Perjaka Sang Semut

Perjaka Sang Semut
Ceramah pagi


__ADS_3

***


Aku turun dari kamarku menuju ruang makan. Tampak mamah membantu bik Siti menyiapkan sarapan.


"Met pagi mah" sapa ku seperti biasa.


"Pagi Jay" jawab mamah singkat.


Tak lama kemudian, Papah beserta kedua abang ku bergabung di meja makan.


Mereka sangat rapi dengan setelan jas berdasi mereka, sedangkan aku hanya mengenakan kaos oblong dan celana jins hitam.


Ya, kedua abang ku mulai bergabung ke perusahaan papah setelah lulus kuliah. Sementara aku memilih untuk membuka kedai es krim sendiri. Dari sekolah memang aku tidak sejenius kedua abang ku. Meskipun kuliahku dipaksa masuk ke jurusan akuntansi bisnis, tetap saja aku enggan bergabung ke perusahaan.


Toh bagiku membuka kedai es krim juga merupakan bisnis kecil-kecilan. Tidak terlalu keluar jalur lah dari jurusan ku, pikirku menyemangati diri sendiri.


"Sampai kapan kamu mau jadi tukang es, Jay? " sindir papah seperti biasa.


"Sampai sukses dong" jawabku enteng.


"Sukses tidak semudah yang kamu bayangkan, Jay. " Ejek papah.


"Setidaknya aku bisa beli kendaraan sendiri pah. "jawabku tak mau kalah sinis.


Papah semakin geram mendengar jawaban enteng ku.


" Kamu tu ya, motor butut seperti itu saja kamu banggakan." Celetuk papah semakin pedas.


" Pah, biarkan Jay makan dengan tenang." tegur mamah tak ingin suasana semakin memanas.


" Harusnya kamu mulai membaca dokumen perusahaan, Jay. Siapa tau kamu tertarik." lanjut papah tak menghiraukan teguran mamah.


Aku menghela nafas.


"Sampai kapanpun, aku gak akan suka dengan tumpukan kertas penuh angka itu pah. Aku bukanlah rayap. Aku adalah aku, semut." ucapku menegaskan.


Papah meletakkan sendoknya.


" kamu, kalok orang tua ngomong.......... "


Drrrrrttt drrrrrrt drrrrrrt


Kata-kata papah terpotong mendengar getaran HP ku di atas meja.


Sontak semua mata tertuju ke arah layar ponsel ku.


*RAYA memanggil*


"Ngapain Raya nelpon Lu, Jay?" tanya bang Roni yang sedari tadi diam.


Kedua abang ku diam bukan karena kalem, tapi karena mereka masih lesu efek mabuk semalam.


" Noh tanya aja sama pacarnya." jawabku sambil memonyongkan bibir ke arah bang Ardi.


" Gua putusin,.... bosen gua alurnya gitu-gitu muluk." jawab Ardi dengan tampang tak berdosanya.

__ADS_1


" Kamu itu yah, sudah berapa kali papah bilang sama kamu. Jangan main perempuan. Fokus kerja." kini papah ganti mengomeli bang Ardi.


" Papah ni pusing, punya anak 3 ekor tapi gak ada yang bisa di andalkan." lanjut papah.


" Maaf pah, cuma bang Ardi sama bang Roni yang berekor. Aku mah gak berekor." sahut ku menggoda papah.


Tentu saja, karena aku adalah semut. Sedangkan bang Roni aku juluki burung, karena selalu terbang bebas. Dia cinta kebebasan.


Jadi wajar jika semua wanita hanyalah persinggahan saat dia sedang kesepian. Bang Roni tak pernah punya pacar meskipun banyak wanita yang sudah ditidurinya.


Sedangkan bang Ardi adalah buaya darat, kadal aprika. Entahlah, pokoknya dia pawang nya buaya. Baginya kekasih tak cukup satu, bahkan puluhan.


Dan apesnya, korban bang Ardi selalu curhat nya ke aku.


Iya.... aku. Sosok semut yang tak tau apa-apa tentang cinta.


***


Ku dengar papah masih melanjutkan ceramah nya. Dan tampak kedua abang ku beranjak dari meja makan tanpa memperdulikan ceramah panjang itu.


Aku pun tak mau kalah, aku langsung menyalami mamah dan papah.


