Perjaka Sang Semut

Perjaka Sang Semut
Perampokan


__ADS_3

***


Sesampainya didepan dikamar...


" Ya sudah kamu buruan mandi, terus turun ke bawah yah. Kita makan malam bersama... Sebentar lagi abang mu dan papah akan pulang." ucap mamah yang mengantarku sampai depan pintu.


" Okok okok." jawabku seperti biasa, bahasa candaan ku dengan mamah. Aku dan mamah memang memiliki bahasa yang terkesan nyleneh saat ngobrol berdua. Mamah tertawa kecil lalu pergi menuruni tangga.


" Hai kamar... aku pulang." ucapku seraya menjatuh kan tubuhku di tempat tidur. Malam ini aku akan tidur nyenyak di tempat tidurku. Bermalam di kedai membuat badanku terasa sakit semua, karena tidur di kursi panjang yang keras itu.


" Jaaaay...!! buruan mandi!!!" teriak mamah dari bawah, ia hafal betul dengan anaknya itu. Setiap masuk kamar pasti langsung berbaring di atas tempat tidur, tidak lekas mandi.


" Iyaaaaa mah." jawabku sambil berteriak juga.


" Mamah selalu tau kalok aku lagi males mandi." cicit ku seraya bangun dan menyambar handuk lalu masuk ke kamar mandi.


Saat menggosok gigi, lagi-lagi aku teringat ciuman itu. Aku bergidik sendiri sambil memukul pelan kepalaku.


" Sadar Jay... kamu hanya mainannya." ucapku berusaha menyadarkan diri.


Beberapa menit kemudian, aku turun kebawah. Aku lihat mamah sedang menyiapkan piring di meja makan. Aku menghampiri nya.


" Papah sama abang belum pulang, mah?" tanyaku.


" Sudah... bentar lagi juga mereka turun." jawab mamah.


" Bik Ijah... sop nya sudah siap belum?" teriak mamah.


" Bentar lagi, nyonya." sahut bik Ijah dari dapur.


" Pembantu baru mah? Bik Siti gimana?" tanya ku sekedar basa-basi.


" Bik Siti masih dikampung, katanya sih lagi merawat ayahnya yang sedang struk. Jadi gak tau kapan bisa kembali kesini, makanya mamah cari pembantu baru." jawab mamah. Aku hanya mengangguk.


Papah sudah turun dari kamarnya, disusul kedua abang ku. Makan malam pun dimulai...


" Aisyah mana, Ron?" tanya mamah.


" Malam ini dia gak kesini mah, katanya lagi revisi skripsi." jawab bang Roni.

__ADS_1


Aku kembali teringat Aisyah, ya aku baru sadar telah melupakan dia karena tragedi ciuman itu.


" Ternyata ada hikmahnya juga ciuman itu." Batinku sambil tersenyum simpul.


" Kenapa Lu senyum-senyum sendiri?" pertanyaan bang Ardi mengejutkan aku.


" Em... enggak kok." jawabku singkat.


" Apa kabar cewek yang kamu deketin, Jay? Gimana?? berhasil gak?" tanya bang Roni tiba-tiba.


" Uhuk!!!" aku tersedak. Mamah menuangkan segelas air putih untuk ku.


" Pelan-pelan makan nya, Jay." ucapnya sambil menepuk bahuku.


Aku meraih gelas itu dan langsung menenggak nya setengah. Saat aku meletakkan gelas itu, kulihat semua pandangan terarah padaku. Tatapan penuh selidik, aku menelan Saliva ku. Aku merasa seperti seseorang yang sedang di interogasi setelah berbuat kesalahan. Aku mengedip- ngedip kan mata karena bingung harus berbuat apa. Aku berusaha mengecoh kan suasana.


" Gak usah kedip-kedip... sekarang jawab mamah... kamu punya pacar, Jay?" tanya mamah penasaran.


Aku menggeleng kan kepala pelan. Mereka semakin menatap ku.


" Jay memang gak punya pacar... lebih tepatnya gagal punya pacar." ucapku sambil menyuapkan makanan ke mulut ku.


" Papah kira kamu sudah berani, Jay." celetuk papah.


" Iya nih... gua ngasih materi panjang lebar waktu itu percumah dong." bang Roni ikutan menggerutu.


Bang Ardi hanya terkekeh, sedangkan mamah berusaha menyetabilkan suasana.


