Perjaka Sang Semut

Perjaka Sang Semut
Siapa dia?


__ADS_3

***


CEKLEK!!!


Pintu ruangan ku pun terbuka, dan ternyata Safira yang datang. Aku hanya mengintip nya dari balik jaket yang menutupi wajahku.


" Pak bos belum bangun ya?" tanya nya kepada Bembi. Bembi menoleh ke arahku dan menarik jaket di atas wajahku. Namun tidak berhasil karena aku tindih menggunakan tanganku.


" Eh... iya nih, neng. Susah banget di bangunin nya." ucap Bembi kemudian, sepertinya dia tau bahwa aku sedang pura-pura tidur.


" Ya udah ini aku buatin mie goreng buat pak bos. Buruan di bangunin sebelum mie nya dingin." ucap Safira lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan.


Bembi menggoyang-goyang tubuhku.


" Udah cabut orang nya muutt." ucapnya memberi tahu ku.


" Hem." jawabku malas.


" Tumben-tumbenan neng Sapi perhatian sama kamu, muuut. mau dimakan gak mie nya? Kalok gak mau, biar aku aja yang makan." ucapnya lalu berdiri menghampiri semangkok mie di atas meja ku.


Aroma mie menusuk hidungku, membuat ku merasa lapar. Aku menelan saliva ku.


" Beneran gak mau nih?" tanya Bembi sekali lagi sambil mengaduk-aduk mie.


" Aku mau mandi dulu, nanti aja makan nya." ucapku bangkit seraya mengambil sendok dari tangan Bembi.


" Yeeeee... kirain gak mau. Kirain gak laper... " Ledek nya seraya kembali menutup mie itu.


" Udah ah, turun sana. Buruan buka kedai nya." titah ku.


" Oke... siap pak bos." Bembi berlalu dari hadapan ku.


Aku buru-buru masuk ke kamar mandi yang ada didalam ruangan ku. Yah, meskipun sempit tapi lumayan lah buat nyegerin badan saat waktu-waktu seperti sekarang. Tidak sampai 5 menit aku sudah selesai mandi, kalok kata orang sih mandi bebek. Aku kembali ke ruangan ku dengan menggunakan handuk yang entah sudah berapa lama tidak aku pakai.


Aku membuka lemari yang ada di ujung ruangan ku. Hanya ada beberapa pakaian didalam nya, itupun hanya pakaian serep. Sekedar untuk berjaga-jaga saat pakaian ku kotor terkena es krim ataupun bahan lain nya saat membuat es krim.


Aku memilih kaos hitam bertuliskan "Love you more" dan celana jins berwarna hitam. Entah kenapa memang aku sangat menyukai warna hitam. Hampir seluruh celana ku berwarna hitam semua. Hanya beberapa yang berwarna levis dan navy.


Aroma mie semakin menggoda saat aku mulai mengaduk nya. Suapan pertama pun berhasil membuatku merasa puas.


" Enak." ucapku lalu menyantap habis mie goreng buatan sapi mesum itu.

__ADS_1


Setelah selesai, aku meraih ponselku yang sejak kemarin ku matikan.


Begitu ponsel menyala, banyak sekali notifikasi pesan masuk. Tentu saja mamah yang menghubungi ku.


" Jay... kamu dimana? kenapa belum pulang juga?"


" Jay... kenapa ponselmu tidak aktif?? ada apa sayang?"


" Jay... jangan bikin mamah khawatir."


" Jay... mamah susul ke kedai ya??" ternyata mamah mengirimu banyak pesan.


" Ya sudah kalok kamu mau nginep di kedai. Gak papa, mungkin kamu butuh waktu sendiri. Besok kalok udah merasa baikan, cerita ke mamah ya sayang." tulis mamah di pesan berikutnya.


Aku bernafas lega membacanya, berarti mamah menyuruh papah atau abang ku untuk melihat ku di kedai. Dan setelah mereka tau motorku di samping kedai, mereka pergi. Setidaknya mereka tau bahwa aku tidak pergi kemana pun.


Aku masuk ke halaman beranda Google, dan menulis sesuatu di pencarian. Aku membacanya pelan-pelan dan kemudian tersenyum lega. Ternyata yang aku alami saat Safira mencium ku kemarin adalah hal yang wajar bagi pria dewasa sepertiku. Bukan karena sakit, tapi itu adalah reaksi tubuhku atas sentuhan yang diberikan Safira. Pria lain nya pun akan mengalami hal yang sama saat mendapatkan rangsangan dari lawan jenis.


