok gadis yang manis, imut dan lucu. Kehadiran nya selalu bisa mencair kan suasana. Sangat berbeda dengan sekarang, dia lebih dikenal sebagai "troble maker".
***
Safira bingung harus kemana sekarang.
" Andai gua punya orang tua, pasti gua gak akan semiskin ini." gerutunya.
Safira sering teringat kedua orang tua nya disaat-saat seperti ini.
Dulu, Safira adalah sosok yang dimanjakan. Bagaimanapun dia satu-satunya putri kandung ayahnya. Sedangkan kakak tirinya itu adalah anak dari istri selingkuhan ayahnya.
Siapa sangka, dalam sekejap semua milik keluarga nya malah direbut orang yang tidak punya hubungan darah dengan nya itu.
Sampai saat ini pun, Safira masih mencurigai bahwa kakak tirinya itulah dalang dibalik kehancuran nya. Sedangkan mama tirinya, alias selingkuhan ayahnya meninggal, jauh sebelum ayah dan ibunya kecelakaan. Dan semenjak mama tirinya, atau istri simpanan ayahnya meninggal. Mau tidak mau, kakak tirinya tinggal bersama mereka.
Sebenarnya Safira tidak mau menganggap nya sebagai kakak tiri, namun karena permintaan bunda nya ia menurut. Kadang ia merasa kesal jika mengingat sikap bunda nya yang terlalu baik.
" Andai bunda tidak sebaik itu, mungkin sekarang aku tidak akan sehancur ini." sesal Safira.
Dia masih terus mengendarai motornya.
Entah berapa lama dia berkeliling, berharap mendapat lowongan pekerjaan.
" Duh, apa gua minta tolong sama Indra aja ya?" pikirnya.
" Ah, gak... gak. Aku udah terlalu sering menyusahkan Indra. Bahkan aku belum bisa membayar hutang ku padanya." Safira mengurung kan niatnya.
Safira menghentikan motornya, ia merasa sangat lelah dan haus. Tapi saat membuka dompetnya, hanya selembar uang 2000 an yang di lihat nya.
__ADS_1
" Ya elah, miskin amat sih gua." gerutu nya.
TING.
Satu chat masuk.
Safira merogoh ponsel dari tas nya.
" Raaaa... nanti kalok Lu udah istirahat, kabarin gua yah. Takutnya gua lupa." Tulis Indra dipesan itu.
Safira hanya membacanya, ia tidak berniat membalasnya.
***
Sementara itu, di lantai 2 sebuah kedai es krim Jay masih memelototi leptop nya.
" Kalok sampek bulan ini pemasaran ku turun, papah pasti memaksaku untuk bergabung ke perusahaan." ucapnya kesal.
Dia terus mencari-cari sesuatu dari leptop nya.
Sesekali Jay memijat kening nya menggunakan jempol tangan nya.
" Aku butuh ide baru, tapi kenapa kali ini sangat sulit." ucap Jay sambil menutup leptop nya.
Dia berniat tiduran sebentar, menjernihkan otaknya.
" Andai di saat seperti ini ada seorang ibu peri yang membantu ku." Jay mulai berhayal.
Tapi entah kenapa hayalan nya sangat tidak realistis. Bagaimana mungkin ada ibu peri di dunia ini. Ibu peri hanya ada di dunia dongeng.
Seperti nya Jay masih mengingat dongeng yang selalu dibacakan mamahnya saat ia masih kecil dulu.
" Panas... " Ucap Jay sambil memegang tenggorokan nya yang mulai kering.
Dia melirik jam tangan nya. Sebentar lagi jam makan siang.
" Makan mie goreng enak nih kayaknya." ucap Jay si penggila semua jenis mie-mie an itu.
Dia turun ke lantai 1 dan meminta seorang pegawai mengambilkan es krim kesukaan nya.
Es krim rasa Vanilla.
Setelah pesanan nya siap, dia berniat untuk menyantap es krim itu didalam perjalanan yang panas nanti.
Jay meletakkan es krim nya di meja ,di teras depan kedai nya. Ia mengambil motornya yang terparkir di samping kedai.
Namun saat ia kembali untuk mengambil es krim nya, dia terkejut. Ia melihat Seorang sedang melahap es krim nya dengan rakus nya.
... bersambung.
__ADS_1