
***
Drrrrrrtttt drrrrrrtttt...
Mamah merogoh ponsel nya dari dalam tasnya.
" Hallo pah... iya mamah udah di rumah sakit ini. oh gitu?... ya udah gak papa... Jay udah mendingan kok pah. Papah hati-hati yaaaa!!"
Setelah itu mamah mengakhiri panggilan telepon nya.
" Itu tadi papah... papah sama bang Roni lagi dinas keluar kota. Mereka titip salam... mungkin lusa baru bisa pulang." ucap mamah.
" Iya mah... Jay gak papa kok." jawabku singkat.
" Ya udah mamah pulang dulu, mamah mau ambil baju ganti kamu karena kamu harus bermalam di rumah sakit untuk beberapa hari." ucap mamah mengelus pundak ku.
Aku hanya mengangguk.
" Bembi... mamah titip Jay dulu ya." ucapnya tersenyum pada Bembi.
" iya mah... pasti Bembi jagain kok." Bembi membalas senyuman mamah.
" Jay bukan barang mah, gak usah di titipin." sahut ku.
Mamah hanya terkekeh lalu pergi.
" Mataku berat banget Bem." keluh ku.
" Tiduran aja mut, mungkin pengaruh obat." ucap Bembi membantuku berbaring lagi.
Dalam sekejap aku sudah tertidur.
***
Di kantor polisi...
" Baiklah... Terima kasih atas kerja samanya. Kalian boleh pergi." ucap pak polisi yang tadi menginterogasi Safira dan Agil.
" Baik Pak... terimakasih." jawab Agil.
" Ta... tapi pak. Bolehkah saya mengambil ponsel itu, itu milik bos kami." ucap Safira.
Polisi itu mengambil ponsel itu lalu meneliti.
" Kalok bapak tidak percaya, saya akan menelpon ke ponsel itu." ucap Safira seraya mengeluarkan ponselnya dari jaket jins nya.
Dia mencari-cari sebuah kontak yang selama ini tidak berani dia hubungi, lalu dia melakukan panggilan ke nomor tersebut.
*SAPI MESUM is calling...
Tertulis di ponsel yang berada tepat didepan pak polisi itu. Semua mata terpaku melihat ke layar ponsel dengan tertawa tertahan. Safira melotot membaca nama kontaknya di ponsel bosnya itu...
__ADS_1
" Apaaa?? Sapi mes... mesum? mesum katanya?" Safira melihat ke wajah semua orang disitu.
" Hahaha... pak bos kami memang suka bercanda seperti ini. mesum... cih, dasar orang kaku..." Safira meracau sendiri.
Dia tertawa kaku lalu pergi beranjak meninggalkan ruangan itu dengan disusul Agil.
" Firaaaa!!! kita mau kemana sekarang?" tanya Agil setelah sampai di parkiran.
" Kita ke rumah sakit sekarang... iya, kita harus kesana. Akan ku buat perhitungan dengan orang kaku itu. Beraninya dia menamai ku dengan nama yang tidak bermoral seperti itu... Hah..." Safira geram.
" Tapi pak bos kan lagi sakit..." sahut Agil cemas.
" Wah... ternyata aku gak bisa berbuat banyak sekarang." Safira meninju motor Agil. Agil hanya melihatnya aneh.
" Buruan naik, atau aku tinggal?" gertak Agil seraya menyipitkan matanya menahan silau matahari yang sedang terik. Safira langsung meloncat ke motor, Agil hanya geleng-geleng kepala.
***
Sesampainya di rumah sakit...
" Fira.. aku mau ke toilet dulu. Kamu duluan aja... bos ada diruang anggrek no.2." ucap Agil.
Safira hanya menghela nafas seraya mencari ruangan yang disebutkan Agil. Lalu menghentikan langkahnya di sebuah ruangan VIP.
" Wah... ternyata bos ku menghabiskan banyak untuk merawat lukanya yang tak seberapa itu." cicit Safira.
Tok tok tok...
Safira mendekat ke wajahku, nafasnya berhembus ke wajahku sehingga membuatku terbangun. Namun aku merasa nafas itu semakin dekat... dekan dan lebih dekat hingga hanya menyisakan satu senti...
" Apa kamu mau mencium ku lagi?" ucapan ku mengejutkan Safira.