" Assalamu'alaikum " ucapku sambil buru-buru pergi meninggalkan papah yang masih meneruskan ceramah pagi nya.


Aku menuju motor vespa ku yang sudah aku parkir didepan rumah. Iya, ini adalah hasil kerjaku saat aku pertama kali membuka kedai itu. Motor yang bagi papah hanya barang rongsokan ini sangat berharga bagiku.


Aku sangat menyayangi vespa ku yang butut ini.


Berbeda dengan kedua abang ku yang selalu minta dibelikan mobil mewah setiap tahun nya. Aku masih setia dengan vespa ku.


***


Aku lebih nyaman hidup seperti ini, jauh dari kata kemewahan.


Butuh waktu setengah jam lebih untuk sampai ke kedai es krim ku. Apalagi jika jalanan sedang macet-macet nya.


kadang aku berhayal menemukan sosok bidadari yang tulus mencintai ku apa adanya. Bukan karena harta orang tua ku.


Alangkah indahnya kisah di drama Korea yang sering di tonton mamah ku.


Tiba-tiba sang cowok bertemu tidak sengaja dengan gadis pujaan hati di tengah jalan raya yang padat. Bertabrakan dan kemudian memulai pertengkaran kecil.


Atau mungkin terpesona saat pandangan pertama mereka.


GUBRAAAAKKK.


Suara keras itu menyadarkan aku dari lamunan ku.


Aku menoleh ke arah sumber suara. Ternyata sepeda motor di belakangku menabrak mobil yang terparkir di pinggiran jalan.


Aku sempat melirik pengemudinya, ternyata seorang cewek tomboy. Sangat terlihat dari cara dia berpakaian dan cara dia uring-uringan terhadap si pemilik mobil.


Belum sempat melihat dengan jelas wajah si cewek tomboy, Lampu hijau menyala.


Membuat semua kendaraan membunyikan klakson dengan tidak sabaran.

__ADS_1


Aku pun beranjak pergi dari tempat itu.


***


Sesampainya di kedai...


" Pagi bos... " sapa seorang karyawan ku sekaligus teman masa kecilku itu.


Bembi dengan perawakan muka bulatnya menghampiri aku.


" Menu baru kemarin sudah siap belum? " tanyaku.


" Sepertinya sudah... " jawabnya sambil menggaruk jidatnya tampak berfikir.


Tanpa memperdulikan kata-kata nya, aku melanjutkan langkah ku menuju dapur.


Disana ku periksa semua pegawai ku sedang menyiapkan semua nya.


Yah, meskipun kedai kecil, aku sudah mampu menggaji 6 orang pegawai.


Dan mereka semua laki-laki. Entah kenapa aku lebih suka menerima pegawai laki-laki dibanding pegawai perempuan.


" Kalau sudah siap semua, langsung open 10 menit lagi." perintahku kepada mereka.


" Siap pak" jawab mereka.


Aku melenggang menuju ruangan ku di lantai dua. Kedai ku hanya memiliki dua lantai.


Lantai 1 untuk kedai, dan lantai 2 adalah ruangan ku. Tempatku memunculkan ide-ide baru. Terkadang tempat tidur siang ku.


Aku menghidupkan leptop ku, dan mulai mencari topik terhangat pekan ini.


Mencari apa saja jenis es krim terbaru di beberapa manca negara, ini bisa menjadi referensi ku menemukan es krim jenis baru.


Meskipun tidak selalu sama persis dengan yang asli, karena aku menambah kan unsur Indonesia di dalam nya.


Jadi tak heran jika kedai es krim ku tetap membutuhkan bahan-bahan lokal.


Seperti es krim ku yang pertama terjual laris. Aku memadukan es krim ala prancis dengan tambahan kacang merah di atasnya.


Drrrrrttt drrrrrrt drrrrrrt


HP ku bergetar lagi.


Oh shiiitttt... kenapa aku yang di usik, gerutuku kesal.


" Hallo kak Raya, maaf aku lagi dijalan. tut tuuuuutt. " setelah bicara asal, langsung ku matikan panggilan telepon Raya.


Sungguh aku tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan cinta mereka. Ku pindah kan HP ku agak jauh dariku.


Tapi tetap saja suara getaran HP ku terdengar.


Aku membuang nafas kasar, lalu ku raih HP ku.


Daaaaan ku matikan saja HP ku.

__ADS_1


... bersambung.


__ADS_2