" Sudah... sudah. Gak papa, suatu saat pasti Jay nemuin gadis yang cocok buat dia." selalu saja kata-kata mamah mampu membuat ku lega.


Malam harinya, aku tertidur sangat pulas. Entah karena terlalu ngantuk, atau malah karena efek terlalu kenyang. Makanan mamah memang yang paling istimewa.


***


Pagi harinya, aku berangkat ke kedai dengan perasaan yang tak menentu. Orang dulu bilang, seperti firasat tak enak. Pertanda akan terjadi hal buruk. Percaya gak percaya sih, tapi biasanya firasat lebih banyak benar nya.


Sesampainya di kedai, aku mendengar suara bentakan dari dalam kedai. Aku memarkirkan motorku asal, lalu terburu-buru masuk ke dalam kedai. Ku lihat 6 pegawai ku sedang duduk berlutut dilantai, dengan ditodong senjata oleh beberapa perampok.


Mereka semua menoleh ku yang sudah berdiri tepat di pintu. Dengan langkah gemetar aku mendekat.

__ADS_1


" Bos... " ucap Agil dan Bembi bersamaan.


" Oh... jadi ini bos kalian?" tanya seseorang bertato menghampiri aku. Aku menelan saliva berulang kali.


Inikah firasat buruk itu? Aku harus bagaimana? Sebenarnya siapa mereka? Pria bertato itu menyeret ku sambil menodongkan pisau di leherku. Keringat dingin mulai memabasahi tubuhku yang terlalu kecil untuk berhadapan dengan para brandal itu.


" Cepet buka lacinya." teriaknya menyuruhku membuka laci kasir yang terkunci. Laci yang berisi uang hasil pendapatan bulan ini, aku tidak pernah mengambil uang itu. Bembi lah yang selalu mengurus itu disetiap akhir bulan lalu melaporkan padaku.


Aku hanya diam saja karena memang aku tidak membawa kunci laci itu.


" BUKA SEKARANG!!! CEPAT!!!" bentak nya.


" Atau kamu mau mati bersama para pegawai mu ini?" ancam nya seraya menekan pisau yang ada di leherku. Pisau itu kini sudah menempel sempurna di leherku. Jika aku salah bergerak, mungkin pisau itu membunuh ku.


" Bos... ini." ucap Bembi terbata-bata seraya mengeluarkan kunci dari saku jaketnya.


" Oooooooo... jadi kamu yang bawa kunci? kenapa tadi tidak mau mengaku?" bentak seseorang yang berdiri tepat dibelakang Bembi.


Aku melihat wajah Bembi yang semakin pucat.


Aku menarik nafas panjang dan memejamkan mata. Aku berusaha menenangkan diri, berusaha memikirkan sebuah ide. Aku teringat pada Safira, aku baru sadar bahwa hanya Safira yang tidak berada disini.


Untungnya Safira belum datang. Syukur lah dia tidak ikut berada dalam situasi bahaya ini, batinku.


" Iya... Safira pasti bisa menolong kami. Jika aku mengirimi pesan, dia bisa meminta pertolongan dari polisi." pikirku seraya merogoh kantong celana ku.


" PLUKKK!!!"


Ah sial... ponselku malah jatuh tepat dibawah kaki pria yang menodong ku. Pria itu memberikan kode kepada seseorang yang berada tidak jauh dari kami. Lalu orang itu mengambil ponselku.


" Wah... HP bagus nih bos. lumayan bisa di duitin." ucapnya meneliti ponselku.


Dan tampak salah satu dari mereka meraih kunci dari tangan Bembi. Ternyata mereka berjumlah 10 orang. Dari jumlah saja kami sudah kalah, ditambah lagi perawakan mereka yang tinggi besar berotot serta bersenjata. Sudah pasti kami tidak bisa melawan mereka, apalagi aku dan pegawai ku tidak ada yang memiliki keahlian bela diri. Sungguh sial.


Ketika laci sudah terbuka, tiba-tiba terdengar suara teriakan...


" Woiii!!!" suara teriakan itu spontan mengalihkan perhatian semua orang.


Aku sangat terkejut ketika melihat ke arah pintu. Begitu juga dengan ke-enam pegawai ku yang lain, mereka pun terbelalak melihat siapa yang datang.

__ADS_1


... bersambung.


__ADS_2