Perjaka Sang Semut

Perjaka Sang Semut
Jagoan kedai


__ADS_3

***


" Woiiii!!!" teriak Safira dari arah pintu kedai. Semua mata tertuju ke arah sumber suara.


" SAFIRAAAA??" ucap ku berbarengan dengan para pegawai ku terkejut.


Aku berharap Safira tidak berbuat sesuatu yang nekad. Namun ku lihat dia malah masuk kedalam kedai. Seseorang menghadangnya di depan pintu.


" Udah deh... Lu gak usah ikut campur. Disenggol ntar nangis..." ejek nya pada Safira.


" Hajar aja mbree..." teriak yang lain nya.


" Yoi mamen... biar gua urus sendiri nih bocah. lumayan mulus... " ucapnya lagi seraya meneliti tubuh Safira.


Aku menelan saliva dan memejamkan mata.


" Ya Tuhan... selamat kan kami! Dan jangan biarkan mereka menyentuh Safira." aku berdo'a didalam hati. Setelah itu aku mendengar suara perkelahian.


" BUG BUG BuG!!"


" Aaaakkkhh..." teriakan itu mengejutkan aku.


Aku membuka mataku pelan, dan aku semakin terkejut melihat preman yang mencoba mendekati Safira tadi telah terbaring di lantai, dengan salah satu tangan nya di injak Safira.


" Masih berani gak Lu?" teriak Safira padanya.


" Aaakkh sakit... sakit." serunya kesakitan.


" Kalian pergi, atau gua patahin leher kalian!!!" ancam Safira kepada para brandal itu.


" Kurang ajar ni bocah... habisi dia!!!" Teriak brandal yang menyandera ku, yang merupakan bos dari para brandal itu.


Safira menutup pintu, seolah tak ingin terlihat dari luar. Aku semakin khawatir melihat kenekatan Safira. Sungguh ini diluar dugaan ku.


Para berandalan itu sudah mengepung Safira. Namun tak terlihat rasa takut sedikitpun di wajah Safira. Suara perkelahian pun kembali terdengar. Lagi-lagi kami dibuat tercengang dengan aksi bela diri Safira. Dalam waktu singkat, Safira mengalahkan mereka. Gerakan nya sangat cepat dan lincah, bahkan lebih lincah dibandingkan kedua abang ku, yang menurut penilaian ku mereka lah jagoan ku.


Para berandal itu mengerang kesakitan di lantai. Sementara Safira mendekat ke arahku yang masih dalam penyanderaan.


" Lu berani mendekat satu langkah lagi... gua bunuh pria ini!!!" ancam bos berandalan itu semakin menekan pisau ke leherku. Aku memejamkan mata, tenggorokan ku sudah terasa sakit akibat pisau itu. Nafasku semakin sesak membayangkan nasibku.


" Haruskah aku mati seperti ini? ya Tuhan, aku belum bisa membahagiakan keluarga ku. Semut ini masih ingin hidup demi cita-cita dan harapan yang...." belum selesai aku bergumam dalam hati, aku merasakan tubuhku mulai ambruk dan seseorang menangkap ku. Setelah nya aku tidak ingat lagi.


***


" Pak bos!!!" teriak semua pegawai ku.

__ADS_1


Safira menangkap tubuhku dan menyandarkan kepala ku di dadanya sambil terduduk.


" Ikat mereka semua agar tidak kabur!! aku sudah menghubungi polisi. Sebentar lagi mereka pasti sampai." seru Safira. Semua pegawai ku menurut, mereka mencari apapun yang bisa dijadikan tali.


" Agil, telpon ambulans!!!" Teriak Safira setelah menyadari darah segar mengalir dari leherku.


Safira menekan luka itu dengan tangan nya, matanya mulai berkaca-kaca.


" Pak bos... sadarkan dirimu!!!" serunya sambil memeluk tubuh ku.


Tak jauh darinya, Agil menelpon ambulans dengan suara tersendat-sendat.


" ..............Se... gera kirim ambulans kemari! Karena seseorang terluka disini. Baiklah, tolong sesegera mungkin..." ucap Agil seraya menatap nanar ke arah bos nya.


" Apakah dia terluka parah??" tanya Bembi seraya duduk didepan Safira.


" Kita belum bisa memastikan, tapi kurasa pisau itu sudah melukai leher pak bos." ucap Safira mulai menangis.


" Kalok sesuatu terjadi pada pak bos, aku gak akan bisa maafin diriku sendiri." Safira terisak memeluk tubuh ku.


Antara sadar dan tidak sadar, aku merasa ada sesuatu yang menetesi pipiku. Sayup-sayup ku dengar suara isakan tangis ditelinga ku.


" Siapa dia? Safira? itukah kamu?" setelah itu, aku kembali tak sadarkan diri.


***


" Kamu udah sadar, mut?" suara yang begitu akrab ditelinga ku. Bembi mendekatiku, dia membantuku untuk bangun.


