
"Woy breng**k ngapain lu peluk peluk Ica" suara laki - laki terdengar kasar, dan seketika Raissa melepas pelukannya.
Darren mendekat lalu memukul Al, tapi Al tidak membalas karena merasa tidak berguna, ia lalu pamit pada Raissa dan pergi dari sana.
"Ai aku pamit pulang dulu, kalau ada apa apa kabarin aja, tunggu aku" Al berucap sambil mengusap kepala Raissa.
Lalu ia pergi berjalan ke arah mobilnya, wakty tepat didepan Darren dia sedikit berbisik dan menepuk pundak Darren.
"Jangan pernah lu sakitin dia"
Setelah Al pergi suasana disana masih terasa tegang, Darren belum membiarkan Raissa masuk ke Apartemennya.
"Ngapain kamu pelukan sama dia, kamu tau kan kalo kamu itu calon istri aku?" Darren sedikit membentak Raissa.
"dan aku nggak pernah meng - iyakan, aku hanya diam menurut kemauan orang tuaku jika itu semua membuat aku nyaman, nyatanya selama beberapa tahun tidak ada dari satu perlakuanku yang bisa membuat aku nyaman" dengan berani Raissa melawan kata kata pedas Darren.
"Tapi orang tua kita sudah saling menjodohkan, kamu mau membuat mama papamu kecewa?" ya trik inilah yang selalu dipakai Darren untuk mempertahankan Raissa.
"Terserah padamu lah, aku capek mau masuk, bye" Raissa meninggalkan Darren seorang diri di loby apartemen.
.
Setelah meninggalkan Raissa dan Darren tadi, kini Al sudah ada di apartemennya sendiri, ia dudu diam di balkon kamar dengan segelas kopi yang menemaninya, ia ingin melepaskan penat di kepalanya, ia ingin merefreah otaknya, ia ingin menghilang sejenak dari kenyataan yang tidak sesuai keinginannya. Larut malam ia baru merebahkan tubuhnya dan tertidur.
.
Hari - hari Al lewati sperti biasa saja, yang tidak biasa adalah perasaannya, ia masih bertanya tanya, bagaimana kalau misal orang tua Raissa tetap tidak mengizinkannya kembali dekat dengan Raissa? Apa ia masih tetap di jalan ini? Apa sebenarnya tujuan dari kesuksesan yang ia impikan ini?
Sampai satu bulan kemudian, tepat dimana hari wisuda Raissa dan angkatannya, termasuk Darren, Caitlyn, Christy, Angga, dan Marcel"
Al dan Edo juga bersiap hadir untuk tujuan yang berbeda, jika Edo hanya sebatas ingin memberikan ucapan selamat, maka Al berbeda, ia ingin mengungkapkan kembali perasaannya dan meminta izin langsung dihadapan orang tua Raissa.
Selesai acara wisuda semua orang sedang sibuk berfoto, ada yang makan makan bersama keluarga di meja meja yang disediakan memang untuk satu keluarga, karena terdiri dari 6 - 8 kursi per meja.
Keluarga Raissa dan keluarga Darren duduk di 2 meja yang dijadikan satu, hingga kini terlihat paling luas mejanya.
Saat ini Al baru sampai pintu masuk, ia tengok kanan kiri, sampai pandangannya tertuju pada sudut yang terdapat beberapa orang yang duduk mengitari meja terbesar di ruangan itu. Al berjalan mendekat sambil ditangannya membawa bucket bunga mawar dan daisy kesukaan Raissa.
__ADS_1
"Permisi om tante kak, maaf terlambat" Al datang lalu menyalami orang tua, kakak dan ipar dari Raissa, dengan Raissa sendiri ia hanya tersenyum dan mengangguk.
"Kamu siapa? Saya nggak undang kamu buat dateng kesini" ketus Papa Raissa.
"Aku yang ajak Al kesini pa, 3 hari yang lalu kami bertemu di mall dan dia yang mengantarkan aku ke hotel karena bawa banyak barang" Kata kakaknya.
"Mari duduk Al , makan dulu aja kalau belum makan" Mama Raissa menerimanya dengan baik.
Al memberikan bucket bunga ke Raissa lalu ia duduk di antara Raissa dan kakaknya Gilang.
Setelah itu keluarga Raissa dan keluarga Darren lanjut mengobrol intens, Al hanya diam dan mendengarkan.
