Perjaka Sang Semut

Perjaka Sang Semut
Es krim rebon


__ADS_3

***


Safira masih tampak kesal dengan julukan barunya. Dia mencibir ke arah Bembi yang berlalu pergi meninggalkan nya bersama Agil. Aku turun dari lantai dua, berlalu menuju ruangan penyimpanan bahan. Aku meneliti bahan apa saja yang perlu ditambah stok nya. Aku selalu turun tangan sendiri masalah bahan.


Tidak sepenuhnya ku serahkan pada pegawai.


Setelah meneliti, aku mencatat beberapa bahan yang mulai habis. Aku pergi menuju dapur, ku lihat para pegawai masih menyiapkan semua nya. Ku lihat Bembi sedang mencoba resep es krim barunya. Ku urungkan niatku untuk menyuruhnya membeli bahan. Tiba-tiba saja aku teringat neng Sapi.


"Ah biar si neng sapi aja." pikirku.


Aku berjalan menuju kasir.


" Neng sapi nu garelis, minta tolong dong." entah kenapa aku malah bersikap seolah-olah menggodanya, menirukan logat khas Bembi.


Aku pun tidak tau, kenapa tiba-tiba jiwa jahil ini muncul dalam diriku. Aku yang selama ini terkenal kaku saat berhadapan dengan makhluk bernama cewek.


Agil dan Safira menatap ku dengan pandangan yang tak bisa ku tebak.


" Minta tolong apa pak bos?" Agil bertanya penasaran.


Sedangkan Safira memonyongkan bibirnya menirukan ucapan ku tadi.


" Ke toko sebrang jalan, beli bahan-bahan. Buat nambah stok di gudang." jawab ku seraya meletakkan catatan di atas meja kasir.


Safira menyaut kertas itu sambil menganggukkan kepala.


" Yang penting ada uang bensin." ucap Safira sambil tangan nya memberi kode.


" Ck... cuma diseberang jalan noh. Gak pakek bensin." aku berdecak cuek.


" Bukan bensin buat motor bos, tapi buat ini. Ini juga butuh di isi." ucap Safira sambil mengelus perutnya.


Aku menghela nafas sambil mengeluarkan dompetku dari saku celana.


" Ya udah nih... Kalok ada sisa baru buat bensin. Kalok gak ada yaaaaaa... " aku mengangkat bahuku.


" Huuuuu dasar pelit." ucap Safira sambil menerima sejumlah uang dari tanganku.


" Huuuuu kang rampok." ucapku menirukan gayanya berbicara.


Safira berlalu pergi tanpa menggubris ku.


" Awas... jangan sampek salah beli bahan." teriak ku padanya meskipun tidak mendapat respon.


Agil menatap ku dengan muka penuh tanda tanya.


" Pak bos kok beda ya hari ini." ucapnya kemudian.


" Beda gimana gil? Perasaan sama aja kayak biasanya. Toh aku gak makek ****** ***** di luar." jawab ku nglantur.


Agil cuma nyengir mendengar ucapan ku.


Tiba-tiba Bembi menghampiri kami.

__ADS_1


" Loh... dimana neng sapi?" tanya nya celingukan.


" Disuruh belanja bahan sama pak bos." Agil yang menjawab.


Bembi manggut-manggut dan mengalihkan pandangan nya padaku.


" Mut, resep baru ku gagal deh kayak nya." ucap Bembi sambil menggaruk kepalanya.


Belum sempat aku menjawab, Bembi sudah berlalu pergi dari hadapan ku. Aku mengekori nya dari belakang.


" Maksudnya gagal gimana? Gak enak atau gimana?" tanyaku.


" Belum aku cobain rasanya, masih aku freezer tuh." jawabnya singkat.


" Terus dari mana tau kalok gagal?" tanyaku heran. Bukan nya menjawab, Bembi malah mengangkat bahunya.


Aku menyentil tengkuk lehernya, Bembi bergidik geli.


" Ayo coba cicipin biar jelas... " ucapnya seraya mengambil cup es krim yang sudah mulai membeku.


Aku mengambil sendok dan mulai mencicipi nya. Entah bagaimana, aku merasa rasanya sangat aneh. Tapi aku hanya diam sambil berfikir.


Melihat hal itu Bembi langsung mencicipi penasaran. Dan setelah itu....


" Ck... bener kan firasat ku. Rasanya aneh, meskipun manis tapi hambar." ucapnya sambil mengelap mulutnya.


