Perjaka Sang Semut

Perjaka Sang Semut
Gadis manis


__ADS_3

***


Safira terdiam mendengar ucapan Bembi. Entah kenapa dia merasa bersalah terhadap nya. Bagaimana pun, Bembi tidak salah dalam masalah ini.


" Kakak yakin?" tanya nya setelah lama berdiam diri. Dia takut Bembi mendapat masalah karena membantunya.


Bembi menghela nafas setelah meneguk habis jus jeruknya.


" Semut itu sahabat ku dari kecil, aku tau gimana watak nya. Meskipun kali ini masalah nya agak sulit siiih..." Bembi garuk-garuk kepala.


Saat ini Jay tidak marah pada ku, karena dia tidak tau bahwa aku yang menyuruh Safira berpura-pura menjadi kekasih nya di hadapan Raya. Bagaimana jika dia tau, pasti dia akan marah.


"Hufftt..." Bembi bimbang harus berbuat apa.


***


Sesampainya di kedai...


Bembi segera ke ruangan Jay. Dia mengetuk pintu, tapi tidak ada sahutan. Bembi pun membuka pintu dan masuk.


" Yeeeee dia malah molor." cicit Bembi.


Dilihat nya sahabatnya itu sedang tertidur pulas dengan kedua tangan dilipatkan ke dada.


" Bangunin gak yaaa... gak usah deh. Biar nanti aja kalok dia udah bangun."


Bembi pun keluar dari ruangan, dan kembali bekerja. Karena memang jam makan siang sudah berakhir.


Siang itu, Bembi tidak fokus kerja. Setiap beberapa menit sekali dia menengok ke arah tangga. Berharap sahabat nya itu turun dengan senyum ramah nya.


Bembi melihat Safira pun sering menoleh ke arah tangga. Bembi menghampiri Safira di meja kasir.


" Pak bos lagi tidur, neng." bisik nya pada Safira.


" Emang biasanya kalok siang tidur gitu ya kak?" tanya Safira.


" Emmm biasanya kalok siang-siang molor gini mah, pertanda buruk neng. kalok gak lagi ada masalah, ya lagi ngambek." ucap Bembi dengan tatapan kosong ke arah tangga.


" Duh mati gua... Kira-kira gua dipecat gak ya?" Safira cemas.


" Masak iya, baru sehari kerja udah mau di pecat sih." Safira menutup wajah nya.


" Kalok selama ini sih, semut gak pernah tuh main pecat-pecat pegawai. Mungkin kalok kami salah, cuma di nasehatin." Bembi berusaha menenangkan Safira.


" Udah, kalok gak gini aja. Kalok misalnya pak bos sampek jam pulang gak nongol. Berarti dia marah besar. Dan kita harus bisa mengambil hatinya." usul Bembi.


" Caranya??" Safira mengernyitkan dahi.


" Pertama... jangan bikin pak bos semakin jengkel. Terutama kamu, tolong ubah deh logat bahasa mu yang Lu gua itu..." ucap Bembi.


Safira menghela nafas berat.

__ADS_1


" Gua coba deh..." jawab Safira.


" Masih aja Lu gua..." celetuk Bembi.


" Sorry udah kebiasaan." ucap Safira nyengir.


" Dan nanti sepulang kerja, kita bersihin nih kedai. Soalnya selama ini selalu pak bos yang sering bersih-bersih sebelum pulang." usul Bembi lagi.


" Hah ... masak sih pak bos mau bersih-bersih? kan dia bos? kenapa gak cari OB gitu?" Safira keheranan.


" Dulu pernah punya OB, tapi semenjak kedai sepi. Tuh OB resign, katanya karena terkadang pak bos bayar gajinya molor."


" Iya sih, kedai ini sekarang sepi. Gak kayak pas zaman pertama buka dulu." celetuk Safira.


" Emang kamu pernah kesini?" tanya Bembi.


" Iya, dulu. Dulu bangeeeet. pas awal-awal kedai ini buka. Saat aku masih jadi Sultan, sebelum hidupku hancur." ucap Safira kembali mengingat masa-masa indah bersama kekasihnya dulu.


Dulu memang Safira dan kekasihnya sering mampir di kedai milik Jay. Tapi itu sebelum semua kejadian tragis yang menimpa keluarga nya. Bembi melihat Safira melamun sedih, dia tau pasti Safira telah melewati masa-masa yang sulit. Bembi lebih memilih diam, tidak bertanya terlalu banyak.