Dari yang ia dengar, baik orang tua Raissa dan krang tua Darren ingin anak anak mereka segera bertunangan, agar statusnya jelas, dan tidakembuat spekulasi orang orang tentang kedua keluarga menjadi buruk.
"Gimana kalau pertunangannya dilaksanakan ketika sudah sampai di Indonesia?" Tanya Papa Raissa.
"Kalau aku sih setuju saja, asal anaknya juga bersedia" kata wanita yang mungkin Mama dari Darren.
"Aku setuju kok ma" sela Darren.
"Kalau Ica gimana nak?" tanya Mama Raissa.
"Apa alasanmu bilang seperti itu?" nada bicara papa Raissa sudah mulai naik.
"Ica nggak ada perasaan apapun sama Darren, Ica juga merasa nggak nyaman" Jawabnya takit takut.
"Pasti gara gara laki laki ini kan kamu menolak permintaan orang tua kamu" Darren mulai tidak terima sambil menunjuk ke arah Al.
"Apa benar yang dibilang Darren Raissa!" bentak Papa Raissa.
"Pa sudah, jangan terlalu keras ke Ica, dia mungkin punya alasan sendiri" bela Gilang kakaknya.
"Apa alasan kamu menolak permintaan papa itu karena dia?" tanya Papanya sambil menunjuk Al.
Raissa hanya menunduk tidak berani menjawab.
"Jabab Raissa!" Bentak Papa lagi.
__ADS_1
Karena sudah tidak tahan melihat Raissa disudutkan, Al angkat bicara.
"Mohon maaf sebelumnya kalau saya ikut campur masalah ini, tolong jangan menyudutkan Raissa Om, disini yang korban dari semua akar masalah ini adalah Raissa. Jika anda perlu jawaban atas apa yang anda pertanyakan tadi maka akan saya jawab sejelas jelasnya Om".
"Apa urusanmu ikut campur masalah keluarga kami, Hah". ucap Papa Raissa.
"Urusan saya karena kalian menyudutkan Raissa yang tidak salah apa apa"
"Kau tidak usah sok membela Ica, pasti karena hasutanmu kan dia jadi tidak menuruti orang tuanya?" sarkas Darren.
Al tersenyum sinis "Hah, kalau aku ingin menghasut sudah dari 4 tahun yang lalu aku akan menghasut Raissa untuk menentang kemauan orang tuanya"
"Lagian apa kalian semua tidak sadar kalau Raissa selama ini merasa tertekan? Bahkan aku yang hanya beberapa kali melihatnya bisa dengan jelas merasakannya"
"Apa maksudmu Al?" tanya kakak Raissa Gilang.
"gini kak, apa kalian pernah bertanya kemauan Raissa? Apa kalian pernah menanyakan kenyamananna? Apa kalian pernat bertanya soal perasaannya? Aku rasa tidak kan? Lalu bagaimana kalian bisa menyimpulkan kalau Raissa baik baik saja sebelumnya dan sepertu sekarang karena aku yang mempengaruhinya?" Al menatap tegas mata orang orang disana, ia hanya menunduk ketika menatap mata Mama Raissa, dan tersenyum hanya kepada Raissa.
"Awalnya aku kemari hanya ingin mengucapkan selamat atas kelulusan dan rencana pertunangannya, aku tidak pernah sekalipun punya niatan untuk membatalkan jika memang itu membuat Raissa bahagia. Jujur saja aku masih menyimpan perasaan dari 4 tahun lalu hingga sekarang, tapi aku mencoba rela jika itu memang yang terbaik. Tapi selama satu bulan aku memantau, aku merasa semakin yakin jika Raissa tidak pantas dengan laki laki kurang jar ini**" Al meluapkan emosinya sambil menunjuk Darren.
"Apa maksudmu mengatai anak saya begitu? Saya bisa saja melaporkan kamu atas pencemaran nama baik" ancam Mama Darren.
"Silahkan saja, nanti juga nama baik keluarga anda sendiri yang tercemar. ya tidak bro**?" ia melirik sinin Darren.
"Apa maksudmu*?" Darren mulai meras tidak beres.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mohon maaf apabila masih banyak kekurangan - kekurangan dalam penulisan cerita. 🙏
Saya masih baru belajar dan semoga kalian semua berkenan untuk selalu memberi saya masukan di kolom komentar.
Jika memang ingin mengkritik, maka kritik lah, karena saya yakin dengan kritikan kritikan kalian itulah yang akan memberitahu saya letak kekurangan saya sehingga saya bisa belajar lebih baik lagi.
__ADS_1
Terimakasih.