Satu pengetahuan baru bagiku yang polos ini. Lalu aku berusaha sebisa mungkin untuk bersikap biasa saja, jangan sampai aku terlihat canggung didepan Safira.


Aku keluar dari ruangan ku membawa bekas mangkok mie ku. Ku lihat pegawai ku sudah mulai bekerja. Setelah meletakkan mangkok di dapur, aku menghampiri Safira. Sebisa mungkin aku bersikap seperti biasanya.


" Nanti siang saya kasihin ke bapak." ucapnya.


Aku hanya mengangguk.


Lalu tampak Safira tersenyum ceria, namun sepertinya bukan tersenyum padaku. Aku mengikuti arah pandangan nya. Dia menatap keluar kedai. Tampak lah seorang pria turun dari mobilnya yang terparkir dihalaman kedai.


Pria itupun masuk kedalam kedai dan langsung duduk. Safira menghampiri nya dengan senyum mengembang diwajahnya.


" Kok tumben gak ngabarin dulu?" tanyanya pada pria itu.


" Sengaja... biar kayak anak-anak muda." ucap pria itu sambil terkekeh.


Entah kenapa aku tidak suka melihat pemandangan itu. Safira tampak akrab dengan pria itu. Dan aku berfikir jika itu pacarnya.


" Kalok dia udah punya pacar, apa maksud ciuman nya kemarin sore? Apa itu sama sekali tidak berarti baginya? sialan..." Aku mengumpat kesal.


Suara tawa Safira dan pria itu berulang kali terdengar. Membuatku semakin geram. Aku mendekati Bembi di meja pesanan.


" Bem... kamu kenal gak sama cowok yang lagi ngobrol sama Safira?" tanyaku pada Bembi.

__ADS_1


Bembi menoleh kearah meja dimana Safira dan pria itu mengobrol.


" Oh itu... gak kenal sih. Tapi sering dateng kesini, mut. Mungkin pacarnya." jawab Bembi.


" Oh..." hanya itu yang keluar dari mulutku.


Dia sering datang ke sini? Untuk menemui Safira? Kenapa aku baru tau? Apa mungkin aku terlalu fokus dengan cinta pertama ku, Aisyah?


Aku terus memperhatikan mereka dengan perasaan tak menentu. Entah kenapa aku merasa harga diriku di permainkan oleh Safira.


Awalnya aku sempat mengira jika Safira menyukai ku. Tapi ternyata....


" Hah... semudah itu dia mempermainkan perasaan orang lain. Aku menyesal atas ciuman kemarin." ucapku sambil mengusap-usap bibirku kasar. Seolah aku ingin menghapus kenangan itu.


" Kamu kenapa, muuut?" tanya Bembi tiba-tiba.


" Hah??" ucapku kaget.


Bembi mengernyitkan dahinya sambil meneliti wajahku. Membuat ku mengalihkan pandangan ku. Bagaimana pun, Bembi sangat pintar membaca raut wajahku.


" Kamu cemburu yaaaaa?" ledek nya padaku.


Aku melotot ke arah nya.


" Cemburu?? Akuuuu?? ya gak lah, Bem. Kamu kok main tuduh aja sih." ucapku ketus.


Bembi malah terkekeh mendengar ucapanku.


" Udah... ngaku aja." dia semakin meledek ku.


" Enggak Bembiiii... mana mungkin aku cemburu. Aku kan sukanya sa...." ucapan ku terpotong. Aku kembali teringat Aisyah.


Tubuhku terasa memanas, aku kembali emosi mengingat semua yang terjadi padaku. Aku menyendok es krim yang ada di hadapan ku.


" Eh.. semut!!. itu pesanan pelanggan!!!" ucapan Bembi mengejutkan aku.


" Sorry... Keceplosan." cicit ku.


" Udah, kamu bikinin baru lagi!! Yang ini buat aku aja, lagi butuh yang adem-adem nih." ucapku lalu kembali menyendok es krim rasa vanila itu. Bembi mendengus kesal.


... bersambung.

__ADS_1


__ADS_2