Aku membuka mataku dan kulihat dia sangat gugup menarik wajahnya dan merapikan rambutnya.
" Cium? apaan sih? siapa juga yang mau nyium? aku..." kata-kata Safira terputus.
" Dia bilang apa tadi? menciumnya lagi? itu berarti dia...... hah... dia sadar saat aku menciumnya waktu itu. Matilah aku..." Safira semakin gugup. Ingin rasanya dia melarikan diri.
" Jadiiii... itu sebabnya nama kontaknya dikasih nama... SAPI MESUM." Safira kembali bergumam seraya menggigit bibir bawahnya dan memejamkan matanya. Pipinya merah merona menahan malu.
Aku terkejut melihat perubahan warna pipinya.
" Apakah dia marah?" Pikirku.
" Ehm... neng, aku tadi cuma bercanda." ucapku berusaha memberi alasan.
" Makasih udah nyelamatin aku... kedai dan semua pegawai ku." ucapku tulus.
Safira menghela nafas panjang.
" Iya Pak bos... memang sudah sewajarnya aku melakukan itu. Apalagi itu terjadi didepan mataku... dan ditempat ku bekerja." ucapnya menahan geram.
__ADS_1
Entah mengapa aku merasa lucu melihat ekspresi nya itu. Aku tersenyum diam-diam.
CEKLEK!!!
Bembi dan Agil masuk bersamaan.
" Eh... pak bos udah bangun." ucap Bembi meledek ku.
" Gimana keadaan pak bos? pak bos baik-baik aja kan?" tanya Agil yang sudah berdiri didekat ku.
" Pasti baik-baik aja... lukanya tidak terlalu dalam dan sudah dijahit... gak usah terlalu khawatir, gil." Safira menjawab pertanyaan Agil dengan nada ketus.
" Tapi kayaknya tadi ada yang panik abis... meluk pak bos.... pak bos bangun... kamu harus kuat... sambil nangis gitu." Bembi mengejek Safira sambil terkekeh.
Agil pun terkekeh bersamaan dengan Bembi. Wajah Safira semakin merah menahan malu.
" Ish... mana ada aku begitu?" dengus nya lalu pergi terburu-buru meninggalkan ruangan.
Rasanya Safira ingin bersembunyi di dasar laut agar tak ada seorang pun yang melihat nya tersipu. Pipinya terasa sangat panas. Dia berlari menuju kantin rumah sakit dan membeli minuman dingin di sana. Berusaha mendinginkan pipinya dengan botol minuman dingin itu.
Sementara itu di ruangan Bembi dan Agil masih saja terkekeh menertawakan tingkah Safira yang tersipu malu.
" Harusnya kalian tidak membuat nya malu." ucapku menasehati mereka.
" Tapi kita semakin tau perasaan nya, mut. Dia manis bukan? Ayolah... coba buka hati kamu buat dia." ucap Bembi menggoda ku.
" Eh... tapi pak bos kan udah punya Aisyah." seru Agil mengingatkan.
" Oh... iya. Aisyah.... gimana mut? kalian udah jadian kan?" tanya Bembi penuh semangat.
" Hah... udahlah, gak usah bahas Aisyah lagi." jawabku malas.
Agil dan Bembi mengernyitkan dahi.
" Kenapa?? kamu ditolak?" Bembi semakin penasaran. Aku membuang nafas kasar.
" Bukan ditolak... tapi aku gak jadi ngungkapin perasaan ku. Karena dia sudah punya pacar." ucapku menjelaskan.
Sejenak mereka terdiam, dan setelahnya mereka bersemangat lagi.
" Ya udah... pak bos sama Safira aja." celetuk Agil bersemangat.
" Betul kata Agil, mut. Kalok dilihat-lihat... kayaknya Safira naksir sama kamu deh..." ucap Bembi semakin bersemangat menggoda ku.
" Haish... sudahlah. Aku pasien sekarang... jangan berisik meributkan hal yang tidak penting." ucapku jengkel.
" Seperti nya pak bos memang gak suka sama Safira... soalnya kontak Safira dikasih nama *sapi mesum*... " cicit Agil.
Aku dan Bembi membelalak kan mata terkejut.
" Kok kamu tau?" tanyaku melotot ke arah Agil.
__ADS_1
... bersambung.