Sampai jam pulang pun Jay tidak turun dari ruangan nya. Semua pegawai sudah pulang. Tinggal tersisa Safira dan Bembi yang sedang membersihkan kedai. Dan beberapa saat kemudian, mereka memutuskan untuk pulang.


***


Drrrrrrtttt drrrrrrtttt...


Suara getar mengejutkan aku dari tidur ku.


" Jay... kamu dimana? Kenapa belum pulang?" tanya suara di seberang sana.


" Masih di kedai mah, mau makan siang tapi masih males." ucapku lesu.


" Makan siang? Ini udah malam, Jay. Kamu ngelantur deh." ucapan mamah menyadarkan aku.


Aku segera melirik arloji ku.


" Oh shiiiit.... kenapa tidak ada yang membangunkan aku." umpat ku kesal.


" Mah... Jay jalan pulang sekarang. Assalamu'alaikum." aku memutus panggilan.


Aku melangkah malas menuruni tangga.


" Masih ngantuk nih, bersih-bersih nya besok pagi aja deh." cicit ku lesu.


Aku menghentikan langkah ketika hendak mematikan lampu. Aku meneliti seluruh ruangan kedai yang tampak berbeda dari hari biasanya.


" Tumben bersih... siapa yang membersihkan?" gumam ku seraya mematikan lampu dan mengunci pintu dari luar.


***


Keesokan harinya, aku terlambat karena kesiangan. Itu karena aku sudah puas tidur siang kemarin, dan ditambah lagi aku selalu terbayang saat dipeluk Safira. Entah kenapa badanku memanas hanya dengan mengingat adegan itu.

__ADS_1


Sesampainya di kedai, suasana sudah mulai rame. Begitu masuk pintu, pandangan ku tertuju pada sosok gadis manis berjilbab coklat. Dia duduk tak jauh dari pintu masuk.


Gadis itu bercanda ria bersama kedua teman nya. Dilihat dari penampilannya, sepertinya mereka masih kuliah.


Aku terus menatap nya dengan senyum mengembang di wajahku.


BRUUUKKK!!!


Aku terkejut ketika menabrak meja kasir. Safira pun terkejut melihat ku. Mata kami bertemu.


Entah kenapa hawa panas kembali terasa di tubuhku.


" Selamat pagi pak bos." ucapnya dengan senyum merekah di bibirnya.


" Haaah." aku tak menjawabnya, malah melongo melihat tingkahnya yang menurut ku aneh.


Tak lama kemudian, Bembi menghampiri ku.


" Tumben berangkat nya agak siangan, bos?" tegur nya padaku.


" Iya Bem... semalam gak bisa tidur." jawabku singkat.


" Silahkan nikmati es krim kesukaan pak bos dulu." ucap Bembi sok manis.


Aku menatap nya dengan mata kaku ku. Dia menarik kursi dan menyuruhku duduk. Seperti kerbau yang dicolok hidungnya, aku menuruti perintah Bembi.


" Ada apa ini? kenapa Bembi juga aneh hari ini? Sok manis, sok perhatian gini." batinku sambil menyuapkan es krim kedalam mulutku.


" Hahahaha."


Suara tawa riang membuat ku menoleh ke meja gadis manis tadi. Tanpa sadar aku tersenyum.


" Kenapa senyum-senyum sendiri, mut? eh.. pak bos??" tanya Bembi, Lagi-lagi dengan nada sok manis.


Aku tidak menjawab pertanyaan Bembi, dan asyik menatap gadis manis itu.


"Ini baru cewek idaman ku. Manis, lembut dan seperti nya sangat penyayang." batinku.


Aku bisa melihat dia adalah sosok penyayang, dengan melihat tatapan matanya yang sayu.


Terlihat manis dan anggun saat ia tersenyum dan tertawa ria.


" Ini baru cinta, bukan yang kemarin. iya... sudah pasti inilah yang namanya cinta." gumamku meyakinkan diri sendiri.


Aku terus asik dengan lamunan ku, tanpa memperdulikan Bembi yang terus menatap ku.


Hatiku penuh bunga-bunga bermekaran setiap melihat senyum gadis manis itu. Beberapa menit kemudian, gadis manis itu beranjak dari kursinya dan berjalan menuju kasir. Aku semakin terpukau melihat caranya berjalan. Sungguh anggun...


DEG...


Mataku tak sengaja kembali bertatapan dengan Safira.

__ADS_1


... bersambung.


__ADS_2