" Kata dokter...Jangan banyak gerak dulu, terutama bagian leher. Jangan tolah-toleh dulu. Takutnya jahitan nya kebuka lagi." ucapnya menasehati ku.


" Bagaimana yang lain nya, Bem? Mereka dimana?" tanyaku penasaran karena hanya ada Bembi di sebelah ku.


" Safira sama Agil ke kantor polisi untuk menjelaskan semuanya. Sedangkan yang lain nya membereskan kedai akibat kekacauan tadi." jawab Bembi menjelaskan.


" Sebenarnya apa yang terjadi, Bem? Setelah Safira mendekat ke arah ku dan di ancam bos berandalan itu, aku sudah tidak ingat apa-apa lagi." tanyaku dengan khawatir.


Bembi pun menceritakan semua yang terjadi padaku, mulai dari Safira berusaha menyelamatkan aku, dia melawan bos itu, hingga saat memeluk ku sambil menangis.


" Ternyata aku tidak bermimpi, ternyata itu memang suara Safira yang menangisiku... dan air mata itu..... iya benar sekali, itu air mata Safira." gumam ku.


CEKLEK!!!


Tiba-tiba saja ada yang membuka pintu.


" JAY!!!" seru mamah berlari ke arahku,wajahnya sudah basah dengan air mata menggenang di pipinya. Bang Ardi mengekori nya dibelakang.

__ADS_1


" Sayaaang... kamu baik-baik aja kan? Mamah khawatir saat Bembi menghubungi mamah. Mamah takut terjadi sesuatu padamu. Sebenarnya apa yang terjadi? apa yang sakit?" tanya mamah cemas.


" Tenanglah mah, Jay sudah dirawat dan lukanya sudah dijahit." jawab Bembi.


" Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian, coba ceritakan semuanya sama mamah Bem!!!" pinta mamah pada Bembi.


Bembi pun mulai menceritakan tragedi itu.


" Saat aku bersama pegawai yang lain mulai bekerja pagi ini, tiba-tiba saja ada rombongan perampok masuk ke dalam kedai. Jumlahnya sekitar.... em... mungkin sekitar 10... iya 10 orang." Bembi bercerita dengan semangat.


" Terus... terus?" tanya mamah tidak sabaran.


" Kami disandera, mereka semua membawa senjata tajam mah. Yang lebih parah lagi... bos para berandalan itu menodongkan pisau dileher Jay." cerita Bembi sambil mempraktek kan penyanderaan ku.


" Aduh..." mamah bergidik ngeri.


" Untungnya ada jagoan kedai datang, dia melawan para berandalan itu dengan tangan kosong. Sangat hebat." kini aku yang melanjutkan cerita Bembi. Tanpa sadar wajahku berseri-seri saat menceritakan nya.


" Iya mah... Jay ambruk setelah mendapatkan luka di lehernya. Untung saja jagoan itu menangkapnya. Bahkan memeluk Jay sambil menangis histeris,mah. Dia terus memanggil nama Jay dengan penuh cinta. Seperti kisah romantis di drama Korea gitu mah..." Bembi melanjutkan cerita dengan menambahkan banyak bumbu didalam nya.


" CINTAAAA??" mamah terbelalak mendengarnya.


" Si... siapa jagoan itu? Siapa namanya? Agil? Toni? Arman? si... siapa?" tanya mamah dengan suara bergetar.


Aku tau apa yang sedang dipikirkan mamahku itu. Aku menghela nafas panjang.


" Safira mah... namanya." jawabku.


" Safira? cewek kan?" tanya mamah dengan nada penuh penekanan.


" Ya cewek lah mah... namanya juga Safira." celetuk bang Ardi yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.


Mamah memandangku dengan tatapan menyelidik. Aku memutar bola mataku lelah.


" Cewek... mamah. Beneran... tanya aja sama Bembi kalok gak percaya." jawabku kesal.


" Cewek kok mah... cantik." sahut Bembi.


" Sejak kapan ada cewek bekerja di kedai mu? kenapa mamah tidak tau?" mamah semakin penasaran.


" Baru semingguan ini kok mah... Lagian apa Jay harus lapor dulu sebelum menerima pegawai baru?" aku semakin kesal dengan tingkah mamah ku. Masih saja dia menakutkan hal yang bukan-bukan tentangku. Aku memang tidak se pemberani kedua Abang ku masalah cinta, tapi bukan berarti aku gak normal. Hadeeeh... Kadang suka capek sendiri dengan jalan pikiran mamah yang terlalu dramatis.


" Mamah jadi pengen ketemu sama pegawai barumu itu." ucap mamah yang kini aura wajahnya berubah berbinar-binar.


" Pasti cantik kan? gimana... coba kamu..." kata-kata mamah terputus karena ponselnya bergetar.

__ADS_1


Drrrrrtttt... drrrrrrtttt...


... bersambung.


__ADS_2