" Udah lah Bem, bisa dicoba lagi kan." ucap ku menyemangati nya. Bembi menghela nafas.


Selama ini, Bembi adalah sahabat yang selalu menemani suka duka ku. Dari masih orok sampai sekarang, kami tidak pernah bertengkar. Kami saling memahami sikap masing-masing. Bagiku, dia bukan hanya seorang sahabat. Tapi, dia juga sosok partner kerja yang sangat mendukung ku.


***


Safira celingukan mencari bahan-bahan yang sudah aku catat.


" Waduh, kalok bahan-bahan yang jenis bubuk gua kurang paham." ucapnya sambil mengedarkan pandangan nya menyusuri toko bahan kue itu.


" Yang ini nih kayak nya." Safira mengambil bahan itu tanpa mengecek nya dulu.


Tak selang berapa lama, dia sudah sampai di kedai. Dia meletakkan bahan itu tepat di depanku. Aku segera mengecek nya. Hampir semuanya betul, kecuali satu bahan...


Aku membuka bahan itu dan mencium baunya.


Benar saja, Safira salah membeli bahan.


" Neng sapiiiii.... ini bukan bubuk almond, tapi ini bubuk rebon." ucap ku menjelaskan.


Spontan dia mengambil bahan itu dan menyicip nya. Aku menjulurkan lidah, merasa jijik melihatnya.


" Itu bahan mentah... " ucapku.


" Ah tauk ah pak bos, seumur-umur gua gak pernah masak. Gak pernah bikin kueh. Mana paham yang beginian." ucap nya membela diri.


Aku mengusap wajahku sekilas.

__ADS_1


" Kan bisa tanya sama penjaga tokonya sapiiiiii." ucapku kesal.


" Ah ogah. penjaga nya om om tua... matanya jelalatan gitu." jawabnya manyun.


Aku membuang nafas kasar.


" Teruuuuus kita mau bikin menu baru, es krim rasa rebon gituh... " ucapku sewot.


" Ya gak papa, siapa tau enak dan bisa jadi menu favorit." jawabnya nglantur.


" Favorit gundulmu..." aku mengacak-acak rambut Safira.


" Ck.... " Sagira menghindar.


Ehem.... ehem


Bembi berdehem dari kejauhan. Aku tidak tau arti deheman nya itu. Aku menggaruk ujung hidungku.


" Ya udah sana balik kerja, nanti biar Bembi aja yang urus masalah bahan." ucapku.


Aku berlalu pergi ke lantai dua, ku lirik tampak Bembi mengekori di belakang ku.


" Kamu ngerasa gak sih, Jay? Hari ini kamu tu beda banget." ucap Bembi setibanya kami di ruangan ku.


" Beda apanya sih, Agil juga bilang aku beda. Kalian tuh yang aneh." ceplos ku.


Aku duduk d ikursi ku, sedangkan Bembi duduk di atas meja tepat dihadapan ku.


" Hari ini tuh... seolah-olah aku melihat orang lain dalam diri Jay. Seorang Jay yang gak pernah ngobrol, apalagi bercanda sama cewek. Nah... hari ini kamu melakukan itu. Sadar gak sih kamu...?" ocehnya.


Aku terdiam mendengar ocehan Bembi.


" Masak iya sih aku begitu?" tanyaku pada diri sendiri. Bembi mengangkat bahu.


" Aku mulai curiga sejak tadi pagi. Saat kamu bilang kalok neng sapi bakalan kerja disini. Atau jangan-jangan kamu suka ya sama dia?" selidik Bembi dengan alis di gerak-gerak kan.


Aku melotot ke arah Bembi.


" Apaan sih Bem? Kamu tau kan aku gimana. Gak mungkin lah secepat itu aku jatuh cinta." jawab ku penuh keyakinan.


" Nama nya cinta.... bisa datang tiba-tiba, Jay." ejek Bembi.


" Udah deh, gak usah bahas masalah cinta. Mending kamu urusin bahan-bahan yang tadi dibeli sama neng sapi-mu." perintahku.


Bembi beranjak dari mejaku, lalu keluar dari ruangan ku.


***


Dimeja kasir, Safira sedang mendengarkan penjelasan dari Agil. Di kedai ku, Agil lah yang paling pintar memberi penjelasan kepada pegawai baru. Dia juga sangat sabar menjelaskan, sampai orang tersebut paham.


Ghhrrrr ghrrrr...


Spontan Agil terkejut dan menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


... bersambung.


__ADS_2